Perubahan suasana hati sebenarnya merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan. Setelah mendapat kabar baik seseorang mungkin merasa lebih bersemangat, sedangkan tekanan pekerjaan, konflik keluarga, atau kelelahan dapat membuat suasana hati menurun. Namun, ketika perubahan tersebut menjadi sangat kuat dan disertai perubahan energi, tidur, pikiran, serta perilaku, mengenali gejala bipolar pada wanita dapat membantu memahami bahwa kondisi yang terjadi mungkin lebih dari sekadar mood swing sehari-hari.
Gangguan bipolar ditandai oleh episode perubahan mood dan tingkat aktivitas yang cukup berbeda dari kondisi seseorang biasanya. Fase dengan mood dan energi meningkat dapat muncul sebagai mania atau hipomania, sedangkan pada episode depresif seseorang mengalami penurunan mood, minat, maupun energi. Gejala tersebut dapat berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu dan cukup kuat untuk memengaruhi fungsi sehari-hari.
Secara sederhana, fase manik cenderung ditandai peningkatan mood, energi, dan aktivitas, sedangkan fase depresif lebih banyak ditandai penurunan energi, minat, dan kemampuan menjalankan rutinitas. Meski begitu, perbedaannya tidak selalu sesederhana “sangat senang” dan “sangat sedih”. Mania juga dapat membuat seseorang sangat mudah tersinggung, sementara depresi bisa terasa sebagai kehampaan, kehilangan motivasi, atau kesulitan berpikir.
NIMH menjelaskan bahwa episode mania dapat melibatkan mood yang sangat meningkat atau mudah tersinggung, pikiran yang berlomba, kebutuhan tidur yang berkurang, dan aktivitas yang meningkat. Sebaliknya, episode depresi dapat melibatkan kesedihan, hilangnya minat, gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, serta ketidakmampuan melakukan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan. Perbedaan pola inilah yang penting diperhatikan dari waktu ke waktu.
Ketika memasuki fase manik, energi dapat meningkat jauh di atas kondisi biasanya. Seorang wanita mungkin menjalankan banyak kegiatan sekaligus, membuat berbagai rencana baru, bekerja sampai larut malam, atau terus bergerak tanpa merasa membutuhkan banyak istirahat. Orang terdekat bahkan bisa merasa bahwa ritme aktivitasnya menjadi jauh lebih cepat dari biasanya.
Pada fase depresif, keadaan tersebut dapat berbalik secara nyata. Aktivitas sederhana seperti mandi, membereskan rumah, menyiapkan makanan, atau berangkat bekerja dapat terasa sangat melelahkan. Penurunan energi yang berat dapat membuat seseorang mengurangi berbagai kegiatan yang sebelumnya mampu dijalankan tanpa kesulitan.
Perubahan kebutuhan tidur merupakan salah satu tanda yang cukup khas untuk diperhatikan. Pada fase manik, seseorang dapat tidur hanya beberapa jam tetapi tetap merasa segar, aktif, dan tidak merasa kekurangan istirahat. Kondisi ini berbeda dari begadang biasa, karena seseorang yang kurang tidur pada umumnya akan merasa mengantuk atau lelah keesokan harinya.
Dalam fase depresif, gangguan tidur dapat muncul dalam bentuk sulit tidur, sering terbangun, bangun terlalu pagi, atau justru tidur jauh lebih lama. Meskipun waktu tidurnya panjang, seseorang masih dapat merasa lelah dan tidak memiliki energi untuk memulai aktivitas. NIMH memasukkan penurunan kebutuhan tidur pada mania serta insomnia atau tidur berlebihan pada depresi sebagai bagian dari pola gejala bipolar.
Saat fase manik, pikiran dapat terasa bergerak sangat cepat. Seseorang mungkin memiliki banyak ide dalam waktu bersamaan, berbicara lebih cepat, berpindah topik dengan cepat, dan merasa kesulitan menghentikan aliran pikirannya. Dalam lingkungan kerja, keadaan ini terkadang terlihat seperti kreativitas atau produktivitas yang sedang meningkat.
Sebaliknya, pada episode depresif proses berpikir dapat terasa lebih lambat. Seorang wanita mungkin membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami informasi, sulit menentukan pilihan, kehilangan fokus saat bekerja, atau merasa sering lupa. Bahkan percakapan sehari-hari dapat terasa melelahkan karena membutuhkan konsentrasi yang lebih besar daripada biasanya.
Salah satu gejala bipolar pada wanita yang perlu diperhatikan selama fase manik adalah perubahan dalam menilai risiko. Seseorang dapat merasa sangat yakin terhadap kemampuannya dan membuat keputusan besar tanpa banyak pertimbangan, misalnya melakukan pengeluaran berlebihan, mengambil terlalu banyak pekerjaan, atau membuat komitmen secara mendadak. Keputusan tersebut sering terasa masuk akal ketika energi dan rasa percaya diri sedang meningkat.
Pada fase depresif, masalah pengambilan keputusan dapat terlihat dengan cara yang berlawanan. Seseorang mungkin merasa ragu terhadap hampir setiap pilihan, takut membuat kesalahan, atau kesulitan memutuskan hal-hal sederhana. Akibatnya, pekerjaan maupun tanggung jawab sehari-hari dapat tertunda karena pikiran terasa terlalu berat untuk menentukan langkah berikutnya.
Fase manik dapat mengubah pola interaksi sosial secara mencolok. Seorang wanita mungkin menjadi lebih banyak berbicara, lebih aktif bertemu orang lain, sering menghubungi teman, atau terlibat dalam banyak aktivitas sosial sekaligus. Namun, peningkatan aktivitas tersebut juga dapat disertai sifat mudah tersinggung sehingga konflik muncul ketika orang lain tidak mengikuti keinginan atau kecepatannya.
Ketika memasuki fase depresif, interaksi sosial justru dapat berkurang drastis. Seseorang mungkin malas membalas pesan, membatalkan pertemuan, menghindari percakapan, atau merasa tidak memiliki energi untuk berhubungan dengan orang lain. Perubahan antara sangat aktif secara sosial dan kemudian menarik diri menjadi lebih penting diperhatikan apabila terjadi bersama perubahan mood serta fungsi lainnya.
Pada awal fase manik atau hipomanik, seseorang terkadang terlihat sangat produktif. Banyak pekerjaan dapat dimulai secara bersamaan dan ide baru muncul terus-menerus sehingga orang tersebut merasa sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Namun, ketika aktivitas meningkat tanpa pengaturan yang baik, pekerjaan dapat menjadi berantakan karena terlalu banyak hal dilakukan sekaligus dan prioritas semakin sulit ditentukan.
Saat episode depresif, produktivitas biasanya menurun karena energi, motivasi, dan konsentrasi ikut menurun. Tugas yang sebelumnya sederhana dapat membutuhkan waktu jauh lebih panjang atau bahkan tidak terselesaikan. Karena itu, perubahan produktivitas yang ekstrem dari satu periode ke periode lain dapat menjadi salah satu pola yang layak dicatat.
Bipolar tidak berarti seseorang berubah dari mania menjadi depresi beberapa kali dalam satu hari. Episode biasanya berlangsung dalam periode tertentu, dan seseorang juga dapat mengalami masa ketika mood relatif stabil tanpa gejala yang menonjol. Karena itulah, perubahan emosi sesaat setelah mengalami kejadian tertentu tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan bipolar.
Hipomania juga perlu dibedakan dari mania. Gejalanya dapat serupa, seperti meningkatnya energi dan berkurangnya kebutuhan tidur, tetapi biasanya lebih ringan dan tidak menimbulkan gangguan fungsi seberat mania. Bahkan, seseorang yang mengalami hipomania dapat merasa lebih produktif dan tidak melihat adanya masalah, sementara keluarga atau teman justru menyadari perubahan perilakunya.
Wanita mengalami beberapa periode perubahan biologis, seperti menstruasi, kehamilan, setelah melahirkan, dan menopause. Kondisi tersebut dapat memengaruhi suasana hati, tetapi perubahan emosional yang terjadi pada periode tersebut tidak otomatis merupakan bipolar. Untuk menilai gangguan bipolar, tenaga profesional tetap perlu melihat pola episode, tingkat keparahan, riwayat sebelumnya, perubahan energi, dan dampaknya terhadap fungsi sehari-hari.
Perhatian khusus perlu diberikan selama kehamilan dan setelah melahirkan apabila terdapat riwayat atau dugaan gangguan bipolar. ACOG merekomendasikan perhatian terhadap bipolar dalam pemeriksaan kesehatan mental perinatal dan menekankan pentingnya evaluasi lebih lanjut ketika gangguan tersebut dicurigai. Kondisi psikologis berat setelah melahirkan, terutama bila disertai psikosis atau risiko terhadap keselamatan, membutuhkan pertolongan medis segera.
Tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi sangat berat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental. Evaluasi dapat membantu membedakan bipolar dari depresi, gangguan kecemasan, masalah tidur, efek obat atau zat, maupun kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa. Beberapa keadaan yang layak mendapat perhatian antara lain:
Tidur sangat sedikit tetapi tetap memiliki energi tinggi selama beberapa hari.
Aktivitas, pembicaraan, atau rasa percaya diri berubah jauh dari biasanya.
Keputusan impulsif mulai menimbulkan masalah finansial, pekerjaan, atau hubungan.
Energi dan minat menurun hingga aktivitas sehari-hari sulit dilakukan.
Perubahan mood membentuk pola berulang yang dapat diamati oleh orang terdekat.
Muncul pikiran menyakiti diri atau bunuh diri, yang memerlukan bantuan profesional atau layanan darurat sesegera mungkin.
Mengenali perbedaan antara fase manik dan depresif bukan bertujuan untuk melakukan diagnosis sendiri. Catatan mengenai perubahan mood, waktu tidur, tingkat energi, aktivitas, dan perilaku dapat membantu melihat apakah terdapat pola yang berulang. Informasi tersebut juga dapat menjadi bahan yang berguna ketika melakukan pemeriksaan bersama psikolog atau psikiater.
Memahami gejala bipolar pada wanita dapat menjadi langkah awal untuk menyadari bahwa perubahan mood perlu dilihat bersama perubahan energi, tidur, pemikiran, dan fungsi sehari-hari. Ketika perubahan tersebut berlangsung intens atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, serta kemampuan merawat diri, pemeriksaan profesional menjadi langkah yang lebih tepat daripada menyimpulkan kondisi secara mandiri. Dengan pemahaman yang baik, tanda-tanda yang muncul dapat ditanggapi lebih awal dan lebih sesuai.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.