Pernahkah Anda menjalani hari yang begitu sibuk hingga lupa menanyakan keadaan diri sendiri? Semua pekerjaan mungkin berhasil diselesaikan, pesan dari teman sudah dibalas, dan tanggung jawab sehari-hari berjalan seperti biasa. Namun, ketika akhirnya mempunyai waktu untuk beristirahat, Anda justru merasa sulit mengingat kapan terakhir kali benar-benar menikmati hari.
Pengalaman seperti itu mengingatkan kita bahwa kesehatan mental tidak selalu terlihat dari seberapa produktif seseorang. Perasaan tenang, memiliki energi, dan mampu menikmati aktivitas juga merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis. Melalui informasi tes sehat mental, masyarakat dapat mulai mengenal pemeriksaan kesehatan mental, termasuk pendekatan WHO-5 yang mengevaluasi lima pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari.
Kesejahteraan subjektif atau subjective well-being berkaitan dengan bagaimana seseorang mengalami dan menilai kualitas kehidupannya. Konsep ini mencakup pengalaman emosional serta penilaian pribadi terhadap kehidupan yang dijalani. Karena bersifat subjektif, dua individu dengan keadaan hidup serupa belum tentu merasakan tingkat kesejahteraan yang sama.
Dalam psikologi, Ed Diener (1984) merupakan salah satu tokoh yang mengembangkan kajian ilmiah mengenai kesejahteraan subjektif. Pendekatan ini menekankan pentingnya emosi positif, emosi negatif, dan kepuasan hidup. Namun, tidak setiap instrumen kesejahteraan mengukur seluruh komponen tersebut secara langsung.
WHO-5 Well-Being Index merupakan instrumen singkat yang digunakan untuk mengevaluasi kesejahteraan mental subjektif. Instrumen ini terdiri atas lima pernyataan positif mengenai pengalaman individu selama dua minggu terakhir. Penggunaannya relatif praktis karena tidak membutuhkan banyak waktu untuk pengisian.
WHO-5 berbeda dari instrumen yang secara khusus berfokus pada gejala depresi atau kecemasan. Pertanyaannya justru mengevaluasi seberapa sering seseorang mengalami kondisi emosional dan aktivitas yang positif. Kelima pernyataan tersebut membentuk satu ukuran kesejahteraan, bukan lima diagnosis atau lima subskala yang berdiri sendiri.
Indikator pertama berkaitan dengan pengalaman merasa ceria dan berada dalam suasana hati yang baik. Perasaan ini dapat muncul ketika seseorang menikmati percakapan dengan keluarga, menyelesaikan pekerjaan yang bermakna, atau menjalani kegiatan sederhana. WHO-5 memperhatikan seberapa sering pengalaman positif tersebut muncul dalam dua minggu terakhir.
Namun, memiliki kesejahteraan mental yang baik bukan berarti seseorang harus selalu bahagia. Kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan tetap merupakan bagian dari pengalaman emosional yang normal. Hal yang dievaluasi adalah frekuensi pengalaman positif, bukan tuntutan untuk menghilangkan seluruh emosi negatif.
Indikator kedua menggambarkan seberapa sering seseorang merasakan ketenangan dan keadaan rileks. Pengalaman ini penting karena kehidupan sehari-hari sering dipenuhi berbagai tuntutan, mulai dari pekerjaan hingga tanggung jawab keluarga. Kemampuan menikmati waktu tanpa ketegangan berlebihan dapat menjadi bagian dari kesejahteraan subjektif.
Sebagai contoh, seseorang mungkin menghadapi pekerjaan yang padat tetapi masih mampu menikmati waktu istirahat setelahnya. Sebaliknya, individu lain mungkin terus merasa tegang meskipun sedang tidak menghadapi masalah secara langsung. Perbedaan tersebut dapat tercermin dalam respons terhadap pernyataan WHO-5.
Meskipun demikian, rendahnya pengalaman ketenangan tidak otomatis menunjukkan gangguan kecemasan. Instrumen WHO-5 tidak dirancang untuk menetapkan diagnosis berdasarkan satu indikator. Jika ketegangan berlangsung menetap dan mengganggu aktivitas, pemeriksaan lebih lanjut dapat membantu memahami penyebabnya.
Indikator ketiga berkaitan dengan pengalaman merasa aktif dan bertenaga ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Energi yang dimaksud merupakan pengalaman subjektif tentang kesiapan dan semangat untuk beraktivitas. Seseorang mungkin merasakannya ketika bangun pagi, memulai pekerjaan, atau mengikuti kegiatan yang disukai.
Namun, tingkat energi tidak selalu dipengaruhi kondisi psikologis saja. Kurang tidur, aktivitas fisik berat, penyakit tertentu, dan penggunaan obat dapat memengaruhi perasaan bertenaga. Karena itu, jawaban pada indikator ini sebaiknya dipahami sebagai bagian dari gambaran kesejahteraan, bukan penilaian medis terhadap kondisi fisik.
Bagi masyarakat yang ingin memahami kondisi emosional melalui tes sehat mental, penting untuk memperhatikan tujuan instrumen sebelum mengisi kuesioner. Pengukuran kesejahteraan dapat membantu mengenali perubahan pengalaman positif dari waktu ke waktu. Namun, hasilnya tetap perlu dilihat bersama kondisi fisik, lingkungan, dan pengalaman kehidupan individu.
Indikator keempat mengevaluasi pengalaman merasa segar dan cukup beristirahat ketika bangun tidur. Pengalaman ini berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai kualitas pemulihannya setelah beristirahat. Tidur yang cukup dan berkualitas dapat mendukung berbagai fungsi fisik maupun psikologis.
Bayangkan seseorang yang tidur selama beberapa jam tetapi bangun dengan tubuh tetap terasa lelah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan menjalankan aktivitas. Namun, jawaban WHO-5 tidak dapat digunakan untuk memastikan penyebab gangguan tidur.
Apabila seseorang terus mengalami kelelahan atau kesulitan tidur, evaluasi kesehatan mungkin diperlukan. Faktor gaya hidup, kondisi medis, serta tekanan psikologis dapat saling berkaitan. Pemeriksaan profesional membantu menentukan apakah keluhan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Indikator kelima berkaitan dengan pengalaman menemukan hal-hal menarik dalam kehidupan sehari-hari. Ketertarikan tersebut tidak harus muncul melalui aktivitas besar atau pencapaian luar biasa. Membaca buku, merawat tanaman, memasak, atau menikmati percakapan dapat menjadi contoh kegiatan yang memberikan rasa keterlibatan.
Ketika seseorang merasa tertarik terhadap aktivitasnya, ia mungkin lebih mudah menemukan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Namun, ketertarikan dapat berubah mengikuti kondisi kehidupan, tanggung jawab, dan keadaan emosional. WHO-5 mengevaluasi frekuensi pengalaman tersebut selama periode pengukuran, bukan menetapkan kualitas seluruh kehidupan seseorang.
Hilangnya minat yang menetap terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan dapat menjadi gejala yang memerlukan perhatian. Meski demikian, penurunan minat sesaat tidak otomatis menunjukkan depresi. Durasi, gejala lain, serta dampaknya terhadap keberfungsian perlu dipertimbangkan.
WHO-5 menggunakan enam pilihan respons dengan nilai 0 sampai 5 pada setiap pernyataan. Nilai 0 menggambarkan bahwa pengalaman tersebut tidak dirasakan sama sekali, sedangkan nilai 5 menunjukkan pengalaman tersebut dirasakan sepanjang waktu. Peserta menjawab berdasarkan kondisi selama dua minggu terakhir.
Seluruh skor dijumlahkan sehingga menghasilkan skor mentah antara 0 dan 25. Skor tersebut kemudian dapat dikalikan empat untuk menghasilkan nilai dalam rentang 0 hingga 100. Semakin tinggi skor, semakin tinggi kesejahteraan subjektif yang dilaporkan.
Dalam beberapa penggunaan skrining, skor 50 atau lebih rendah pada skala 0–100 digunakan sebagai petunjuk perlunya evaluasi lebih lanjut terkait kemungkinan depresi. Namun, batas tersebut bukan alat diagnosis mandiri dan ketepatannya dapat berbeda antarpopulasi. Interpretasi perlu mengikuti pedoman serta mempertimbangkan kondisi individu.
Meskipun WHO-5 mempunyai lima pernyataan, tujuan utamanya adalah menghasilkan skor keseluruhan kesejahteraan subjektif. Setiap pernyataan memberikan informasi mengenai pengalaman positif yang berkontribusi pada ukuran tersebut. Namun, satu respons rendah tidak cukup untuk menentukan adanya masalah psikologis tertentu.
Sebagai contoh, seseorang mungkin jarang merasa segar ketika bangun tidur tetapi masih mempunyai suasana hati positif dan ketertarikan tinggi terhadap aktivitas. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa pengalaman kesejahteraan dapat berbeda pada setiap aspek kehidupan. Untuk menyimpulkan kondisi psikologis, diperlukan pemahaman yang lebih luas daripada satu jawaban.
WHO-5 mempunyai kelebihan berupa jumlah pertanyaan yang singkat, fokus pada pengalaman positif, dan kemudahan penggunaan. Tinjauan sistematis oleh Topp dan rekan-rekannya (2015) membahas bukti penggunaan WHO-5 dalam berbagai konteks penelitian dan pelayanan kesehatan. Instrumen ini dapat membantu skrining serta pemantauan perubahan kesejahteraan subjektif.
Namun, WHO-5 tidak mengukur seluruh dimensi kesehatan mental. Aspek seperti hubungan sosial, penerimaan diri, dan tujuan hidup tidak dievaluasi sebagai skala terpisah. Selain itu, instrumen ini menggunakan laporan diri sehingga respons dipengaruhi oleh ingatan dan penilaian subjektif peserta.
Pemeriksaan kesejahteraan dapat dipertimbangkan ketika seseorang ingin memahami keadaan emosionalnya atau memantau perubahan kondisi dari waktu ke waktu. Tes juga dapat menjadi bagian dari asesmen psikologis yang dilakukan untuk tujuan tertentu. Namun, pemilihan instrumen perlu mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik pengguna.
Jika keluhan seperti kehilangan minat, suasana hati menurun, atau kelelahan menetap dan mengganggu aktivitas, konsultasi profesional dapat membantu. Psikolog klinis atau tenaga kesehatan terkait dapat melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh. Bantuan tidak harus menunggu sampai hasil tes menunjukkan skor tertentu.
WHO-5 membantu memahami kesejahteraan subjektif melalui lima pengalaman positif, yaitu perasaan ceria, ketenangan, energi, kesegaran setelah tidur, dan ketertarikan terhadap aktivitas. Kelima indikator tersebut memberikan gambaran singkat mengenai kondisi kesejahteraan mental yang dirasakan individu. Namun, hasilnya perlu ditafsirkan sebagai ukuran keseluruhan, bukan diagnosis berdasarkan masing-masing pernyataan.
Melalui informasi tes sehat mental, masyarakat dapat mulai mengenal pentingnya mengevaluasi pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari. Hasil pengukuran sebaiknya digunakan sebagai bahan refleksi untuk memahami kesejahteraan diri dan mempertimbangkan bantuan profesional apabila diperlukan. Dengan mengenali kondisi mental secara lebih sadar, individu dapat mengambil langkah yang sesuai untuk menjaga kesejahteraan psikologisnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.