Merasa sedih berkepanjangan sering dikaitkan dengan depresi. Namun, bagaimana jika seseorang pernah mengalami periode ketika energinya meningkat drastis, hanya membutuhkan sedikit tidur, dan merasa sangat percaya diri? Perubahan tersebut mungkin terlihat seperti suasana hati yang membaik, padahal dalam kondisi tertentu dapat menjadi informasi penting untuk mengenali gangguan bipolar.
Depresi dan bipolar merupakan dua kondisi kesehatan mental yang memiliki sejumlah gejala serupa, tetapi berbeda dalam perjalanan dan karakteristiknya. Kesamaan tersebut membuat proses identifikasi tidak selalu sederhana, terutama ketika seseorang hanya mencari bantuan saat mengalami kesedihan. Melalui tes gangguan mental, individu dapat mulai mengenali gejala psikologis, tetapi membedakan kedua kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan yang lebih menyeluruh.
Depresi dan gangguan bipolar sama-sama dapat melibatkan perubahan suasana hati, energi, tidur, dan kemampuan menjalankan aktivitas. Ketika seseorang dengan bipolar mengalami episode depresi, gejalanya dapat menyerupai gangguan depresi mayor. Karena itu, pemeriksaan yang hanya berfokus pada kondisi saat ini belum tentu mampu mengidentifikasi perbedaannya.
National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa sebagian individu dengan bipolar baru mencari pertolongan ketika mengalami episode depresi. Episode hipomania sebelumnya dapat tidak disadari karena terkadang membuat seseorang merasa lebih berenergi atau produktif. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menelusuri riwayat suasana hati, bukan hanya gejala yang muncul dalam beberapa hari terakhir.
Gangguan depresi mayor ditandai oleh episode depresi yang melibatkan suasana hati menurun atau hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Gejala lain dapat mencakup perubahan pola tidur, kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak berharga. Dalam penilaian klinis, gejala perlu memenuhi persyaratan durasi, jumlah, dan dampak terhadap fungsi sehari-hari.
Episode depresi mayor umumnya berlangsung setidaknya dua minggu. Namun, mengalami kesedihan selama periode tersebut tidak otomatis berarti seseorang memenuhi kriteria diagnosis. Pemeriksaan perlu mempertimbangkan kombinasi gejala, riwayat kesehatan, dan kemungkinan penyebab lainnya.
Gangguan bipolar ditandai oleh adanya episode mania atau hipomania, dengan episode depresi yang juga dapat terjadi. Mania melibatkan peningkatan suasana hati atau iritabilitas yang tidak biasa, disertai peningkatan energi dan aktivitas secara bermakna. Pada kondisi berat, episode tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi yang signifikan hingga membutuhkan perawatan intensif.
Hipomania memiliki gejala serupa, tetapi tingkat keparahannya lebih rendah dibandingkan mania. Individu mungkin merasa lebih aktif, banyak berbicara, atau membutuhkan tidur lebih sedikit tanpa merasa kelelahan. Meskipun tampak positif, perubahan tersebut tetap perlu diperhatikan apabila sangat berbeda dari pola perilaku biasanya.
Bipolar tipe I ditandai dengan setidaknya satu episode mania yang memenuhi kriteria diagnostik. Episode depresi dapat menyertai perjalanan penyakit, tetapi tidak menjadi syarat wajib untuk diagnosis bipolar tipe I. Episode mania biasanya berlangsung setidaknya tujuh hari atau cukup berat hingga membutuhkan perawatan rumah sakit.
Sementara itu, bipolar tipe II melibatkan riwayat episode hipomania dan episode depresi mayor, tanpa episode mania penuh. Hipomania umumnya berlangsung setidaknya empat hari berturut-turut sesuai kriteria diagnostik yang digunakan. Bipolar tipe II bukan berarti selalu lebih ringan karena episode depresinya tetap dapat menyebabkan gangguan kehidupan yang serius.
Setiap orang dapat mengalami perubahan emosi sebagai respons terhadap kehidupan sehari-hari. Perasaan senang setelah memperoleh kabar baik atau sedih ketika menghadapi masalah merupakan pengalaman yang wajar. Perubahan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan bipolar.
Pada bipolar, perubahan suasana hati terjadi dalam pola episode yang melibatkan perubahan energi, aktivitas, dan perilaku secara bermakna. Durasi serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan juga menjadi pertimbangan penting. Karena itu, istilah bipolar tidak seharusnya digunakan hanya untuk menggambarkan seseorang yang mudah berubah suasana hati.
Terdapat beberapa instrumen yang digunakan untuk membantu mengenali gejala gangguan suasana hati. Namun, setiap instrumen memiliki tujuan dan batas penggunaan yang berbeda. Pemilihan alat harus mempertimbangkan kondisi individu serta kebutuhan pemeriksaan.
Patient Health Questionnaire-9 atau PHQ-9 merupakan instrumen yang terdiri dari sembilan pertanyaan mengenai gejala depresi selama dua minggu terakhir. Instrumen ini digunakan untuk menilai tingkat gejala dan membantu proses skrining depresi. Hasilnya dapat memberikan informasi awal, tetapi tidak dapat menentukan apakah episode depresi berkaitan dengan gangguan depresi mayor atau bipolar.
Mood Disorder Questionnaire (MDQ) dikembangkan oleh Hirschfeld dan rekan-rekan pada 2000 sebagai instrumen skrining gangguan spektrum bipolar. Pertanyaannya mencakup pengalaman yang berkaitan dengan gejala mania atau hipomania, kemunculan gejala secara bersamaan, dan dampaknya terhadap kehidupan. Instrumen tersebut dapat menjadi informasi tambahan dalam konteks asesmen yang sesuai, tetapi bukan alat untuk menetapkan diagnosis secara mandiri.
Kemampuan MDQ dalam mendeteksi bipolar juga dapat berbeda berdasarkan populasi dan tipe gangguan. Pedoman NICE bahkan tidak merekomendasikan penggunaan kuesioner untuk mengidentifikasi bipolar pada orang dewasa di layanan kesehatan primer. Dalam konteks tersebut, penelusuran riwayat episode peningkatan aktivitas dan rujukan untuk asesmen spesialis lebih diutamakan.
Skrining merupakan langkah awal untuk mengidentifikasi kemungkinan gejala yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Melalui tes gangguan mental, seseorang dapat memperoleh gambaran awal mengenai kondisi psikologis berdasarkan instrumen yang digunakan. Namun, hasil skor tidak dapat menggantikan penilaian mengenai pola episode, riwayat kesehatan, dan perubahan perilaku sepanjang kehidupan.
Pedoman NICE tentang depresi juga menekankan pentingnya evaluasi yang tidak hanya mengandalkan jumlah gejala. Riwayat peningkatan suasana hati perlu ditelusuri ketika seseorang datang dengan keluhan depresi. Pendekatan ini membantu tenaga profesional mempertimbangkan kemungkinan gangguan bipolar yang sebelumnya belum dikenali.
Pemeriksaan biasanya melibatkan wawancara mengenai kapan gejala mulai muncul, berapa lama berlangsung, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan. Psikolog klinis atau psikiater dapat menanyakan riwayat periode energi meningkat, berkurangnya kebutuhan tidur, dan perilaku impulsif. Informasi tersebut membantu membedakan episode mania atau hipomania dari perubahan suasana hati biasa.
Tenaga profesional juga dapat mempertimbangkan riwayat gangguan suasana hati dalam keluarga dan pengalaman pengobatan sebelumnya. Beberapa kondisi medis, seperti gangguan tiroid, dapat menimbulkan gejala yang menyerupai perubahan suasana hati tertentu. Penggunaan obat atau zat tertentu juga perlu dievaluasi karena dapat memengaruhi energi, tidur, dan perilaku.
Perubahan suasana hati tidak hanya dinilai berdasarkan intensitas perasaan. Pemeriksaan juga mempertimbangkan apakah gejala memengaruhi pekerjaan, hubungan sosial, keuangan, dan keselamatan individu. Dampak tersebut membantu tenaga profesional memahami tingkat keparahan serta kebutuhan penanganan.
Depresi dan bipolar memiliki pendekatan penanganan yang tidak selalu sama. Pada gangguan bipolar, pengobatan perlu memperhatikan risiko munculnya episode mania atau hipomania serta upaya menjaga kestabilan suasana hati. Karena itu, identifikasi kondisi yang tepat menjadi bagian penting dari perencanaan intervensi.
NIMH menjelaskan bahwa penggunaan antidepresan tanpa penstabil suasana hati pada sebagian individu dengan bipolar dapat memicu episode mania atau perubahan episode yang lebih cepat. Oleh sebab itu, penggunaan obat harus mengikuti evaluasi dan arahan dokter. Hasil skrining tidak boleh menjadi dasar untuk memulai atau menghentikan pengobatan secara mandiri.
Pemeriksaan perlu dipertimbangkan ketika kesedihan, kehilangan minat, atau perubahan energi berlangsung menetap dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Riwayat periode tidur sangat sedikit tanpa merasa lelah, peningkatan aktivitas yang tidak biasa, dan pengambilan risiko berlebihan juga menjadi informasi penting untuk disampaikan. Semakin lengkap riwayat yang diberikan, semakin baik tenaga profesional dapat memahami kondisi yang dialami.
Bantuan segera diperlukan apabila seseorang mengalami gejala mania berat, perilaku yang membahayakan keselamatan, atau gejala psikotik. Jika muncul pikiran menyakiti diri atau bunuh diri, pertolongan darurat harus segera dicari tanpa menunggu hasil tes. Keluarga atau orang terpercaya dapat membantu individu mengakses fasilitas kesehatan terdekat.
Depresi dan bipolar memiliki beberapa gejala serupa, tetapi berbeda dalam pola episode dan perjalanan kondisinya. Gangguan bipolar melibatkan riwayat mania atau hipomania yang tidak ditemukan pada gangguan depresi mayor. Instrumen seperti PHQ-9 dan MDQ dapat memberikan informasi awal sesuai tujuan penggunaannya, tetapi diagnosis tetap membutuhkan evaluasi klinis yang menyeluruh.
Bagi individu yang ingin mulai mengenali kondisi emosional, tes gangguan mental dapat menjadi langkah awal dalam memahami gejala psikologis. Hasil pemeriksaan sebaiknya dipahami sesuai keterbatasan instrumen dan tidak digunakan untuk memberikan diagnosis secara mandiri. Dengan pemeriksaan profesional yang tepat, perbedaan depresi dan bipolar dapat dikenali sehingga penanganan lebih sesuai dengan kebutuhan individu.
National Institute of Mental Health. Bipolar Disorder. National Institutes of Health.
National Institute for Health and Care Excellence. (2025). Bipolar Disorder: Assessment and Management (CG185). NICE.
National Institute for Health and Care Excellence. (2022). Depression in Adults: Treatment and Management (NG222). NICE.
Hirschfeld, R. M. A., et al. (2000). Development and validation of a screening instrument for bipolar spectrum disorder: The Mood Disorder Questionnaire. American Journal of Psychiatry, 157(11), 1873–1875.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.