Istilah bipolar terasa sangat modern, padahal manusia telah memperhatikan hubungan antara perubahan suasana hati yang ekstrem sejak berabad-abad lalu. Cara para ahli menjelaskannya memang terus berubah: dari pengamatan mengenai mania dan melankolia, kemudian gagasan penyakit yang berulang, hingga konsep gangguan bipolar seperti yang dikenal sekarang. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman psikologis tidak muncul dalam satu malam, melainkan berkembang melalui pengamatan klinis dan penelitian lintas generasi.
Mempelajari pengertian bipolar menurut para ahli karena itu menarik bukan hanya untuk mengetahui definisinya, tetapi juga memahami mengapa konsep bipolar sekarang menekankan pola episode. WHO pada 11 September 2026 mendefinisikan bipolar sebagai kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran serta ditandai oleh episode mania atau hipomania dan episode depresi. Definisi modern tersebut merupakan hasil perjalanan panjang dalam memahami hubungan antara berbagai bentuk perubahan suasana hati.
Catatan tentang mania dan melankolia telah ditemukan jauh sebelum istilah bipolar disorder digunakan. Tinjauan sejarah mengenai kriteria bipolar menyebutkan bahwa keadaan mood yang sangat rendah maupun sangat tinggi telah dikenali sejak masa kedokteran kuno dan secara sistematis dideskripsikan dalam tradisi Hippokrates. Namun, pada masa tersebut mania dan melankolia belum diklasifikasikan dengan cara yang sama seperti gangguan bipolar modern.
Perubahan penting terjadi ketika para klinisi mulai menyadari bahwa mania dan depresi dapat mempunyai hubungan dalam perjalanan kondisi seseorang. Fokus perlahan bergeser dari memandang masing-masing keadaan sebagai masalah yang terpisah menjadi memperhatikan bagaimana episode muncul, menghilang, dan terkadang kembali. Cara melihat perjalanan kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi perkembangan konsep bipolar.
Pada pertengahan abad ke-19, sejumlah ahli di Prancis mulai menggambarkan kondisi yang melibatkan pergantian periode depresi dan mania. Tinjauan sejarah oleh Francis Mondimore menyebut Jean-Pierre Falret dan Jules Baillarger sebagai dua tokoh yang mengembangkan gambaran mengenai gangguan dengan episode manik dan depresif yang bergantian. Gagasan mengenai penyakit suasana hati yang bersifat siklik pun mulai diterima sebelum berakhirnya abad ke-19.
Perkembangan ini penting karena perhatian tidak lagi hanya diarahkan pada gejala yang terlihat pada satu waktu. Para ahli mulai mempertimbangkan course of illness atau perjalanan gangguan dari waktu ke waktu. Prinsip ini masih sangat relevan dalam psikologi klinis modern ketika riwayat episode seseorang menjadi bagian penting dalam memahami kemungkinan bipolar.
Nama Emil Kraepelin mempunyai tempat penting dalam sejarah bipolar. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Kraepelin mengembangkan konsep yang disebut manic-depressive insanity, sebuah kelompok luas yang mencakup berbagai bentuk episode mania, depresi, dan kondisi campuran. Penelitian sejarah menunjukkan konsep Kraepelin berkembang secara bertahap melalui beberapa edisi buku teksnya antara akhir 1800-an hingga awal 1900-an.
Hal yang menarik dari Kraepelin adalah penekanannya pada perjalanan kondisi, bukan sekadar gambaran gejala pada satu saat. Ia melihat adanya kesamaan antara berbagai keadaan periodik yang melibatkan perubahan mood, pikiran, dan perilaku. Kajian modern bahkan menunjukkan bahwa beberapa pengamatannya mengenai mania, melankolia, dan kondisi campuran memiliki kemiripan dengan konsep yang masih dibahas dalam klasifikasi gangguan mood sekarang.
Walaupun Kraepelin sering disebut dalam sejarah bipolar, istilah manic-depressive insanity tidak boleh dianggap identik dengan diagnosis bipolar yang sekarang digunakan. Konsepnya jauh lebih luas dan mencakup beberapa kondisi yang dalam klasifikasi modern dapat dipisahkan. Bahkan penelitian sejarah menunjukkan bahwa pemikiran Kraepelin sendiri berkembang dan tidak selalu mempunyai batas yang sepenuhnya tegas.
Hal ini penting agar sejarah tidak disederhanakan seolah-olah satu orang “menemukan” bipolar seperti menemukan penyakit baru. Kraepelin memberikan kontribusi besar melalui observasi dan pengelompokan perjalanan gangguan, tetapi konsep tersebut terus dimodifikasi oleh generasi berikutnya. Ilmu kesehatan mental berkembang melalui proses revisi semacam ini.
Perubahan berikutnya muncul ketika para ahli mulai membedakan kondisi dengan riwayat mania dari depresi yang terjadi tanpa mania. NIMH mencatat bahwa nosologi modern kemudian mengikuti gagasan Karl Leonhard untuk membedakan gangguan bipolar—yang melibatkan mania atau kombinasi mania dan depresi—dari gangguan depresi unipolar yang hanya melibatkan episode depresi. Pembagian ini membantu memperjelas konsep yang sebelumnya berada dalam kelompok manic-depressive yang sangat luas.
Kajian sejarah juga menunjukkan bahwa gagasan ini berkembang kuat sekitar pertengahan abad ke-20. Setelah itu, istilah bipolar semakin mendapatkan tempat dalam sistem klasifikasi modern. Dengan demikian, perkembangan konsep bergerak dari kategori yang sangat luas menuju pengenalan pola episode yang lebih spesifik.
Saat membahas pengertian bipolar menurut para ahli saat ini, ada titik temu yang cukup jelas. NIMH mendefinisikan bipolar sebagai kondisi yang menyebabkan perubahan nyata pada mood, energi, tingkat aktivitas, dan konsentrasi. American Psychiatric Association juga menggambarkan gangguan bipolar sebagai kondisi kesehatan mental dengan keadaan emosional periodik dan intens yang memengaruhi mood, energi, dan kemampuan seseorang berfungsi.
Dari berbagai definisi modern tersebut, beberapa unsur utama dapat dirangkum:
perubahan terjadi dalam episode tertentu, bukan sekadar emosi sesaat;
mood dapat meningkat, iritabel, atau menurun secara signifikan;
energi dan aktivitas ikut berubah;
pola tidur, konsentrasi, dan cara berpikir dapat terdampak;
mania dan hipomania memiliki tingkat keparahan yang berbeda;
episode dapat berdampak pada pekerjaan, pendidikan, hubungan, dan fungsi sehari-hari.
Gambaran tersebut menunjukkan perkembangan penting dalam konsep bipolar. Perhatian modern tidak hanya diarahkan pada kutub “senang” dan “sedih”, tetapi pada kombinasi perubahan emosi, kognisi, perilaku, energi, dan fungsi. American Psychiatric Association juga menegaskan bahwa orang tanpa bipolar dapat mengalami perubahan mood, tetapi perubahan normal umumnya tidak disertai perubahan perilaku dan fungsi yang ekstrem seperti pada episode bipolar.
Dalam psikologi, seseorang tidak hanya dipahami berdasarkan kategori episode. Psikolog juga memperhatikan bagaimana perubahan mood berhubungan dengan pola pikir, perilaku, coping, stresor, hubungan interpersonal, dan fungsi sehari-hari. Pendekatan ini membuat pengalaman bipolar tetap ditempatkan dalam konteks kehidupan orang yang mengalaminya.
Sebagai contoh, dua orang dapat sama-sama mengalami penurunan mood tetapi mempunyai faktor psikososial dan dampak fungsi yang berbeda. Satu orang mungkin lebih kesulitan mempertahankan pekerjaan, sedangkan orang lain mengalami konflik dalam hubungan dan menarik diri dari aktivitas sosial. Perspektif psikologis membantu menerjemahkan konsep klinis menjadi pemahaman mengenai kebutuhan individual.
Perubahan konsep dari mania-melankolia hingga bipolar modern menunjukkan bahwa klasifikasi kesehatan mental bukan sesuatu yang selalu tetap. Penelitian baru dapat memperjelas batas kondisi, variasi gejala, hubungan dengan faktor biologis maupun lingkungan, serta pola perjalanan dalam jangka panjang. Bahkan gagasan Kraepelin sendiri pernah mendapatkan kritik karena kategori manic-depressive insanity dianggap terlalu luas dan heterogen oleh sejumlah pemikir sezamannya.
Perdebatan ilmiah justru merupakan bagian dari perkembangan pengetahuan. Ada pendekatan yang menekankan kategori diagnosis, sementara penelitian lain melihat gangguan mood secara lebih dimensional atau sebagai spektrum. Kajian terhadap tulisan asli Kraepelin bahkan menunjukkan bahwa sebagian gagasannya dapat dibaca lebih dekat dengan pendekatan dimensional daripada yang sering diasumsikan.
Pemahaman sekarang juga semakin mengakui bahwa pengalaman bipolar dapat lebih kompleks daripada dua episode yang bergantian secara rapi. WHO menjelaskan bahwa karakteristik mania dan depresi dapat muncul dalam pola episode yang berbeda, sedangkan NIMH mengenali kemungkinan adanya mixed features, yaitu karakteristik manik dan depresif dalam periode yang sama. Hal ini membuat istilah “dua kutub” tidak sebaiknya diterjemahkan terlalu harfiah.
Selain itu, fungsi menjadi komponen yang semakin penting. WHO mencatat bipolar dapat menimbulkan disabilitas bermakna serta kesulitan pada berbagai area kehidupan. Dengan demikian, psikolog tidak cukup hanya mengetahui apakah mood meningkat atau menurun, tetapi juga perlu memahami bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan kehidupannya.
Pada akhirnya, mempelajari pengertian bipolar menurut para ahli menunjukkan bahwa konsep ini terus berkembang seiring bertambahnya pengetahuan ilmiah. Dari pengamatan awal mengenai mania dan melankolia, konsep siklik Falret dan Baillarger, pemikiran manic-depressive Kraepelin, hingga pemisahan bipolar dan unipolar, setiap periode menyumbangkan bagian penting terhadap pemahaman modern. Saat ini bipolar dipandang sebagai kondisi episodik yang melibatkan perubahan mood, energi, aktivitas, pikiran, dan fungsi.
Sejarah tersebut juga mengingatkan bahwa diagnosis seharusnya menjadi alat untuk memahami kondisi, bukan label yang mendefinisikan seluruh kehidupan seseorang. Dari perspektif psikologi, asesmen tetap perlu mempertimbangkan riwayat episode, fungsi, konteks sosial, stresor, serta pengalaman individual sebelum menentukan kebutuhan intervensi. Semakin tepat kita memahami perkembangan konsep bipolar, semakin mudah pula membicarakan kondisi ini secara ilmiah tanpa kehilangan sisi manusiawinya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.