Penyakit Gangguan Bipolar pada Remaja dan Orang Dewasa

06 Oct 2026 Ardi Almaqassary Gangguan Bipolar 2x dibaca
Penyakit Gangguan Bipolar pada Remaja dan Orang Dewasa

Masa remaja dan dewasa membawa tantangan yang berbeda. Remaja sedang menghadapi perubahan emosi, hubungan sosial, pendidikan, dan perkembangan identitas, sedangkan orang dewasa biasanya berhadapan dengan pekerjaan, relasi pasangan, keluarga, dan tuntutan kemandirian. Ketika bipolar muncul, kondisi tersebut dapat berinteraksi dengan tugas perkembangan yang sedang dijalani seseorang.

Pembahasan mengenai penyakit gangguan bipolar pada remaja dan orang dewasa karena itu tidak cukup hanya membandingkan daftar gejalanya. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa pada 2023 sekitar 36 juta orang hidup dengan bipolar, termasuk sekitar 3,3 juta remaja berusia 10–19 tahun. Kondisi ini dapat muncul pada usia muda maupun dewasa dan memengaruhi mood, energi, aktivitas, pikiran, serta fungsi sehari-hari.

Apakah Bipolar Bisa Terjadi pada Remaja?

Bipolar memang dapat ditemukan pada remaja. Namun, mengidentifikasinya pada kelompok usia ini membutuhkan kehati-hatian karena masa remaja sendiri ditandai perkembangan emosi, sosial, dan fisik yang cukup besar. Perubahan mood biasa pada masa remaja tidak boleh langsung dianggap sebagai bipolar.

National Institute of Mental Health (NIMH) menegaskan bahwa bipolar berbeda dari naik-turunnya emosi yang biasa dialami anak dan remaja. Perubahan pada bipolar lebih ekstrem serta dapat memengaruhi energi, aktivitas, hubungan keluarga, pertemanan, dan kemampuan menjalankan kegiatan sekolah. Karena itu, yang dinilai adalah pola perubahan yang nyata dan dampaknya terhadap fungsi, bukan sekadar apakah remaja sedang emosional.

1. Bipolar pada Remaja Perlu Dilihat dalam Konteks Perkembangan

Remaja masih berada dalam proses membangun identitas dan kemampuan mengelola emosi. Konflik dengan orang tua, perubahan pertemanan, pencarian kemandirian, serta naik-turunnya motivasi dapat terjadi sebagai bagian perkembangan normal. Tantangannya adalah membedakan perubahan tersebut dengan episode mood yang memiliki pola klinis.

Beberapa perubahan yang perlu dilihat secara lebih menyeluruh antara lain:

  • mood meningkat atau iritabel secara tidak biasa;

  • energi dan aktivitas berubah secara nyata;

  • kebutuhan tidur jauh berkurang;

  • pembicaraan menjadi lebih cepat;

  • muncul banyak aktivitas atau rencana sekaligus;

  • perilaku menjadi lebih impulsif;

  • kehilangan minat dan energi dalam periode depresi;

  • fungsi sekolah dan hubungan sosial mulai terganggu.

Daftar tersebut tidak dapat digunakan sebagai alat diagnosis mandiri. Satu perilaku seperti tidur larut atau mudah marah dapat mempunyai banyak penjelasan lain. Psikolog perlu memperhatikan kombinasi gejala, durasi, perubahan dari kondisi dasar, dan dampaknya terhadap kehidupan remaja.

2. Sekolah Menjadi Salah Satu Area Fungsi yang Penting

Pada remaja, sekolah merupakan bagian besar dari kehidupan sehari-hari sehingga perubahan fungsi sering terlihat di sana. Individu yang biasanya mampu mengikuti pelajaran dapat mulai sulit berkonsentrasi, semakin sering tidak menyelesaikan tugas, atau mengalami perubahan aktivitas yang cukup drastis. Hubungan dengan teman maupun guru juga dapat ikut berubah.

WHO menjelaskan bahwa bipolar dapat menimbulkan kesulitan di sekolah, pekerjaan, hubungan, dan aktivitas harian. Pada remaja, gangguan fungsi pendidikan menjadi informasi penting karena perubahan akademik dapat muncul bersama perubahan tidur, energi, mood, dan perilaku. Namun, penurunan nilai saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bipolar.

Perubahan Prestasi Tidak Selalu Berarti Bipolar

Nilai sekolah dapat menurun karena berbagai sebab seperti tekanan akademik, konflik sosial, masalah keluarga, kesulitan belajar, atau gangguan psikologis lainnya. Karena itu, psikolog tidak menilai bipolar hanya dari perubahan akademik. Riwayat mood dan fungsi tetap perlu ditelusuri dari waktu ke waktu.

3. Identifikasi Bipolar pada Remaja Membutuhkan Kehati-hatian

National Institute for Health and Care Excellence (NICE) memberikan perhatian khusus terhadap asesmen bipolar pada anak dan remaja. NICE menyatakan bahwa diagnosis pada kelompok usia muda seharusnya dilakukan setelah pemantauan longitudinal yang intensif oleh tenaga profesional atau tim multidisiplin yang berpengalaman. Kuesioner juga tidak dianjurkan sebagai satu-satunya cara mengidentifikasi bipolar pada anak dan remaja.

Dalam asesmen, beberapa area dapat ditelusuri:

  1. perjalanan perubahan mood;

  2. pola tidur dan energi;

  3. aktivitas serta perilaku;

  4. fungsi sekolah;

  5. hubungan keluarga dan pertemanan;

  6. stresor psikososial;

  7. perubahan dari pola perkembangan sebelumnya;

  8. risiko terhadap keselamatan.

Pendekatan longitudinal berarti perubahan dilihat selama suatu periode, bukan hanya berdasarkan kesan dalam satu hari. Hal ini sangat penting pada remaja karena perkembangan normal dapat menghasilkan perilaku yang sekilas menyerupai beberapa gejala bipolar. Informasi dari keluarga juga dapat membantu memberikan gambaran mengenai perubahan yang terjadi di rumah.

4. Bipolar pada Orang Dewasa Sering Terlihat melalui Perubahan Fungsi

Dalam memahami penyakit gangguan bipolar pada orang dewasa, konteks kehidupannya tentu berbeda. Tanggung jawab pekerjaan, pengelolaan keuangan, kehidupan rumah tangga, hubungan pasangan, serta peran sebagai orang tua dapat menjadi area yang terdampak ketika episode muncul. Karena itu, perubahan fungsi sering menjadi bagian penting dalam asesmen.

NIMH menjelaskan bahwa bipolar menyebabkan perubahan jelas pada mood, energi, aktivitas, dan konsentrasi sehingga dapat memengaruhi kemampuan seseorang melakukan tugas sehari-hari. Dampaknya pada orang dewasa dapat terlihat melalui pekerjaan yang terganggu, keputusan yang lebih impulsif, perubahan hubungan interpersonal, atau kesulitan mempertahankan rutinitas.

5. Episode Mania dan Hipomania Dapat Memengaruhi Keputusan

Pada orang dewasa, peningkatan energi dapat terlihat melalui jumlah aktivitas yang bertambah secara drastis. Seseorang mungkin mengambil banyak pekerjaan, membuat berbagai rencana, mengurangi waktu tidur, atau mengambil keputusan secara lebih cepat. Dalam episode mania yang lebih berat, kemampuan mempertimbangkan konsekuensi juga dapat terganggu.

Perubahan yang dapat diperhatikan meliputi:

  • aktivitas kerja meningkat drastis;

  • kebutuhan tidur berkurang;

  • pengeluaran menjadi lebih impulsif;

  • banyak proyek dilakukan bersamaan;

  • kepercayaan diri meningkat secara tidak biasa;

  • keputusan berisiko bertambah;

  • komunikasi menjadi sangat cepat atau intens.

Penting untuk membandingkan perilaku tersebut dengan kondisi dasar individu. Seorang pengusaha yang memang terbiasa menjalankan banyak proyek tidak otomatis mengalami hipomania. Perubahan menjadi lebih bermakna ketika muncul sebagai pola baru bersama perubahan mood, tidur, energi, serta fungsi lainnya.

6. Depresi Dapat Terlihat Berbeda Sesuai Tuntutan Kehidupan

Baik remaja maupun orang dewasa dapat mengalami episode depresi pada bipolar, tetapi dampaknya mungkin terlihat dalam konteks berbeda. Pada remaja, kesulitan dapat terlihat pada sekolah, pertemanan, aktivitas keluarga, atau hilangnya minat terhadap kegiatan. Pada orang dewasa, dampaknya dapat muncul pada pekerjaan, hubungan, tanggung jawab rumah tangga, dan perawatan diri.

Beberapa karakteristik yang dapat muncul adalah:

  1. kehilangan minat terhadap kegiatan;

  2. energi menurun;

  3. kesulitan berkonsentrasi;

  4. perubahan pola tidur;

  5. perasaan tidak berharga;

  6. kehilangan harapan;

  7. pikiran mengenai kematian atau bunuh diri.

WHO memperkirakan 3,3 juta remaja usia 10–19 tahun mengalami bipolar pada 2023 dan menekankan bahwa individu dengan bipolar memiliki risiko bunuh diri yang meningkat. Pikiran menyakiti diri atau bunuh diri pada remaja maupun orang dewasa karena itu memerlukan perhatian profesional segera.

7. Kondisi Lain Perlu Dibedakan dari Bipolar

Identifikasi bipolar pada remaja dapat menjadi kompleks karena beberapa karakteristik dapat menyerupai kondisi psikologis lain. Kesulitan konsentrasi dan impulsivitas, misalnya, juga dapat ditemukan pada Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas. Masalah penggunaan zat, kecemasan, depresi, maupun kondisi perkembangan lainnya juga perlu dipertimbangkan sesuai gambaran individu.

Pada orang dewasa, psikolog juga perlu memperhatikan kondisi psikologis dan faktor lain yang dapat menyerupai atau memperburuk perubahan mood. NICE merekomendasikan asesmen komprehensif dengan melihat riwayat mood, perilaku, fungsi, stresor psikososial, penggunaan zat, dan kondisi lain yang relevan. Kesimpulan karena itu tidak dibuat hanya berdasarkan satu instrumen atau satu kumpulan gejala.

8. Peran Keluarga Berbeda pada Remaja dan Orang Dewasa

Pada remaja, keluarga biasanya memiliki keterlibatan yang lebih besar karena individu masih bergantung pada orang tua atau caregiver dalam banyak aspek kehidupannya. Orang tua juga dapat membantu memberikan informasi mengenai perubahan tidur, perilaku, aktivitas, atau fungsi sekolah. Namun, remaja tetap perlu diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman pribadinya.

Pada orang dewasa, keterlibatan keluarga atau pasangan lebih bergantung pada kebutuhan dan persetujuan individu. Mereka dapat membantu mengenali perubahan yang mungkin sulit disadari ketika episode berkembang. Dukungan sebaiknya tetap menghargai kemandirian dan tidak berubah menjadi pengawasan terhadap setiap emosi.

9. Tahap Perkembangan Memengaruhi Tujuan Dukungan

Pendampingan psikologis perlu mempertimbangkan tugas perkembangan seseorang. Pada remaja, perhatian dapat diarahkan pada pendidikan, hubungan dengan keluarga, perkembangan identitas, keterampilan sosial, dan kemampuan mengelola tekanan. WHO menyebut masa remaja sebagai periode perkembangan yang unik dan formatif sehingga dukungan kesehatan mental pada tahap ini mempunyai dampak hingga masa dewasa.

Pada orang dewasa, fokus dapat lebih banyak berkaitan dengan:

  • mempertahankan pekerjaan;

  • menjaga hubungan pasangan dan keluarga;

  • mengelola tuntutan kehidupan;

  • mempertahankan kemandirian;

  • mengembangkan strategi coping;

  • mengenali tanda awal episode;

  • menjaga fungsi sosial.

Perbedaan fokus tersebut tidak berarti satu kelompok lebih berat daripada kelompok lain. Kebutuhan ditentukan oleh kondisi, tahap perkembangan, fungsi, dan lingkungan masing-masing individu. Karena itu, intervensi psikologis idealnya selalu bersifat personal.

Bipolar Perlu Dipahami Sesuai Usia dan Konteks Kehidupan

Pada akhirnya, memahami penyakit gangguan bipolar pada remaja dan orang dewasa berarti melihat gejala sekaligus tahap perkembangan tempat gejala tersebut muncul. Remaja menghadapi tuntutan perkembangan, pendidikan, keluarga, dan pertemanan, sedangkan orang dewasa lebih banyak berhadapan dengan pekerjaan, kemandirian, hubungan pasangan, serta tanggung jawab kehidupan. Pola episode tetap penting, tetapi konteks fungsi membuat pengalaman setiap kelompok menjadi berbeda.

Asesmen psikologis karena itu perlu melihat riwayat secara longitudinal, perubahan dari kondisi dasar, fungsi, lingkungan, serta risiko terhadap keselamatan. Remaja tidak seharusnya diberi label bipolar hanya karena emosinya berubah, begitu pula orang dewasa tidak dapat didiagnosis berdasarkan satu periode stres atau kurang tidur. Dengan asesmen yang sesuai usia dan dukungan yang tepat, perhatian dapat diarahkan pada pemahaman kondisi sekaligus membantu individu tetap berkembang sesuai tahap kehidupannya.

Gangguan Bipolar Bipolar Remaja Bipolar Dewasa Kesehatan Mental Remaja Mania Hipomania Depresi Bipolar Psikologi Klinis Asesmen Psikologis
Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami