Pernah merasa mudah lelah, sulit tidur, atau kehilangan semangat tanpa mengetahui penyebabnya? Keluhan seperti ini sering dianggap sebagai akibat kesibukan sehari-hari, padahal terkadang berkaitan dengan tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian. Masalahnya, tidak semua orang mampu mengenali kapan perubahan emosi dan perilaku mulai mengganggu kesehatan mental.
Mengenali gejala psikologis sejak awal menjadi langkah penting untuk memahami kondisi diri. Salah satu instrumen yang digunakan dalam skrining kesehatan jiwa adalah Self Reporting Questionnaire-20 atau SRQ-20, yang dikembangkan oleh World Health Organization (WHO). Melalui tes mental health, seseorang dapat mulai mengenali kondisi psikologisnya, sedangkan SRQ-20 merupakan salah satu alat skrining yang dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan masalah kesehatan mental.
Self Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20) merupakan instrumen skrining psikologis yang terdiri dari 20 pertanyaan dengan pilihan jawaban "Ya" atau "Tidak". Instrumen ini dikembangkan WHO untuk membantu mendeteksi kemungkinan gangguan mental umum, terutama gejala yang berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan keluhan psikososomatik. SRQ-20 banyak digunakan dalam pelayanan kesehatan primer dan survei kesehatan masyarakat.
WHO menerbitkan panduan penggunaan Self Reporting Questionnaire pada 1994 melalui dokumen A User's Guide to the Self Reporting Questionnaire. Panduan tersebut menjelaskan penggunaan instrumen sebagai alat penapisan awal, bukan sebagai pengganti pemeriksaan diagnostik. Penggunaan SRQ-20 memungkinkan tenaga kesehatan memperoleh informasi awal mengenai kondisi psikologis individu secara relatif sederhana.
Di Indonesia, SRQ-20 juga digunakan dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 untuk mengidentifikasi masalah kesehatan jiwa pada masyarakat. Kementerian Kesehatan menggunakan instrumen ini sebagai bagian dari upaya pemantauan kesehatan jiwa penduduk. Hal tersebut menunjukkan bahwa SRQ-20 memiliki peran dalam skrining kesehatan mental pada tingkat individu maupun populasi.
SRQ-20 mencakup berbagai pengalaman emosional, kognitif, dan keluhan fisik yang mungkin berkaitan dengan tekanan psikologis. Pertanyaannya meminta individu mengingat gejala yang dialami selama 30 hari terakhir. Secara umum, gejala yang dinilai dapat dipahami melalui beberapa kelompok berikut.
SRQ-20 menilai pengalaman seperti merasa gugup, tegang, mudah takut, atau mengalami kesulitan mengendalikan kegelisahan. Gejala tersebut dapat muncul ketika seseorang menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau situasi kehidupan yang menantang. Namun, kecemasan sesekali merupakan respons manusia yang wajar dan tidak selalu menunjukkan gangguan mental.
Instrumen ini juga mencakup pengalaman merasa tidak bahagia, kehilangan minat, menangis lebih sering, atau memiliki pandangan negatif terhadap diri sendiri. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gejala depresi maupun tekanan emosional lainnya. Apabila berlangsung menetap dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan profesional perlu dipertimbangkan.
Tidak semua masalah psikologis muncul melalui perubahan suasana hati. Sebagian individu mengalami sakit kepala, gangguan tidur, keluhan pencernaan, atau kelelahan yang berulang. SRQ-20 memasukkan beberapa keluhan tersebut karena kondisi fisik dan psikologis dapat saling berkaitan.
Namun, keluhan fisik tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat stres. Penyakit tertentu, gangguan tidur, atau kondisi medis lainnya dapat menimbulkan gejala serupa. Pemeriksaan kesehatan fisik mungkin diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami.
SRQ-20 juga memperhatikan kesulitan berpikir jernih, mengambil keputusan, dan menjalankan pekerjaan sehari-hari. Kondisi tersebut dapat muncul ketika tekanan psikologis mulai memengaruhi kemampuan individu beraktivitas. Penurunan fungsi sehari-hari menjadi informasi penting dalam menentukan kebutuhan pemeriksaan lanjutan.
SRQ-20 menggunakan sistem penilaian dikotomis, yaitu dua pilihan jawaban untuk setiap pertanyaan. Jawaban "Ya" yang menunjukkan adanya gejala diberikan skor 1, sedangkan jawaban "Tidak" diberikan skor 0. Seluruh skor kemudian dijumlahkan sehingga menghasilkan nilai total antara 0 sampai 20.
Semakin tinggi skor yang diperoleh, semakin banyak gejala yang dilaporkan selama periode pemeriksaan. Namun, jumlah gejala tidak selalu menggambarkan tingkat keparahan kondisi klinis secara langsung. Oleh karena itu, hasil SRQ-20 perlu ditafsirkan berdasarkan pedoman penggunaan dan karakteristik populasi yang diperiksa.
Dalam Survei Kesehatan Indonesia 2023, Kementerian Kesehatan menggunakan batas skor 6 untuk mengidentifikasi kemungkinan masalah kesehatan jiwa. Individu yang memberikan sedikitnya enam jawaban "Ya" dikategorikan memiliki indikasi masalah kesehatan jiwa berdasarkan kriteria skrining tersebut. Hasil ini menunjukkan perlunya perhatian lebih lanjut, bukan diagnosis gangguan mental.
Batas skor SRQ-20 dapat berbeda dalam penelitian atau populasi tertentu. Perbedaan tersebut berkaitan dengan karakteristik responden, tujuan skrining, dan hasil pengujian psikometris. Karena itu, penggunaan satu batas skor secara universal tanpa mempertimbangkan konteks pemeriksaan tidak selalu tepat.
Salah satu keunggulan SRQ-20 adalah bentuk pertanyaannya yang relatif sederhana. Melalui tes mental health, individu dapat mulai mengenali kondisi psikologis sesuai instrumen yang digunakan. Apabila pemeriksaan menggunakan SRQ-20, hasilnya dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan masalah kesehatan mental yang membutuhkan evaluasi lanjutan.
Sebagian orang terbiasa mengabaikan perubahan emosi karena menganggapnya sebagai konsekuensi dari rutinitas yang padat. Padahal, kesulitan tidur, kehilangan semangat, dan kecemasan yang menetap dapat memengaruhi kualitas kehidupan. Pertanyaan terstruktur membantu individu memperhatikan gejala yang sebelumnya mungkin tidak disadari.
SRQ-20 memiliki manfaat dalam pelayanan kesehatan primer karena dapat digunakan sebagai pemeriksaan awal. Instrumen ini memungkinkan petugas kesehatan mengenali individu yang mungkin membutuhkan evaluasi lebih mendalam. Namun, keputusan tindak lanjut tetap memerlukan pertimbangan mengenai kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
SRQ-20 tidak dirancang untuk menetapkan diagnosis gangguan mental tertentu. Instrumen ini mengukur keberadaan sejumlah gejala yang mungkin berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa. Hasilnya tidak dapat memastikan apakah seseorang mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau kondisi psikologis lainnya.
Diagnosis membutuhkan evaluasi klinis yang mencakup riwayat kesehatan, durasi gejala, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap aktivitas. Psikolog klinis atau psikiater dapat mempertimbangkan informasi tersebut untuk memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh. Dengan demikian, SRQ-20 berfungsi sebagai alat skrining awal dalam proses pemeriksaan kesehatan mental.
Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika seseorang mengalami perubahan emosi, kesulitan tidur, atau keluhan psikologis yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Gejala seperti kehilangan minat, kegelisahan berkepanjangan, dan kelelahan emosional juga perlu diperhatikan. Individu tidak harus menunggu sampai mengalami masalah berat sebelum memperoleh bantuan.
Perhatian khusus diperlukan terhadap pertanyaan nomor 17 dalam SRQ-20 yang berkaitan dengan pikiran untuk mengakhiri hidup. Jawaban "Ya" pada pertanyaan tersebut membutuhkan penilaian keselamatan lebih lanjut, meskipun skor total berada di bawah batas skrining. Jika terdapat risiko segera untuk menyakiti diri, bantuan darurat melalui fasilitas kesehatan terdekat harus segera dicari.
Meskipun memiliki dasar ilmiah, SRQ-20 tidak dapat menggambarkan seluruh aspek kesehatan mental seseorang. Instrumen ini terutama digunakan untuk mengenali kemungkinan gangguan mental umum dan tidak menggantikan pemeriksaan klinis menyeluruh. Hasilnya juga dapat dipengaruhi oleh pemahaman responden dan kondisi saat pengisian.
Penggunaan instrumen perlu memperhatikan kesesuaian bahasa, karakteristik populasi, serta bukti validitas dan reliabilitas. Penelitian evaluasi instrumen kesehatan mental daring di Indonesia yang diterbitkan pada 2022 menunjukkan dukungan psikometris terhadap penggunaan SRQ-20 dalam konteks penelitian tersebut. Namun, kualitas pengukuran tetap perlu dipertimbangkan untuk setiap kelompok pengguna.
Hasil SRQ-20 sebaiknya digunakan sebagai informasi awal untuk memahami kondisi psikologis. Individu dapat memperhatikan gejala yang muncul, frekuensinya, serta pengaruhnya terhadap aktivitas sehari-hari. Informasi tersebut dapat membantu ketika berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Penting untuk menghindari kebiasaan memberikan diagnosis terhadap diri sendiri hanya berdasarkan skor pemeriksaan. Skor tinggi bukan berarti seseorang memiliki kepribadian lemah, sedangkan skor rendah tidak menjamin seluruh kondisi psikologis baik-baik saja. Interpretasi yang tepat membantu memastikan hasil skrining digunakan secara bertanggung jawab.
SRQ-20 merupakan instrumen skrining yang dikembangkan WHO untuk membantu mengenali kemungkinan masalah kesehatan mental melalui 20 pertanyaan sederhana. Instrumen ini mencakup gejala emosional, kognitif, serta keluhan fisik yang dapat berkaitan dengan tekanan psikologis. Meskipun bermanfaat untuk pemeriksaan awal, hasilnya tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal dalam menetapkan diagnosis gangguan mental.
Bagi Anda yang ingin mulai memahami kondisi emosional secara lebih terarah, tes mental health dapat menjadi salah satu langkah awal untuk melakukan skrining kesehatan mental. Apabila menggunakan SRQ-20, pastikan pemeriksaan dilakukan sesuai pedoman dan hasilnya ditafsirkan secara tepat. Dengan pemahaman ilmiah serta dukungan profesional ketika diperlukan, skrining kesehatan mental dapat membantu mengenali kebutuhan psikologis sejak dini.
World Health Organization. (1994). A User's Guide to the Self Reporting Questionnaire (SRQ). WHO/MNH/PSF/94.8. World Health Organization.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2015/2023 tentang Petunjuk Teknis Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.