Mengenal Istilah Psikologi Koran dan Kaitannya dengan Tes Kraepelin

19 Oct 2026 Ardi Almaqassary Tes Koran 2x dibaca
Mengenal Istilah Psikologi Koran dan Kaitannya dengan Tes Kraepelin

Pernah mendengar istilah psikologi koran ketika membicarakan seleksi kerja? Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar seperti pemeriksaan psikologi yang berkaitan dengan membaca berita atau menganalisis tulisan di surat kabar. Padahal, istilah ini justru sering digunakan untuk menyebut psikotes yang dipenuhi deretan angka.

Ketika melihat bentuk lembar pemeriksaannya, Anda mungkin langsung memahami mengapa tes tersebut mendapat julukan demikian. Angka-angka disusun rapat dalam kolom panjang sehingga sekilas menyerupai halaman koran. Melalui pengenalan psikologi koran, peserta dapat memahami asal penggunaan istilah tersebut serta hubungannya dengan pemeriksaan Kraepelin dan Pauli.

Apa yang Dimaksud dengan Psikologi Koran?

Psikologi koran merupakan istilah populer yang digunakan masyarakat untuk menyebut pemeriksaan psikologi berbasis penjumlahan angka berulang. Istilah ini bukan nama resmi suatu cabang ilmu psikologi ataupun satu instrumen psikometri tertentu. Dalam praktik psikotes di Indonesia, sebutan tersebut biasanya berkaitan dengan Tes Kraepelin dan Tes Pauli.

Nama koran digunakan karena tampilan lembar pemeriksaannya menyerupai halaman surat kabar yang dipenuhi tulisan. Namun, angka dalam tes tersebut tidak digunakan untuk membaca informasi atau menjawab pertanyaan pengetahuan umum. Peserta justru diminta melakukan operasi penjumlahan sederhana secara terus-menerus.

Meskipun terlihat seperti latihan matematika, tujuan pemeriksaannya tidak terbatas pada kemampuan berhitung. Aktivitas tersebut dapat menghasilkan informasi mengenai jumlah pekerjaan, ketepatan jawaban, serta perubahan performa selama pengerjaan. Interpretasinya perlu mengikuti prosedur dan pedoman instrumen yang digunakan.

Bagaimana Hubungan Psikologi Koran dengan Tes Kraepelin?

Mengenal Latar Belakang Tes Kraepelin

Tes Kraepelin berkaitan dengan penelitian Emil Kraepelin, seorang psikiater Jerman yang mempelajari perubahan performa manusia dalam aktivitas mental berulang. Penjumlahan angka digunakan sebagai tugas yang relatif sederhana dan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Dari pekerjaan tersebut, perubahan jumlah respons selama periode tertentu dapat diamati.

Pendekatan ini kemudian berkembang dalam berbagai bentuk pemeriksaan psikologi. Dalam konteks seleksi kerja, Kraepelin dikenal sebagai salah satu tes yang menggunakan deretan angka vertikal. Peserta diminta melakukan penjumlahan berdasarkan instruksi dan pembagian waktu yang telah ditentukan.

Mengapa Kraepelin Disebut Tes Koran?

Alasan utamanya terletak pada bentuk lembar pemeriksaan yang dipenuhi angka. Berbeda dari ujian matematika yang menggunakan soal cerita, Kraepelin menyajikan angka-angka secara berurutan dalam banyak kolom. Tampilan inilah yang membuat masyarakat mengenalnya sebagai tes koran.

Namun, istilah koran tidak hanya digunakan untuk Kraepelin. Tes Pauli juga mempunyai susunan angka yang serupa sehingga memperoleh sebutan yang sama. Karena itu, nama tes koran saja belum cukup untuk memastikan jenis pemeriksaan yang akan digunakan.

Apakah Tes Kraepelin dan Pauli Sama?

Kesamaan Prinsip Penjumlahan

Kraepelin dan Pauli sama-sama menggunakan aktivitas penjumlahan dua angka berdekatan. Pada format konvensional yang umum digunakan, peserta hanya mencatat digit satuan dari hasil penjumlahan. Jika 8 ditambah 6 menghasilkan 14, maka angka yang ditulis adalah 4.

Aktivitas tersebut dilakukan berulang sesuai ketentuan pemeriksaan. Peserta perlu menjaga urutan angka, menuliskan hasil, dan mengikuti instruksi waktu. Kesamaan prinsip inilah yang membuat kedua instrumen sering dianggap identik.

Perbedaan Arah dan Aba-Aba

Dalam format Kraepelin konvensional yang lazim digunakan di Indonesia, penjumlahan dilakukan dari bawah menuju atas. Peserta biasanya berpindah ke kolom berikutnya ketika pengawas memberikan aba-aba "pindah". Perpindahan dilakukan meskipun kolom sebelumnya belum selesai dikerjakan.

Sementara itu, Pauli konvensional umumnya dikerjakan dari atas menuju bawah. Aba-aba "garis" digunakan untuk menandai posisi pekerjaan pada interval tertentu, kemudian peserta melanjutkan penjumlahan dalam kolom yang sama. Perbedaan prosedur ini menunjukkan mengapa instruksi resmi harus selalu menjadi acuan utama.

Apa yang Diamati melalui Tes Psikologi Koran?

1. Kecepatan Pengerjaan

Kecepatan berkaitan dengan jumlah penjumlahan yang berhasil dikerjakan selama waktu tertentu. Informasi ini menunjukkan banyaknya respons yang dihasilkan pada suatu interval. Namun, jumlah pekerjaan yang tinggi belum tentu diikuti tingkat ketepatan yang sama.

2. Ketelitian Respons

Ketelitian berhubungan dengan ketepatan peserta menjumlahkan pasangan angka. Kesalahan dapat muncul akibat perhitungan keliru, kehilangan posisi, atau tidak mengikuti aturan penulisan jawaban. Karena itu, jumlah respons dan jumlah kesalahan perlu dibedakan dalam penilaian.

3. Keajegan Hasil Kerja

Keajegan menggambarkan variasi jumlah pekerjaan sepanjang beberapa interval pemeriksaan. Hasil yang relatif serupa menunjukkan variasi lebih kecil dibandingkan hasil yang mengalami perubahan besar. Namun, keajegan pengerjaan tidak otomatis menunjukkan kestabilan emosi atau karakter kepribadian tertentu.

4. Perubahan Performa

Pemeriksa juga dapat mengamati apakah jumlah pekerjaan meningkat, menurun, atau berfluktuasi selama tes. Perubahan tersebut merupakan informasi mengenai performa pada tugas berulang. Penyebab psikologisnya tidak boleh disimpulkan hanya berdasarkan bentuk grafik.

Mengapa Penjumlahan Sederhana Bisa Menjadi Tugas Psikologi?

Penjumlahan satu digit merupakan aktivitas yang relatif mudah dipahami banyak peserta. Namun, ketika dikerjakan berulang dalam waktu tertentu, tugas tersebut membutuhkan perhatian yang berkelanjutan. Peserta harus terus membaca angka, melakukan perhitungan, dan mencatat respons secara berurutan.

Dalam psikologi kognitif, perhatian berkelanjutan dikenal sebagai sustained attention. Selain itu, terdapat hubungan antara kecepatan dan ketepatan yang disebut speed-accuracy trade-off. Kedua konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa performa pada pekerjaan sederhana dapat berubah ketika tugas berlangsung terus-menerus.

Meski demikian, hubungan antara proses kognitif dan hasil tes tidak boleh disederhanakan secara berlebihan. Seseorang yang melakukan banyak kesalahan belum tentu memiliki motivasi rendah atau ketahanan kerja yang buruk. Penjelasan mengenai karakteristik individu membutuhkan bukti pengukuran dan informasi pendukung.

Bagaimana Psikologi Koran Digunakan dalam Seleksi Kerja?

Pemeriksaan hitungan berulang dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi dalam asesmen psikologi kerja. Organisasi mungkin ingin memperoleh gambaran mengenai performa peserta ketika melakukan tugas berulang dengan aturan tertentu. Namun, relevansi hasilnya harus dikaitkan dengan kebutuhan jabatan dan bukti validitas instrumen.

Sebagai contoh, pekerjaan tertentu membutuhkan ketelitian dalam menjalankan prosedur berulang. Data dari pemeriksaan dapat dipertimbangkan sebagai informasi pendukung apabila memang relevan dengan pekerjaan tersebut. Meski begitu, keterampilan teknis dan perilaku kerja nyata tetap memerlukan pengukuran lain.

Bagi peserta yang ingin mengenali pengembangan pemeriksaan hitungan berulang dalam format digital, psikologi koran dapat dipelajari melalui layanan Tes KRAPAL di Sehari.ID. Layanan tersebut berkaitan dengan pendekatan penjumlahan berulang yang dikenal dalam Kraepelin dan Pauli. Namun, aturan pengerjaan dan interpretasi hasil digital perlu mengikuti ketentuan platform yang digunakan.

Kesalahpahaman tentang Tes Psikologi Koran

Anggapan bahwa Semakin Cepat Selalu Semakin Baik

Sebagian peserta menganggap keberhasilan ditentukan oleh jumlah penjumlahan sebanyak mungkin. Padahal, penilaian juga dapat memperhatikan kesalahan dan variasi performa. Kecepatan yang meningkat dengan mengorbankan ketepatan tidak otomatis menghasilkan performa lebih baik.

Anggapan bahwa Grafik Menentukan Kepribadian

Ada pula keyakinan bahwa bentuk grafik tertentu menunjukkan seseorang rajin, mudah menyerah, atau mempunyai emosi stabil. Kesimpulan semacam itu terlalu jauh apabila hanya didasarkan pada naik turunnya jumlah pekerjaan. Interpretasi karakteristik psikologis memerlukan pedoman serta bukti validitas yang sesuai.

Anggapan bahwa Semua Tes Koran Memiliki Aturan Sama

Kesamaan tampilan tidak berarti seluruh instrumen menggunakan prosedur identik. Kraepelin dan Pauli mempunyai perbedaan arah penjumlahan serta fungsi aba-aba dalam format konvensional. Karena itu, peserta perlu mengenali jenis tes yang akan dihadapi.

Cara Mempersiapkan Diri Menghadapi Tes Koran

Langkah pertama adalah memahami aturan penjumlahan dan cara menuliskan digit satuan. Gunakan beberapa kolom pendek untuk membiasakan perhitungan dua angka yang berdekatan. Setelah prosedur dipahami, latihan dapat dilanjutkan dengan durasi lebih panjang.

Perhatikan kesalahan yang muncul selama pengerjaan. Bedakan kesalahan aritmetika, kesalahan posisi, dan kekeliruan mengikuti instruksi. Evaluasi tersebut membantu peserta mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.

Selain latihan, persiapkan kondisi fisik dan lingkungan pemeriksaan. Pastikan memahami jadwal, perlengkapan, serta instruksi penyelenggara sebelum memulai. Tidak perlu sengaja mengubah tempo demi menghasilkan grafik yang dianggap ideal.

Kesimpulan

Psikologi koran merupakan sebutan populer bagi pemeriksaan hitungan berulang yang berkaitan dengan Tes Kraepelin dan Pauli. Istilah tersebut berasal dari tampilan lembar pemeriksaan yang dipenuhi deretan angka menyerupai halaman koran. Meskipun keduanya mempunyai prinsip tugas serupa, arah pengerjaan dan prosedur pelaksanaannya dapat berbeda.

Melalui psikologi koran, peserta dapat mengenali hubungan pemeriksaan penjumlahan berulang dengan pengembangan asesmen digital. Gunakan pemahaman tersebut untuk mempelajari prosedur, memperbaiki kesalahan, dan mempersiapkan diri mengikuti psikotes kerja. Dengan mengenali istilah serta fungsi pemeriksaannya, peserta dapat memahami bahwa tes koran bukan sekadar perlombaan menghitung, melainkan tugas psikologis yang hasilnya perlu ditafsirkan secara bertanggung jawab.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami