Kesibukan, kurang tidur, tekanan pekerjaan, konflik hubungan, dan perubahan rutinitas sering dianggap sebagai bagian biasa dari kehidupan modern. Namun, pada orang dengan kerentanan tertentu, berbagai tekanan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan suasana hati yang jauh lebih berat daripada stres sehari-hari. Membicarakan penyebab bipolar karena itu perlu dilakukan dengan hati-hati, sebab gangguan bipolar tidak muncul hanya karena seseorang sedang stres atau menjalani pola hidup yang kurang sehat.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati, energi, aktivitas, dan cara berpikir seseorang. Individu dengan bipolar dapat mengalami episode mania atau hipomania serta episode depresi dengan tingkat keparahan dan pola yang berbeda-beda. World Health Organization (WHO) menekankan bahwa bipolar melibatkan berbagai faktor biologis, psikologis, sosial, dan struktural, sehingga penyebabnya tidak dapat dijelaskan melalui satu faktor saja.
Pertanyaan mengenai hubungan antara stres dan bipolar cukup sering muncul karena episode gangguan suasana hati terkadang terlihat setelah seseorang mengalami masa yang penuh tekanan. Namun, stres tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal gangguan bipolar. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa penyebab pasti bipolar belum diketahui dan penelitian menunjukkan adanya kombinasi faktor yang turut berperan, termasuk faktor genetik, fungsi otak, trauma, serta peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.
Artinya, mengalami tekanan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, masalah finansial, atau konflik hubungan tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami bipolar. Banyak orang menghadapi peristiwa berat tanpa pernah mengalami episode mania atau depresi bipolar. Sebaliknya, pada individu yang sudah memiliki kerentanan biologis atau genetik, tekanan tertentu dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan muncul atau memburuknya gejala.
Dalam pembahasan bipolar, penting membedakan antara penyebab dan pemicu. Penyebab mengacu pada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap berkembangnya gangguan, sedangkan pemicu merupakan kondisi yang dapat mendahului atau memperburuk episode pada orang yang memang rentan. WHO menyebutkan bahwa peristiwa kehidupan yang merugikan atau mengubah kehidupan, seperti kehilangan, kekerasan, dan berakhirnya hubungan, dapat memicu atau memperburuk gejala bipolar.
Pemahaman tersebut membuat kita tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa satu kejadian tertentu merupakan alasan seseorang mengalami bipolar. Dua orang dapat mengalami tekanan yang sama tetapi menunjukkan respons psikologis yang sangat berbeda. Riwayat keluarga, kondisi biologis, pengalaman sebelumnya, kualitas tidur, dukungan sosial, serta kemampuan mengelola stres ikut membentuk respons masing-masing individu.
Penelitian menunjukkan bahwa gangguan bipolar memiliki hubungan yang cukup kuat dengan faktor keturunan. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan bipolar mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi tersebut dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga serupa. Namun, NIMH menegaskan bahwa tidak ada satu gen tunggal yang menyebabkan bipolar dan tidak semua individu dengan riwayat bipolar dalam keluarga akan mengembangkan gangguan tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa genetik lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kerentanan, bukan sebagai kepastian. Bahkan pada saudara kembar identik, salah satu individu dapat mengalami bipolar sementara saudara kembarnya tidak mengalaminya. Dengan demikian, faktor genetik perlu dilihat bersama pengaruh lingkungan dan pengalaman hidup seseorang.
Tidur mempunyai hubungan erat dengan suasana hati, energi, kemampuan berkonsentrasi, dan kestabilan fungsi tubuh. Salah satu tanda yang dapat muncul pada episode mania adalah berkurangnya kebutuhan tidur, sedangkan episode depresi dapat disertai kesulitan tidur atau justru tidur berlebihan. Perubahan tidur yang mencolok karena itu perlu diperhatikan, terutama ketika muncul bersama perubahan energi, aktivitas, dan perilaku lainnya.
Penelitian mengenai bipolar juga semakin banyak memperhatikan peran ritme sirkadian, yaitu sistem biologis tubuh yang mengatur siklus tidur-bangun dan berbagai proses tubuh selama kurang lebih 24 jam. Peneliti NIMH menjelaskan bahwa individu dengan bipolar kemungkinan lebih sensitif terhadap gangguan rutinitas sehari-hari, termasuk perubahan tidur, cahaya, musim, dan stres. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa menjaga keteraturan tidur menjadi bagian penting dalam pengelolaan kondisi bipolar.
Ketika memahami penyebab bipolar, pola hidup tidak seharusnya dianggap sebagai penyebab langsung yang berdiri sendiri. Begadang semalaman, jadwal pekerjaan berubah, sering bepergian, atau menjalani aktivitas yang sangat padat tidak serta-merta membuat seseorang mengalami bipolar. Akan tetapi, perubahan rutinitas tersebut dapat memengaruhi kestabilan tidur, tingkat stres, aktivitas, serta ritme harian pada individu yang telah memiliki kerentanan.
Bayangkan seseorang yang selama beberapa minggu bekerja sampai dini hari, hanya tidur beberapa jam, menghadapi banyak tuntutan, dan hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Pada kebanyakan orang, kondisi tersebut mungkin menyebabkan kelelahan dan stres, tetapi pada individu tertentu dampaknya dapat lebih besar terhadap kestabilan mood. Karena itu, pola kehidupan sebaiknya dilihat sebagai bagian dari lingkungan yang berinteraksi dengan kondisi biologis dan psikologis seseorang.
Menjaga pola hidup bukan berarti seseorang dapat “menyembuhkan” bipolar hanya dengan tidur cukup atau berpikir positif. Bipolar merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat membutuhkan pengobatan dan intervensi psikologis sesuai kondisi individu. Namun, WHO menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup seperti tidur teratur, aktivitas fisik, pola makan sehat, mengurangi stresor, dan memantau suasana hati dapat membantu individu dengan bipolar menjaga kesehatannya.
Rutinitas juga membantu seseorang mengenali ketika terdapat perubahan dari pola kesehariannya. Misalnya, kebutuhan tidur yang mendadak jauh berkurang tetapi energi justru meningkat secara tidak biasa dapat menjadi informasi penting yang perlu diperhatikan bersama tanda lainnya. Pencatatan mood dan aktivitas dapat membantu individu maupun tenaga profesional melihat pola perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Alkohol dan penggunaan zat tertentu juga dapat berhubungan dengan perjalanan gangguan bipolar. WHO menyebutkan bahwa penggunaan alkohol maupun obat atau zat dapat memengaruhi kemunculan dan perjalanan gangguan tersebut. Karena itu, penggunaan zat perlu menjadi salah satu bagian yang dinilai ketika seseorang mengalami perubahan suasana hati yang signifikan.
Hubungannya pun tidak selalu sederhana karena sebagian individu mungkin menggunakan alkohol atau zat sebagai cara menghadapi tekanan emosional yang sudah ada sebelumnya. Pada saat yang sama, penggunaan tersebut dapat memperumit kondisi psikologis dan pengobatan yang sedang dijalani. Penilaian menyeluruh oleh profesional diperlukan untuk memahami hubungan berbagai faktor tersebut pada setiap individu.
Kesalahpahaman yang perlu dihindari adalah menganggap seseorang mengalami bipolar karena tidak mampu menghadapi stres. Kemampuan mengelola tekanan memang penting bagi kesehatan mental, tetapi gangguan bipolar tidak mencerminkan kelemahan karakter seseorang. Faktor genetik, biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan memiliki hubungan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan seseorang untuk “tetap tenang”.
Cara pandang ini juga penting bagi keluarga dan orang terdekat. Meminta seseorang untuk sekadar berpikir positif, tidak terlalu memikirkan masalah, atau lebih bersyukur bukanlah pengganti evaluasi dan penanganan profesional. Dukungan yang lebih bermanfaat adalah mendengarkan, membantu menjaga rutinitas sehat, mengenali perubahan perilaku yang signifikan, dan mendorong pencarian bantuan ketika diperlukan.
Tidak setiap perubahan mood merupakan tanda gangguan bipolar. Seseorang dapat merasa lebih bersemangat pada suatu hari dan lebih murung keesokan harinya tanpa mengalami gangguan psikologis tertentu. Pada bipolar, perubahan mood biasanya terjadi bersama perubahan nyata pada energi, aktivitas, tidur, proses berpikir, dan perilaku serta dapat memengaruhi kemampuan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Evaluasi profesional penting terutama ketika perubahan tersebut terasa ekstrem, terjadi berulang, menimbulkan perilaku berisiko, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial. Kondisi medis maupun gangguan psikologis lain juga dapat menghasilkan gejala yang tampak serupa. Karena itu, diagnosis bipolar tidak sebaiknya ditentukan hanya dari hasil membaca gejala atau pengalaman perubahan mood secara pribadi.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar berarti melihat hubungan antara kerentanan biologis dengan berbagai pengalaman dalam kehidupan seseorang. Stres, perubahan pola tidur, rutinitas yang tidak teratur, trauma, dan penggunaan zat dapat berperan sebagai faktor yang memengaruhi perjalanan gangguan, tetapi tidak berdiri sebagai penyebab tunggal. Faktor genetik dan fungsi biologis juga berkontribusi, sehingga bipolar lebih tepat dipahami melalui pendekatan yang menyeluruh.
Pengetahuan ini penting bukan hanya bagi orang yang hidup dengan bipolar, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat agar tidak mudah memberikan stigma. Mengenali perubahan pola hidup dan stres dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan, sementara pemeriksaan profesional membantu memastikan kondisi serta menentukan penanganan yang sesuai. Dengan dukungan, pengobatan, intervensi psikologis, dan pola hidup yang mendukung, individu dengan gangguan bipolar tetap dapat menjalani kehidupan yang bermakna dan produktif.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.