Perubahan suasana hati sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan. Seseorang dapat merasa sangat bersemangat pada satu hari lalu kecewa atau sedih ketika menghadapi masalah, tetapi perubahan seperti ini belum tentu menunjukkan gangguan bipolar. Memahami ciri-ciri bipolar membutuhkan perhatian terhadap pola perubahan mood yang disertai perubahan energi, aktivitas, tidur, cara berpikir, perilaku, dan kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari.
World Health Organization (WHO) menjelaskan gangguan bipolar sebagai kondisi kesehatan mental yang ditandai episode mania atau hipomania dan episode depresi. Gejalanya dapat menimbulkan kesulitan yang bermakna dalam kehidupan di rumah, sekolah, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Karena itu, bipolar tidak sebaiknya disimpulkan hanya karena seseorang dianggap “moody” atau suasana hatinya mudah berubah.
Episode mood merupakan periode ketika perubahan suasana hati dan aktivitas berbeda cukup jelas dibandingkan kondisi seseorang biasanya. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa selama episode, gejala dapat berlangsung sepanjang hari pada sebagian besar hari dan disertai perubahan energi atau perilaku yang dapat diperhatikan orang lain. Pada bipolar, pola perjalanan gejala dari waktu ke waktu sama pentingnya dengan satu gejala yang terlihat pada saat tertentu.
Hal ini penting karena banyak ciri bipolar juga dapat muncul pada kondisi lain. Gangguan tidur, penggunaan zat tertentu, penyakit tiroid, serta kondisi kesehatan mental lainnya dapat menimbulkan gejala yang menyerupai bipolar. Oleh sebab itu, kumpulan gejala dan riwayat perjalanan kondisi perlu dinilai secara profesional sebelum diagnosis diberikan.
Mania tidak selalu terlihat sebagai kegembiraan yang berlebihan. Seseorang dapat menunjukkan suasana hati yang sangat tinggi, merasa luar biasa bersemangat, atau justru menjadi jauh lebih mudah tersinggung dan gelisah dibandingkan biasanya. Perubahan tersebut biasanya muncul bersama peningkatan energi dan aktivitas yang jelas.
Pada Bipolar I, NIMH menjelaskan bahwa episode mania dapat berlangsung setidaknya tujuh hari pada sebagian besar hari, atau menjadi begitu berat sehingga perawatan di rumah sakit diperlukan. Dampaknya juga dapat terlihat pada kemampuan bekerja, belajar, menjaga hubungan, atau membuat keputusan yang aman. Durasi dan gangguan fungsi inilah yang membantu membedakan mania dari sekadar sedang sangat bersemangat.
Salah satu tanda yang cukup khas adalah kebutuhan tidur yang menurun. Seseorang mungkin hanya tidur beberapa jam tetapi merasa tidak lelah dan tetap memiliki energi yang sangat tinggi untuk melakukan berbagai kegiatan. Kondisi ini berbeda dari insomnia biasa, ketika seseorang ingin tidur tetapi kesulitan dan biasanya merasa lelah keesokan harinya.
Saat mania, seseorang dapat berbicara jauh lebih cepat, berpindah dari satu topik ke topik lain, atau memiliki pikiran yang terasa berjalan sangat cepat. Konsentrasi juga dapat menjadi lebih mudah terpecah karena perhatian cepat tertarik pada berbagai hal di sekitarnya. NIMH menggambarkan pola ini sebagai racing thoughts dan pembicaraan cepat dengan banyak ide yang muncul dalam waktu singkat.
Mania juga dapat disertai perasaan sangat penting, sangat berbakat, atau memiliki kemampuan yang jauh melebihi keadaan sebenarnya. Pada saat yang sama, penilaian terhadap risiko dapat terganggu sehingga seseorang melakukan pengeluaran berlebihan, perilaku seksual berisiko, penggunaan zat, atau keputusan impulsif lainnya. Dalam episode berat, WHO menjelaskan bahwa keyakinan grandiose atau persecutory yang menetap dan tidak sesuai kenyataan juga dapat muncul.
Hipomania memiliki sejumlah gejala yang menyerupai mania, seperti energi meningkat, kebutuhan tidur berkurang, lebih banyak bicara, atau aktivitas bertambah. Namun, NIMH menjelaskan bahwa hipomania lebih ringan dan biasanya tidak mengganggu fungsi sehari-hari sampai tingkat yang sama dengan mania. Seseorang bahkan dapat merasa dirinya sedang sangat produktif sehingga tidak melihat perubahan tersebut sebagai masalah.
Perbedaan ini penting karena Bipolar II tidak ditandai oleh episode mania penuh. Pada Bipolar II, terdapat pola episode hipomania dan episode depresi, sedangkan Bipolar I melibatkan setidaknya satu episode mania. Penilaian profesional diperlukan karena membedakan peningkatan mood normal, hipomania, dan mania tidak cukup hanya dengan melihat seseorang sedang lebih aktif dari biasanya.
Dalam memahami ciri-ciri bipolar, episode depresi sama pentingnya dengan mania. Seseorang dapat mengalami suasana hati sangat rendah, sedih, kosong, atau mudah tersinggung, disertai kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. WHO menjelaskan bahwa episode depresi berlangsung pada sebagian besar hari, hampir setiap hari, selama sekurang-kurangnya dua minggu.
Perubahan tersebut dapat disertai energi yang sangat rendah, sulit berkonsentrasi, perasaan bersalah berlebihan, rendah diri, dan pandangan yang terasa sangat pesimistis mengenai masa depan. Tidur juga dapat terganggu, baik berupa sulit tidur maupun tidur terlalu banyak, sementara pola makan atau berat badan dapat ikut berubah. Pada sebagian orang, aktivitas sederhana seperti mandi, makan, bekerja, atau menjawab pesan dapat terasa sangat berat.
Pada mania, gangguan fungsi dapat terlihat melalui aktivitas berlebihan, konflik, keputusan impulsif, atau tindakan berisiko. Pada depresi, masalah yang sama-sama serius dapat terlihat melalui hilangnya energi, menarik diri, kesulitan berkonsentrasi, atau ketidakmampuan menyelesaikan pekerjaan sederhana. Karena itu, tingkat aktivitas yang sangat tinggi maupun sangat rendah sama-sama perlu diperhatikan jika berbeda jauh dari pola biasanya.
Bipolar juga tidak selalu muncul dalam pola sederhana berupa “bahagia lalu sedih”. NIMH menjelaskan bahwa episode dengan mixed features atau fitur campuran dapat terjadi, yaitu ketika gejala mania dan depresi muncul dalam periode yang sama. Kondisi semacam ini menunjukkan mengapa diagnosis berbasis satu atau dua tanda saja dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Dalam episode mania atau depresi yang berat, sebagian orang dapat mengalami gejala psikosis. Gejalanya dapat berupa delusi, yaitu keyakinan kuat yang tidak sesuai realitas, atau halusinasi, seperti mendengar atau melihat sesuatu yang tidak dialami orang lain. NIMH menjelaskan bahwa isi gejala psikosis tersebut sering selaras dengan kondisi mood yang sedang dialami seseorang.
Munculnya psikosis membutuhkan evaluasi profesional karena dapat sangat memengaruhi kemampuan seseorang menilai situasi secara realistis. Dukungan keluarga saja mungkin tidak cukup ketika kemampuan menilai risiko sudah terganggu. Pertolongan medis lebih cepat diperlukan terutama apabila perilaku sudah membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Perasaan senang yang kuat setelah mendapat kabar baik bukan otomatis mania, sama seperti merasa sedih setelah mengalami masalah tidak otomatis merupakan episode depresi. Pada bipolar, perubahan biasanya memiliki pola yang lebih intens, berlangsung lebih lama, dan disertai perubahan nyata pada energi, aktivitas, tidur, pikiran, atau perilaku. Dampaknya terhadap fungsi sehari-hari juga menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Karena itu, sebaiknya hindari memberi label “bipolar” hanya kepada seseorang yang emosinya terlihat cepat berubah. Istilah tersebut merujuk pada kondisi kesehatan mental yang mempunyai pola klinis tertentu dan membutuhkan evaluasi yang memadai. Penggunaan istilah secara sembarangan juga dapat memperkuat stigma terhadap orang yang benar-benar hidup dengan gangguan bipolar.
Evaluasi profesional sebaiknya dipertimbangkan jika perubahan mood, energi, tidur, atau perilaku berlangsung cukup lama, berulang, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Riwayat periode sangat aktif yang diikuti episode depresi juga penting disampaikan karena seseorang yang datang saat depresi belum tentu langsung terlihat memiliki riwayat mania atau hipomania. NIMH menekankan pentingnya melihat perjalanan kondisi selama beberapa hari dan minggu, bukan hanya gejala saat seseorang sedang diperiksa.
Pertolongan segera diperlukan apabila muncul pikiran atau rencana bunuh diri, tindakan menyakiti diri, perilaku yang sangat berisiko, atau kehilangan kemampuan menilai realitas. Dalam kondisi yang mengancam keselamatan, bantuan dapat dicari melalui tenaga kesehatan atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. Orang dengan risiko tinggi sebaiknya tidak dibiarkan menghadapi situasi tersebut sendirian.
Pada akhirnya, memahami ciri-ciri bipolar berarti melihat pola episode secara menyeluruh, bukan mencocokkan seseorang dengan satu daftar gejala. Mania dapat melibatkan peningkatan energi, kebutuhan tidur yang menurun, pikiran cepat, kepercayaan diri berlebihan, dan perilaku berisiko, sedangkan depresi dapat menghadirkan kehilangan minat, energi rendah, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, serta keputusasaan. Durasi, intensitas, perubahan dari kondisi biasanya, dan dampaknya terhadap fungsi menjadi bagian penting dalam penilaian.
Mengenali tanda-tanda tersebut dapat membantu seseorang mengetahui kapan perlu mencari bantuan, tetapi tidak menggantikan diagnosis profesional. Psikiater, dokter, psikolog klinis, atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat melakukan penilaian lebih menyeluruh terhadap perjalanan gejala serta kemungkinan kondisi lain. Semakin tepat kondisi dipahami, semakin tepat pula langkah penanganan yang dapat dipertimbangkan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.