Merasa suasana hati berubah, sulit tidur, atau tiba-tiba menjadi sangat bersemangat belum tentu berarti seseorang mengalami bipolar. Banyak kondisi psikologis maupun situasi kehidupan dapat menghasilkan pengalaman yang tampak mirip. Karena itu, pemeriksaan bipolar tidak dilakukan hanya dengan melihat satu gejala atau mengisi satu kuesioner.
Dalam pemeriksaan penyakit gangguan bipolar, psikolog perlu memahami perjalanan kondisi dari waktu ke waktu. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa penilaian bipolar mempertimbangkan tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, pengalaman sepanjang kehidupan, dan riwayat keluarga. Melihat perjalanan beberapa hari, minggu, bahkan episode sebelumnya penting agar pemeriksaan tidak hanya menggambarkan keadaan seseorang saat satu sesi.
Seseorang dapat datang ke psikolog ketika sedang mengalami depresi, sementara periode hipomania yang pernah terjadi beberapa bulan sebelumnya tidak dianggap sebagai masalah. NIMH menjelaskan bahwa hal seperti ini dapat terjadi khususnya pada Bipolar II karena individu terkadang mencari pertolongan ketika depresi, sedangkan hipomania sebelumnya tidak disadari. Pemeriksaan karena itu membutuhkan gambaran longitudinal, bukan sekadar kondisi hari ini.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) juga merekomendasikan pemeriksaan yang mencakup riwayat mood secara rinci, periode aktivitas berlebihan atau perilaku tanpa hambatan, kondisi di antara episode, kemungkinan pemicu, dan pola kekambuhan. Pemeriksaan juga perlu memperhatikan fungsi sosial, fungsi personal, serta stresor psikososial yang sedang dialami. Pendekatan ini membantu psikolog melihat individu secara menyeluruh.
Wawancara klinis membantu psikolog memahami apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah perubahan mood. Pertanyaan tidak hanya membahas apakah seseorang pernah merasa sangat bahagia atau sedih. Psikolog juga dapat menggali perubahan energi, tidur, aktivitas, pola pikir, perilaku, dan kemampuan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Beberapa area yang dapat ditanyakan meliputi:
kapan perubahan mood mulai dirasakan;
berapa lama perubahan berlangsung;
apakah energi meningkat atau menurun;
bagaimana kebutuhan tidur berubah;
apakah aktivitas menjadi jauh lebih banyak;
apakah pernah terjadi perilaku impulsif;
bagaimana konsentrasi dan pengambilan keputusan;
apakah pekerjaan atau hubungan ikut terganggu.
Informasi tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi dasar individu. Orang yang sejak dulu aktif, misalnya, tidak otomatis dianggap mengalami hipomania hanya karena memiliki banyak kegiatan. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang cukup jelas dari pola pribadinya.
Pemeriksaan bipolar memiliki fokus kuat pada pola episode. Psikolog dapat meminta individu mengingat periode ketika mood, energi, atau aktivitas berubah secara signifikan, kemudian menelusuri apa yang terjadi sebelum dan sesudah periode tersebut. Riwayat semacam ini membantu membedakan perubahan emosional sehari-hari dari pola episode.
Hal yang dapat dipetakan antara lain:
episode dengan energi meningkat, termasuk kemungkinan mania atau hipomania;
episode dengan mood dan energi menurun, termasuk periode depresi;
periode relatif stabil di antara perubahan tersebut;
frekuensi episode yang pernah terjadi;
dampak episode terhadap pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau aktivitas lain.
NIMH menyebut bipolar dapat bersifat episodik dan perubahan mood biasanya terjadi bersama perubahan perilaku, energi, serta tingkat aktivitas yang dapat diamati orang lain. Riwayat episode sangat penting karena beberapa kondisi lain dapat menunjukkan gejala yang mirip. Oleh sebab itu, satu potongan pengalaman tidak sebaiknya digunakan untuk menarik kesimpulan.
Pemeriksaan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai perasaan. Psikolog juga perlu memahami apakah perubahan tersebut memengaruhi kemampuan individu menjalankan kehidupan sehari-hari. Dampak terhadap fungsi sering memberikan informasi mengenai tingkat keparahan kondisi.
Area fungsi yang dapat diperiksa meliputi:
pekerjaan atau pendidikan;
hubungan keluarga;
hubungan pasangan dan pertemanan;
pengelolaan keuangan;
aktivitas sosial;
kemampuan merawat diri;
pengambilan keputusan.
NICE secara khusus merekomendasikan penilaian terhadap fungsi sosial dan personal serta stresor psikososial. Hal ini penting karena dua orang dapat mengalami gejala yang mirip tetapi mempunyai tingkat gangguan fungsi yang berbeda. Dengan demikian, pemeriksaan menjadi lebih dekat dengan pengalaman nyata individu.
Dalam pemeriksaan penyakit gangguan bipolar, psikolog tidak seharusnya langsung menyimpulkan bipolar hanya karena menemukan perubahan mood atau impulsivitas. NICE mengingatkan perlunya mempertimbangkan kondisi lain, termasuk gangguan spektrum skizofrenia, gangguan kepribadian, penggunaan zat, gangguan penggunaan alkohol, Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas, serta kondisi fisik tertentu. Pemeriksaan seperti ini membantu mengurangi risiko kesimpulan yang terlalu cepat.
NIMH juga menjelaskan bahwa kondisi seperti gangguan tiroid dapat menghasilkan gejala yang menyerupai bipolar. Pengaruh obat resep, zat rekreasional, atau zat ilegal juga dapat meniru atau memperburuk perubahan mood. Jika terdapat kemungkinan faktor medis, psikolog dapat merekomendasikan evaluasi kepada dokter atau profesional kesehatan yang sesuai.
Riwayat keluarga dapat menjadi salah satu bagian wawancara karena bipolar memiliki komponen genetik. NIMH menjelaskan bahwa individu dengan orang tua atau saudara kandung yang mengalami bipolar memiliki kemungkinan lebih tinggi mengembangkan kondisi tersebut dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga. Namun, riwayat keluarga tetap tidak dapat digunakan sebagai dasar diagnosis tunggal.
Psikolog dapat menanyakan apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami perubahan mood berat, mendapatkan perawatan kesehatan mental, atau menunjukkan pola episode tertentu. Informasi ini dibaca bersama riwayat individu sendiri. Memiliki keluarga dengan bipolar tidak berarti seseorang pasti akan mengalami kondisi yang sama.
Pada beberapa episode, individu tidak selalu menyadari seberapa besar perilakunya berubah. Hal ini dapat terjadi terutama ketika energi meningkat dan individu justru merasa dirinya sedang sangat produktif atau percaya diri. Dengan persetujuan individu, informasi dari keluarga atau orang dekat dapat membantu melengkapi gambaran.
NICE menganjurkan individu untuk mempertimbangkan mengajak anggota keluarga atau caregiver memberikan riwayat tambahan. Mereka mungkin mampu menjelaskan perubahan tidur, aktivitas, pembicaraan, pengeluaran, atau interaksi yang terlihat berbeda. Informasi tersebut tetap menjadi salah satu sumber data dan perlu dipahami bersama wawancara individu.
Kuesioner atau alat ukur psikologis dapat membantu mengumpulkan data mengenai gejala, mood, fungsi, atau kondisi psikologis lainnya. Namun, hasil skor tidak seharusnya berdiri sendiri sebagai dasar untuk menyimpulkan bipolar. NICE bahkan menyatakan bahwa kuesioner tidak dianjurkan sebagai satu-satunya cara untuk mengidentifikasi bipolar pada orang dewasa di layanan primer.
Dalam praktik psikologi, hasil instrumen perlu diintegrasikan dengan wawancara klinis, observasi, riwayat kehidupan, perubahan fungsi, serta informasi lain yang relevan. Psikolog kemudian menyusun formulasi berdasarkan keseluruhan data tersebut. Pendekatan multi-sumber membuat pemeriksaan lebih komprehensif daripada hanya mengandalkan skor.
Bipolar dapat berkaitan dengan risiko keselamatan tertentu sehingga pemeriksaan perlu memasukkan asesmen risiko. NICE merekomendasikan penilaian terhadap self-neglect atau pengabaian diri, self-harm atau perilaku menyakiti diri, pikiran dan niat bunuh diri, risiko terhadap orang lain, perilaku pengeluaran berlebihan, serta perilaku tanpa hambatan. Informasi ini membantu menentukan tingkat kebutuhan pertolongan.
Beberapa kondisi membutuhkan perhatian segera, antara lain:
muncul pikiran atau rencana bunuh diri;
perilaku menyakiti diri;
kehilangan kemampuan menilai realitas;
perilaku yang membahayakan diri atau orang lain;
mania atau depresi yang sangat berat;
penurunan fungsi yang drastis.
Jika kondisi tersebut ditemukan, keselamatan menjadi prioritas. Psikolog dapat melakukan asesmen risiko, membantu menyusun langkah keselamatan, dan mengarahkan atau merujuk individu kepada layanan kesehatan yang sesuai. NICE merekomendasikan penilaian spesialis secara mendesak ketika mania atau depresi berat dicurigai atau ketika terdapat bahaya terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Memahami pola bipolar terkadang membutuhkan lebih dari satu sesi. Individu mungkin baru mengingat episode tertentu setelah membahas riwayat kehidupannya, atau informasi tambahan baru diperoleh dari keluarga dan catatan sebelumnya. Psikolog juga dapat membutuhkan waktu untuk melihat konsistensi antara wawancara, observasi, instrumen, serta perjalanan fungsi.
Karena itu, pemeriksaan psikologis sebaiknya dipahami sebagai proses pengumpulan dan integrasi informasi. Tujuannya bukan secepat mungkin memberi label, tetapi memperoleh gambaran yang cukup akurat untuk menentukan kebutuhan individu. Bila diperlukan pemeriksaan medis, psikolog dapat melakukan rujukan atau berkolaborasi dengan profesional kesehatan terkait.
Pada akhirnya, pemeriksaan penyakit gangguan bipolar membutuhkan pemahaman tentang perjalanan mood, energi, tidur, aktivitas, perilaku, fungsi, stresor, riwayat keluarga, dan risiko secara menyeluruh. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa bipolar memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran serta dapat menimbulkan kesulitan bermakna pada berbagai area kehidupan. Karena itu, pemeriksaan perlu melihat manusia secara utuh, bukan sekadar mencocokkan daftar gejala.
Proses pemeriksaan yang teliti juga membantu menghindari kecenderungan melakukan diagnosis mandiri hanya berdasarkan informasi dari internet. Psikolog dapat menggunakan wawancara klinis, observasi, instrumen psikologis, serta riwayat longitudinal untuk memahami kondisi sesuai kompetensinya, sementara kebutuhan pemeriksaan medis dapat dirujuk kepada tenaga kesehatan yang relevan. Pendekatan seperti ini membuat hasil pemeriksaan lebih kontekstual sekaligus membantu menentukan dukungan psikologis yang benar-benar dibutuhkan individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.