Bangun pagi, bersiap bekerja, menyelesaikan tugas, membalas pesan, lalu beristirahat pada malam hari mungkin terdengar seperti rutinitas biasa. Namun, bagi seseorang yang mengalami bipolar, aktivitas yang sederhana sekalipun dapat terasa berbeda ketika mood, energi, tidur, dan kemampuan berkonsentrasi sedang berubah. Pada waktu lain, orang yang sama dapat menjalankan aktivitasnya dengan relatif stabil seperti biasanya.
Memahami penyakit gangguan bipolar karena itu tidak cukup hanya dengan mengenali mania dan depresi. WHO menjelaskan bahwa bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran serta dapat menimbulkan kesulitan dalam pekerjaan, hubungan, pendidikan, dan kegiatan sehari-hari. Dampaknya dapat berbeda pada setiap individu dan dapat berubah mengikuti fase kondisi yang sedang dialami.
Bipolar melibatkan perubahan yang lebih luas daripada sekadar perasaan senang atau sedih. NIMH menjelaskan bahwa perubahan mood pada bipolar dapat berjalan bersama perubahan energi dan tingkat aktivitas hingga memengaruhi kemampuan menjalankan tugas sehari-hari. Karena itulah seseorang mungkin mengalami perubahan dalam produktivitas, konsentrasi, kebutuhan tidur, dan cara berinteraksi dengan lingkungan.
Dampak yang dapat terlihat dalam kehidupan antara lain:
pola tidur berubah;
energi meningkat atau menurun;
konsentrasi menjadi berbeda;
jumlah aktivitas berubah;
keputusan menjadi lebih impulsif;
pekerjaan atau pendidikan terganggu;
hubungan dengan orang lain mengalami perubahan;
rutinitas perawatan diri menjadi lebih sulit.
Daftar tersebut bukan berarti setiap orang dengan bipolar akan mengalami seluruh masalah yang sama. Tingkat keparahan, frekuensi episode, kondisi di antara episode, serta dukungan yang dimiliki dapat membuat pengalaman setiap individu sangat berbeda. Psikolog karena itu perlu melihat pola personal, bukan hanya label diagnosis.
Tidur merupakan salah satu area yang sering berkaitan erat dengan perubahan episode bipolar. Pada periode mania atau hipomania, kebutuhan tidur dapat menurun sehingga seseorang tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa penuh energi. Sebaliknya, dalam episode depresi, tidur dapat terganggu atau justru menjadi lebih banyak daripada biasanya.
Masalahnya, perubahan tidur dapat merembet ke banyak aktivitas lain. Jadwal bangun, waktu makan, konsentrasi kerja, aktivitas sosial, dan kemampuan mempertahankan rutinitas dapat ikut berubah. Penelitian dan pengembangan intervensi berbasis ritme harian juga menyoroti pentingnya keteraturan tidur, aktivitas, dan rutinitas pada pengelolaan bipolar.
Kurang tidur setelah menyelesaikan pekerjaan atau menghadapi masalah tertentu tentu dapat terjadi pada siapa saja. Yang lebih penting adalah melihat apakah perubahan berlangsung beberapa waktu, berbeda jelas dari pola biasa, dan disertai perubahan energi, aktivitas, mood, atau perilaku lainnya. Konteks seperti inilah yang membuat asesmen psikologis lebih bermakna dibandingkan hanya melihat satu gejala.
Saat energi meningkat, seseorang dapat merasa mampu mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Rencana bertambah, aktivitas sosial meningkat, dan pekerjaan baru mungkin terasa sangat menarik untuk segera dilakukan. Namun, peningkatan kegiatan yang terlalu besar juga dapat membuat prioritas dan batas kemampuan menjadi lebih sulit dipertahankan.
Sebaliknya, penurunan energi pada episode depresi dapat membuat pekerjaan yang sederhana terasa sangat berat. Membalas pesan, mandi, menyiapkan makanan, atau membuka laptop untuk bekerja dapat membutuhkan usaha yang jauh lebih besar. Hal tersebut bukan sekadar persoalan kurang motivasi, karena episode depresi memang dapat memengaruhi energi, minat, konsentrasi, dan kemampuan melakukan aktivitas sederhana.
Dampak penyakit gangguan bipolar juga dapat terlihat melalui kemampuan berpikir dan berkonsentrasi. Dalam periode energi tinggi, pikiran dapat terasa bergerak sangat cepat sehingga banyak gagasan muncul tetapi perhatian juga lebih mudah berpindah. Dalam periode depresi, individu justru dapat merasa sulit fokus, lambat mengambil keputusan, atau kesulitan menyelesaikan tugas.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi pekerjaan maupun pendidikan. NIMH mencatat bahwa bipolar dapat mengganggu kemampuan mempertahankan tanggung jawab kerja, aktivitas sosial, dan hubungan, sedangkan NICE merekomendasikan perhatian khusus terhadap fungsi pekerjaan dan pendidikan dalam pengelolaan bipolar. Artinya, keberhasilan perawatan tidak hanya dinilai dari mood, tetapi juga dari apakah individu dapat mempertahankan perannya.
Episode dengan peningkatan energi dapat disertai rasa percaya diri yang sangat kuat dan kecenderungan mengambil keputusan lebih cepat. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat menjadi lebih impulsif dalam belanja, pekerjaan, hubungan, atau aktivitas lain yang memiliki konsekuensi nyata. Keputusan yang tampak wajar saat episode berlangsung kemudian dapat terasa berbeda setelah kondisi kembali stabil.
Beberapa perubahan yang patut diperhatikan antara lain:
pengeluaran meningkat secara tidak biasa;
membuat terlalu banyak komitmen;
mengambil keputusan besar secara mendadak;
menjalankan aktivitas dengan risiko tinggi;
mengabaikan konsekuensi yang biasanya dipertimbangkan.
Satu keputusan spontan tentu tidak otomatis menunjukkan mania. Psikolog perlu melihat perubahan dari pola dasar individu, kombinasi gejala, intensitas, dan dampaknya terhadap fungsi. Pendekatan seperti ini mencegah perilaku normal diberi label bipolar secara berlebihan.
Hubungan interpersonal dapat terasa berbeda selama episode mood. Ketika energi meningkat, seseorang mungkin lebih banyak berbicara, lebih aktif mengajak bertemu, atau lebih mudah tersinggung ketika orang lain tidak mengikuti idenya. Ketika depresi muncul, individu dapat lebih banyak menarik diri, sulit menjawab pesan, atau kehilangan energi untuk bersosialisasi.
Perubahan tersebut berpotensi menimbulkan salah paham. Orang terdekat mungkin menilai seseorang tidak peduli, terlalu emosional, atau sengaja menjauh, padahal kondisi psikologis sedang memengaruhi kemampuan berinteraksi. WHO mencatat bahwa bipolar dapat berkaitan dengan hubungan yang tegang dan bahwa stigma serta diskriminasi masih menjadi hambatan penting bagi orang dengan kondisi ini.
Menjalankan rutinitas membutuhkan sejumlah energi, perhatian, dan kemampuan mengatur aktivitas. Ketika salah satu aspek tersebut berubah, kegiatan seperti makan teratur, menjaga kebersihan diri, olahraga, atau mengatur waktu istirahat dapat ikut terdampak. Hal ini terutama dapat terasa ketika episode depresi membuat aktivitas sederhana terasa lebih berat.
Rutinitas yang dapat diperhatikan meliputi:
jadwal tidur dan bangun;
pola makan;
aktivitas fisik;
kebersihan dan perawatan diri;
keseimbangan kegiatan dan istirahat;
waktu sosial dan waktu pribadi.
Rutinitas bukan “obat” untuk bipolar dan tidak menggantikan bantuan profesional. Namun, pola keseharian dapat membantu individu mempunyai struktur yang lebih jelas dan lebih mudah mengenali ketika kondisinya mulai berubah. Prinsip ini juga sejalan dengan perhatian terhadap pola aktivitas dan ritme kehidupan dalam pengelolaan bipolar.
Setelah mengalami episode yang cukup berat, seseorang dapat mempertanyakan kembali kemampuan dirinya. Ia mungkin khawatir kembali bekerja, merasa bersalah terhadap keputusan sebelumnya, atau takut setiap peningkatan semangat akan menjadi awal episode baru. Kekhawatiran seperti ini dapat menjadi beban psikologis tersendiri meskipun kondisi mood telah membaik.
Dalam psikoterapi, perhatian tidak hanya diarahkan pada gejala. Psikolog dapat membantu individu membangun kembali kepercayaan diri, memahami pengalamannya dengan lebih realistis, dan mengembangkan strategi coping yang sesuai. Tujuannya adalah agar diagnosis memberikan pemahaman, bukan berubah menjadi identitas yang membatasi kehidupan.
Memiliki bipolar tidak berarti seseorang selalu mengalami kesulitan setiap hari. NIMH menjelaskan bahwa di antara episode, mood dapat kembali mendekati kondisi dasar, meskipun pengalaman setiap individu dapat berbeda. Masa stabil dapat digunakan untuk bekerja, belajar, memperkuat relasi, sekaligus mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan perubahan berikutnya.
Pada fase ini, beberapa hal dapat menjadi fokus:
mempertahankan fungsi pekerjaan atau pendidikan;
mengenali tanda awal perubahan;
memperkuat strategi coping;
menjaga komunikasi dengan orang terdekat;
mengevaluasi stresor;
membuat rencana ketika kondisi mulai berubah.
NICE merekomendasikan penilaian terhadap fungsi sosial dan personal, stresor psikososial, pola kekambuhan, serta tanda awal mania maupun depresi. Informasi tersebut membantu membuat rencana yang lebih personal berdasarkan pengalaman individu sendiri.
Beberapa perubahan membutuhkan perhatian lebih segera, terutama ketika keselamatan atau kemampuan menilai situasi mulai terganggu. Bipolar berkaitan dengan peningkatan risiko bunuh diri dan pada episode berat seseorang dapat mengalami kesulitan besar dalam bekerja, belajar, maupun menjalankan fungsi di rumah. Kondisi seperti ini tidak sebaiknya ditunggu sampai memburuk dengan sendirinya.
Bantuan perlu dicari lebih cepat jika terdapat:
pikiran menyakiti diri atau bunuh diri;
perilaku yang membahayakan diri atau orang lain;
kehilangan kemampuan menilai realitas;
aktivitas atau keputusan berisiko yang sulit dikendalikan;
penurunan fungsi yang sangat besar;
ketidakmampuan menjalankan kebutuhan dasar sehari-hari.
Psikolog dapat melakukan asesmen psikologis dan risiko serta membantu menentukan langkah dukungan yang dibutuhkan. Apabila terdapat kebutuhan evaluasi medis atau penanganan farmakologis, psikolog dapat merujuk atau berkolaborasi dengan psikiater maupun tenaga kesehatan yang sesuai. Keselamatan tetap menjadi prioritas ketika risiko meningkat.
Pada akhirnya, memahami penyakit gangguan bipolar berarti melihat bagaimana perubahan mood, energi, tidur, konsentrasi, aktivitas, keputusan, dan hubungan dapat masuk ke kehidupan sehari-hari. WHO menegaskan bahwa kondisi ini memang dapat menyebabkan kesulitan dalam berbagai bidang kehidupan, tetapi pilihan perawatan yang efektif tersedia. Dukungan yang tepat dapat membantu individu mempertahankan fungsi sekaligus meningkatkan kualitas kehidupannya.
Seseorang dengan bipolar tetap dapat menjadi pekerja, mahasiswa, pasangan, teman, orang tua, atau individu dengan cita-cita dan minat yang terus berkembang. Pendekatan psikologis yang baik membantu melihat kekuatan tersebut bersama kesulitan yang sedang dialami, bukan menggantikan seluruh identitas seseorang dengan diagnosis. Dengan pemahaman, asesmen, psikoterapi, coping, serta dukungan lingkungan yang sesuai, perhatian dapat diarahkan pada tujuan yang lebih luas: membantu individu tetap menjalani kehidupan yang bermakna.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.