Istilah psikosis sering terdengar menakutkan, terutama ketika dikaitkan dengan gangguan bipolar. Padahal, memahami bipolar dengan gejala psikotik secara tepat dapat membantu keluarga maupun individu mengenali kapan perubahan kondisi sudah membutuhkan perhatian lebih serius. Gejala psikotik bukan sekadar perubahan mood yang ekstrem, melainkan dapat melibatkan perubahan dalam menilai realitas, seperti mempercayai sesuatu yang tidak sesuai kenyataan atau mengalami persepsi yang sebenarnya tidak berasal dari lingkungan.
Gangguan bipolar sendiri ditandai oleh episode mania atau hipomania dan episode depresi dengan pola yang dapat berbeda pada setiap orang. WHO menjelaskan bahwa pada episode mania yang berat, seseorang dapat mengalami keyakinan grandios atau persekutorik yang menetap dan keliru. Gejala psikotik juga dapat muncul pada episode depresi berat, sehingga keberadaannya perlu dipahami dalam konteks perjalanan mood seseorang secara keseluruhan.
Psikosis merupakan keadaan ketika kemampuan seseorang menilai realitas mengalami gangguan. Manifestasinya dapat berupa delusi, yaitu keyakinan kuat yang tidak sesuai kenyataan, atau halusinasi, yaitu pengalaman melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu tanpa rangsangan eksternal yang sesuai. Perilaku dan cara berbicara juga dapat terlihat lebih sulit dipahami ketika kondisi psikosis berlangsung.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami skizofrenia. NHS menjelaskan bahwa psikosis dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk gangguan bipolar, depresi berat, penggunaan zat, kondisi medis tertentu, maupun efek obat. Karena itu, penyebab psikosis perlu diperiksa dan tidak sebaiknya disimpulkan hanya dari satu perilaku yang terlihat.
Pada episode mania, isi delusi dapat berkaitan dengan meningkatnya rasa percaya diri atau perasaan memiliki kemampuan luar biasa. Seseorang mungkin yakin memiliki kekuasaan khusus, menerima misi istimewa, mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki orang lain, atau merasa dirinya memiliki kedudukan sangat besar. Keyakinan tersebut berbeda dari sekadar percaya diri karena sulit dikoreksi meskipun terdapat bukti yang bertentangan.
Dalam episode depresi berat, arah keyakinan dapat berubah. Individu dapat memiliki keyakinan ekstrem mengenai rasa bersalah, ketidakberhargaan, kehancuran, atau merasa dirinya telah menyebabkan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. WHO memberikan contoh bahwa gejala psikotik pada depresi dapat berkaitan dengan keyakinan salah mengenai rasa bersalah atau ketidakberhargaan yang sangat ekstrem.
Isi gejala psikotik memang dapat selaras dengan mood, tetapi pengalaman setiap individu tidak selalu identik. Karena itu, profesional tidak hanya menilai apa isi keyakinannya, tetapi juga kapan gejala tersebut muncul dan bagaimana hubungannya dengan episode mood. Informasi mengenai waktu kemunculan gejala menjadi penting untuk membedakan berbagai kondisi yang sama-sama dapat disertai psikosis.
Halusinasi merupakan pengalaman sensorik yang terasa nyata meskipun tidak terdapat sumber eksternal yang sesuai. Bentuk yang cukup dikenal adalah mendengar suara ketika tidak ada orang yang berbicara, tetapi pengalaman juga dapat melibatkan penglihatan atau sensasi lainnya. WHO memasukkan halusinasi sebagai salah satu bentuk gejala psikosis yang dapat muncul pada gangguan mental tertentu.
Pada bipolar dengan gejala psikotik, halusinasi perlu dilihat bersama kondisi mood dan perilaku individu. Misalnya, seseorang sedang mengalami peningkatan energi yang sangat jelas, hampir tidak tidur, berbicara cepat, kemudian mulai mendengar suara atau memiliki keyakinan yang sangat tidak realistis. Kombinasi seperti ini membutuhkan evaluasi profesional karena dapat menunjukkan episode yang lebih berat.
Gejala psikotik tidak selalu pertama kali dikenali sebagai delusi atau halusinasi. Keluarga mungkin lebih dahulu melihat seseorang menjadi sangat curiga, sulit diajak berdiskusi, berbicara tentang sesuatu yang tidak dipahami orang lain, atau bertindak berdasarkan keyakinan yang sebelumnya tidak pernah dimiliki. Perubahan tersebut dapat terlihat semakin mencolok ketika disertai gangguan tidur dan peningkatan aktivitas.
Pada mania, perilaku berisiko juga dapat meningkat. Seseorang dapat mengeluarkan uang secara berlebihan, mengambil keputusan besar tanpa mempertimbangkan konsekuensi, atau melakukan tindakan yang sangat berbeda dari kebiasaan. WHO mencatat perilaku impulsif dan berisiko sebagai bagian yang dapat muncul dalam episode mania, terutama ketika kondisi menjadi lebih berat.
Hipomania memiliki beberapa karakteristik yang sama dengan mania, seperti energi meningkat, kebutuhan tidur berkurang, banyak berbicara, dan aktivitas bertambah. Namun, apabila muncul psikosis, kondisi tersebut bukan lagi gambaran hipomania biasa karena psikosis menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Penilaian profesional diperlukan untuk menentukan bentuk episode yang sebenarnya sedang dialami.
Perbedaan ini penting karena masyarakat kadang menggunakan istilah mania dan hipomania secara bergantian. Padahal, dampak terhadap fungsi, tingkat keparahan, kebutuhan perawatan, dan keberadaan psikosis mempunyai arti klinis yang berbeda. Menentukan kondisi hanya berdasarkan seberapa aktif seseorang terlihat dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru.
Kemunculan delusi atau halusinasi tidak otomatis menunjukkan bahwa penyebabnya adalah bipolar. Psikosis dapat berkaitan dengan skizofrenia, depresi berat, penggunaan alkohol atau narkoba, kondisi neurologis, gangguan medis tertentu, dan efek beberapa obat. NHS juga mencatat bahwa penyebab psikosis dapat berasal dari kombinasi kondisi psikologis, medis, maupun penggunaan zat.
Karena itu, profesional perlu menelusuri riwayat mood sekaligus waktu munculnya psikosis. Informasi mengenai pola mania atau depresi, penggunaan zat, kondisi kesehatan, obat yang dikonsumsi, gangguan tidur, dan perubahan fungsi membantu memperjelas gambaran klinis. Diagnosis sebaiknya tidak dibuat dari satu gejala atau satu percakapan singkat.
Saat psikosis terjadi, kemampuan seseorang menilai informasi dari lingkungan dapat terganggu. Keyakinan yang dialami terasa benar bagi individu sehingga perdebatan keras atau memaksanya mengakui bahwa keyakinannya salah sering tidak efektif. Pendekatan yang lebih aman adalah menjaga komunikasi tetap tenang dan mencari pertolongan profesional, terutama ketika perilaku mulai berisiko.
Keluarga juga perlu menghindari mengejek atau mempermalukan individu. Pengalaman psikosis dapat terasa sangat nyata dan menakutkan bagi orang yang mengalaminya. Respons yang lebih membantu adalah mengakui bahwa pengalaman tersebut terasa nyata bagi individu tanpa harus menyetujui isi delusi atau halusinasinya.
Pertolongan segera diperlukan apabila gejala psikotik membuat seseorang berisiko menyakiti diri, membahayakan orang lain, tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, atau melakukan tindakan sangat berisiko. Kondisi mania berat dengan psikosis dapat memerlukan penanganan intensif, dan pada situasi tertentu perawatan di fasilitas kesehatan diperlukan untuk menjaga keselamatan. NHS juga menekankan perlunya pertolongan segera ketika seseorang mengalami krisis atau keadaan darurat kesehatan mental.
Keluarga tidak perlu mencoba menangani situasi berbahaya seorang diri. Apabila seseorang sangat gelisah, mengalami delusi yang mendorong tindakan berbahaya, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, layanan kesehatan atau fasilitas gawat darurat terdekat perlu dihubungi. Prioritas pertama dalam keadaan tersebut adalah keselamatan, kemudian evaluasi dan rencana perawatan dapat dilakukan setelah situasi lebih terkendali.
Penanganan perlu mempertimbangkan episode bipolar secara keseluruhan, bukan hanya menghilangkan halusinasi atau delusi. Pendekatan dapat melibatkan obat yang dipilih berdasarkan fase episode dan kondisi individu, pemantauan medis, serta intervensi psikososial setelah kondisi akut lebih stabil. WHO menyediakan rekomendasi berbasis bukti mengenai penggunaan antipsikotik dan terapi pemeliharaan dalam pengelolaan psikosis maupun gangguan bipolar.
Setelah episode lebih stabil, individu juga dapat membutuhkan bantuan untuk kembali pada rutinitas, memahami tanda awal kekambuhan, dan mengelola dampak psikologis dari pengalaman tersebut. Pola tidur, kepatuhan terhadap perawatan, penggunaan zat, serta dukungan keluarga dapat ikut diperhatikan dalam rencana jangka panjang. Pendekatan seperti ini membantu pemulihan tidak berhenti hanya ketika gejala psikotik mereda.
Psikosis sering dikaitkan dengan stereotip bahwa seseorang berbahaya atau tidak dapat kembali menjalani kehidupan dengan baik. Pandangan seperti itu terlalu menyederhanakan kondisi dan dapat membuat individu maupun keluarga enggan mencari bantuan. Gangguan bipolar memiliki pilihan perawatan yang efektif, dan WHO menegaskan bahwa orang dengan bipolar dapat mencapai pemulihan serta menjalani kehidupan yang bermakna dengan penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, memahami bipolar dengan gejala psikotik berarti mengenali bahwa delusi dan halusinasi dapat muncul dalam episode bipolar yang berat serta membutuhkan evaluasi profesional. Gejala tersebut perlu dilihat bersama perubahan mood, energi, tidur, perilaku, dan perjalanan kondisi dari waktu ke waktu, bukan dijadikan dasar untuk memberi label secara terburu-buru. Semakin cepat perubahan yang berat dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk menjaga keselamatan, memulihkan fungsi, dan menyusun pengelolaan jangka panjang yang sesuai.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.