Ketika seseorang bereaksi terhadap tugas, hubungan, aturan, atau tantangan, biasanya ada kebutuhan psikologis tertentu yang ikut memengaruhi perilakunya. Ada orang yang terdorong untuk selalu mencapai hasil terbaik, ada yang lebih membutuhkan kedekatan dengan orang lain, dan ada pula yang lebih nyaman ketika memiliki kebebasan dalam menentukan keputusan. Untuk memahami kecenderungan seperti itu, salah satu instrumen yang digunakan dalam psikologi adalah EPPS. Jika masih bertanya apa itu epps, instrumen ini secara umum digunakan untuk menggambarkan pola kebutuhan psikologis yang dimiliki seseorang.
EPPS merupakan singkatan dari Edwards Personal Preference Schedule. Instrumen ini dikembangkan oleh Allen L. Edwards dan banyak dikaitkan dengan konsep kebutuhan psikologis yang dikemukakan Henry Murray. Fokus utama EPPS bukan pada kecerdasan atau kemampuan akademik, melainkan pada preferensi yang dapat mencerminkan kebutuhan dalam kepribadian individu.
EPPS termasuk salah satu instrumen kepribadian yang menggunakan format pilihan berpasangan. Peserta akan menemukan dua pernyataan dan diminta memilih satu yang lebih sesuai dengan dirinya.
Tidak ada pilihan yang dianggap benar atau salah. Tujuan utamanya bukan menguji pengetahuan, tetapi memperoleh gambaran mengenai kebutuhan yang cenderung lebih menonjol.
Cara ini berbeda dengan tes kemampuan yang memiliki jawaban objektif. Dalam EPPS, respons peserta lebih berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat kecenderungan dirinya sendiri.
Kebutuhan psikologis dapat dipahami sebagai dorongan yang membuat seseorang cenderung mencari, mempertahankan, atau menghindari kondisi tertentu. Kebutuhan tersebut dapat memengaruhi cara individu mengambil keputusan dan berinteraksi dengan lingkungan.
Seseorang yang memiliki dorongan pencapaian kuat, misalnya, mungkin senang menetapkan target dan berusaha mencapai standar tinggi. Sementara individu yang lebih menonjol dalam kebutuhan afiliasi dapat memberikan perhatian lebih besar pada hubungan sosial dan rasa kebersamaan.
Dari sinilah EPPS digunakan untuk melihat pola kebutuhan, bukan sekadar memberikan label terhadap kepribadian.
Konsep kebutuhan dalam EPPS memiliki hubungan dengan pemikiran Henry Murray mengenai kebutuhan psikogenik. Menurut pendekatan tersebut, manusia memiliki berbagai kebutuhan yang dapat menjadi pendorong perilaku.
Kebutuhan tersebut tidak selalu muncul dengan intensitas yang sama. Pada satu individu, kebutuhan tertentu dapat lebih dominan, sedangkan pada orang lain kebutuhan yang sama bisa relatif lebih rendah.
Perbedaan inilah yang membuat setiap orang dapat memiliki pola kepribadian yang unik meskipun berada dalam lingkungan yang sama.
Kebutuhan psikologis tidak sebaiknya dipahami sebagai bagian yang berdiri sendiri. Satu kebutuhan dapat berinteraksi dengan kebutuhan lainnya dan membentuk pola perilaku tertentu.
Sebagai contoh, dua orang dapat sama sama memiliki dorongan berprestasi tinggi. Namun, orang pertama mungkin juga memiliki kebutuhan keteraturan yang kuat sehingga lebih menyukai perencanaan. Orang kedua dapat memiliki kebutuhan perubahan yang lebih besar sehingga lebih nyaman bekerja dengan cara yang fleksibel.
Karena itu, interpretasi EPPS sebaiknya memperhatikan keseluruhan profil.
EPPS mengukur beberapa kecenderungan kebutuhan yang berkaitan dengan perilaku sehari hari. Kebutuhan tersebut dapat berhubungan dengan pencapaian, keteraturan, hubungan sosial, kemandirian, perhatian kepada orang lain, dominasi, perubahan, ketekunan, dan berbagai kecenderungan lainnya.
Masing masing kebutuhan memiliki makna berbeda. Tidak ada kebutuhan yang otomatis dinilai sebagai karakter positif atau negatif.
Makna sebuah skor perlu dilihat berdasarkan situasi dan bagaimana kebutuhan tersebut diwujudkan dalam perilaku nyata.
Sebagian orang memiliki kebutuhan kuat untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik. Mereka dapat merasa puas ketika berhasil mencapai target atau mengatasi tantangan tertentu.
Kebutuhan ini dapat berkaitan dengan dorongan pencapaian. Namun, hasil perilakunya bisa berbeda tergantung kebutuhan lain yang menyertainya.
Seseorang dengan ketekunan tinggi mungkin lebih mampu mempertahankan usaha ketika menghadapi tugas yang panjang. Sementara orang dengan kebutuhan perubahan yang kuat mungkin lebih menyukai target yang bervariasi.
Dalam pengerjaan EPPS, peserta memilih pernyataan yang dirasakan paling mendekati dirinya. Seluruh respons kemudian membentuk pola skor yang menggambarkan berbagai kebutuhan.
Bagi orang yang baru mengenal apa itu epps, penting dipahami bahwa profil tersebut bukan daftar nilai baik dan buruk. Skor lebih berfungsi untuk menunjukkan kecenderungan relatif dari satu kebutuhan terhadap kebutuhan lainnya.
Seseorang dapat memiliki beberapa kebutuhan yang sama sama menonjol. Kombinasi tersebut yang kemudian memberikan gambaran lebih utuh mengenai dinamika kepribadiannya.
Peserta sering kali tergoda memilih jawaban yang dianggap paling baik atau paling sesuai dengan harapan lingkungan. Hal seperti ini dapat membuat respons kurang menggambarkan kecenderungan sebenarnya.
Pada tes kepribadian, pendekatan yang lebih tepat adalah menjawab sesuai kondisi diri. Jika dua pilihan terasa sama sama sesuai, peserta dapat mempertimbangkan mana yang lebih sering muncul dalam kehidupan sehari hari.
Tujuan pengerjaan bukan membentuk citra ideal, melainkan memperoleh gambaran yang lebih autentik.
Mengetahui kebutuhan yang menonjol dapat membantu seseorang memahami alasan di balik berbagai keputusan dan kebiasaan. Seseorang mungkin menyadari mengapa dirinya membutuhkan struktur yang jelas, senang berkompetisi, atau merasa lebih nyaman bekerja dalam kelompok.
Pemahaman seperti ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi. Individu dapat melihat hubungan antara kebutuhan pribadi dengan cara menjalankan pekerjaan, membangun hubungan, serta menghadapi tuntutan lingkungan.
Hasil tes bukan untuk membatasi, tetapi dapat menjadi bahan untuk mengenali diri secara lebih sistematis.
Kebutuhan psikologis dapat terasa lebih kuat ketika bertemu dengan kondisi lingkungan tertentu. Individu yang menyukai keteraturan mungkin merasa lebih nyaman dalam situasi dengan aturan jelas.
Sebaliknya, seseorang dengan kebutuhan perubahan yang kuat dapat menikmati lingkungan yang memberikan variasi dan kesempatan mencoba pendekatan baru.
Ketika kebutuhan dan kondisi lingkungan cukup sesuai, individu mungkin merasa lebih mudah beradaptasi. Namun, manusia juga dapat belajar menyesuaikan diri ketika situasinya berbeda dari preferensi pribadi.
Dalam praktik asesmen, EPPS dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi mengenai kepribadian. Namun, hasilnya tidak seharusnya digunakan sebagai satu satunya dasar untuk mengambil keputusan penting.
Wawancara, observasi, pengalaman, kemampuan, serta instrumen psikologi lain dapat diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.
Pendekatan ini penting karena perilaku manusia dipengaruhi banyak faktor. Kepribadian memang memiliki peran, tetapi situasi, pengalaman, dan tuntutan lingkungan juga dapat mengubah cara seseorang bertindak.
Profil EPPS menggambarkan kecenderungan kebutuhan, bukan ramalan mengenai semua perilaku seseorang. Individu tetap memiliki kemampuan untuk belajar, menyesuaikan diri, dan mengembangkan cara baru dalam menghadapi situasi.
Karena itu, hasil tes sebaiknya tidak digunakan untuk memberikan label permanen. Skor lebih bermanfaat sebagai bahan untuk memahami pola yang mungkin sering muncul.
EPPS dapat memberikan sudut pandang yang menarik tentang mengapa seseorang memiliki preferensi tertentu. Hasilnya membantu melihat apa yang mungkin mendorong individu ketika bekerja, membangun hubungan, atau menghadapi tuntutan.
Pemahaman terhadap kebutuhan psikologis juga dapat membantu seseorang mengenali kondisi yang membuat dirinya lebih produktif atau justru merasa kurang nyaman.
Pada akhirnya, memahami apa itu epps berarti memahami bahwa kepribadian tidak hanya terdiri atas sifat yang tampak. Di balik perilaku terdapat kebutuhan psikologis yang saling berinteraksi dan membentuk pola khas pada setiap individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.