Pernah merasa kehidupan berjalan seperti biasa, tetapi sulit menjelaskan apakah Anda benar-benar merasa bahagia dan sejahtera secara psikologis? Mungkin aktivitas sehari-hari tetap berjalan lancar, pekerjaan terselesaikan, dan hubungan sosial terlihat baik-baik saja. Namun, di balik rutinitas tersebut, seseorang bisa mengalami penurunan semangat, kehilangan ketertarikan terhadap aktivitas, atau merasa kurang menikmati kehidupannya.
Kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya gangguan psikologis. Perasaan positif, ketenangan, energi, dan kepuasan menjalani kehidupan juga menjadi bagian penting dari kesejahteraan mental. Salah satu cara untuk memahami aspek tersebut adalah melalui tes mental health, dengan WHO-5 sebagai instrumen yang secara khusus dirancang untuk mengukur kesejahteraan psikologis subjektif.
World Health Organization-Five Well-Being Index atau WHO-5 merupakan instrumen pengukuran kesejahteraan mental yang terdiri dari lima pernyataan. Instrumen ini digunakan untuk mengetahui bagaimana seseorang merasakan kondisi psikologisnya selama dua minggu terakhir. Berbeda dari alat skrining yang berfokus pada gejala negatif, WHO-5 menilai pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari.
WHO-5 diperkenalkan dalam bentuknya yang dikenal sekarang pada 1998 sebagai bagian dari pengembangan pengukuran kesejahteraan dalam pelayanan kesehatan. World Health Organization (WHO) kembali menerbitkan dokumen resmi instrumen ini pada Oktober 2024. Penggunaannya telah berkembang dalam penelitian, pelayanan kesehatan, dan evaluasi kesejahteraan psikologis.
Salah satu karakteristik WHO-5 adalah bentuknya yang singkat dan mudah dipahami. Instrumen ini memungkinkan individu menilai kondisi emosional tanpa harus menjawab banyak pertanyaan. Meskipun sederhana, penggunaannya tetap memerlukan pemahaman mengenai tujuan pengukuran dan cara interpretasi hasil.
WHO-5 menggunakan lima pernyataan untuk menggambarkan pengalaman kesejahteraan psikologis selama dua minggu terakhir. Kelima pernyataan tersebut mencakup suasana hati positif, ketenangan, energi, kualitas pemulihan setelah tidur, dan ketertarikan terhadap kehidupan sehari-hari. Aspek-aspek ini menjadi indikator dalam satu ukuran kesejahteraan subjektif, bukan lima diagnosis atau dimensi klinis yang berdiri sendiri.
Aspek pertama berkaitan dengan seberapa sering seseorang merasa ceria dan memiliki suasana hati yang baik. Perasaan positif dapat muncul ketika individu menikmati aktivitas, memiliki pengalaman menyenangkan, atau merasa puas dengan kehidupannya. Namun, seseorang tidak harus selalu merasa bahagia untuk memiliki kesehatan mental yang baik.
WHO-5 juga memperhatikan pengalaman merasa tenang dan rileks dalam menjalani kehidupan. Kemampuan menikmati waktu tanpa ketegangan berlebihan dapat menjadi bagian dari kesejahteraan psikologis. Sebaliknya, kesulitan merasa tenang dapat berkaitan dengan tekanan kehidupan yang sedang dihadapi.
Aspek berikutnya menggambarkan seberapa sering individu merasa aktif dan memiliki energi. Seseorang yang merasa bersemangat biasanya lebih mudah terlibat dalam aktivitas yang dianggap bermakna. Namun, perubahan energi juga dapat dipengaruhi kondisi kesehatan fisik, kualitas tidur, dan rutinitas sehari-hari.
Tidur berkaitan dengan pemulihan fisik dan psikologis sehingga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam WHO-5. Individu diminta menilai pengalaman merasa segar dan cukup beristirahat ketika bangun tidur. Meski demikian, WHO-5 bukan instrumen khusus untuk mendiagnosis insomnia atau gangguan tidur lainnya.
Pernyataan terakhir berkaitan dengan sejauh mana kehidupan sehari-hari dipenuhi aktivitas yang menarik bagi individu. Ketertarikan terhadap kegiatan dapat mendukung perasaan bermakna dan keterlibatan dalam kehidupan. Penurunan ketertarikan yang menetap dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kondisi psikologis lebih lanjut.
WHO-5 menggunakan enam pilihan respons dengan skor antara 0 sampai 5 untuk setiap pernyataan. Skor 0 menunjukkan bahwa pengalaman positif tersebut tidak pernah dirasakan dalam periode yang dinilai, sedangkan skor 5 menunjukkan pengalaman terjadi sepanjang waktu. Seluruh jawaban kemudian dijumlahkan untuk menghasilkan skor mentah antara 0 sampai 25.
Untuk memperoleh skor dalam rentang 0 sampai 100, jumlah skor mentah dikalikan empat. Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin tinggi tingkat kesejahteraan psikologis yang dilaporkan. Sebaliknya, skor lebih rendah menunjukkan bahwa pengalaman kesejahteraan positif relatif lebih sedikit selama periode pemeriksaan.
Sebagai contoh, seseorang memperoleh skor mentah 18 dari lima pernyataan WHO-5. Setelah dikalikan empat, hasil akhirnya menjadi 72 dari 100. Angka tersebut menggambarkan tingkat kesejahteraan yang dilaporkan, tetapi tidak dapat digunakan sebagai penilaian menyeluruh mengenai seluruh kondisi kesehatan mental individu.
Berbeda dari DASS-21 yang memiliki kategori gejala depresi, kecemasan, dan stres, WHO-5 menghasilkan satu skor kesejahteraan psikologis. Interpretasinya berfokus pada tingkat pengalaman positif yang dirasakan individu. Skor WHO-5 tidak menunjukkan diagnosis gangguan mental tertentu.
Dokumen WHO-5 menyebutkan bahwa skor persentase di bawah 50 atau skor mentah di bawah 13 dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan mental yang rendah. Batas tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai kemungkinan adanya masalah kesehatan mental. Namun, hasil di bawah batas tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami depresi.
Penelitian Topp dan rekan-rekan (2015) melalui tinjauan sistematis menunjukkan bahwa WHO-5 memiliki bukti penggunaan yang mendukung penilaian kesejahteraan dan skrining depresi. Meski demikian, kemampuan instrumen dapat berbeda berdasarkan karakteristik populasi. Oleh karena itu, interpretasi hasil harus mempertimbangkan kondisi dan tujuan pemeriksaan.
Salah satu keunggulan WHO-5 adalah pendekatannya yang berfokus pada kesejahteraan positif. Melalui tes mental health, individu dapat mulai mengenali kondisi psikologisnya, sementara WHO-5 dapat digunakan apabila tujuan pemeriksaannya adalah menilai kesejahteraan subjektif. Pendekatan ini membantu memperluas pemahaman bahwa menjaga kesehatan mental juga berarti memperhatikan kualitas pengalaman hidup.
Tidak semua orang menyadari ketika kesejahteraan emosionalnya mulai menurun. Seseorang mungkin tetap menjalani aktivitas dengan baik, tetapi merasa kehilangan semangat atau kesulitan menikmati keseharian. WHO-5 membantu memberikan gambaran terstruktur mengenai pengalaman positif tersebut.
WHO-5 dapat digunakan secara berulang untuk mengamati perubahan kesejahteraan psikologis dari waktu ke waktu. Hasil pengukuran dapat membantu memperlihatkan apakah pengalaman positif meningkat atau menurun. Namun, perubahan skor perlu dipahami dengan mempertimbangkan situasi kehidupan serta kemungkinan kesalahan pengukuran.
WHO-5, PHQ-9, dan DASS-21 memiliki tujuan pengukuran yang berbeda. WHO-5 berfokus pada kesejahteraan psikologis positif, sedangkan PHQ-9 digunakan untuk menilai tingkat gejala depresi. Sementara itu, DASS-21 mengukur tiga kelompok gejala emosional negatif, yaitu depresi, kecemasan, dan stres.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan instrumen perlu disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan. Individu yang ingin mengetahui tingkat kesejahteraan positif dapat menggunakan WHO-5, sedangkan pemeriksaan gejala tertentu membutuhkan instrumen yang sesuai. Tidak ada satu alat skrining singkat yang mampu menggambarkan seluruh aspek kesehatan mental secara lengkap.
WHO-5 dapat dipertimbangkan ketika seseorang ingin memahami kondisi kesejahteraan psikologisnya. Instrumen ini juga dapat digunakan dalam penelitian atau pemantauan kesehatan mental sesuai kebutuhan. Namun, tidak terdapat keharusan bagi setiap individu untuk mengisi WHO-5 dalam jadwal tertentu.
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dipertimbangkan apabila skor menunjukkan kesejahteraan rendah dan individu mengalami kesulitan menjalani aktivitas. Gejala seperti kehilangan minat berkepanjangan, perubahan suasana hati yang menetap, atau gangguan fungsi sehari-hari membutuhkan perhatian. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu memperoleh penilaian yang lebih menyeluruh.
Meskipun memiliki dasar ilmiah, WHO-5 tidak dirancang untuk menetapkan diagnosis gangguan mental. Instrumen ini juga tidak secara langsung mengukur seluruh gejala kecemasan, depresi, maupun risiko bunuh diri. Oleh karena itu, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan berdasarkan kondisi individu.
Hasil WHO-5 dapat dipengaruhi oleh pengalaman selama dua minggu terakhir, termasuk tekanan pekerjaan, kondisi kesehatan, dan perubahan kehidupan. Skor yang rendah tidak seharusnya langsung dianggap sebagai label permanen terhadap diri sendiri. Sebaliknya, skor tinggi juga bukan jaminan bahwa seseorang terbebas dari seluruh masalah psikologis.
WHO-5 merupakan instrumen singkat yang membantu mengukur kesejahteraan psikologis melalui lima pernyataan mengenai pengalaman positif selama dua minggu terakhir. Pengukurannya mencakup suasana hati, ketenangan, energi, kesegaran setelah tidur, dan ketertarikan terhadap kehidupan. Skor yang diperoleh dapat memberikan gambaran awal, tetapi tidak dapat digunakan sebagai diagnosis gangguan mental.
Bagi Anda yang ingin mulai memahami kondisi psikologis secara lebih terarah, tes mental health dapat menjadi salah satu langkah awal untuk melakukan skrining kesehatan mental. Apabila menggunakan WHO-5, pastikan hasilnya ditafsirkan berdasarkan pedoman yang sesuai dan tidak dijadikan satu-satunya dasar penilaian. Dengan memahami kesejahteraan mental secara lebih menyeluruh, individu dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga kualitas kehidupan dan kesehatan psikologisnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.