Mengapa ada orang yang senang menghadapi tantangan baru, sementara orang lain lebih nyaman bekerja dengan aturan yang jelas? Mengapa sebagian individu ingin mengambil keputusan sendiri, sedangkan lainnya lebih menyukai kerja sama dan arahan? Perbedaan tersebut tidak selalu menunjukkan siapa yang lebih mampu, tetapi dapat berkaitan dengan kebutuhan psikologis yang mendorong perilaku.
Dalam dunia kerja, memahami dorongan tersebut membantu seseorang mengenali alasan di balik pilihan dan kebiasaannya. Salah satu instrumen yang dikembangkan untuk menggambarkan kebutuhan psikologis adalah Edwards Personal Preference Schedule (EPPS). Melalui pengenalan tes epps kerja, pelamar dapat memahami bagaimana kebutuhan dan motivasi individu dipelajari melalui asesmen kepribadian.
Edwards Personal Preference Schedule merupakan inventori kepribadian yang dikembangkan oleh Allen L. Edwards pada tahun 1953. Instrumen ini disusun berdasarkan konsep kebutuhan psikologis dalam teori kepribadian Henry A. Murray. EPPS bertujuan menggambarkan kecenderungan kebutuhan individu melalui pilihan terhadap sejumlah pernyataan.
Berbeda dari tes inteligensi, EPPS tidak mengukur kemampuan menyelesaikan persoalan logika atau matematika. Instrumen ini lebih berfokus pada preferensi psikologis yang dapat berkaitan dengan cara seseorang bertindak. Karena itu, hasilnya tidak dapat diartikan sebagai ukuran kecerdasan atau keterampilan profesional.
Dalam teori Murray, kebutuhan dipahami sebagai dorongan psikologis yang mengarahkan individu menuju tujuan tertentu. Seseorang dapat terdorong memperoleh pencapaian, membangun hubungan, atau mempertahankan kemandirian. Setiap kebutuhan dapat muncul dengan intensitas berbeda sesuai karakteristik individu dan situasi.
Motivasi kerja sendiri merupakan proses yang lebih luas daripada kebutuhan kepribadian. Motivasi juga dipengaruhi tujuan pribadi, imbalan, lingkungan organisasi, dan pengalaman seseorang. Oleh sebab itu, EPPS memberikan salah satu sudut pandang, bukan penjelasan menyeluruh mengenai motivasi karyawan.
Achievement menggambarkan dorongan untuk mencapai keberhasilan dan menyelesaikan tugas dengan baik. Order berkaitan dengan kebutuhan akan keteraturan, sedangkan Endurance mencerminkan kecenderungan bertahan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ketiganya dapat membantu memahami preferensi individu terhadap target, struktur, dan ketekunan.
Sementara itu, Autonomy menunjukkan kebutuhan untuk bertindak secara mandiri. Change menggambarkan ketertarikan terhadap variasi dan pengalaman baru. Individu dapat memiliki kombinasi kebutuhan tersebut yang membentuk preferensi berbeda ketika menghadapi rutinitas maupun perubahan.
Affiliation mencerminkan kebutuhan membangun hubungan dan kebersamaan dengan orang lain. Nurturance berkaitan dengan dorongan memberikan perhatian atau bantuan, sedangkan Succorance menggambarkan kebutuhan memperoleh dukungan. Ketiganya berhubungan dengan aspek interpersonal, tetapi mempunyai arah kebutuhan berbeda.
Dominance menunjukkan kecenderungan ingin memengaruhi atau mengarahkan orang lain. Deference berkaitan dengan kebutuhan menghormati serta mengikuti arahan pihak lain. Sementara itu, Exhibition menggambarkan keinginan menampilkan diri atau memperoleh perhatian dalam lingkungan sosial.
Intraception berkaitan dengan kecenderungan memahami perasaan dan motif perilaku. Abasement menggambarkan kecenderungan menerima kesalahan atau merendahkan diri dalam konteks tertentu. Aggression dalam kerangka EPPS berkaitan dengan dorongan menyatakan pertentangan atau kritik, bukan otomatis perilaku kekerasan.
Dimensi terakhir adalah Heterosexuality, yaitu kebutuhan yang secara historis berkaitan dengan ketertarikan terhadap lawan jenis. Istilah ini mencerminkan kerangka konseptual ketika EPPS dikembangkan dan mempunyai keterbatasan jika digunakan menurut pemahaman psikologi kontemporer. Dimensi tersebut tidak boleh dijadikan dasar diskriminasi atau penilaian kelayakan seseorang untuk bekerja.
EPPS menggunakan format forced-choice, yaitu peserta diminta memilih satu dari dua pernyataan yang disajikan berpasangan. Kedua pilihan mungkin sama-sama terasa sesuai atau justru kurang menggambarkan diri. Peserta perlu menentukan pernyataan yang relatif lebih mencerminkan kecenderungannya.
Contohnya, seseorang mungkin lebih menyukai kegiatan yang membutuhkan perencanaan dibandingkan aktivitas spontan. Orang lain dapat menunjukkan preferensi sebaliknya. Pilihan tersebut tidak otomatis menunjukkan keunggulan atau kelemahan karena setiap kebutuhan mempunyai fungsi berbeda.
EPPS tidak dirancang seperti ujian akademik yang mempunyai satu jawaban benar untuk setiap pertanyaan. Respons peserta digunakan untuk menggambarkan kecenderungan kebutuhan berdasarkan pola pilihan. Oleh karena itu, memilih jawaban yang dianggap paling disukai perusahaan dapat mengurangi kesesuaian hasil dengan kondisi diri.
Sejumlah pasangan pernyataan juga digunakan untuk memeriksa konsistensi respons. Namun, konsistensi bukan satu-satunya dasar untuk menyatakan keseluruhan hasil dapat diinterpretasikan. Pemeriksa tetap perlu mengikuti pedoman administrasi dan penskoran yang berlaku.
Hasil EPPS dapat digunakan untuk mengeksplorasi kebutuhan yang relatif lebih menonjol dibandingkan kebutuhan lainnya. Sebagai contoh, kombinasi Achievement dan Endurance dapat menjadi bahan diskusi mengenai pencapaian serta ketekunan. Namun, interpretasi tidak boleh dibuat hanya berdasarkan satu skor.
Hal ini berkaitan dengan karakteristik EPPS yang menggunakan pendekatan ipsatif. Skor terutama membantu memahami kekuatan relatif beberapa kebutuhan dalam profil seseorang. Perbandingan antarkandidat membutuhkan perhatian khusus terhadap norma dan bukti interpretasi yang digunakan.
Untuk mengenali layanan asesmen kepribadian berbasis digital, pelamar dapat menjelajahi tes epps kerja. Sehari.ID juga menyediakan halaman layanan EPPS Online yang menjelaskan pengukuran kebutuhan psikologis individu. Informasi tersebut dapat menjadi pengantar sebelum mengikuti asesmen dengan prosedur yang sesuai.
Individu dengan kebutuhan Order yang menonjol mungkin lebih menyukai aktivitas yang terstruktur. Sebaliknya, kebutuhan Change yang relatif kuat dapat berkaitan dengan ketertarikan terhadap variasi. Namun, preferensi tersebut tidak secara otomatis menentukan kemampuan menjalankan suatu pekerjaan.
Seseorang dapat menyukai keteraturan sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan. Pengalaman, keterampilan, dan tuntutan lingkungan ikut memengaruhi perilaku yang ditampilkan. Karena itu, interpretasi EPPS perlu dikaitkan dengan informasi individual yang lebih luas.
Penelitian psikometri menunjukkan bahwa bukti validitas instrumen perlu diperhatikan sebelum menggunakannya untuk memprediksi perilaku. Tinjauan Stricker (1963) terhadap EPPS, misalnya, mengemukakan keterbatasan bukti validitas konstruk serta kemampuan prediksinya. Temuan historis tersebut menjadi alasan untuk menggunakan EPPS secara kritis.
Dalam rekrutmen, keputusan sebaiknya didukung analisis jabatan, wawancara terstruktur, dan pengukuran kompetensi yang relevan. Norma serta kesesuaian instrumen dengan populasi pengguna juga perlu dievaluasi. Hasil EPPS lebih tepat diposisikan sebagai informasi pendukung sesuai bukti penggunaannya.
Tes EPPS membantu memahami kebutuhan psikologis yang dapat berkaitan dengan motivasi dan kecenderungan perilaku individu. Kelima belas dimensinya memberikan gambaran mengenai dorongan pencapaian, hubungan sosial, kemandirian, dan kebutuhan pribadi lainnya. Namun, hasil tersebut perlu dipahami sebagai profil kebutuhan yang mempunyai keterbatasan interpretasi.
Melalui tes epps kerja, individu dapat mengenali pilihan layanan psikotes untuk mengeksplorasi karakteristik dirinya. Gunakan hasil pemeriksaan sebagai bahan refleksi dan diskusi bersama tenaga profesional yang kompeten. Dengan pemahaman yang tepat, EPPS dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk pengembangan diri tanpa dijadikan penentu tunggal keberhasilan kerja.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.