Pernah merasa sangat bersemangat pada satu waktu, lalu beberapa jam kemudian menjadi mudah tersinggung atau sedih? Perubahan emosi sesekali sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan, terutama ketika seseorang sedang menghadapi banyak tuntutan. Namun, memahami penyebab mood berubah drastis menjadi penting ketika perubahan tersebut terasa jauh lebih kuat dari biasanya, sering berulang, atau mulai memengaruhi hubungan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari.
Suasana hati atau mood tidak muncul begitu saja tanpa dipengaruhi kondisi tubuh dan lingkungan. Tidur, stres, hormon, kondisi fisik, penggunaan obat atau zat, hingga masalah kesehatan mental dapat ikut memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan merespons suatu keadaan. Karena penyebabnya beragam, perubahan mood tidak sebaiknya langsung dikaitkan dengan satu diagnosis tertentu.
Tidak semua perubahan suasana hati menunjukkan adanya gangguan psikologis. Seseorang dapat merasa kecewa setelah menerima kabar buruk, kemudian kembali bersemangat ketika mengalami sesuatu yang menyenangkan. Respons semacam ini masih dapat dianggap wajar apabila intensitasnya sebanding dengan situasi dan tidak menyebabkan gangguan berarti dalam kehidupan.
Perhatian lebih besar diperlukan ketika perubahan mood terasa sangat ekstrem atau tidak sesuai dengan keadaan yang sedang dihadapi. Misalnya, seseorang tiba-tiba mengalami energi yang sangat tinggi selama beberapa hari, hampir tidak tidur, atau justru kehilangan minat terhadap hampir semua aktivitas dalam waktu yang cukup lama. Durasi, intensitas, frekuensi, dan dampaknya terhadap fungsi sehari-hari menjadi hal penting ketika menilai apakah perubahan tersebut membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Stres merupakan salah satu faktor yang sering memengaruhi suasana hati. Tekanan pekerjaan, konflik keluarga, masalah finansial, hubungan interpersonal, atau tugas yang menumpuk dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah marah, cemas, sedih, atau sensitif. Semakin lama tekanan berlangsung tanpa kesempatan pemulihan yang memadai, semakin sulit pula seseorang mempertahankan kestabilan emosinya.
Respons terhadap stres juga berbeda pada setiap individu. Ada orang yang menjadi lebih mudah tersinggung, sementara orang lain cenderung menarik diri dan kehilangan motivasi. Perbedaan ini dipengaruhi pengalaman sebelumnya, kemampuan menghadapi masalah, kondisi kesehatan, kualitas tidur, dan dukungan sosial yang tersedia.
Tidur memiliki peran besar dalam mengatur emosi, konsentrasi, dan energi. Ketika seseorang kurang tidur, kemampuan otak untuk mengatur respons emosional dapat menurun sehingga masalah kecil terasa jauh lebih mengganggu. Akibatnya, seseorang dapat lebih cepat tersinggung, mudah menangis, merasa cemas, atau kesulitan mengendalikan reaksi.
Masalah menjadi lebih penting ketika perubahan pola tidur berlangsung terus-menerus dan disertai perubahan perilaku yang mencolok. Tidur yang sangat sedikit tanpa merasa lelah, misalnya, dapat memiliki arti berbeda dibandingkan begadang kemudian merasa kelelahan sepanjang hari. Karena itu, pola tidur perlu diperhatikan bersama perubahan energi, aktivitas, cara berbicara, dan pengambilan keputusan.
Perubahan hormonal juga dapat memengaruhi suasana hati pada sebagian orang. Masa menjelang menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, perimenopause, maupun menopause dapat disertai perubahan emosi dengan tingkat yang berbeda pada setiap individu. Kondisi tersebut tidak selalu menjadi masalah, tetapi gejala yang berat dan mengganggu fungsi sehari-hari tetap layak dibicarakan dengan profesional kesehatan.
Selain hormon reproduksi, gangguan medis tertentu juga dapat memengaruhi kondisi psikologis. Gangguan tiroid, perubahan kadar gula darah, kondisi neurologis, serta beberapa penyakit kronis dapat disertai perubahan energi dan suasana hati. Karena alasan inilah evaluasi mood terkadang perlu mempertimbangkan kesehatan fisik, bukan hanya aspek psikologis.
Beberapa obat dapat memengaruhi tidur, energi, kecemasan, maupun suasana hati sebagai bagian dari efek sampingnya. Alkohol dan zat psikoaktif juga dapat mengubah emosi, kontrol impuls, serta kemampuan seseorang mengambil keputusan. Efek tersebut dapat terjadi saat zat digunakan, ketika efeknya mulai berkurang, ataupun saat seseorang mengalami gejala putus zat.
Saat menelusuri penyebab mood berubah drastis, informasi mengenai obat dan penggunaan zat karena itu tidak boleh diabaikan. Perubahan mood yang muncul setelah mulai menggunakan obat baru atau mengubah dosis perlu dibicarakan dengan dokter, bukan ditangani dengan menghentikan obat secara mendadak. Begitu pula penggunaan alkohol atau zat sebaiknya disampaikan secara terbuka ketika menjalani pemeriksaan kesehatan.
Gangguan depresi dapat memengaruhi suasana hati, minat, energi, konsentrasi, tidur, dan cara seseorang melihat dirinya sendiri. Pada sebagian orang, perubahan tersebut tidak selalu terlihat sebagai kesedihan terus-menerus, tetapi dapat muncul sebagai mudah marah, kehilangan motivasi, atau merasa hampa. Gejala yang berlangsung menetap dan mengganggu fungsi sehari-hari perlu diperiksa lebih lanjut.
Perubahan mood juga dapat terjadi pada gangguan kecemasan, trauma psikologis, maupun kondisi kesehatan mental lainnya. Rasa cemas yang sangat tinggi, misalnya, dapat membuat seseorang terlihat mudah berubah emosi karena tubuh terus berada dalam kondisi siaga. Diagnosis hanya dapat dibuat setelah melihat pola gejala secara menyeluruh, bukan berdasarkan satu perubahan emosi.
Perubahan mood yang cepat sering langsung diasosiasikan dengan gangguan bipolar, padahal keduanya tidak selalu sama. Bipolar melibatkan episode mania atau hipomania serta episode depresi dengan perubahan yang mencakup bukan hanya perasaan, tetapi juga energi, aktivitas, tidur, cara berpikir, dan perilaku. Episode tersebut biasanya berlangsung dalam pola tertentu dan memiliki dampak yang lebih luas daripada perubahan mood biasa.
Pada mania, misalnya, seseorang dapat mengalami peningkatan energi yang sangat jelas, kebutuhan tidur menurun, bicara lebih cepat, merasa sangat percaya diri, atau mengambil keputusan berisiko. Pada episode depresi, dapat muncul kehilangan minat, energi menurun, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan perasaan tidak berharga. Karena terdapat kondisi lain yang dapat terlihat serupa, diagnosis bipolar memerlukan evaluasi profesional.
Lingkungan juga dapat memengaruhi kestabilan emosi. Konflik yang berlangsung lama, hubungan yang tidak sehat, tekanan pekerjaan, isolasi sosial, atau lingkungan yang penuh ketidakpastian dapat membuat seseorang berada dalam tekanan terus-menerus. Pada akhirnya, beban tersebut dapat terlihat sebagai perubahan mood yang lebih sering dan lebih sulit dikendalikan.
Sebaliknya, hubungan sosial yang sehat dapat menjadi faktor perlindungan. Memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk berbicara, mendapatkan dukungan ketika menghadapi masalah, serta berada dalam lingkungan yang relatif aman dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik. Dukungan tidak menghilangkan seluruh masalah, tetapi dapat mengurangi beban psikologis yang harus ditanggung sendirian.
Perubahan mood perlu diperhatikan apabila mulai berlangsung lebih intens, lebih sering, atau jauh berbeda dari pola seseorang sebelumnya. Kondisi juga perlu dievaluasi ketika perubahan tersebut mulai merusak hubungan, mengganggu pekerjaan atau pendidikan, menyebabkan keputusan berisiko, atau membuat seseorang tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari. Gejala yang terus berlangsung meskipun faktor pemicu telah berlalu juga menjadi alasan untuk mencari bantuan.
Pertolongan perlu dicari lebih segera apabila perubahan mood disertai pikiran menyakiti diri, keinginan bunuh diri, perilaku yang membahayakan diri atau orang lain, kebingungan berat, atau kehilangan kontak dengan realitas. Kondisi seperti ini bukan sekadar perubahan emosi biasa dan membutuhkan penilaian profesional sesegera mungkin. Jika terdapat risiko keselamatan yang mendesak, hubungi layanan kegawatdaruratan atau fasilitas kesehatan terdekat.
Mencatat pola suasana hati dapat membantu seseorang melihat hubungan antara emosi dan aktivitas sehari-hari. Informasi sederhana mengenai waktu tidur, tingkat energi, stres, menstruasi, penggunaan obat, alkohol, kejadian penting, dan perubahan mood dapat menunjukkan pola yang sebelumnya tidak disadari. Catatan tersebut juga dapat menjadi informasi yang berguna ketika berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.
Namun, pencatatan mood tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis diri sendiri. Tujuannya adalah membantu mengenali perubahan dan memberikan gambaran yang lebih lengkap kepada profesional kesehatan. Semakin jelas pola yang dapat diamati, semakin mudah pula menentukan faktor mana yang mungkin perlu diperiksa lebih lanjut.
Pada akhirnya, memahami penyebab mood berubah drastis berarti melihat kondisi tubuh, pikiran, dan lingkungan secara bersama-sama. Stres, kurang tidur, perubahan hormonal, kondisi medis, penggunaan obat atau zat, serta masalah kesehatan mental dapat memengaruhi suasana hati dengan cara yang berbeda pada setiap individu. Karena itu, satu perubahan emosi tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan adanya gangguan tertentu.
Perubahan mood yang masih berkaitan jelas dengan situasi dan segera kembali stabil umumnya berbeda dari perubahan yang ekstrem, menetap, berulang, atau mengganggu fungsi kehidupan. Mengenali perbedaannya membantu seseorang menentukan kapan cukup melakukan perawatan diri dan kapan membutuhkan bantuan profesional. Dengan penilaian yang tepat, penyebab perubahan mood dapat dipahami dengan lebih baik sehingga langkah penanganannya pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.