Ada hari ketika seseorang merasa sangat bersemangat dan mampu menyelesaikan banyak pekerjaan, lalu pada hari lain merasa lebih lelah dari biasanya. Perubahan tersebut sebenarnya normal, tetapi pada penyakit bipolar, perubahan energi dan aktivitas dapat menjadi jauh lebih nyata serta muncul bersama episode mood tertentu. Karena itu, bipolar tidak cukup dipahami hanya sebagai perubahan antara perasaan senang dan sedih.
WHO menjelaskan bahwa bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan proses berpikir. Perubahan tersebut dapat muncul dalam episode mania atau hipomania serta episode depresi. Dampaknya juga dapat meluas ke pekerjaan, hubungan, dan kemampuan menjalankan rutinitas sehari-hari.
Energi merupakan salah satu aspek yang dapat berubah cukup jelas selama episode bipolar. Pada periode mania, individu dapat merasa memiliki tenaga yang jauh lebih besar dibandingkan keadaan biasanya, sedangkan pada episode depresi energinya dapat turun secara signifikan. Perubahan ini kemudian memengaruhi jumlah kegiatan, kecepatan bekerja, pola komunikasi, dan kebutuhan istirahat.
Karena itu, profesional tidak hanya bertanya mengenai suasana hati ketika melakukan evaluasi bipolar. Perubahan tingkat aktivitas, tidur, konsentrasi, dan kemampuan menjalankan tanggung jawab juga menjadi informasi penting. Gambaran dari beberapa aspek sekaligus membantu membedakan episode bipolar dari perubahan emosi sehari-hari.
Saat mania, seseorang dapat merasa sangat aktif atau seperti memiliki tenaga yang tidak habis-habis. Ia mungkin melakukan banyak kegiatan sekaligus, berpindah dari satu rencana ke rencana lain, atau merasa dapat menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada biasanya. WHO mencatat peningkatan aktivitas atau energi sebagai salah satu karakteristik utama mania.
Peningkatan energi ini biasanya tidak berdiri sendiri. Individu dapat berbicara lebih cepat, memiliki pikiran yang terus bergerak, mudah terdistraksi, dan menunjukkan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Kombinasi tersebut dapat membuat aktivitas terlihat sangat produktif pada awalnya, meskipun hasil akhirnya belum tentu terorganisasi dengan baik.
Salah satu perubahan yang khas adalah berkurangnya kebutuhan tidur. Seseorang dapat tidur jauh lebih sedikit dibandingkan biasanya tetapi tetap merasa segar dan memiliki energi untuk melanjutkan berbagai kegiatan. Hal ini berbeda dari orang yang begadang karena pekerjaan lalu merasa lelah keesokan harinya.
Perubahan tidur dan energi perlu dilihat sebagai satu pola. Misalnya, seseorang yang selama beberapa hari tidur sangat sedikit, terus membuat rencana, berbicara cepat, dan semakin aktif memberikan gambaran berbeda dari sekadar mengalami insomnia. Meski demikian, diagnosis tetap tidak dapat ditentukan hanya dari pola tidur.
Peningkatan aktivitas selama mania terkadang tampak seperti peningkatan produktivitas. Individu mungkin mengambil banyak pekerjaan, memulai usaha baru, menghubungi banyak orang, atau memiliki ide yang terus bermunculan. Namun, banyaknya aktivitas tidak selalu berarti pekerjaan menjadi lebih efektif.
Kesulitan mempertahankan perhatian dapat menyebabkan seseorang memulai banyak proyek tanpa menyelesaikannya. Pada saat yang sama, rasa percaya diri yang meningkat dapat mendorong keputusan yang kurang mempertimbangkan risiko. Dalam kondisi lebih berat, aktivitas tersebut dapat mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kondisi finansial.
Hipomania juga dapat menyebabkan energi dan aktivitas meningkat, tetapi intensitasnya lebih rendah daripada mania. Seseorang mungkin menjadi lebih banyak berbicara, lebih aktif bersosialisasi, memiliki banyak ide, atau merasa produktivitasnya meningkat. Aktivitas seperti ini bahkan dapat dirasakan sebagai pengalaman yang positif.
NIMH menjelaskan bahwa seseorang dalam episode hipomania dapat merasa sangat baik dan produktif sehingga tidak merasa ada sesuatu yang salah. Namun, keluarga atau teman dapat menyadari adanya perubahan mood dan aktivitas yang tidak biasa. Hal ini menjadi penting terutama ketika episode depresi muncul setelah periode tersebut.
Pada sisi lain dari penyakit bipolar, episode depresi dapat disertai rasa lelah dan energi yang sangat rendah. Aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan dapat terasa membutuhkan usaha jauh lebih besar, bahkan untuk tugas seperti bangun dari tempat tidur, mandi, atau memulai pekerjaan. WHO memasukkan kelelahan atau rendahnya energi sebagai salah satu gejala yang dapat muncul pada episode depresi bipolar.
Penurunan energi dapat disertai hilangnya minat terhadap kegiatan yang sebelumnya menyenangkan. Individu mungkin mulai menunda pekerjaan, mengurangi pertemuan sosial, atau lebih banyak berdiam diri. Kondisi tersebut tidak tepat langsung dianggap sebagai kemalasan karena dapat menjadi bagian dari episode depresi.
Perubahan energi akhirnya dapat terlihat pada seluruh rutinitas individu. Saat energi sangat tinggi, jadwal menjadi penuh dan waktu istirahat semakin sedikit, sedangkan saat depresi rutinitas dapat menyusut secara drastis. Perbedaan antara kedua periode tersebut dapat memengaruhi pekerjaan, pendidikan, kehidupan keluarga, serta hubungan sosial.
WHO mencatat bahwa bipolar dapat menyebabkan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk di rumah, sekolah, dan tempat kerja. Dampaknya tidak selalu sama pada setiap individu karena tingkat keparahan dan pola episode dapat berbeda. Karena itu, fungsi harian perlu dinilai berdasarkan perubahan dari kondisi dasar masing-masing orang.
Energi yang meningkat juga dapat terlihat dalam cara seseorang berkomunikasi. Pada mania, pembicaraan dapat menjadi cepat dan topik berpindah dengan sangat mudah karena pikiran terasa bergerak dengan kecepatan tinggi. Individu juga dapat menjadi lebih sulit mempertahankan perhatian terhadap satu hal.
Sebaliknya, episode depresi dapat membuat proses berpikir terasa lebih lambat. Seseorang mungkin mengalami kesulitan berkonsentrasi, membuat keputusan, atau menemukan energi untuk mempertahankan percakapan. Karena itu, perubahan energi bipolar dapat memengaruhi aktivitas mental maupun aktivitas fisik.
Energi tinggi bukan otomatis mania dan energi rendah bukan otomatis depresi bipolar. Seseorang dapat memiliki energi besar karena sedang bersemangat, berolahraga, memperoleh kesempatan baru, atau memiliki pola aktivitas yang memang tinggi. Kelelahan juga dapat muncul karena kurang tidur, pekerjaan, stres, atau berbagai kondisi fisik lainnya.
Yang menjadi perhatian pada bipolar adalah kombinasi gejala serta perubahan yang jelas dari pola biasanya. Mood, energi, aktivitas, tidur, konsentrasi, perilaku, durasi, dan dampak terhadap fungsi perlu dievaluasi bersama. Inilah alasan diagnosis bipolar membutuhkan pemeriksaan profesional, bukan sekadar mengidentifikasi satu gejala.
Ketika energi dan rasa percaya diri meningkat dalam mania, kemampuan menilai risiko dapat ikut berubah. Individu dapat melakukan pengeluaran yang tidak biasa, mengambil keputusan besar secara mendadak, atau terlibat dalam aktivitas yang memiliki konsekuensi serius. WHO memasukkan perilaku impulsif dan pengambilan risiko sebagai karakteristik yang dapat muncul pada mania.
Kondisi tersebut dapat memberikan dampak yang bertahan bahkan setelah episode berakhir. Permasalahan finansial, pekerjaan yang terbengkalai, atau konflik hubungan mungkin masih harus diselesaikan ketika mood telah kembali lebih stabil. Karena itu, penanganan bipolar tidak hanya berfokus pada suasana hati, tetapi juga pada perlindungan fungsi kehidupan.
Mengenali pola pribadi dapat membantu individu melihat perubahan lebih awal. Catatan sederhana mengenai mood, jumlah tidur, tingkat energi, aktivitas, dan kejadian penting dapat digunakan untuk melihat apakah terdapat pola tertentu yang berulang. Informasi tersebut juga dapat dibawa ketika berkonsultasi dengan profesional.
Pemantauan tidak bertujuan membuat seseorang mencurigai setiap perubahan energi sebagai tanda episode. Fokusnya adalah mengenali perubahan yang cukup konsisten dan berbeda dari pola normal. Dengan begitu, perubahan yang penting dapat ditanggapi tanpa berlebihan terhadap variasi aktivitas sehari-hari.
Rutinitas yang relatif konsisten dapat menjadi bagian pendukung dalam pengelolaan bipolar. WHO menyebut tidur teratur, aktivitas fisik, pola makan sehat, pengurangan stres, dan pemantauan mood sebagai beberapa strategi yang dapat membantu orang dengan bipolar mempertahankan kondisi. Strategi ini tetap perlu dikombinasikan dengan perawatan yang sesuai.
Menjaga ritme bukan berarti seseorang harus memiliki jadwal yang sangat kaku. Tujuannya adalah membangun keseimbangan antara aktivitas, tanggung jawab, dan istirahat sehingga perubahan ekstrem lebih mudah dikenali. Rutinitas tersebut tidak menggantikan obat atau psikoterapi ketika keduanya memang diperlukan.
Evaluasi profesional perlu dipertimbangkan ketika perubahan energi sangat berbeda dari kondisi biasanya dan mulai memengaruhi fungsi. Tidur sangat sedikit tanpa merasa lelah, aktivitas meningkat ekstrem, perilaku impulsif, atau penurunan energi hingga sulit melakukan aktivitas dasar merupakan beberapa contoh perubahan yang layak diperhatikan. Profesional dapat membantu menilai apakah kondisi tersebut berkaitan dengan bipolar atau penyebab lainnya.
Jika perubahan kondisi disertai pikiran untuk bunuh diri, perilaku menyakiti diri, gejala psikotik berat, atau tindakan yang membahayakan keselamatan, pertolongan darurat perlu dicari segera. Individu sebaiknya tidak dibiarkan menghadapi situasi tersebut sendirian. Keselamatan menjadi prioritas sebelum pemeriksaan lanjutan dilakukan.
Memahami penyakit bipolar melalui perubahan energi dan aktivitas membantu melihat bahwa kondisi ini bukan hanya persoalan suasana hati. Mania dan hipomania dapat meningkatkan energi serta aktivitas, sementara episode depresi dapat menurunkannya hingga mengganggu rutinitas dan produktivitas. Dengan mengenali perubahan dari pola normal, menjaga ritme harian, dan memperoleh penanganan profesional saat diperlukan, individu dapat memahami kondisinya secara lebih proporsional sekaligus mempertahankan fungsi kehidupan dengan lebih baik.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.