Penyakit Gangguan Bipolar dan Gejala pada Episode Manik serta Depresif

06 Oct 2026 Ardi Almaqassary Gangguan Bipolar 2x dibaca
Penyakit Gangguan Bipolar dan Gejala pada Episode Manik serta Depresif

Membicarakan bipolar sering kali berhenti pada kalimat sederhana seperti “mood-nya naik dan turun”. Padahal, perubahan yang terjadi dapat jauh lebih kompleks karena melibatkan energi, tidur, aktivitas, konsentrasi, cara berbicara, sampai keputusan yang dibuat seseorang. Memahami perbedaan pola tersebut penting agar emosi sehari-hari tidak terburu-buru dianggap sebagai gangguan psikologis.

Istilah penyakit gangguan bipolar cukup sering digunakan masyarakat, walaupun secara klinis istilah yang lebih tepat adalah gangguan bipolar atau bipolar disorder. WHO menjelaskan bahwa bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran serta ditandai episode mania atau hipomania dan episode depresi. Pada 2023, diperkirakan sekitar 36 juta orang di dunia hidup dengan bipolar.

Bipolar Tidak Hanya Berbicara tentang Mood

Seseorang yang sedang mengalami episode bipolar tidak hanya merasa “lebih bahagia” atau “lebih sedih” dari biasanya. NIMH menjelaskan bahwa episode mood dapat disertai perubahan pada perilaku, energi, tingkat aktivitas, dan kemampuan menjalankan kehidupan sehari-hari. Gejala juga dapat bertahan selama satu atau dua minggu, bahkan lebih lama, dan terasa intens selama sebagian besar hari.

Karena itu, ada beberapa aspek yang sebaiknya diperhatikan secara bersama-sama:

  1. suasana hati, apakah meningkat, iritabel, atau menurun;

  2. energi, apakah meningkat atau menurun secara mencolok;

  3. tidur, apakah kebutuhan tidur berubah;

  4. pikiran, apakah menjadi sangat cepat atau justru sulit berkonsentrasi;

  5. perilaku, termasuk aktivitas dan pengambilan keputusan;

  6. fungsi, yaitu kemampuan bekerja, belajar, berelasi, dan menjalankan rutinitas.

Satu perubahan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya bipolar. Seseorang dapat kurang tidur karena pekerjaan, sangat bersemangat karena mendapatkan kabar baik, atau kehilangan energi ketika sedang mengalami tekanan. Dalam asesmen psikologis, keseluruhan pola dan perubahan dari kondisi dasar individu jauh lebih bermakna.

1. Episode Manik: Ketika Mood dan Energi Meningkat Tajam

Episode manik melibatkan peningkatan mood atau iritabilitas yang disertai peningkatan energi dan aktivitas. WHO menjelaskan bahwa individu dapat merasa sangat bahagia, bersemangat, aktif, atau mengalami perubahan suasana hati yang cepat, tetapi dapat pula menjadi jauh lebih mudah tersinggung, gelisah, dan tidak tenang. Jadi, mania tidak selalu terlihat sebagai kegembiraan yang berlebihan.

Beberapa gejala yang dapat muncul selama episode manik antara lain:

  • kebutuhan tidur menjadi jauh lebih sedikit;

  • berbicara lebih cepat dan lebih banyak;

  • pikiran terasa berpacu;

  • perhatian mudah teralihkan;

  • aktivitas meningkat secara nyata;

  • rasa percaya diri menjadi sangat tinggi;

  • terlibat dalam banyak kegiatan sekaligus;

  • keputusan menjadi lebih impulsif atau berisiko.

NIMH juga memasukkan peningkatan aktivitas, pikiran berpacu, berkurangnya kebutuhan tidur, serta pembicaraan cepat sebagai karakteristik episode mania. Pada sebagian orang, perubahan ini dapat terlihat jelas oleh keluarga atau rekan kerja karena perilakunya berbeda dari keadaan biasanya. Dampaknya juga dapat meluas ke pekerjaan, hubungan, keuangan, dan aktivitas sosial.

Mania Bukan Sekadar Produktif

Seseorang yang memiliki banyak ide dan bekerja dengan sangat produktif belum tentu mengalami mania. Produktivitas yang sehat biasanya masih disertai kemampuan mempertimbangkan risiko, mengatur waktu istirahat, serta mengurangi aktivitas ketika tubuh mulai lelah. Mania lebih tepat dipahami sebagai kombinasi perubahan mood, energi, tidur, pikiran, dan fungsi yang cukup jelas.

NICE juga mengingatkan bahwa overaktivitas, perilaku tanpa hambatan, penurunan kebutuhan tidur, peningkatan rasa percaya diri, dan perilaku berisiko perlu diperhatikan sebagai bagian dari kemungkinan perubahan mood bipolar. Riwayat perubahan semacam ini penting terutama ketika seseorang sebelumnya datang dengan keluhan depresi. Penilaian tetap perlu dilakukan secara komprehensif dan tidak hanya menggunakan satu tanda.

2. Hipomania: Pola Mirip Mania dengan Intensitas Lebih Ringan

Hipomania memiliki banyak karakteristik yang menyerupai mania, tetapi intensitasnya lebih rendah dan biasanya tidak mengganggu fungsi dalam tingkat yang sama. Seseorang dapat merasa lebih energik, produktif, percaya diri, atau mudah bersosialisasi. Justru karena terasa positif, periode hipomania terkadang tidak dipandang sebagai perubahan yang perlu diperhatikan.

WHO menjelaskan bahwa hipomania menunjukkan karakteristik mirip mania, tetapi gejalanya lebih ringan dan biasanya tidak mengganggu kemampuan fungsi sebesar mania. Dalam konteks asesmen, informasi dari orang terdekat terkadang membantu karena mereka dapat melihat perubahan yang tidak disadari individu. Riwayat hipomania terutama penting ketika memahami pola Bipolar II.

3. Episode Depresif: Lebih dari Sekadar Sedang Sedih

Dalam memahami penyakit gangguan bipolar, episode depresif perlu dilihat sebagai perubahan yang dapat memengaruhi mood, energi, pikiran, dan aktivitas secara bersamaan. WHO menjelaskan bahwa seseorang dapat mengalami mood sedih, iritabel, atau kosong serta kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya dinikmati. Gejala biasanya berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, setidaknya selama dua minggu.

Gejala yang dapat menyertai episode depresif meliputi:

  • kehilangan minat atau kesenangan;

  • merasa sangat lelah atau kurang energi;

  • sulit berkonsentrasi;

  • sulit mengambil keputusan;

  • perubahan tidur;

  • perubahan nafsu makan atau berat badan;

  • rasa bersalah atau tidak berharga;

  • pandangan yang semakin putus asa;

  • pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

NIMH juga menjelaskan bahwa episode depresi dapat membuat seseorang merasa sangat rendah, sulit berkonsentrasi, kehilangan minat, dan mengalami perubahan pola tidur. Kondisi tersebut dapat menghambat pekerjaan, pendidikan, hubungan, dan aktivitas sederhana sehari-hari. Jika muncul keinginan menyakiti diri atau pikiran bunuh diri, bantuan profesional perlu dicari segera.

4. Perbedaan Mania dan Depresi Dapat Dilihat dari Beberapa Area

Melihat perbedaan dalam bentuk kategori dapat membantu memahami pola kedua episode. Namun, tabel gejala atau daftar seperti ini tetap bukan alat diagnosis mandiri. Pengalaman setiap orang dapat berbeda dan tidak semua tanda harus muncul secara bersamaan.

Beberapa perbedaan utama antara episode manik dan depresif adalah:

  • Mood: mania dapat berupa euforia atau iritabilitas, sedangkan depresi lebih sering berupa kesedihan, kekosongan, atau hilangnya minat.

  • Energi: pada mania meningkat, sedangkan pada depresi cenderung menurun.

  • Tidur: mania dapat menyebabkan kebutuhan tidur berkurang, sementara depresi dapat menimbulkan insomnia atau tidur berlebihan.

  • Pikiran: mania dapat disertai pikiran berpacu, sedangkan depresi dapat menyebabkan konsentrasi dan pengambilan keputusan terasa sulit.

  • Aktivitas: mania cenderung meningkatkan aktivitas, sedangkan depresi dapat membuat aktivitas terasa lebih berat.

  • Keputusan: episode manik dapat meningkatkan impulsivitas, sedangkan depresi dapat membuat seseorang kesulitan menentukan pilihan.

Perbedaan tersebut perlu dibandingkan dengan kondisi dasar seseorang. Misalnya, berbicara cepat memang dapat menjadi karakteristik mania, tetapi ada individu yang memang memiliki gaya komunikasi cepat sejak lama. Yang menjadi perhatian adalah perubahan yang nyata dari kebiasaan pribadi dan muncul bersama karakteristik lainnya.

5. Episode Tidak Selalu Muncul secara Bergantian dan Rapi

Gambaran populer sering memperlihatkan bipolar sebagai perpindahan teratur dari mania menuju depresi. Kenyataannya, perjalanan kondisi dapat jauh lebih bervariasi dan seseorang dapat memiliki periode yang relatif stabil di antara episode. NIMH juga menjelaskan adanya episode campuran yang mengandung karakteristik manik dan depresif pada saat yang sama.

Hal ini berarti seseorang dapat mengalami energi atau aktivitas yang meningkat tetapi pada saat bersamaan merasa tertekan atau kehilangan harapan. Situasi seperti ini menunjukkan mengapa bipolar tidak dapat dipahami menggunakan satu garis sederhana dari bahagia menuju sedih. Psikolog perlu melihat keseluruhan perjalanan perubahan mood dan fungsi.

6. Dampak terhadap Fungsi Membantu Melihat Tingkat Keparahan

Gejala psikologis menjadi semakin penting ketika mulai memengaruhi fungsi kehidupan. WHO menjelaskan bahwa gangguan mental berkaitan dengan gangguan bermakna pada kognisi, regulasi emosi, atau perilaku yang biasanya disertai distress atau hambatan fungsi. Pada bipolar, episode mania maupun depresi dapat mengganggu kehidupan di rumah, pekerjaan, dan sekolah.

Area fungsi yang dapat diperhatikan antara lain:

  1. kemampuan menyelesaikan pekerjaan;

  2. kemampuan mengikuti pendidikan;

  3. pengelolaan aktivitas sehari-hari;

  4. hubungan keluarga dan pasangan;

  5. pengambilan keputusan;

  6. kemampuan merawat diri;

  7. keterlibatan sosial.

NICE merekomendasikan agar asesmen bipolar memperhatikan fungsi sosial dan personal, riwayat perubahan mood, kondisi di antara episode, stresor psikososial, serta pola kekambuhan sebelumnya. Pendekatan seperti ini membantu memahami kondisi secara lebih utuh daripada sekadar menghitung gejala.

7. Gejala Bipolar Perlu Dinilai secara Profesional

Mengenali gejala dapat meningkatkan literasi kesehatan mental, tetapi tidak berarti seseorang perlu mendiagnosis dirinya sendiri. Banyak karakteristik seperti sulit tidur, kehilangan energi, iritabilitas, atau sulit berkonsentrasi dapat terjadi pada berbagai kondisi lain. Karena itu, psikolog perlu melihat durasi, intensitas, konteks, riwayat, fungsi, dan perjalanan kondisi.

Asesmen dapat melibatkan wawancara klinis, observasi, riwayat psikologis, serta instrumen psikologis yang relevan sebagai sumber informasi tambahan. NICE menekankan pentingnya riwayat mood yang rinci dan tidak menganjurkan penggunaan kuesioner sebagai satu-satunya cara untuk mengidentifikasi bipolar. Bila diperlukan evaluasi medis, psikolog dapat merujuk atau berkolaborasi dengan profesional kesehatan yang sesuai.

Mengenali Episode Membantu Memahami Bipolar secara Lebih Tepat

Pada akhirnya, memahami penyakit gangguan bipolar berarti melihat pola perubahan yang lebih luas daripada sekadar suasana hati. Episode manik dapat disertai peningkatan energi, aktivitas, kecepatan pikiran, dan perilaku berisiko, sedangkan episode depresif dapat melibatkan kehilangan minat, energi rendah, gangguan konsentrasi, serta rasa putus asa. Perbedaan tersebut perlu selalu dibaca bersama durasi, perubahan dari kondisi dasar, dan dampaknya terhadap fungsi.

Pemahaman yang tepat juga membantu mengurangi kebiasaan menggunakan istilah bipolar untuk menggambarkan perubahan emosi biasa. Seseorang dengan gangguan bipolar tetap memiliki kemampuan, hubungan, pekerjaan, dan tujuan yang jauh lebih luas daripada episode yang pernah dialaminya. Dengan asesmen psikologis yang tepat dan dukungan profesional sesuai kebutuhan, perhatian dapat diarahkan pada pemahaman kondisi sekaligus pemeliharaan fungsi dan kualitas hidup.

Gangguan Bipolar Penyakit Bipolar Episode Manik Episode Depresif Mania Hipomania Depresi Bipolar Perubahan Mood Psikologi Klinis
Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami