Ketika tubuh terasa tidak sehat, kita biasanya lebih mudah menentukan langkah yang harus dilakukan. Namun, bagaimana ketika yang terasa berbeda justru pikiran, emosi, atau perilaku sehari-hari? Seseorang mungkin mengalami kesulitan tidur, merasa cemas tanpa alasan yang jelas, atau kehilangan semangat, tetapi belum mengetahui apakah kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus.
Mencari informasi mengenai kesehatan mental sering menjadi langkah pertama untuk memahami pengalaman tersebut. Salah satu istilah yang banyak digunakan dalam pencarian internet adalah tes penyakit mental, meskipun dalam praktik psikologi terdapat berbagai jenis pemeriksaan dengan tujuan berbeda. Mengenali jenis skrining psikologis dapat membantu seseorang memahami instrumen yang sesuai tanpa terburu-buru memberikan diagnosis kepada dirinya sendiri.
Tes penyakit mental merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk menggambarkan pemeriksaan terhadap kemungkinan gejala gangguan kesehatan mental. Dalam konteks profesional, pemeriksaan awal biasanya disebut skrining psikologis atau mental health screening. Tujuannya adalah membantu mengidentifikasi gejala tertentu yang mungkin membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Skrining biasanya menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai pengalaman emosional, pikiran, dan perilaku. Jawaban peserta kemudian diolah berdasarkan pedoman instrumen untuk menghasilkan skor atau kategori tertentu. Namun, hasil tersebut tidak secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan mental.
Kesehatan mental melibatkan banyak aspek yang tidak dapat diukur secara tepat menggunakan satu kuesioner saja. Gejala depresi, kecemasan, stres, dan perubahan suasana hati mempunyai karakteristik yang berbeda. Oleh karena itu, para peneliti mengembangkan instrumen dengan fokus pengukuran yang lebih spesifik.
Sebagai contoh, seseorang yang sering merasa khawatir mungkin membutuhkan skrining kecemasan, sedangkan individu yang kehilangan minat terhadap aktivitas dapat memperoleh informasi awal melalui skrining depresi. Namun, keluhan tersebut juga dapat muncul bersamaan. Pemilihan instrumen perlu mempertimbangkan tujuan pemeriksaan dan kondisi individu.
Patient Health Questionnaire-9 atau PHQ-9 merupakan instrumen yang digunakan untuk membantu mengenali gejala depresi. Alat ukur ini terdiri atas sembilan pertanyaan mengenai pengalaman selama dua minggu terakhir. Pertanyaannya mencakup perubahan suasana hati, kehilangan minat, gangguan tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.
PHQ-9 menggunakan pilihan jawaban dengan skor 0 sampai 3, sehingga menghasilkan skor total 0 hingga 27. Skor tersebut dapat menggambarkan tingkat gejala depresif yang dilaporkan seseorang. Namun, PHQ-9 bukan satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis gangguan depresi mayor.
Generalized Anxiety Disorder-7 atau GAD-7 merupakan instrumen yang dikembangkan untuk membantu mengenali gejala kecemasan. Pemeriksaan ini mempunyai tujuh pertanyaan yang mengacu pada pengalaman selama dua minggu terakhir. Beberapa aspek yang diperhatikan meliputi kekhawatiran berlebihan, kegelisahan, dan kesulitan mengendalikan rasa cemas.
GAD-7 menghasilkan skor total antara 0 dan 21. Skor yang lebih tinggi menunjukkan semakin banyak atau semakin seringnya gejala kecemasan yang dilaporkan. Namun, hasil tersebut tetap membutuhkan penilaian tambahan sebelum dapat dikaitkan dengan diagnosis gangguan kecemasan tertentu.
Depression Anxiety Stress Scales-21 atau DASS-21 merupakan instrumen yang mengukur tiga kelompok gejala psikologis. Instrumen ini terdiri atas 21 pernyataan yang terbagi menjadi subskala depresi, kecemasan, dan stres. Setiap subskala mempunyai tujuh pernyataan yang mengacu pada pengalaman selama satu minggu terakhir.
Keunggulan DASS-21 adalah kemampuannya memberikan gambaran tiga kelompok gejala dalam satu pemeriksaan. Seseorang dapat memperoleh skor stres yang tinggi tetapi menunjukkan tingkat gejala depresi yang lebih rendah. Namun, skor setiap subskala harus ditafsirkan sesuai pedomannya dan tidak dapat digunakan sebagai diagnosis klinis.
Mood Disorder Questionnaire atau MDQ merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk membantu mengenali kemungkinan riwayat gejala mania dan hipomania. Pemeriksaan ini menanyakan pengalaman perubahan energi, suasana hati, kebutuhan tidur, dan perilaku tertentu. MDQ juga memperhatikan apakah beberapa gejala terjadi dalam periode yang sama serta masalah yang ditimbulkannya.
Instrumen ini berbeda dari pemeriksaan depresi karena berfokus pada riwayat peningkatan suasana hati atau energi yang tidak biasa. Informasi tersebut penting dalam evaluasi kemungkinan gangguan bipolar. Meski demikian, hasil skrining MDQ tidak dapat memastikan diagnosis maupun menentukan jenis gangguan bipolar secara mandiri.
Kessler Psychological Distress Scale atau K10 merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur distres psikologis secara umum. Pemeriksaan ini mempunyai sepuluh pertanyaan mengenai pengalaman emosional selama empat minggu terakhir. Aspek yang dinilai berkaitan dengan perasaan gugup, tertekan, gelisah, dan kelelahan psikologis.
K10 dapat membantu menggambarkan tingkat distres yang dialami seseorang tanpa langsung berfokus pada satu diagnosis tertentu. Namun, hasilnya tidak dapat menunjukkan secara pasti jenis gangguan mental yang mungkin dialami. Oleh karena itu, skor tinggi perlu dipahami sebagai petunjuk untuk mempertimbangkan evaluasi lebih lanjut.
Tidak semua pemeriksaan kesehatan mental berfokus pada gejala yang tidak menyenangkan. WHO-5 Well-Being Index menggunakan lima pernyataan positif untuk menggambarkan kesejahteraan subjektif selama dua minggu terakhir. Instrumen ini memperhatikan pengalaman seperti merasa tenang, berenergi, dan menikmati kehidupan sehari-hari.
Berbeda dari alat ukur gejala depresi atau kecemasan, skor WHO-5 yang lebih tinggi menunjukkan kesejahteraan yang lebih baik. Skor rendah dapat menjadi alasan untuk memperhatikan kondisi psikologis. Namun, hasil tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental tertentu.
Pemilihan skrining sebaiknya dimulai dengan memahami aspek psikologis yang ingin diketahui. Jika keluhan utama berkaitan dengan kekhawatiran berlebihan, instrumen kecemasan mungkin lebih relevan daripada instrumen yang hanya menilai kesejahteraan positif. Namun, gejala yang saling berkaitan dapat membuat lebih dari satu pendekatan pengukuran diperlukan.
Tidak semua orang harus mengikuti seluruh instrumen kesehatan mental yang tersedia. Pemeriksaan berlebihan tanpa tujuan yang jelas justru dapat membuat interpretasi semakin membingungkan. Apabila keluhan cukup kompleks, konsultasi dengan profesional dapat membantu menentukan alat ukur yang paling sesuai.
Skrining bertujuan mengidentifikasi kemungkinan gejala berdasarkan indikator dalam suatu instrumen. Sementara itu, diagnosis klinis membutuhkan pemeriksaan yang mempertimbangkan riwayat, durasi, tingkat keparahan, dan dampak gejala terhadap kehidupan. Profesional juga perlu menilai kemungkinan kondisi psikologis atau medis lain yang mempunyai gejala serupa.
Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kelelahan dan kesulitan berkonsentrasi mungkin memperoleh skor tertentu pada skrining depresi. Namun, keluhan tersebut juga dapat berkaitan dengan kurang tidur atau kondisi kesehatan fisik. Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan diperlukan sebelum menentukan kesimpulan klinis.
Sebelum mengikuti pemeriksaan digital, perhatikan apakah penyedia mencantumkan nama instrumen, tujuan penggunaan, dan penjelasan hasilnya. Informasi mengenai tes penyakit mental dapat dipelajari melalui Sehari.ID untuk mengenal pilihan layanan pemeriksaan kesehatan psikologis. Namun, ketersediaan instrumen tertentu, ketentuan akses, dan biaya layanan perlu dipastikan terlebih dahulu.
Instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan sebaiknya mempunyai bukti validitas dan reliabilitas yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Penggunaan versi bahasa Indonesia juga perlu mempertimbangkan proses adaptasi dan karakteristik populasi. Hindari layanan yang menjanjikan diagnosis pasti hanya berdasarkan beberapa pertanyaan singkat.
Setiap instrumen mempunyai rentang waktu dan fokus pengukuran yang berbeda. PHQ-9 menilai gejala depresi selama dua minggu terakhir, sedangkan DASS-21 menggunakan periode satu minggu. Karena itu, hasil keduanya tidak dapat langsung dibandingkan seolah-olah mengukur hal yang sama.
Selain itu, jawaban dapat dipengaruhi kondisi emosional, pemahaman pertanyaan, dan kemampuan mengingat pengalaman. Seseorang mungkin melaporkan tingkat gejala yang berbeda pada waktu pemeriksaan yang berbeda. Perubahan tersebut perlu dipahami sesuai konteks, bukan langsung diartikan sebagai perubahan diagnosis.
Setelah memperoleh hasil, pahami terlebih dahulu aspek yang diukur dan kategori skor berdasarkan pedoman instrumen. Hindari langsung memberikan label gangguan mental kepada diri sendiri. Gunakan informasi tersebut untuk mengenali pengalaman psikologis dan memperhatikan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Apabila keluhan berlangsung menetap, semakin berat, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater. Hasil skrining dapat dibawa sebagai bahan awal pemeriksaan. Profesional kemudian dapat melakukan wawancara dan evaluasi tambahan sesuai kebutuhan.
Jika muncul pikiran menyakiti diri atau mengakhiri hidup, segera cari bantuan langsung melalui orang tepercaya serta fasilitas kesehatan atau layanan darurat setempat. Kondisi yang mengancam keselamatan tidak sebaiknya ditangani hanya melalui pemeriksaan mandiri. Pertolongan langsung harus menjadi prioritas.
Istilah tes penyakit mental mencakup berbagai jenis skrining psikologis dengan tujuan pengukuran yang berbeda. Instrumen seperti PHQ-9, GAD-7, DASS-21, MDQ, K10, dan WHO-5 dapat membantu mengenali gejala atau kondisi psikologis tertentu. Namun, hasil kuesioner merupakan informasi awal dan tidak dapat menggantikan diagnosis klinis.
Bagi Anda yang ingin memahami kondisi psikologis secara lebih terarah, informasi mengenai tes penyakit mental dapat diakses melalui Sehari.ID dengan memeriksa ketersediaan instrumen dan ketentuan layanan yang berlaku. Pilih pemeriksaan berdasarkan tujuan pengukuran, bukan hanya karena hasilnya dapat diperoleh dengan cepat. Pada akhirnya, skrining yang tepat dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan kesehatan mental dan mempertimbangkan dukungan profesional ketika diperlukan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.