Ketika dokter meminta pemeriksaan darah setelah seseorang berkonsultasi karena dugaan bipolar, wajar jika muncul pertanyaan: apakah bipolar bisa diketahui dari hasil laboratorium? Jawabannya tidak sesederhana itu. Gangguan bipolar pada dasarnya didiagnosis melalui evaluasi klinis terhadap pola mood, perilaku, energi, durasi episode, serta perjalanan kondisi seseorang dari waktu ke waktu.
Karena itu, pemeriksaan penunjang bipolar tidak berfungsi seperti tes gula darah yang langsung menunjukkan ada atau tidaknya suatu penyakit. NIMH menjelaskan bahwa tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan fisik dan meminta tes medis untuk menyingkirkan penyakit lain sebelum seseorang menjalani evaluasi kesehatan mental. Diagnosis bipolar sendiri tetap ditentukan berdasarkan tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, pengalaman sepanjang hidup, serta riwayat keluarga.
Sampai saat ini, tidak ada pemeriksaan darah atau pemindaian otak tunggal yang dapat memastikan diagnosis bipolar. Beberapa penyakit fisik, efek obat, dan penggunaan zat dapat menimbulkan perubahan mood atau perilaku yang menyerupai mania maupun depresi. Itulah sebabnya pemeriksaan penunjang lebih sering digunakan untuk membantu menjawab pertanyaan, “Apakah ada kondisi lain yang menyebabkan gejala ini?”
NIMH menyebut penyakit tiroid sebagai salah satu kondisi yang dapat menghasilkan gejala mirip bipolar. Efek obat resep, zat rekreasional, maupun obat terlarang juga dapat menyerupai atau memperburuk perubahan mood. Dengan demikian, hasil laboratorium yang normal tidak otomatis membuktikan bipolar, begitu pula hasil abnormal belum tentu berarti gangguan bipolar tidak ada.
Walaupun diagnosis terutama dilakukan melalui wawancara klinis, pemeriksaan tambahan mempunyai fungsi yang cukup luas. Tes dapat dilakukan sebelum terapi dimulai, ketika dokter mencurigai penyebab fisik tertentu, atau selama pengobatan berlangsung. Jenis pemeriksaan juga tidak selalu sama pada setiap pasien.
Secara umum, pemeriksaan penunjang dapat membantu dalam tiga hal:
Menyingkirkan kondisi medis yang menyerupai bipolar.
Mengetahui kondisi kesehatan sebelum obat tertentu diberikan.
Memantau keamanan dan efek pengobatan dalam jangka panjang.
Dengan cara ini, tes laboratorium bukan sekadar “pelengkap administrasi” setelah diagnosis. Informasinya dapat memengaruhi pilihan terapi, dosis, frekuensi kontrol, serta kebutuhan pemeriksaan tambahan berikutnya.
Fungsi tiroid menjadi salah satu hal yang dapat diperhatikan ketika seseorang mengalami perubahan mood, energi, atau aktivitas yang tidak biasa. Gangguan pada hormon tiroid dapat memengaruhi tidur, tingkat energi, kecemasan, konsentrasi, hingga suasana hati. Beberapa manifestasinya dapat menyerupai gejala yang ditemukan pada gangguan mood.
Karena itu, pemeriksaan hormon tiroid dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi klinis dan riwayat pasien. NIMH secara khusus mencatat bahwa penyakit tiroid dapat menyebabkan gejala menyerupai bipolar. Pada pasien yang menggunakan lithium, fungsi tiroid juga perlu dimonitor secara berkala karena obat tersebut dapat memengaruhi fungsi kelenjar tiroid.
Tidak semua orang yang sedang dievaluasi untuk bipolar otomatis membutuhkan panel pemeriksaan ginjal yang sama. Namun, fungsi ginjal menjadi sangat penting ketika terapi lithium dipertimbangkan atau sedang digunakan. Lithium dikeluarkan melalui ginjal sehingga perubahan fungsi ginjal dapat memengaruhi kadar obat dalam tubuh.
NICE merekomendasikan pemeriksaan ureum dan elektrolit, kalsium, estimasi laju filtrasi glomerulus atau eGFR, fungsi tiroid, dan hitung darah lengkap sebelum memulai lithium. Setelah terapi berjalan, fungsi ginjal, elektrolit, kalsium, serta tiroid perlu dipantau secara berkala. Pemeriksaan tersebut membantu menjaga terapi tetap aman dan memungkinkan masalah terdeteksi lebih awal.
Saat membahas pemeriksaan penunjang bipolar, penting membedakan tes untuk membantu evaluasi diagnosis dengan tes untuk memantau pengobatan. Pemeriksaan kadar lithium dalam darah bukan digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami bipolar. Tes tersebut bertujuan memastikan kadar obat berada dalam rentang yang sesuai setelah lithium diresepkan.
NICE merekomendasikan pengukuran kadar lithium plasma secara berkala selama terapi. Pemantauan dilakukan lebih sering pada tahap awal dan dapat dilanjutkan setiap beberapa bulan tergantung kondisi, usia, penggunaan obat lain, fungsi ginjal dan tiroid, serta kestabilan gejala. Pemeriksaan kadar obat penting karena lithium memiliki rentang terapi yang perlu dijaga dengan cermat.
Sebagian obat antipsikotik yang digunakan dalam penanganan bipolar dapat memengaruhi berat badan, gula darah, dan metabolisme lemak. Karena itu, tenaga kesehatan perlu mengetahui kondisi dasar pasien sebelum memulai terapi tertentu. Pemeriksaan tersebut juga membantu membedakan perubahan yang sudah ada sebelumnya dengan efek yang mungkin muncul setelah penggunaan obat.
Sebelum antipsikotik diberikan, NICE merekomendasikan pencatatan beberapa indikator, antara lain:
berat badan atau indeks massa tubuh;
denyut nadi;
tekanan darah;
gula darah puasa atau HbA1c;
profil lipid.
Pemantauan tidak berhenti setelah obat diberikan. Berat badan, tekanan darah, gula darah, lipid, efek samping, serta respons terhadap terapi perlu dinilai kembali sesuai jadwal klinis. Pendekatan ini penting karena kesehatan fisik merupakan bagian dari perawatan bipolar, bukan persoalan yang terpisah.
Electrocardiogram atau ECG bukan pemeriksaan rutin yang harus dilakukan kepada setiap orang dengan dugaan bipolar. Pemeriksaan ini lebih berkaitan dengan keamanan penggunaan obat tertentu dan kondisi kesehatan jantung pasien. Faktor seperti riwayat penyakit kardiovaskular, hipertensi, gangguan irama jantung, atau penggunaan obat tertentu dapat membuat ECG lebih relevan.
NICE merekomendasikan ECG sebelum penggunaan antipsikotik jika obat yang digunakan memang mensyaratkannya, terdapat faktor risiko kardiovaskular, terdapat riwayat kolaps mendadak atau gangguan irama, maupun ketika pasien dirawat sebagai pasien rawat inap. Pada pasien yang akan menggunakan lithium, ECG juga dapat dipertimbangkan jika terdapat penyakit atau faktor risiko kardiovaskular. Artinya, pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan indikasi, bukan karena semua pasien bipolar memiliki masalah jantung.
Pemindaian otak sering dianggap sebagai cara paling pasti untuk membuktikan adanya gangguan psikologis, tetapi kenyataannya tidak demikian pada bipolar. Tidak ada pola CT scan atau MRI tertentu yang saat ini digunakan sebagai pemeriksaan rutin untuk memastikan diagnosis bipolar. NIMH menegaskan bahwa diagnosis masih bergantung pada riwayat kehidupan dan pola gejala seseorang, bukan hasil pemindaian otak.
Pemeriksaan pencitraan dapat dipertimbangkan apabila dokter mencurigai kondisi neurologis atau masalah medis tertentu berdasarkan temuan klinis. Misalnya, gejala yang muncul sangat tidak biasa, disertai gangguan neurologis, atau membutuhkan evaluasi penyebab lain. Jadi, MRI atau CT scan lebih berfungsi untuk menjawab indikasi klinis tertentu daripada menjadi “tes bipolar”.
Evaluasi bipolar juga tidak hanya berlangsung melalui percakapan mengenai perasaan. NICE merekomendasikan penilaian kesehatan fisik, riwayat obat, efek samping, gangguan kesehatan lain, fungsi sosial, serta riwayat perubahan mood dan aktivitas secara menyeluruh. Informasi dari anggota keluarga atau orang terdekat juga dapat membantu menggambarkan perubahan yang mungkin tidak disadari pasien.
Karena itu, dokter dapat menanyakan banyak hal yang sekilas tampak tidak berhubungan dengan kesehatan mental. Pola tidur, penggunaan alkohol atau zat, riwayat penyakit, obat yang sedang digunakan, penyakit keluarga, serta perubahan berat badan semuanya dapat memberikan konteks penting. Semakin lengkap informasi yang tersedia, semakin baik pula proses membedakan bipolar dari kondisi lain.
Pada akhirnya, pemeriksaan penunjang bipolar merupakan bagian dari proses evaluasi yang lebih luas, bukan alat tunggal untuk menentukan diagnosis. Tes laboratorium, pemeriksaan fungsi organ, ECG, dan pemantauan metabolik digunakan berdasarkan kebutuhan pasien serta terapi yang sedang dipertimbangkan. Hasilnya kemudian dibaca bersama riwayat gejala, pola episode, pemeriksaan fisik, dan evaluasi kesehatan mental.
Pendekatan seperti ini membantu tenaga profesional melihat seseorang secara lebih utuh, bukan hanya dari perubahan mood yang tampak. Pemeriksaan yang tepat juga dapat membantu mengurangi risiko salah diagnosis serta meningkatkan keamanan terapi jangka panjang. Jika terdapat dugaan bipolar, langkah yang paling tepat bukan memilih sendiri paket pemeriksaan laboratorium, melainkan menjalani evaluasi bersama tenaga kesehatan agar pemeriksaan yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.