Melihat seseorang mengambil barang milik orang lain tentu dapat menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang langsung menganggapnya sebagai tindakan tidak jujur, sementara sebagian lainnya bertanya-tanya mengapa perilaku tersebut terus berulang. Pertanyaan semakin besar ketika orang yang melakukannya sebenarnya mampu membeli barang tersebut dan justru merasa menyesal setelah mengambilnya.
Dalam psikologi, perilaku mencuri berulang dapat memiliki latar belakang yang berbeda-beda, termasuk kemungkinan gangguan bernama kleptomania. Namun, tidak setiap tindakan pencurian menunjukkan adanya gangguan mental. Memahami penyakit kebiasaan mencuri membantu masyarakat mengenali kapan perilaku tersebut perlu mendapatkan perhatian psikologis dan pemeriksaan profesional.
Istilah penyakit kebiasaan mencuri sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berulang kali mengambil barang tanpa izin. Sebenarnya, istilah tersebut bukan nama diagnosis resmi dalam ilmu psikologi maupun kedokteran. Salah satu gangguan yang dapat berkaitan dengan perilaku tersebut adalah kleptomania.
Kleptomania merupakan gangguan kontrol impuls yang ditandai dengan kesulitan berulang dalam menahan dorongan mencuri. Barang yang diambil umumnya tidak diperlukan untuk penggunaan pribadi atau keuntungan finansial. Individu bahkan mungkin memiliki uang untuk membelinya, tetapi tetap mengalami dorongan mengambil barang tersebut.
Kleptomania melibatkan proses psikologis yang lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan melakukan tindakan tertentu. Seseorang dapat merasakan ketegangan sebelum mengambil barang dan mengalami kelegaan sesaat setelah melakukannya. Perasaan tersebut kemudian dapat berubah menjadi rasa malu, bersalah, atau penyesalan.
Walaupun demikian, mengalami gangguan psikologis tidak menghilangkan tanggung jawab seseorang terhadap tindakannya. Penanganan bertujuan membantu individu mengendalikan perilaku sekaligus memahami konsekuensi yang ditimbulkan. Karena itu, pendekatan psikologis perlu berjalan bersama kesadaran untuk menghormati hak orang lain.
Tindakan mencuri yang dilakukan berulang belum cukup untuk memastikan seseorang mengalami kleptomania. Tenaga profesional perlu memahami motivasi, kondisi emosional, serta kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan. Beberapa karakteristik berikut dapat menjadi tanda bahwa perilaku mencuri memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Individu dengan kleptomania dapat mengalami keinginan kuat mengambil barang meskipun sebenarnya tidak berniat memilikinya. Dorongan tersebut sering muncul berulang dan terasa semakin sulit ditahan. Bahkan ketika telah berusaha menghentikannya, keinginan serupa dapat kembali muncul.
Barang yang diambil umumnya bukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan. Individu mungkin mengambil benda kecil, menyimpannya tanpa digunakan, atau bahkan membuangnya setelah beberapa waktu. Kondisi ini berbeda dari pencurian yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan materi tertentu.
Sebelum mengambil barang, seseorang dapat mengalami kegelisahan atau ketegangan yang meningkat. Perasaan tersebut terkadang sulit dijelaskan dan membuat individu semakin terdorong melakukan tindakan. Setelah mengambil barang, ketegangan biasanya berkurang untuk sementara waktu.
Berbeda dari kepuasan karena memperoleh barang yang diinginkan, individu dengan kleptomania mungkin justru merasa bersalah setelah tindakannya. Mereka dapat mengalami rasa malu, takut diketahui orang lain, atau khawatir menghadapi konsekuensi hukum. Meski menyesal, dorongan mencuri masih mungkin muncul kembali.
Perbedaan penting antara kleptomania dan pencurian lainnya terletak pada motivasi serta pola dorongan yang menyertai tindakan. Pencurian dapat dilakukan secara terencana untuk mendapatkan uang, barang, atau keuntungan tertentu. Sementara itu, kleptomania umumnya melibatkan dorongan impulsif yang tidak bertujuan memperoleh manfaat materi.
Namun, membedakan keduanya tidak selalu mudah berdasarkan perilaku yang terlihat. Seseorang dapat mencuri karena berbagai alasan, termasuk faktor sosial, ekonomi, atau kondisi psikologis lainnya. Pemeriksaan klinis diperlukan sebelum menyimpulkan bahwa tindakan tersebut merupakan gejala kleptomania.
Penyebab pasti kleptomania hingga kini belum sepenuhnya diketahui. Sejumlah penelitian menghubungkannya dengan mekanisme pengendalian impuls, pengaturan emosi, serta sistem penghargaan dalam otak. Akan tetapi, hubungan tersebut belum dapat menjelaskan seluruh kasus kleptomania.
Pada sebagian individu, dorongan mencuri dapat muncul bersamaan dengan kecemasan, stres, atau tekanan emosional tertentu. Kleptomania juga dapat ditemukan bersama gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjadi penyebab langsung perilaku mencuri.
Memahami penyakit kebiasaan mencuri membutuhkan perhatian terhadap pengalaman pribadi dan kondisi psikologis individu. Setiap orang dapat memiliki faktor pemicu yang berbeda sehingga tidak tepat menggunakan satu penjelasan untuk semua kasus. Evaluasi profesional membantu mengenali faktor yang mungkin berperan dalam munculnya dorongan tersebut.
Diagnosis kleptomania dilakukan melalui pemeriksaan klinis yang menyeluruh. Psikolog klinis atau psikiater dapat mengevaluasi riwayat perilaku, frekuensi dorongan, motivasi mengambil barang, dan kondisi emosional yang menyertainya. Pemeriksaan juga mempertimbangkan kemungkinan gangguan lain yang dapat menjelaskan perilaku tersebut.
Salah satu hal penting adalah memastikan bahwa tindakan mencuri tidak terutama disebabkan oleh kemarahan, keinginan membalas dendam, atau kondisi mental lainnya. Tenaga profesional juga perlu mempertimbangkan apakah terdapat episode mania atau gangguan perilaku tertentu. Karena itu, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya melalui pengamatan singkat atau tes psikologi daring.
Penanganan kleptomania bertujuan mengurangi dorongan mencuri dan meningkatkan kemampuan individu mengendalikan perilakunya. Pendekatan yang digunakan dapat berupa psikoterapi, latihan pengendalian impuls, dan pengobatan medis dalam kondisi tertentu. Pemilihan metode perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan serta kebutuhan masing-masing individu.
Cognitive Behavioral Therapy atau CBT merupakan salah satu pendekatan psikoterapi yang digunakan dalam penanganan kleptomania. Terapi ini membantu individu mengenali hubungan antara pikiran, emosi, dan tindakan impulsif. Melalui latihan terstruktur, individu mempelajari respons alternatif ketika dorongan mencuri muncul.
Meskipun digunakan dalam praktik klinis, penelitian mengenai efektivitas CBT khusus untuk kleptomania masih terbatas. Karena itu, terapis perlu mengevaluasi perkembangan secara berkala. Teknik penanganan juga dapat disesuaikan berdasarkan respons individu selama terapi.
Pada kondisi tertentu, psikiater dapat mempertimbangkan obat untuk membantu mengurangi gejala atau menangani gangguan psikologis yang menyertai. Beberapa penelitian mengevaluasi penggunaan naltrekson pada individu dengan kleptomania. Namun, belum terdapat obat yang secara khusus disetujui untuk menyembuhkan gangguan ini.
Penggunaan obat memerlukan pemeriksaan medis dan pengawasan dokter. Manfaat serta risiko pengobatan harus dipertimbangkan berdasarkan kondisi kesehatan individu. Obat tidak boleh digunakan secara mandiri tanpa rekomendasi tenaga medis.
Keluarga dapat membantu individu dengan kleptomania merasa lebih aman untuk membicarakan kesulitan yang dialaminya. Respons yang terlalu menghakimi dapat meningkatkan rasa malu dan membuat seseorang enggan mencari pertolongan. Sebaliknya, komunikasi terbuka dapat mendorong individu menjalani penanganan secara konsisten.
Dukungan keluarga tetap perlu disertai batasan yang jelas terhadap perilaku mengambil barang tanpa izin. Individu perlu dibantu memahami tanggung jawab dan konsekuensi tindakannya. Pendekatan yang menggabungkan empati dengan ketegasan dapat mendukung perubahan perilaku secara lebih sehat.
Bantuan profesional sebaiknya dicari ketika dorongan mencuri muncul berulang dan semakin sulit dikendalikan. Konsultasi juga penting apabila perilaku tersebut menyebabkan tekanan emosional, konflik keluarga, gangguan pekerjaan, atau persoalan hukum. Pemeriksaan lebih awal membantu menentukan apakah perilaku berkaitan dengan kleptomania atau kondisi lainnya.
Mencari pertolongan bukan berarti membenarkan tindakan yang telah dilakukan. Sebaliknya, langkah tersebut menunjukkan kesediaan untuk memahami masalah dan memperbaiki perilaku. Dengan pendampingan yang sesuai, individu dapat mengembangkan keterampilan pengendalian impuls dan mengurangi risiko tindakan berulang.
Perilaku mencuri berulang tidak selalu menunjukkan adanya gangguan kleptomania. Kondisi ini memiliki karakteristik khusus, terutama dorongan mencuri yang sulit dikendalikan, ketegangan sebelum tindakan, dan kelegaan sementara setelahnya. Pemeriksaan psikologis diperlukan untuk membedakan kleptomania dari perilaku mencuri dengan motivasi lainnya.
Memahami penyakit kebiasaan mencuri merupakan langkah awal untuk mengenali kemungkinan masalah kesehatan mental yang membutuhkan perhatian. Jika Anda atau orang terdekat mengalami dorongan mencuri yang berulang, konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater sangat dianjurkan. Penanganan yang tepat dapat membantu meningkatkan pengendalian diri, mengurangi risiko kekambuhan, serta memperbaiki kualitas hidup.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.