Pernah mengalami masa ketika energi terasa begitu tinggi, pekerjaan selesai lebih cepat, dan waktu tidur berkurang tanpa merasa kelelahan? Namun, beberapa waktu kemudian, semangat justru menurun, aktivitas terasa berat, dan hal-hal yang biasanya menyenangkan kehilangan daya tariknya. Perubahan seperti ini mungkin menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi emosional yang sebenarnya sedang dialami.
Dalam pemeriksaan kesehatan mental, perubahan suasana hati tidak cukup dinilai hanya berdasarkan perasaan pada hari pemeriksaan. Tenaga profesional perlu memahami bagaimana kondisi emosional berkembang, berapa lama perubahan berlangsung, dan apakah pola serupa pernah terjadi sebelumnya. Melalui tes gangguan mental, individu dapat mulai mengenali gejala psikologis, tetapi riwayat episode suasana hati tetap menjadi informasi penting dalam proses evaluasi klinis.
Riwayat episode suasana hati merupakan catatan mengenai perubahan kondisi emosional yang terjadi sepanjang kehidupan seseorang. Informasi ini mencakup waktu munculnya gejala, durasi, intensitas, serta perubahan energi dan perilaku yang menyertainya. Dalam pemeriksaan klinis, riwayat tersebut membantu memahami apakah perubahan yang dialami merupakan respons sementara atau bagian dari pola kondisi psikologis tertentu.
National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa diagnosis gangguan bipolar mempertimbangkan tingkat keparahan, lamanya gejala, frekuensi episode, dan pengalaman individu sepanjang hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan tidak dapat hanya berfokus pada kondisi saat ini. Pengalaman beberapa bulan atau tahun sebelumnya mungkin memiliki makna penting dalam memahami keluhan yang muncul.
Setiap orang dapat mengalami perubahan emosi sebagai respons terhadap situasi kehidupan. Kesedihan setelah kehilangan orang terdekat atau kegembiraan ketika memperoleh pencapaian merupakan pengalaman manusia yang wajar. Namun, perubahan suasana hati tertentu dapat berlangsung lebih intens, menetap, dan disertai perubahan aktivitas yang signifikan.
Riwayat episode membantu tenaga profesional mengenali perbedaan tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang datang dengan keluhan depresi mungkin pernah mengalami periode peningkatan energi yang tidak biasa. Informasi ini penting karena dapat mengarahkan evaluasi terhadap kemungkinan gangguan bipolar, bukan hanya gangguan depresi mayor.
Dalam pemeriksaan gangguan suasana hati, terdapat beberapa jenis episode yang memiliki karakteristik berbeda. Episode tersebut dapat memengaruhi emosi, energi, pola tidur, dan perilaku seseorang. Memahami perbedaannya membantu individu memberikan informasi yang lebih lengkap saat menjalani pemeriksaan.
Episode depresi mayor melibatkan suasana hati menurun atau kehilangan minat terhadap aktivitas, disertai gejala lain yang memenuhi kriteria klinis. Keluhan dapat mencakup kelelahan, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak berharga. Dalam kriteria diagnostik yang umum digunakan, episode ini berlangsung setidaknya dua minggu.
Namun, mengalami kesedihan selama dua minggu tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan depresi. Pemeriksaan juga perlu mempertimbangkan jumlah gejala, tingkat keparahan, serta dampaknya terhadap aktivitas. Riwayat episode sebelumnya menjadi informasi tambahan untuk memahami perjalanan kondisi.
Episode mania ditandai oleh peningkatan atau perubahan suasana hati yang tidak biasa, seperti perasaan sangat gembira atau mudah tersinggung, disertai peningkatan energi dan aktivitas. Individu mungkin berbicara lebih cepat, memiliki banyak ide, merasa sangat percaya diri, atau membutuhkan tidur jauh lebih sedikit. Pada kondisi tertentu, perilaku impulsif dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan maupun kehidupan sosial.
Episode mania umumnya berlangsung setidaknya satu minggu atau dengan durasi lebih singkat apabila cukup berat hingga membutuhkan perawatan rumah sakit. Kondisi ini berbeda dari perasaan bersemangat setelah mengalami kejadian menyenangkan. Intensitas gejala dan dampaknya terhadap fungsi kehidupan menjadi pertimbangan penting.
Hipomania memiliki karakteristik yang menyerupai mania, tetapi tingkat keparahannya lebih rendah. Perubahan dapat terlihat melalui meningkatnya energi, aktivitas, rasa percaya diri, atau berkurangnya kebutuhan tidur. Pada sebagian individu, periode tersebut justru dianggap sebagai masa ketika dirinya sedang sangat produktif.
Dalam kriteria diagnostik yang umum digunakan, episode hipomania berlangsung setidaknya empat hari berturut-turut. Karena tidak selalu menimbulkan gangguan fungsi yang berat, pengalaman tersebut dapat luput dari perhatian. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai periode peningkatan energi menjadi bagian penting dalam pemeriksaan riwayat suasana hati.
Pedoman NICE mengenai pemeriksaan gangguan bipolar menekankan pentingnya pengumpulan riwayat suasana hati secara terperinci. Pemeriksaan mencakup perubahan perilaku, faktor pemicu, gejala di antara episode, serta riwayat keluarga. Informasi tersebut membantu tenaga profesional memahami pola kondisi sepanjang kehidupan individu.
Tenaga profesional dapat menanyakan kapan perubahan suasana hati pertama kali muncul dan berapa lama berlangsung. Informasi mengenai frekuensi episode juga penting untuk mengetahui apakah perubahan pernah berulang. Durasi membantu membedakan perubahan emosional sesaat dari pola gejala yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Riwayat suasana hati tidak hanya berkaitan dengan perasaan sedih atau bahagia. Perubahan kebutuhan tidur, tingkat energi, kecepatan berbicara, dan aktivitas sehari-hari juga perlu diperhatikan. Informasi ini dapat membantu mengenali gejala yang tidak selalu disadari sebagai bagian dari perubahan suasana hati.
Pemeriksaan juga mempertimbangkan apakah perubahan emosi memengaruhi pekerjaan, hubungan sosial, keuangan, atau tanggung jawab sehari-hari. Seseorang mungkin mengalami peningkatan energi, tetapi sekaligus membuat keputusan yang tidak biasa dan merugikan dirinya. Dampak tersebut membantu memberikan gambaran mengenai tingkat keparahan kondisi.
Instrumen psikologis dapat membantu mengukur gejala emosional secara lebih terstruktur. Melalui tes gangguan mental, individu dapat memperoleh gambaran awal sesuai aspek yang diukur oleh instrumen yang digunakan. Namun, hasil kuesioner tidak selalu mampu menjelaskan seluruh riwayat episode yang pernah dialami.
Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), misalnya, digunakan untuk menilai gejala depresi selama dua minggu terakhir. Sementara itu, Mood Disorder Questionnaire (MDQ) dikembangkan untuk membantu skrining riwayat gejala yang berkaitan dengan mania atau hipomania. Keduanya memiliki tujuan berbeda dan tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis secara mandiri.
Pedoman NICE juga tidak merekomendasikan penggunaan kuesioner sebagai cara utama untuk mengidentifikasi bipolar pada orang dewasa di layanan kesehatan primer. Penelusuran riwayat peningkatan aktivitas dan perilaku yang tidak biasa lebih diutamakan dalam menentukan kebutuhan rujukan. Hal ini memperlihatkan pentingnya wawancara klinis sebagai pelengkap instrumen skrining.
Depresi dan bipolar dapat memiliki gejala yang menyerupai satu sama lain. Individu dengan bipolar juga dapat mengalami episode depresi yang memiliki karakteristik serupa dengan gangguan depresi mayor. Perbedaannya terletak pada adanya riwayat episode mania atau hipomania dalam perjalanan gangguan bipolar.
Seseorang yang hanya menjalani pemeriksaan ketika mengalami kesedihan mungkin tidak menyampaikan pengalaman peningkatan energi pada masa sebelumnya. Akibatnya, informasi penting mengenai pola perubahan suasana hati dapat terlewat. Pemeriksaan riwayat episode membantu mengurangi risiko kesimpulan yang didasarkan hanya pada gejala saat ini.
Mencatat pengalaman emosional dapat membantu individu mengenali pola perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Catatan sederhana dapat mencakup suasana hati, durasi tidur, tingkat energi, aktivitas, serta kejadian penting yang dialami. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembicaraan ketika berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pencatatan sebaiknya dilakukan secara konsisten tanpa memberikan diagnosis terhadap diri sendiri. Perubahan emosi perlu dipahami bersama situasi kehidupan dan kondisi kesehatan yang sedang dialami. Jika memungkinkan dan disetujui individu, informasi dari keluarga atau orang terdekat juga dapat membantu melengkapi riwayat ketika terdapat perubahan perilaku yang sulit disadari sendiri.
Riwayat suasana hati merupakan bagian penting dari asesmen, tetapi tidak dapat digunakan secara terpisah untuk menetapkan diagnosis. Beberapa kondisi medis, penggunaan obat, dan zat tertentu dapat menimbulkan perubahan energi maupun suasana hati. Karena itu, pemeriksaan perlu mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain.
Tenaga profesional juga dapat mengevaluasi riwayat keluarga, fungsi sosial, serta respons terhadap penanganan sebelumnya. Seluruh informasi tersebut membantu membangun pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai kondisi individu. Diagnosis dilakukan berdasarkan kriteria klinis dan hasil evaluasi yang sesuai.
Pemeriksaan profesional dapat dipertimbangkan ketika perubahan suasana hati berlangsung menetap, berulang, atau mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Periode peningkatan energi yang tidak biasa, kebutuhan tidur yang sangat berkurang, perilaku impulsif, atau kesedihan berkepanjangan merupakan beberapa kondisi yang perlu diperhatikan. Individu tidak harus menunggu sampai gejala menjadi berat untuk memperoleh bantuan.
Jika perubahan suasana hati disertai perilaku yang membahayakan diri sendiri, gejala psikotik, atau kesulitan menjaga keselamatan, pertolongan segera diperlukan. Apabila muncul pikiran menyakiti diri atau bunuh diri, bantuan darurat harus dicari tanpa menunggu hasil skrining. Dukungan orang terpercaya dan fasilitas kesehatan dapat membantu memastikan keselamatan individu.
Riwayat episode suasana hati memiliki peran penting dalam pemeriksaan gangguan mental karena membantu memahami pola perubahan emosi sepanjang kehidupan. Informasi mengenai durasi, frekuensi, intensitas, dan dampak gejala dapat mendukung proses identifikasi kondisi seperti depresi dan bipolar. Namun, penilaian riwayat tetap perlu dikombinasikan dengan wawancara klinis serta pemeriksaan tambahan sesuai kebutuhan.
Bagi individu yang ingin mulai mengenali kondisi psikologis, tes gangguan mental dapat menjadi salah satu langkah awal dalam skrining kesehatan mental. Hasil pemeriksaan sebaiknya dipahami sebagai informasi pendukung dan bukan diagnosis mandiri. Dengan memahami riwayat perubahan suasana hati serta memperoleh evaluasi profesional ketika diperlukan, kondisi psikologis dapat dinilai secara lebih menyeluruh dan tepat.
National Institute of Mental Health. Bipolar Disorder. National Institutes of Health.
National Institute for Health and Care Excellence. (2025). Bipolar Disorder: Assessment and Management (CG185). NICE.
Clinical Practice Guidelines for the Management of Bipolar Disorder. (2025). Clinical Practice Guidelines for the Management of Bipolar Disorder: 2025 Update.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.