Pernah merasa suasana hati berubah cukup jauh dalam beberapa hari dan bertanya-tanya apakah kondisi tersebut masih wajar? Perubahan emosi sebenarnya merupakan bagian normal kehidupan karena manusia dapat merasa senang, marah, kecewa, atau bersemangat sesuai pengalaman yang sedang dihadapi. Pada bipolar, yang diperhatikan bukan sekadar naik-turunnya perasaan, melainkan pola perubahan yang melibatkan beberapa aspek psikologis sekaligus.
Istilah penyakit gangguan bipolar sering digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi tersebut, meskipun secara klinis istilah yang lebih tepat adalah gangguan bipolar. WHO menjelaskan bahwa bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran serta ditandai oleh episode mania atau hipomania dan episode depresi. Dengan kata lain, perubahan suasana hati pada bipolar perlu dilihat bersama perubahan lain yang terjadi pada diri seseorang.
Perasaan manusia dapat berubah dalam hitungan menit atau jam karena situasi tertentu. Seseorang dapat kesal setelah menerima kritik lalu kembali tenang setelah masalah selesai, atau merasa sangat bersemangat ketika mendapatkan kabar baik. Perubahan seperti itu belum cukup untuk menunjukkan adanya bipolar.
Pada bipolar, perubahan terjadi dalam bentuk episode yang mempunyai pola lebih jelas dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau lebih lama. NICE menjelaskan bahwa episode bipolar dapat berupa mania maupun depresi, sementara sebagian orang memiliki periode yang relatif baik di antara episode tersebut. Karena itu, psikolog perlu memperhatikan durasi, intensitas, perubahan dari kondisi dasar, serta dampaknya terhadap fungsi sehari-hari.
Mania sering disalahartikan hanya sebagai kondisi ketika seseorang merasa sangat bahagia. Padahal, mood dapat terlihat sangat gembira, tetapi juga dapat muncul sebagai iritabilitas, kegelisahan, atau emosi yang jauh lebih intens daripada biasanya. Energi dan aktivitas juga meningkat sehingga perubahan terlihat pada banyak bagian kehidupan.
Karakteristik yang dapat menyertai mania antara lain:
kebutuhan tidur berkurang;
aktivitas meningkat secara mencolok;
bicara lebih cepat dan lebih banyak;
pikiran terasa bergerak sangat cepat;
perhatian mudah teralihkan;
rasa percaya diri meningkat secara tidak biasa;
muncul banyak rencana sekaligus;
keputusan menjadi lebih impulsif atau berisiko.
WHO menjelaskan bahwa episode mania dapat disertai peningkatan harga diri, kesulitan berkonsentrasi, kebutuhan tidur yang berkurang, serta perilaku berisiko. Dalam kondisi berat, fungsi dapat terganggu secara signifikan dan pada sebagian orang dapat muncul keyakinan atau pengalaman yang tidak sesuai dengan realitas. Karena itu, mania berbeda jauh dari sekadar sedang bersemangat atau produktif.
Mengerjakan banyak tugas atau memiliki banyak ide bukan berarti seseorang sedang mengalami episode mania. Orang yang sedang antusias biasanya tetap dapat mengatur istirahat, mempertimbangkan konsekuensi, dan menyesuaikan aktivitas ketika diperlukan. Penilaian klinis selalu membutuhkan kombinasi gejala, perjalanan kondisi, dan perubahan fungsi.
Hipomania memiliki sejumlah karakteristik yang mirip dengan mania, tetapi tingkat keparahannya lebih rendah. Seseorang dapat menjadi lebih aktif, komunikatif, percaya diri, dan produktif tanpa mengalami gangguan fungsi yang berat seperti pada mania. Justru karena dapat terasa menyenangkan, periode ini terkadang tidak dianggap sebagai masalah.
NIMH menjelaskan bahwa hipomania melibatkan perubahan mood dan aktivitas yang menyerupai mania tetapi tidak sampai menimbulkan tingkat gangguan yang sama. Individu bahkan dapat merasa sangat baik selama periode tersebut, sementara orang terdekat melihat adanya perubahan yang cukup berbeda dari biasanya. Riwayat perubahan seperti ini menjadi penting ketika melakukan asesmen psikologis.
Pada episode depresi, perubahan terjadi ke arah yang berbeda. Individu dapat mengalami suasana hati yang rendah atau kosong, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai, serta penurunan energi yang cukup besar. Kondisi tersebut dapat membuat aktivitas sederhana terasa jauh lebih sulit daripada biasanya.
Beberapa karakteristik yang dapat muncul adalah:
kehilangan minat atau kesenangan;
energi menurun;
sulit berkonsentrasi;
perubahan pola tidur;
merasa tidak berharga atau bersalah;
kesulitan mengambil keputusan;
menarik diri dari kegiatan;
merasa putus asa;
muncul pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
WHO menjelaskan bahwa episode depresi dapat melibatkan mood depresif atau hilangnya minat hampir sepanjang hari serta perubahan dalam beberapa fungsi lainnya. Bipolar juga berkaitan dengan peningkatan risiko bunuh diri, sehingga pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup membutuhkan perhatian profesional segera. Perubahan seperti ini tidak sebaiknya dianggap sebagai kurang semangat atau kurang berusaha.
Dalam memahami penyakit gangguan bipolar, penting mengetahui bahwa episode tidak selalu terlihat sebagai dua kutub yang tersusun rapi. Seseorang dapat menunjukkan karakteristik yang berasal dari arah mood berbeda dalam periode yang sama. Kondisi seperti ini membuat pengalaman bipolar jauh lebih kompleks daripada gambaran “kadang bahagia, kadang sedih”.
Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami energi tinggi dan pikiran yang bergerak cepat, tetapi pada saat bersamaan merasa sangat tertekan atau kehilangan harapan. Karena itu, psikolog tidak cukup hanya bertanya apakah mood sedang naik atau turun. Keseluruhan kombinasi emosi, energi, aktivitas, pikiran, perilaku, dan fungsi tetap perlu diperhatikan.
Tidur merupakan salah satu bagian yang sering mengalami perubahan selama episode bipolar. Pada mania atau hipomania, individu dapat membutuhkan waktu tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa bertenaga. Pada episode depresi, seseorang dapat mengalami kesulitan tidur atau justru tidur jauh lebih banyak dari biasanya.
Namun, satu malam kurang tidur tentu tidak berarti seseorang mengalami bipolar. Psikolog perlu melihat apakah perubahan tidur berlangsung bersama perubahan energi, mood, aktivitas, dan fungsi lainnya. Perbandingan dengan kebiasaan dasar individu menjadi lebih penting daripada menggunakan jumlah jam tidur tertentu sebagai satu-satunya patokan.
Bipolar bukan hanya perubahan pada perasaan. Ketika energi meningkat, pikiran dapat terasa berjalan cepat dan perhatian menjadi mudah berpindah, sedangkan selama depresi konsentrasi dan kemampuan mengambil keputusan dapat menurun. Perubahan tersebut akhirnya dapat memengaruhi pekerjaan, pendidikan, pengelolaan keuangan, atau hubungan.
NIMH menggambarkan bipolar sebagai kondisi yang menyebabkan perubahan nyata pada mood, energi, tingkat aktivitas, dan konsentrasi. Inilah sebabnya psikolog biasanya melihat beberapa domain secara bersamaan ketika memahami kondisi individu. Fokusnya bukan sekadar mencari apakah orang terlihat senang atau sedih.
Dua orang dapat mengalami mood yang mirip tetapi dampaknya terhadap kehidupan sangat berbeda. Seseorang mungkin tetap dapat bekerja dan berinteraksi, sedangkan orang lain mengalami kesulitan menjalankan tugas, konflik hubungan, atau penurunan kemampuan merawat diri. Karena itu, fungsi merupakan salah satu bagian penting dalam memahami kondisi psikologis.
Area yang dapat diperhatikan mencakup:
kemampuan bekerja atau belajar;
pengaturan aktivitas sehari-hari;
hubungan keluarga dan sosial;
kualitas pengambilan keputusan;
kemampuan menjaga rutinitas;
perawatan diri;
kemampuan memenuhi tanggung jawab.
NICE merekomendasikan agar asesmen bipolar mempertimbangkan fungsi personal dan sosial, stresor psikososial, perjalanan mood, episode peningkatan aktivitas, kondisi di antara episode, serta pola kekambuhan. Cara ini memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan hanya menghitung jumlah gejala.
Informasi mengenai bipolar memang dapat membantu seseorang lebih memahami kesehatan mentalnya. Namun, beberapa karakteristik bipolar dapat menyerupai kondisi lain atau muncul sementara akibat tekanan kehidupan, perubahan tidur, penggunaan zat, maupun berbagai faktor lain. Karena itu, daftar gejala di internet tidak dapat menggantikan asesmen profesional.
Psikolog dapat menggunakan wawancara klinis, observasi, riwayat psikologis, perubahan fungsi, dan instrumen yang relevan sebagai beberapa sumber informasi. NICE menekankan perlunya riwayat mood yang rinci sekaligus mempertimbangkan masalah psikologis, fisik, dan psikososial lainnya. Jika diperlukan evaluasi medis, psikolog dapat melakukan rujukan atau berkolaborasi dengan profesional kesehatan yang sesuai.
Pada akhirnya, memahami penyakit gangguan bipolar bukan berarti mencurigai setiap perubahan emosi sebagai gejala psikologis. Yang perlu diperhatikan adalah pola episode, perubahan dari kondisi dasar, durasi, intensitas, serta keterkaitan antara mood dengan energi, tidur, aktivitas, pikiran, perilaku, dan fungsi. WHO memperkirakan sekitar 36 juta orang hidup dengan bipolar secara global berdasarkan data 2023, sehingga literasi yang tepat juga penting untuk mengurangi stigma dan kesalahpahaman.
Seseorang dengan bipolar tidak selalu berada dalam episode dan tidak seharusnya dinilai hanya melalui diagnosisnya. Individu tetap memiliki kemampuan, pekerjaan, hubungan, minat, dan tujuan hidup yang jauh lebih luas daripada kondisi kesehatan mental yang dialaminya. Pemahaman yang ilmiah membantu kita mengenali bipolar secara lebih tepat sekaligus tetap melihat orang yang mengalaminya secara manusiawi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.