Tes kepribadian menjadi salah satu bagian penting dalam berbagai proses asesmen psikologi, terutama dalam seleksi kerja, pengembangan karyawan, maupun pemetaan potensi individu. Salah satu alat ukur yang banyak digunakan adalah Edwards Personal Preference Schedule (EPPS).
Bagi peserta yang belum pernah mengerjakan tes ini, format EPPS terkadang terlihat berbeda karena tidak menggunakan soal berupa pertanyaan dengan pilihan benar atau salah. Untuk membantu memahami bentuknya, peserta dapat mempelajari contoh soal psikotes epps dan jawabannya sebagai gambaran mengenai pola pernyataan yang akan muncul.
Walaupun sering disebut memiliki “jawaban”, sebenarnya EPPS tidak memiliki kunci jawaban seperti tes kemampuan. Jawaban dalam EPPS menunjukkan kecenderungan kepribadian seseorang berdasarkan pilihan yang paling sesuai dengan dirinya.
EPPS merupakan instrumen psikologi yang dikembangkan oleh Allen L. Edwards berdasarkan teori kebutuhan psikologis dari Henry Murray. Tes ini dirancang untuk mengukur berbagai kebutuhan atau dorongan dalam diri seseorang yang berhubungan dengan pola perilaku.
Dalam pengerjaannya, peserta akan menemukan sejumlah pasangan pernyataan. Setiap pasangan memiliki dua pilihan yang sama-sama terlihat positif maupun netral. Peserta harus memilih salah satu pernyataan yang lebih menggambarkan dirinya.
Contoh sederhana:
A. Saya senang menyelesaikan tugas yang menantang.
B. Saya lebih nyaman melakukan pekerjaan yang sudah saya kuasai.
Tidak ada pilihan yang dianggap lebih baik. Pilihan A dapat menunjukkan kecenderungan mencari tantangan, sedangkan pilihan B dapat menggambarkan preferensi terhadap kestabilan dan kepastian.
Berikut contoh format soal EPPS beserta penjelasan makna dari masing-masing pilihan:
A. Saya berusaha keras agar hasil pekerjaan saya lebih baik dibandingkan sebelumnya.
B. Saya merasa puas ketika pekerjaan saya dapat selesai tanpa mengalami masalah.
Jawaban: Tidak ada jawaban benar atau salah.
Jika seseorang memilih A, kemungkinan menunjukkan kecenderungan memiliki dorongan pencapaian (achievement) yang lebih tinggi. Sementara pilihan B dapat menunjukkan orientasi terhadap kestabilan dan penyelesaian tugas.
A. Saya senang memberikan bantuan ketika teman mengalami kesulitan.
B. Saya lebih memilih menyelesaikan masalah sendiri terlebih dahulu.
Jawaban: Sesuaikan dengan kondisi pribadi.
Pilihan A dapat menggambarkan kebutuhan afiliasi atau kecenderungan membantu orang lain. Pilihan B dapat menunjukkan kemandirian dan kecenderungan menyelesaikan persoalan secara individual.
A. Saya biasanya membuat daftar pekerjaan sebelum memulai aktivitas.
B. Saya lebih suka menjalankan pekerjaan berdasarkan situasi yang terjadi.
Jawaban: Pilih yang paling sesuai dengan kebiasaan.
Pilihan A dapat berkaitan dengan kebutuhan keteraturan (order), sedangkan pilihan B menggambarkan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan.
Dari contoh tersebut terlihat bahwa EPPS bukan menilai kemampuan berpikir seseorang, tetapi melihat pola preferensi dalam menghadapi berbagai situasi.
EPPS mengukur beberapa kebutuhan psikologis yang berkaitan dengan karakter individu. Beberapa aspek yang sering menjadi perhatian antara lain:
Aspek ini menunjukkan motivasi seseorang untuk mencapai tujuan, menyelesaikan pekerjaan dengan standar tinggi, dan memperoleh keberhasilan.
Individu dengan skor tinggi pada aspek ini biasanya memiliki keinginan untuk berkembang dan mencapai target tertentu.
Aspek ini menggambarkan kebutuhan seseorang untuk menjalin hubungan dengan orang lain, bekerja sama, serta mendapatkan penerimaan sosial.
Aspek autonomy berkaitan dengan kebutuhan individu untuk memiliki kebebasan dalam menentukan cara bekerja dan mengambil keputusan.
Aspek ini menunjukkan kecenderungan seseorang terhadap perencanaan, sistem kerja yang rapi, serta kepatuhan terhadap aturan.
Pemahaman terhadap aspek tersebut membantu peserta mengetahui bahwa setiap pilihan dalam EPPS memiliki tujuan pengukuran tertentu.
Mengerjakan tes EPPS membutuhkan kejujuran dan pemahaman terhadap diri sendiri. Beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
Kesalahan umum peserta adalah mencoba memberikan gambaran diri yang dianggap paling baik oleh perusahaan. Padahal, hasil EPPS akan lebih bermanfaat apabila menggambarkan karakter sebenarnya.
Pilihan yang diberikan sebaiknya mempertimbangkan perilaku yang sering dilakukan, bukan hanya kondisi tertentu.
Beberapa peserta mencoba menyesuaikan jawaban dengan posisi yang dilamar. Hal tersebut justru dapat membuat pola jawaban menjadi tidak konsisten.
Untuk memahami bentuk pertanyaan lebih jauh, peserta dapat melihat contoh soal psikotes epps dan jawabannya agar lebih familiar dengan format pasangan pernyataan yang digunakan.
Berbeda dengan tes intelegensi yang mengukur kemampuan kognitif atau tes bakat yang melihat potensi tertentu, EPPS berfokus pada aspek kepribadian.
Tes seperti ini tidak menentukan seseorang pintar atau tidak, melainkan memberikan gambaran mengenai cara individu bekerja, berinteraksi, mengambil keputusan, serta menghadapi lingkungan.
Dalam proses seleksi kerja, hasil EPPS biasanya dikombinasikan dengan metode lain seperti wawancara psikologis, observasi, maupun tes kemampuan agar mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai peserta.
Memahami contoh soal EPPS bukan bertujuan untuk mencari jawaban yang paling tepat, karena setiap individu memiliki karakter yang berbeda. Persiapan dilakukan agar peserta memahami instruksi dan tidak merasa asing ketika menghadapi tes.
Dengan mengetahui format soal, peserta dapat mengerjakan EPPS secara lebih tenang dan memberikan respons yang sesuai dengan kondisi dirinya.
Pada akhirnya, EPPS menjadi alat bantu bagi psikolog atau perusahaan untuk memahami karakter seseorang secara lebih objektif. Mengenali contoh soal psikotes epps dan jawabannya dapat menjadi langkah awal agar peserta lebih siap menghadapi proses asesmen psikologi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.