Datang ke psikolog karena merasa mood berubah-ubah tidak selalu berarti seseorang mengalami bipolar. Perubahan energi, sulit tidur, mudah marah, kehilangan semangat, atau sulit berkonsentrasi dapat muncul dalam berbagai kondisi psikologis maupun situasi kehidupan. Karena itu, asesmen bipolar membutuhkan cerita yang jauh lebih lengkap daripada sekadar menjawab pertanyaan, “Apakah akhir-akhir ini mood saya sering berubah?”
Memahami pengertian bipolar sebelum melakukan asesmen membantu seseorang datang dengan ekspektasi yang lebih realistis. WHO menjelaskan bipolar sebagai kondisi kesehatan mental yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran, serta ditandai episode mania atau hipomania dan episode depresi. NIMH juga menekankan bahwa penilaian bipolar mempertimbangkan tingkat keparahan, lama berlangsungnya, frekuensi gejala, serta pengalaman seseorang sepanjang hidupnya.
Salah satu hal penting sebelum asesmen adalah tidak terlalu cepat menentukan kesimpulan sendiri. Merasa sangat produktif selama beberapa hari belum tentu menunjukkan mania, sementara merasa sedih selama masa penuh tekanan tidak otomatis berarti mengalami episode depresi bipolar. Psikolog perlu memahami bagaimana perubahan tersebut dibandingkan dengan pola individu ketika dirinya sedang berada dalam kondisi relatif stabil.
NICE merekomendasikan penggalian riwayat mood secara terperinci, termasuk periode peningkatan aktivitas, perubahan perilaku yang bertahan, kondisi di antara episode, kemungkinan pemicu, dan pola kekambuhan sebelumnya. Fungsi sosial, kondisi pribadi, stresor psikososial, serta riwayat keluarga juga termasuk informasi yang relevan. Artinya, asesmen lebih menyerupai penyusunan potongan perjalanan psikologis daripada pencocokan seseorang dengan daftar gejala.
Seseorang dapat datang berkonsultasi ketika sedang merasa sangat tertekan sehingga pengalaman depresi menjadi hal yang paling mudah diceritakan. Namun, untuk memahami kemungkinan pola bipolar, psikolog juga perlu mengetahui apakah sebelumnya pernah terdapat periode energi dan aktivitas yang meningkat secara tidak biasa. NIMH menjelaskan bahwa hipomania dapat luput dikenali karena pada periode tersebut seseorang justru mungkin merasa sangat baik atau produktif.
Karena itu, sebelum asesmen akan membantu bila individu mencoba mengingat perubahan penting beberapa bulan atau tahun sebelumnya. Tidak harus mengingat tanggal secara sempurna, tetapi gambaran mengenai kapan perubahan muncul, berapa lama berlangsung, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan dapat memberikan informasi berharga. Riwayat tersebut juga membantu psikolog membedakan pola episodik dari kesulitan yang berlangsung relatif menetap.
Bipolar tidak ditentukan hanya berdasarkan jenis emosi yang muncul. Psikolog perlu melihat seberapa kuat perubahan terjadi, berapa lama berlangsung, dan apakah perubahan tersebut memengaruhi perilaku atau fungsi sehari-hari. NIMH menyebut episode bipolar melibatkan gejala yang berlangsung selama beberapa hari hingga minggu dan terjadi hampir setiap hari selama sebagian besar waktu episode.
Contohnya, satu malam kurang tidur tidak sama dengan beberapa hari tidur sangat sedikit tetapi tetap merasa penuh energi dan menjalankan aktivitas jauh lebih banyak dari biasanya. Demikian pula, satu hari kehilangan motivasi berbeda dari periode ketika minat, energi, konsentrasi, dan fungsi menurun secara menetap. Informasi mengenai durasi membuat gambaran psikologis menjadi lebih akurat.
Sebelum datang untuk asesmen, individu tidak perlu membuat laporan yang rumit. Catatan singkat mengenai mood, waktu tidur, energi, aktivitas, serta kejadian penting dapat membantu mengingat pola yang sebelumnya mudah terlupakan. Jika pernah ada perubahan besar pada pekerjaan, hubungan, pengeluaran, atau perilaku, informasi tersebut juga dapat dicatat.
Saat membicarakan pengertian bipolar dalam konteks asesmen, pola tidur merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari perubahan mood. Mania dapat disertai berkurangnya kebutuhan tidur, sedangkan episode depresi dapat melibatkan sulit tidur, terbangun terlalu dini, atau justru tidur lebih banyak. Hal penting yang dinilai bukan sekadar berapa jam seseorang tidur, tetapi bagaimana perubahan tersebut berkaitan dengan energi dan aktivitasnya.
Misalnya, orang yang hanya tidur empat jam biasanya akan merasa lelah keesokan harinya. Gambaran menjadi berbeda ketika seseorang tidur sangat sedikit selama beberapa malam namun tetap merasa bertenaga, semakin aktif, dan pikirannya bergerak sangat cepat. Kombinasi perubahan seperti ini memberikan informasi lebih banyak dibandingkan satu gejala yang dilihat secara terpisah.
Asesmen tidak hanya membahas apa yang seseorang rasakan. Psikolog juga perlu memahami apa yang berubah dalam pekerjaan, pendidikan, hubungan, pengelolaan aktivitas, dan kemampuan merawat diri. WHO mencatat bahwa bipolar dapat menimbulkan kesulitan yang bermakna dalam berbagai area kehidupan.
Beberapa pertanyaan yang dapat membantu mengingat perubahan sebelum asesmen antara lain:
Apakah pekerjaan atau kuliah pernah berubah drastis selama periode tertentu?
Apakah pernah mengambil terlalu banyak kegiatan sekaligus?
Apakah keputusan finansial menjadi lebih impulsif?
Apakah hubungan dengan keluarga atau pasangan ikut berubah?
Apakah pernah menarik diri dari aktivitas yang biasanya disukai?
Apakah rutinitas dan perawatan diri menjadi lebih sulit dilakukan?
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak digunakan secara terpisah untuk menentukan bipolar. Fungsinya adalah membantu melihat hubungan antara mood dengan kehidupan nyata. Psikolog kemudian dapat menggabungkan informasi tersebut dengan wawancara, observasi, riwayat kondisi, dan data asesmen lain yang relevan.
Kehidupan tidak berlangsung dalam ruang kosong. Konflik keluarga, perubahan pekerjaan, kehilangan, masalah hubungan, tekanan akademik, hingga perubahan jadwal tidur dapat berkaitan dengan kondisi psikologis seseorang. NICE secara khusus menyarankan penilaian terhadap stresor psikososial dan kemungkinan faktor yang berkaitan dengan perubahan mood.
Hal ini bukan berarti stres dianggap sebagai satu-satunya penyebab bipolar. Tujuannya adalah memahami konteks yang mengelilingi perubahan kondisi dan kemungkinan pola yang berulang. Informasi tersebut nantinya juga berguna untuk penyusunan formulasi psikologis dan strategi coping yang lebih personal.
Salah satu alasan asesmen perlu dilakukan secara hati-hati adalah karena beberapa kondisi dapat memiliki karakteristik yang tampak mirip. NIMH menjelaskan bahwa penggunaan zat tertentu dan beberapa kondisi kesehatan dapat memunculkan atau memperburuk gejala yang menyerupai bipolar. Kondisi psikologis lain juga dapat memiliki gejala yang tumpang tindih sehingga perjalanan gejala perlu ditelusuri secara menyeluruh.
NICE menyebut beberapa kemungkinan yang perlu dipertimbangkan dalam proses diferensial, termasuk ADHD, gangguan kepribadian tertentu, penggunaan alkohol atau zat, gangguan spektrum skizofrenia, serta kondisi fisik tertentu. Dalam konteks layanan psikologi, psikolog dapat mengeksplorasi pola psikologis dan fungsi, kemudian melakukan rujukan atau kolaborasi dengan profesional kesehatan lain apabila terdapat kebutuhan pemeriksaan di luar kompetensinya.
Seseorang terkadang berharap satu tes atau kuesioner dapat langsung memberikan jawaban apakah dirinya mengalami bipolar. Padahal, skor pada instrumen screening sebaiknya dipahami sebagai salah satu sumber informasi dan bukan satu-satunya dasar untuk mengambil kesimpulan. NICE bahkan menekankan bahwa identifikasi bipolar tidak seharusnya hanya bergantung pada kuesioner, karena riwayat mood dan perubahan perilaku tetap perlu dieksplorasi secara mendalam.
Dalam asesmen psikologis, data dapat berasal dari wawancara, observasi, instrumen yang relevan, riwayat fungsi, dan informasi lain yang mendukung. Bila individu memberikan persetujuan dan memang diperlukan, informasi dari keluarga atau orang terdekat juga dapat membantu menggambarkan perubahan yang mungkin tidak disadari sendiri. NICE menyebut riwayat yang dikonfirmasi oleh keluarga atau caregiver dapat menjadi bagian yang bermanfaat dalam asesmen.
Ada beberapa pertanyaan dalam asesmen yang mungkin terasa sangat pribadi, misalnya mengenai pikiran menyakiti diri, perilaku berisiko, pengeluaran impulsif, atau tindakan yang pernah membahayakan diri maupun orang lain. Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan membantu psikolog memahami tingkat risiko dan kebutuhan dukungan. NICE memasukkan self-harm, pikiran bunuh diri, risiko terhadap orang lain, pengeluaran berlebihan, dan perilaku disinhibisi sebagai area yang perlu diperhatikan dalam penilaian risiko bipolar.
Kejujuran dalam bagian ini sangat penting, terutama jika terdapat pikiran untuk bunuh diri, kehilangan kendali terhadap perilaku, atau perubahan kondisi yang sangat berat. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan keselamatan menjadi prioritas dan psikolog dapat membantu mengarahkan individu pada layanan yang sesuai. Asesmen yang baik bukan hanya berusaha memahami diagnosis, tetapi juga memastikan kebutuhan pertolongan tidak terlewat.
Pada akhirnya, memahami pengertian bipolar sebelum asesmen bukan berarti seseorang harus mampu menentukan sendiri apakah dirinya mengalami bipolar. Justru tujuan asesmen adalah membantu menyusun gambaran yang lebih sistematis mengenai mood, energi, tidur, perilaku, fungsi, riwayat episode, stresor, dan faktor lain yang relevan. Semakin lengkap konteks yang diperoleh, semakin kecil kemungkinan satu perilaku atau satu periode emosional ditafsirkan secara berlebihan.
Seseorang juga tidak perlu datang dengan cerita yang sudah tersusun sempurna. Psikolog dapat membantu menelusuri pengalaman secara bertahap, menyusun pola, memberikan psychoeducation, dan menentukan kebutuhan intervensi psikologis berdasarkan hasil asesmen. Jika terdapat kondisi yang membutuhkan evaluasi medis atau layanan lain, rujukan dan kolaborasi dapat dilakukan sehingga setiap kebutuhan tetap ditangani dalam batas kompetensi profesional yang sesuai.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.