Sedih berkepanjangan, kehilangan energi, sulit berkonsentrasi, dan tidak lagi menikmati aktivitas merupakan pengalaman yang dapat muncul pada lebih dari satu kondisi kesehatan mental. Inilah alasan bipolar dan depresi terkadang sulit dibedakan hanya dari kondisi seseorang ketika pertama kali mencari pertolongan. Perbedaannya baru menjadi lebih jelas ketika profesional melihat perjalanan mood sepanjang hidup, termasuk apakah pernah muncul periode mania atau hipomania selain episode depresi.
WHO menjelaskan bahwa gangguan bipolar ditandai episode mania atau hipomania dan depresi, sedangkan gangguan depresi terutama ditandai suasana hati depresif atau hilangnya minat dan kesenangan yang berlangsung cukup menetap. Keduanya sama-sama dapat mengganggu pekerjaan, hubungan, pendidikan, dan aktivitas sehari-hari. Namun, pola episode yang mendasarinya berbeda sehingga diagnosis dan pendekatan perawatannya pun tidak dapat disamakan.
Kesamaan paling jelas muncul ketika seseorang dengan bipolar sedang mengalami episode depresi. Pada periode tersebut, ia dapat merasa sedih atau kosong, kehilangan minat, mengalami penurunan energi, sulit berkonsentrasi, mengalami perubahan tidur dan nafsu makan, serta merasa tidak berharga atau putus asa. Gejala semacam ini juga terdapat pada gangguan depresi sehingga satu episode depresif saja belum selalu menunjukkan apakah seseorang memiliki depresi unipolar atau gangguan bipolar.
Inilah sebabnya riwayat kehidupan memiliki posisi sangat penting dalam asesmen. NIMH mencatat bahwa sebagian orang dengan bipolar II mencari bantuan terutama ketika sedang depresi, sementara periode hipomania sebelumnya mungkin tidak dianggap sebagai masalah karena dapat terasa produktif atau menyenangkan. Jika periode tersebut tidak tergali, gambaran kondisi seseorang dapat menjadi tidak lengkap.
Hal yang paling membantu membedakan gangguan bipolar dari gangguan depresi adalah keberadaan episode mania atau hipomania. Mania dapat melibatkan mood yang sangat meningkat atau mudah tersinggung, energi dan aktivitas yang jauh lebih tinggi, kebutuhan tidur yang menurun, pembicaraan cepat, pikiran berlomba, perhatian mudah teralihkan, serta perilaku impulsif atau berisiko. Pada kondisi berat, mania dapat menyebabkan gangguan fungsi yang nyata dan bahkan memerlukan perawatan intensif.
Hipomania berada dalam domain gejala yang serupa, tetapi intensitas dan dampaknya terhadap fungsi lebih ringan dibandingkan mania. Meski demikian, hipomania tetap merupakan perubahan nyata dari kondisi dasar individu dan dapat diamati oleh orang lain. Karena itu, hipomania tidak tepat dipahami hanya sebagai suasana hati yang sedang sangat baik.
Bipolar I ditandai oleh adanya setidaknya satu episode mania, sementara episode depresi sering terjadi tetapi bukan syarat mutlak untuk diagnosis tersebut. Bipolar II melibatkan setidaknya satu episode hipomania dan episode depresi mayor tanpa riwayat mania penuh. Perbedaan ini menunjukkan mengapa istilah bipolar tidak menggambarkan satu pola yang sepenuhnya sama pada semua orang.
Pada depresi, individu dapat merasa lelah, kehilangan motivasi, bergerak atau berpikir lebih lambat, dan merasa tugas sederhana membutuhkan usaha yang besar. Pola serupa juga dapat terlihat selama episode depresi dalam gangguan bipolar. Jika hanya periode tersebut yang diamati, kedua kondisi memang dapat terlihat sangat mirip.
Perbedaannya menjadi lebih jelas ketika riwayat lain menunjukkan periode peningkatan energi dan aktivitas yang nyata. Dalam memahami bipolar dan depresi, profesional akan mempertanyakan apakah individu pernah mengalami masa ketika energinya meningkat secara tidak biasa, tidur jauh lebih sedikit tetapi tidak merasa lelah, memiliki banyak gagasan sekaligus, atau melakukan tindakan yang berbeda dari kebiasaan. Pola perubahan dari kondisi dasar ini dapat memberikan informasi yang lebih bermakna daripada hanya menilai mood pada satu hari.
Gangguan tidur dapat muncul pada kedua kondisi. Depresi dapat berkaitan dengan kesulitan tidur, bangun terlalu pagi, ataupun tidur lebih banyak dari biasanya. Pada bipolar, pola serupa dapat muncul selama episode depresi, sementara mania atau hipomania dapat disertai penurunan kebutuhan tidur tanpa rasa lelah yang biasanya mengikuti kurang tidur.
Perbedaan antara “tidak bisa tidur” dan “tidak merasa membutuhkan banyak tidur” menjadi penting. Seseorang dengan insomnia mungkin sangat ingin tidur tetapi tidak mampu, sedangkan pada mania individu dapat tidur jauh lebih sedikit dan tetap merasa sangat bertenaga. Meski demikian, pola tidur tetap harus dinilai bersama gejala lain dan tidak cukup digunakan sebagai penentu diagnosis seorang diri.
Gambaran bipolar sering disederhanakan sebagai perpindahan langsung dari sangat bahagia menjadi sangat sedih. Kenyataannya, urutan episode dapat berbeda pada setiap orang dan terdapat periode ketika kondisi relatif stabil. Beberapa individu juga dapat mengalami fitur campuran, yaitu munculnya gejala mania atau hipomania bersamaan dengan gejala depresi.
Depresi sendiri juga dapat berlangsung dalam satu episode maupun berulang tanpa adanya mania atau hipomania. Oleh karena itu, jumlah episode depresi saja tidak menentukan bahwa seseorang mengalami bipolar. Hal yang harus dicari adalah pola mood sepanjang perjalanan hidup, bukan hanya seberapa sering seseorang merasa tertekan.
Perbedaan diagnosis mempunyai implikasi langsung terhadap rencana perawatan. WHO menyebut bipolar dapat memerlukan mood stabilizer atau antipsikotik, sementara penggunaan antidepresan pada bipolar perlu dipertimbangkan berdasarkan fase dan biasanya tidak diberikan sebagai satu-satunya terapi ketika terdapat risiko mania. Penanganan karena itu perlu didasarkan pada evaluasi profesional, bukan mencoba obat atau menghentikannya sendiri.
Pada gangguan depresi, strategi pengobatan dapat berbeda tergantung tingkat keparahan, pola episode, dan kebutuhan individu. Psikoterapi juga dapat digunakan pada kedua kondisi, tetapi fokus dan kombinasinya dapat disesuaikan dengan riwayat klinis masing-masing. Kesamaan gejala tidak berarti dua diagnosis tersebut mempunyai strategi penanganan yang identik.
Tidak ada satu pertanyaan atau tes daring yang dapat memastikan perbedaan bipolar dan depresi. NIMH menjelaskan bahwa diagnosis bipolar mempertimbangkan tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, pengalaman sepanjang hidup, dan riwayat keluarga, sekaligus mengevaluasi kemungkinan kondisi medis atau penyebab lain. Proses tersebut dapat melibatkan wawancara klinis dan pemeriksaan tambahan sesuai kebutuhan.
Profesional juga dapat menanyakan perubahan perilaku yang dilihat pasangan atau keluarga apabila relevan dan individu menyetujuinya. Informasi semacam ini berguna terutama ketika episode hipomania tidak dianggap bermasalah oleh orang yang mengalaminya. Asesmen kemudian berusaha menyusun sebuah garis waktu, bukan sekadar memberi label berdasarkan kondisi saat seseorang datang.
Perubahan emosi normal biasanya berkaitan dengan kejadian tertentu dan masih memungkinkan seseorang menjalankan kehidupan sehari-hari. Perhatian lebih diperlukan ketika perubahan berlangsung menetap, jauh berbeda dari kondisi dasar, disertai perubahan energi atau tidur, dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, keuangan, atau kemampuan merawat diri. Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri atau ketidakmampuan menjaga keselamatan, bantuan dari layanan kesehatan atau fasilitas gawat darurat perlu segera dicari.
Mencatat mood, pola tidur, tingkat energi, serta perubahan aktivitas dapat membantu seseorang melihat pola dari waktu ke waktu. Catatan tersebut tidak digunakan untuk mendiagnosis diri sendiri, tetapi dapat menjadi informasi yang berguna saat berkonsultasi. Pendekatan ini juga membantu membedakan perubahan emosional sementara dari pola episodik yang memerlukan evaluasi lebih mendalam.
Pada akhirnya, memahami bipolar dan depresi membutuhkan perhatian terhadap perjalanan mood secara keseluruhan, bukan sekadar melihat apakah seseorang sedang sedih. Episode depresi pada bipolar memang dapat menyerupai gangguan depresi, tetapi riwayat mania atau hipomania, perubahan energi, aktivitas, tidur, dan perilaku memberikan petunjuk penting untuk membedakannya. Dengan evaluasi profesional yang menyeluruh, seseorang dapat memperoleh pemahaman kondisi dan pendekatan perawatan yang lebih sesuai tanpa terburu-buru menyimpulkan diagnosis dari satu gejala saja.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.