Istilah bipolar sekarang mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari, media sosial, bahkan candaan tentang orang yang suasana hatinya cepat berubah. Masalahnya, penggunaan tersebut sering jauh dari pengertian ilmiahnya. Dalam psikologi dan psikiatri, bipolar tidak dinilai hanya berdasarkan seseorang yang sesekali merasa sangat senang kemudian menjadi sedih.
Memahami pengertian bipolar menurut para ahli membantu melihat kondisi ini secara lebih tepat. WHO pada September 2026 menjelaskan bipolar sebagai kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran, serta ditandai episode mania atau hipomania dan episode depresi. Definisi tersebut menunjukkan bahwa inti bipolar terletak pada pola episode dan perubahan fungsi, bukan sekadar emosi yang mudah berubah.
Pemahaman modern mengenai bipolar memiliki sejarah yang panjang. Salah satu tokoh pentingnya adalah Emil Kraepelin, psikiater Jerman yang pada akhir abad ke-19 mengembangkan konsep manic-depressive insanity. Kraepelin memperhatikan bahwa mania dan depresi dapat menjadi bagian dari perjalanan kondisi yang berulang pada orang yang sama.
Kajian sejarah menunjukkan bahwa Kraepelin sangat menekankan perjalanan gangguan dari waktu ke waktu, termasuk kemungkinan perpindahan antara depresi, mania, hipomania, dan kondisi campuran. Konsep yang digunakan Kraepelin memang lebih luas daripada definisi bipolar saat ini, sehingga keduanya tidak boleh dianggap sepenuhnya identik. Namun, pengamatannya mengenai sifat episodik gangguan suasana hati memberi pengaruh besar terhadap perkembangan klasifikasi modern.
American Psychiatric Association menggambarkan bipolar sebagai kelompok kondisi kesehatan mental yang ditandai periode emosional intens yang memengaruhi mood, energi, dan kemampuan seseorang untuk berfungsi. Periode tersebut disebut mood episode dan dapat berbentuk mania atau hipomania ketika mood sangat meningkat atau iritabel, maupun episode depresi ketika mood sangat rendah atau kemampuan merasakan kesenangan menghilang. Di antara episode, individu juga dapat mengalami periode mood yang relatif netral.
Perspektif ini menegaskan pentingnya fungsi. Perubahan mood biasa umumnya tidak diikuti perubahan perilaku dan fungsi yang ekstrem, sedangkan episode bipolar dapat mengganggu rutinitas, pekerjaan, pendidikan, atau hubungan sosial. Karena itu, intensitas dan konsekuensi perubahan perlu dinilai bersama-sama.
Menurut American Psychiatric Association, mania melibatkan peningkatan mood atau iritabilitas yang jelas bersama peningkatan energi dan perubahan perilaku. Kebutuhan tidur dapat menurun, pembicaraan menjadi lebih cepat, pikiran terasa berpacu, perhatian mudah teralihkan, dan perilaku impulsif dapat meningkat. Episode mania juga dapat menimbulkan gangguan fungsi yang cukup berat.
Hipomania memiliki sejumlah karakteristik yang serupa, tetapi intensitasnya lebih ringan dan tidak menimbulkan gangguan fungsi sebesar mania. Inilah mengapa hipomania terkadang tidak dianggap sebagai masalah oleh individu yang mengalaminya. Orang terdekat justru dapat lebih dahulu melihat bahwa pola aktivitas, tidur, atau perilakunya berubah dari biasanya.
National Institute of Mental Health atau NIMH menggambarkan bipolar sebagai gangguan mental yang dapat berlangsung kronis maupun episodik. Kondisi ini menyebabkan perubahan yang jelas pada mood, energi, aktivitas, dan konsentrasi, dengan intensitas yang lebih berat daripada naik-turunnya emosi normal. Episode tersebut dapat berupa mania, hipomania, depresi, atau kombinasi karakteristik mania dan depresi.
NIMH juga menekankan pentingnya perjalanan sepanjang kehidupan ketika memahami bipolar. Tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, riwayat episode, serta riwayat keluarga menjadi informasi yang perlu dipertimbangkan. Artinya, kondisi seseorang pada satu hari atau satu minggu belum tentu cukup untuk menggambarkan pola bipolar secara menyeluruh.
Dalam memahami pengertian bipolar menurut para ahli, perspektif psikologi memberikan perhatian besar pada hubungan antara gejala dengan pikiran, perilaku, hubungan sosial, stresor, dan fungsi individu. David J. Miklowitz dan Sheri L. Johnson, peneliti psikologi klinis yang banyak mempelajari bipolar, meninjau kondisi ini tidak hanya dari diagnosis dan perjalanan gangguan, tetapi juga faktor psikologis dan psikososial yang berhubungan dengan kondisi tersebut.
Penelitian Miklowitz juga menunjukkan pentingnya stres kehidupan dan lingkungan keluarga dalam perjalanan gangguan bipolar. Hal ini bukan berarti konflik atau stres menjadi penyebab tunggal bipolar, tetapi kondisi psikososial dapat berkaitan dengan kekambuhan, pemulihan, dan kemampuan menjalankan fungsi sehari-hari. Karena itu, psikolog perlu memahami orang secara utuh, bukan hanya menghitung jumlah gejalanya.
Walaupun psikologi dan psikiatri dapat memberikan penekanan yang berbeda, terdapat beberapa hal yang relatif konsisten dalam pemahaman modern tentang bipolar. Kesamaan tersebut membantu membedakan bipolar dari penggunaan istilah yang terlalu longgar dalam percakapan sehari-hari. Bipolar bukan sinonim untuk sifat emosional atau perubahan perasaan yang cepat.
Beberapa titik temu tersebut meliputi:
terdapat pola episode, bukan sekadar perubahan emosi sesaat;
terjadi perubahan pada mood sekaligus energi dan aktivitas;
episode dapat berbentuk mania, hipomania, atau depresi;
pola tidur, pikiran, konsentrasi, dan perilaku dapat ikut berubah;
perubahan dapat memengaruhi fungsi pekerjaan, pendidikan, sosial, dan sehari-hari;
pengalaman bipolar berbeda antara satu individu dan individu lainnya.
WHO juga mencatat bahwa bipolar dapat menyebabkan kesulitan signifikan pada berbagai area kehidupan serta berhubungan dengan stigma dan diskriminasi. Karena itu, memahami kondisi secara ilmiah memiliki manfaat praktis untuk mengurangi kecenderungan memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan perilaku tertentu.
Seseorang yang mudah marah belum tentu mengalami bipolar. Orang yang sangat produktif selama beberapa hari juga tidak otomatis sedang mengalami mania, sedangkan rasa sedih setelah menghadapi masalah tidak langsung berarti episode depresi. Psikolog perlu melihat apakah perubahan tersebut membentuk pola tertentu dan berbeda secara jelas dari kondisi orang tersebut biasanya.
Sebagai contoh, peningkatan energi akan lebih bermakna apabila terjadi bersama kebutuhan tidur yang sangat berkurang, aktivitas meningkat drastis, pikiran bergerak cepat, dan keputusan menjadi lebih impulsif. Demikian pula, mood rendah perlu dilihat bersama perubahan minat, energi, konsentrasi, tidur, serta fungsi. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko menyimpulkan kondisi hanya berdasarkan satu ciri.
Dalam praktik kesehatan mental, psikologi dan psikiatri tidak harus dipahami sebagai dua pandangan yang bertentangan. Psikiatri memiliki peran penting dalam evaluasi medis, diagnosis klinis, dan penanganan farmakologis ketika diperlukan. Sementara itu, psikolog dapat berfokus pada asesmen psikologis, formulasi kasus, psychoeducation, psikoterapi, coping, hubungan interpersonal, serta kemampuan individu menjalankan fungsi.
Dari perspektif psikolog, pertanyaannya tidak berhenti pada “episode apa yang sedang dialami?”. Psikolog juga dapat mengeksplorasi bagaimana individu memahami kondisinya, faktor stres yang sedang dihadapi, pola hubungan, kemampuan mengelola aktivitas, dan dampak kondisi terhadap kehidupan. Jika ditemukan kebutuhan pemeriksaan medis atau penanganan di luar kompetensi psikolog, rujukan dan kolaborasi dengan psikiater dapat dilakukan.
Pada akhirnya, memahami pengertian bipolar menurut para ahli menunjukkan bahwa bipolar adalah kondisi yang jauh lebih kompleks daripada perubahan mood biasa. Dari pemikiran historis Kraepelin hingga definisi modern WHO, NIMH, dan American Psychiatric Association, benang merahnya adalah adanya pola episode yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, pikiran, dan fungsi. Perspektif psikologi kemudian membantu melihat bagaimana pola tersebut berinteraksi dengan pengalaman, stresor, relasi, dan kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tersebut sebaiknya digunakan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental, bukan untuk mendiagnosis diri atau memberi label kepada orang lain. Individu dengan bipolar tetap memiliki kepribadian, kemampuan, pekerjaan, hubungan, dan tujuan hidup yang tidak dapat dirangkum hanya melalui diagnosisnya. Semakin tepat bipolar dipahami, semakin besar peluang masyarakat memberikan dukungan yang manusiawi tanpa mengabaikan dasar ilmiahnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.