Ketika membicarakan bipolar disorder, istilah “penyebab”, “faktor risiko”, dan “pemicu” sering digunakan seolah-olah mempunyai arti yang sama. Padahal, ketiganya menjelaskan hal yang berbeda dan kesalahan memahaminya dapat membuat seseorang terlalu cepat menyimpulkan mengapa suatu gangguan muncul. Dalam memahami penyebab bipolar disorder, kita perlu melihat bagaimana kerentanan biologis, pengalaman hidup, dan berbagai situasi tertentu dapat saling berinteraksi.
Bipolar disorder atau gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh perubahan episode suasana hati, energi, aktivitas, dan pola pikir. Seseorang dapat mengalami mania atau hipomania serta episode depresi yang intensitas, durasi, dan polanya berbeda-beda. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa faktor biologis, psikologis, sosial, dan struktural dapat memengaruhi munculnya, perjalanan, dan dampak gangguan bipolar.
Sampai sekarang, ilmu pengetahuan belum menemukan satu penyebab pasti yang berlaku untuk semua orang dengan bipolar. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa penyebab pasti bipolar belum diketahui, tetapi penelitian menunjukkan adanya kombinasi faktor yang ikut berkontribusi, termasuk genetik serta perbedaan tertentu pada struktur dan fungsi otak. Artinya, bipolar tidak tepat dijelaskan hanya melalui satu pengalaman, satu kebiasaan, atau satu faktor biologis.
Cara pandang ini penting karena seseorang mungkin memiliki sejumlah kerentanan tanpa pernah mengalami gangguan bipolar. Pada orang lain, kerentanan biologis tersebut dapat bertemu dengan tekanan kehidupan atau kondisi tertentu yang kemudian berkaitan dengan munculnya episode. Oleh sebab itu, membedakan faktor risiko dan pemicu dapat membantu kita memahami proses tersebut secara lebih tepat.
Faktor risiko adalah keadaan atau karakteristik yang berhubungan dengan kemungkinan lebih tinggi seseorang mengalami suatu kondisi. Faktor risiko bukan berarti penyebab langsung dan tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa seseorang pasti akan mengalami bipolar. Seseorang dapat memiliki satu atau beberapa faktor risiko tetapi tetap tidak pernah mengalami episode bipolar sepanjang hidupnya.
Salah satu faktor risiko yang paling banyak dipelajari adalah riwayat keluarga. NIMH menyebut bipolar sering ditemukan dalam keluarga dan orang yang mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan bipolar memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalaminya. Meskipun demikian, banyak orang dengan riwayat keluarga bipolar tidak pernah mengalami gangguan tersebut.
Bipolar bukan kondisi yang disebabkan oleh satu “gen bipolar”. Banyak gen terlibat dan masing-masing dapat memberikan kontribusi terhadap kerentanan seseorang, sehingga pola pewarisannya jauh lebih kompleks daripada penyakit genetik yang disebabkan satu perubahan gen. Bahkan pada kembar identik, salah satu individu dapat mengalami bipolar sementara kembar lainnya tidak.
Temuan tersebut menjadi petunjuk bahwa gen memang berperan, tetapi tidak bekerja sendirian. Pengalaman kehidupan, kondisi biologis lain, stres, serta lingkungan dapat berinteraksi dengan kerentanan yang sudah dimiliki seseorang. Karena itu, memiliki anggota keluarga dengan bipolar lebih tepat dipahami sebagai alasan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental, bukan untuk menganggap seseorang pasti akan mengalaminya.
Pemicu berbeda dengan faktor risiko karena biasanya berkaitan dengan suatu keadaan atau perubahan yang mendahului muncul atau memburuknya episode pada individu yang memang rentan. Pemicu tidak selalu menciptakan gangguan dari awal dan tidak semua orang akan merespons pemicu yang sama dengan cara serupa. Pada bipolar, peristiwa penuh tekanan, perubahan tidur, atau kondisi kehidupan tertentu dapat berperan sebagai pemicu bagi sebagian individu.
WHO menjelaskan bahwa pengalaman yang merugikan atau mengubah kehidupan, seperti kehilangan orang terdekat, kekerasan, atau berakhirnya sebuah hubungan, dapat memicu maupun memperburuk gejala bipolar. Penggunaan alkohol atau zat tertentu juga dapat memengaruhi muncul dan perjalanan kondisi tersebut. Namun, adanya salah satu pengalaman itu tetap tidak berarti seseorang otomatis mengalami bipolar.
Stres merupakan contoh yang baik untuk menunjukkan mengapa batas antara faktor risiko dan pemicu tidak selalu sederhana. Tekanan psikologis yang berlangsung lama dapat menjadi bagian dari konteks risiko, sedangkan suatu kejadian stres yang cukup berat dapat berkaitan dengan munculnya episode pada individu tertentu. NIMH menyebut individu dengan risiko genetik bipolar mungkin lebih mungkin mengembangkan kondisi tersebut setelah mengalami trauma atau peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.
Meski begitu, stres tidak boleh disebut sebagai penyebab tunggal bipolar. Jutaan orang menghadapi konflik, kehilangan, pekerjaan berat, atau masalah finansial tanpa pernah mengalami episode bipolar. Respons terhadap tekanan dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, psikologis, sosial, biologis, dan dukungan yang tersedia.
Saat membahas penyebab bipolar disorder, tidur juga perlu ditempatkan secara hati-hati. Berkurangnya kebutuhan tidur dapat menjadi bagian dari gejala mania, sementara pola tidur juga dapat berubah selama episode depresi. Karena itu, gangguan tidur bisa menjadi tanda yang menyertai episode, dan pada sebagian orang perubahan pola tidur juga dapat berkaitan dengan ketidakstabilan kondisi.
Seseorang yang sesekali tidur larut tentu tidak dapat langsung dianggap berisiko mengalami bipolar. Yang lebih penting adalah perubahan yang jelas dari pola biasanya, terutama apabila terjadi bersama peningkatan energi, aktivitas yang tidak biasa, pikiran yang terasa sangat cepat, impulsivitas, atau perubahan suasana hati yang nyata. NIMH menekankan bahwa diagnosis bipolar didasarkan pada tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, serta perjalanan kondisi seseorang, bukan pada satu gejala secara terpisah.
Trauma sering disebut dalam pembahasan bipolar sehingga terkadang muncul anggapan bahwa trauma pasti menyebabkan gangguan tersebut. Padahal, trauma lebih tepat dipahami sebagai pengalaman yang dapat berinteraksi dengan kerentanan seseorang. Tidak semua orang yang mengalami trauma mengalami bipolar, dan tidak semua individu dengan bipolar memiliki riwayat trauma yang sama.
Dampak suatu pengalaman juga dapat dipengaruhi usia, dukungan sosial, kondisi psikologis sebelumnya, intensitas kejadian, serta proses pemulihan setelah peristiwa tersebut. Inilah sebabnya dua orang yang menghadapi kejadian serupa dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda. Penilaian kesehatan mental perlu mempertimbangkan keseluruhan perjalanan kehidupan dan bukan mencari satu peristiwa untuk dijadikan penjelasan tunggal.
Penggunaan alkohol atau zat tertentu juga perlu dibedakan dari penyebab langsung bipolar. WHO mencatat bahwa penggunaan alkohol dan obat atau zat dapat memengaruhi onset maupun perjalanan bipolar, sedangkan NIMH menjelaskan bahwa efek beberapa obat resep, obat rekreasional, atau zat terlarang dapat menyerupai maupun memperburuk gejala suasana hati. Karena itu, riwayat penggunaan zat menjadi informasi penting dalam proses pemeriksaan.
Situasinya dapat semakin kompleks karena seseorang mungkin menggunakan alkohol atau zat sebagai cara menghadapi stres dan emosi yang sulit. Pada sisi lain, zat tersebut dapat mengganggu tidur, perilaku, dan kestabilan suasana hati. Profesional kesehatan mental perlu melihat urutan kejadian dan pola gejalanya agar hubungan tersebut dapat dipahami secara lebih akurat.
Lingkungan tidak selalu berperan negatif. Hubungan penuh konflik, kekerasan, stigma, atau tekanan berkepanjangan dapat menambah beban psikologis, tetapi keluarga yang suportif dan lingkungan yang aman dapat membantu seseorang menjaga kestabilan serta memperoleh pertolongan lebih cepat. Dengan kata lain, faktor sosial dapat berperan sebagai risiko maupun perlindungan.
WHO bahkan menjelaskan bahwa pekerjaan dapat menjadi sumber stres bagi individu dengan bipolar, tetapi lingkungan kerja yang baik dan penyesuaian yang sesuai juga dapat mendukung pemulihan, fungsi, harga diri, dan kualitas hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan bergantung pada karakteristik serta konteksnya. Tidak semua tekanan memiliki dampak yang sama dan tidak semua lingkungan memberikan risiko yang serupa.
Membedakan penyebab, faktor risiko, dan pemicu membantu menghindari kesimpulan yang terlalu sederhana. Mengatakan seseorang mengalami bipolar “karena putus cinta”, “karena kurang tidur”, atau “karena orang tuanya bipolar” dapat mengabaikan kompleksitas kondisi tersebut. Peristiwa tersebut mungkin relevan, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan munculnya gangguan.
Pemahaman ini juga penting agar orang tidak melakukan diagnosis sendiri berdasarkan satu faktor risiko. Memiliki riwayat keluarga, sering stres, atau pernah mengalami trauma bukan bukti bahwa seseorang menderita bipolar. Diagnosis membutuhkan evaluasi pola mania, hipomania dan depresi, durasi serta intensitas episode, kondisi kesehatan, penggunaan zat, riwayat keluarga, dan fungsi sehari-hari.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar disorder membutuhkan cara pandang yang lebih luas daripada mencari satu faktor utama. Faktor risiko seperti kerentanan genetik dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan, sementara stres, trauma, perubahan kehidupan, gangguan tidur, atau penggunaan zat dapat menjadi pemicu atau memperburuk episode pada sebagian individu. Peran setiap faktor dapat berbeda sehingga perjalanan bipolar tidak selalu sama antara satu orang dan lainnya.
Memahami perbedaan tersebut juga membantu mengurangi stigma dan kecenderungan menyalahkan diri sendiri maupun keluarga. Bipolar bukan akibat seseorang kurang kuat menghadapi masalah dan bukan pula kondisi yang dapat diprediksi hanya melalui satu faktor risiko. Dengan penilaian profesional dan pemahaman terhadap pola individu, faktor risiko serta pemicu dapat dikenali dengan lebih baik sehingga penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.