Mendampingi seseorang dengan bipolar kadang membuat keluarga atau pasangan bingung harus berkata apa. Ada saat ketika orang yang dikenal tenang menjadi sangat aktif dan penuh rencana, sementara pada periode lain ia mungkin menarik diri dan tampak kehilangan energi. Dalam situasi seperti ini, niat membantu saja belum tentu cukup karena cara berkomunikasi juga dapat menentukan apakah seseorang merasa didukung atau justru merasa semakin disalahpahami.
Belajar menghadapi orang bipolar bukan berarti mencari cara untuk mengendalikan suasana hati atau perilakunya. Pendekatan yang lebih sehat adalah memahami kondisinya, mendengarkan pengalaman yang sedang dialami, dan mengetahui kapan dukungan sehari-hari perlu dilengkapi bantuan profesional. NIMH menyarankan keluarga dan teman untuk memberikan dukungan emosional, pemahaman, kesabaran, serta keterbukaan terhadap pengalaman orang dengan bipolar.
Bipolar dapat melibatkan episode mania, hipomania, depresi, maupun gejala campuran yang memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan cara berpikir. Saat episode terjadi, respons seseorang terhadap percakapan juga dapat berubah dibandingkan ketika kondisinya stabil. Karena itu, pola komunikasi yang efektif pada satu situasi belum tentu cocok digunakan pada situasi lainnya.
Komunikasi empatik bukan berarti selalu menyetujui semua yang dikatakan atau dilakukan. Empati berarti berusaha memahami pengalaman orang lain sambil tetap menjaga batas, keselamatan, dan realitas situasi. NICE juga menganjurkan pendekatan kolaboratif antara individu dengan bipolar dan orang yang memberikan dukungan, dengan tetap menghargai kebutuhan serta perspektif masing-masing.
Ketika seseorang sedang mengalami kesulitan emosional, keinginan untuk segera memberikan solusi sering muncul secara otomatis. Namun, respons pertama yang lebih membantu terkadang justru berupa kesediaan untuk mendengarkan tanpa buru-buru mengoreksi atau menghakimi. NIMH secara khusus menyarankan orang terdekat untuk mendengarkan dan terbuka terhadap pengalaman individu dengan bipolar.
Beberapa bentuk komunikasi yang dapat dicoba antara lain:
menanyakan apa yang sedang dirasakan;
memberi kesempatan untuk berbicara tanpa dipotong;
memastikan bentuk bantuan yang sedang dibutuhkan;
mengakui bahwa pengalaman yang dirasakan memang berat;
menawarkan bantuan praktis tanpa memaksa.
Kalimat sederhana seperti, “Aku melihat akhir-akhir ini kamu sulit tidur. Ada yang ingin kamu ceritakan?” biasanya lebih membuka percakapan daripada langsung mengatakan bahwa seseorang sedang kambuh. Fokuslah pada perubahan yang dapat diamati, bukan memberikan diagnosis atau label berdasarkan asumsi. Cara tersebut memberi ruang kepada individu untuk menjelaskan kondisinya dari sudut pandangnya sendiri.
Ucapan yang terdengar sederhana dapat memiliki makna berbeda bagi seseorang yang sedang mengalami episode mood. Kalimat seperti “jangan dipikirkan”, “kamu terlalu berlebihan”, atau “coba lebih bersyukur” dapat membuat pengalaman emosional terasa diremehkan. Respons seperti ini juga berisiko membuat seseorang enggan berbicara lagi ketika kondisinya memburuk.
Sebaliknya, gunakan bahasa yang menunjukkan bahwa Anda mendengar tanpa harus menganggap semua pemikiran atau keputusan sebagai sesuatu yang benar. Anda dapat mengatakan bahwa Anda memahami situasinya terasa berat dan bersedia menemani mencari langkah berikutnya. Komunikasi seperti ini mempertahankan empati sekaligus tidak menghilangkan kebutuhan untuk menilai situasi secara realistis.
Saat episode mania, seseorang dapat memiliki energi tinggi, berbicara sangat cepat, membutuhkan sedikit tidur, atau membuat keputusan yang lebih impulsif. Percakapan yang panjang, argumentatif, dan emosional dapat menjadi sulit ketika tingkat aktivitas serta pikiran sedang meningkat. Pada kondisi seperti ini, berbicara dengan nada tenang, menggunakan kalimat sederhana, dan memusatkan percakapan pada satu persoalan dapat lebih mudah diikuti.
Ketika seseorang sedang mengalami episode depresi, tantangannya dapat berbeda. Energi rendah dan kehilangan minat dapat membuat aktivitas sederhana terasa berat, sehingga mendesak seseorang untuk segera “kembali normal” bukan pendekatan yang ideal. Dukungan dapat berupa menemani, mendengarkan, menawarkan bantuan praktis, dan membantu tetap terhubung dengan layanan kesehatan apabila diperlukan.
Dalam menghadapi orang bipolar, penting untuk mengingat bahwa seseorang tetap memiliki emosi sehari-hari seperti orang lain. Marah karena diperlakukan tidak adil, kecewa karena rencana gagal, atau gembira karena mendapatkan kabar baik tidak otomatis berarti sedang mengalami episode bipolar. Terlalu cepat mengaitkan setiap reaksi dengan diagnosis dapat membuat individu merasa tidak lagi dipercaya untuk memahami emosinya sendiri.
Perhatikan pola yang lebih luas, bukan satu reaksi sesaat. Beberapa perubahan yang lebih layak diperhatikan misalnya:
kebutuhan tidur berubah secara signifikan;
tingkat energi jauh berbeda dari biasanya;
pembicaraan atau pikiran menjadi sangat cepat;
aktivitas meningkat secara ekstrem;
muncul perilaku impulsif atau berisiko;
menarik diri dan kehilangan minat secara berkepanjangan;
kemampuan bekerja atau menjalankan kegiatan sehari-hari menurun.
NIMH menjelaskan bahwa episode bipolar biasanya melibatkan perubahan mood bersama perubahan perilaku, energi, dan aktivitas yang cukup jelas hingga dapat terlihat oleh orang lain. Memahami konteks tersebut membantu keluarga membedakan emosi normal dengan pola perubahan yang memang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.
Mendukung bukan berarti mengambil alih seluruh kehidupan seseorang. Bantuan dapat ditawarkan dalam bentuk sederhana, misalnya menemani konsultasi, membantu mengambil obat, atau mengingatkan jadwal perawatan jika orang tersebut memang menginginkannya. NIMH memasukkan dukungan praktis seperti menemani ke layanan kesehatan sebagai salah satu cara membantu orang terdekat dengan bipolar.
Akan lebih baik jika bentuk bantuan dibicarakan ketika kondisinya relatif stabil. Tanyakan apa yang ingin dilakukan keluarga apabila tanda episode mulai muncul, siapa yang boleh dihubungi, dan bentuk bantuan apa yang justru tidak diinginkan. NICE merekomendasikan pembicaraan sejak awal mengenai bagaimana informasi dan dukungan akan dibagikan antara individu dengan bipolar dan orang yang mendampinginya.
Empati memiliki peran penting, tetapi tidak semua situasi dapat diselesaikan melalui percakapan keluarga. Mania yang berat, psikosis, perilaku yang sangat berisiko, atau depresi berat membutuhkan penilaian profesional. Bipolar umumnya memerlukan pengobatan jangka panjang, dan intervensi psikologis maupun psikososial dapat digunakan bersama terapi medis sesuai kebutuhan individu.
Perhatian khusus diperlukan jika muncul:
pembicaraan mengenai bunuh diri atau kematian;
tindakan menyakiti diri;
perilaku yang membahayakan diri atau orang lain;
kehilangan kontak dengan realitas;
keputusan berisiko yang semakin sulit dikendalikan;
ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Dalam keadaan seperti itu, keselamatan perlu menjadi prioritas dibandingkan mencoba memenangkan perdebatan. Hubungi tenaga kesehatan yang menangani atau layanan kegawatdaruratan setempat apabila terdapat risiko langsung terhadap keselamatan. Jangan meninggalkan seseorang sendirian ketika terdapat ancaman nyata untuk menyakiti diri.
Mendampingi seseorang dengan bipolar dapat menguras energi emosional, terutama ketika episode terjadi berulang atau berlangsung berat. Menjadi suportif tidak berarti keluarga harus menerima semua perilaku, mengabaikan kebutuhan sendiri, atau selalu tersedia tanpa batas. NIMH bahkan menekankan pentingnya orang yang mendampingi untuk tetap menjaga dirinya sendiri.
Batas yang sehat dapat dibicarakan dengan jelas tetapi tetap menghormati orang lain. Misalnya, keluarga dapat mengatakan bahwa mereka bersedia berbicara mengenai suatu masalah, tetapi tidak akan melanjutkan percakapan jika sudah terjadi ancaman atau kekerasan. Dukungan yang berkelanjutan akan lebih realistis ketika kebutuhan kedua pihak sama-sama diperhatikan.
Komunikasi bukan pengganti pengobatan atau psikoterapi, tetapi dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung proses perawatan. WHO menyebut dukungan keluarga dan teman sangat penting, sementara psychoeducation keluarga dapat membantu orang terdekat memahami kondisi serta memberikan dukungan dengan lebih baik. Pendekatan psikososial juga menekankan otonomi, pemberdayaan, dan keterlibatan sosial individu dengan bipolar.
Pada akhirnya, menghadapi orang bipolar dengan empati berarti belajar mendengarkan, memilih kata dengan hati-hati, memahami perubahan yang sedang terjadi, dan mengetahui batas kemampuan kita sebagai keluarga atau teman. Orang dengan bipolar tidak membutuhkan seseorang yang terus mengawasi setiap emosinya, tetapi lingkungan yang mampu membedakan antara memberi dukungan, menghormati kemandirian, dan bertindak ketika keselamatan menjadi masalah. Dengan komunikasi yang terbuka serta hubungan yang baik dengan tenaga profesional, dukungan dapat menjadi lebih terarah tanpa membuat diagnosis bipolar menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan seseorang.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.