Gangguan bipolar terkadang dijelaskan secara terlalu sederhana. Ada yang menganggap kondisi ini sepenuhnya disebabkan keturunan, sementara sebagian orang menghubungkannya hanya dengan stres, trauma, atau ketidakmampuan mengelola emosi. Kenyataannya, penelitian menunjukkan bahwa bipolar merupakan kondisi kompleks yang kemungkinan berkembang melalui hubungan berbagai faktor.
Ketika membicarakan penyebab bipolar, National Institute of Mental Health (NIMH) menegaskan bahwa penyebab pastinya belum diketahui. Penelitian menunjukkan kombinasi sejumlah faktor mungkin berkontribusi, termasuk genetika, struktur dan fungsi otak, serta pengalaman kehidupan. Artinya, faktor biologis dan psikologis tidak perlu dipertentangkan karena keduanya dapat saling berhubungan dalam membentuk kerentanan seseorang.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa faktor biologis, psikologis, sosial, dan struktural dapat berkontribusi terhadap munculnya, perjalanan, serta hasil gangguan bipolar. Perspektif tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di otak. Pengalaman seseorang dengan lingkungan dan berbagai proses psikologis juga mempunyai tempat penting dalam memahami kondisi.
Karena itu, istilah “faktor yang berkaitan” lebih tepat daripada menyatakan satu faktor tertentu sebagai penyebab pasti. Adanya hubungan dalam penelitian belum selalu membuktikan hubungan sebab-akibat. Seseorang dapat memiliki beberapa faktor risiko tetapi tidak pernah mengalami bipolar, sementara individu lain dapat mengalami gangguan tanpa faktor risiko yang tampak jelas.
Salah satu faktor biologis dengan dukungan penelitian paling kuat adalah genetika. NIMH menjelaskan bahwa bipolar cenderung ditemukan dalam keluarga dan individu yang mempunyai orang tua atau saudara kandung dengan bipolar memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, banyak orang dengan riwayat keluarga bipolar tidak pernah mengalami gangguan tersebut.
Bipolar juga tidak berasal dari satu gen tertentu. Banyak variasi genetik diyakini memberikan kontribusi kecil dan bekerja bersama dalam membentuk kerentanan. Bahkan penelitian pada kembar identik menunjukkan bahwa satu orang dapat mengalami bipolar sementara saudara kembarnya tidak, sehingga genetik jelas bukan satu-satunya faktor.
Pemahaman ini penting agar riwayat keluarga tidak dipandang sebagai takdir. Seseorang tidak dapat dipastikan akan mengalami bipolar hanya karena orang tua atau saudaranya memiliki diagnosis tersebut. Informasi genetik lebih tepat dipahami sebagai salah satu komponen kerentanan biologis yang berinteraksi dengan banyak faktor lainnya.
Penelitian juga menemukan adanya sejumlah perbedaan struktur serta fungsi otak antara kelompok individu dengan bipolar dan orang tanpa gangguan tersebut. Perbedaan ini menarik perhatian karena otak berperan dalam pengolahan emosi, aktivitas, sistem penghargaan, pengambilan keputusan, dan regulasi perilaku. Namun, hasil penelitian belum menghasilkan satu pola otak yang dapat digunakan untuk memastikan diagnosis bipolar pada setiap individu.
Karena itu, bipolar saat ini tidak dapat didiagnosis hanya melalui MRI atau pemeriksaan otak lainnya. Diagnosis tetap membutuhkan evaluasi terhadap episode mania, hipomania atau depresi, perjalanan gejala, dan dampaknya terhadap fungsi sehari-hari. Penelitian otak lebih banyak digunakan untuk memahami mekanisme gangguan dan membantu pengembangan pendekatan terapi di masa depan.
Faktor biologis lain yang menarik perhatian adalah ritme sirkadian, yaitu sistem internal tubuh yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun serta berbagai proses biologis selama sekitar 24 jam. Pada gangguan bipolar, tidur mempunyai hubungan yang sangat erat dengan perubahan mood. Berkurangnya kebutuhan tidur, misalnya, merupakan salah satu karakteristik yang dapat muncul pada episode mania.
Penelitian menunjukkan bahwa proses tidur dan ritme sirkadian berinteraksi dengan sistem neurobiologis yang juga terlibat dalam regulasi emosi. Namun, hubungan tersebut bersifat kompleks karena perubahan tidur dapat menjadi faktor yang mendahului episode sekaligus menjadi bagian dari gejala episode itu sendiri. Karena itu, pola tidur tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal bipolar.
Pembahasan mengenai penyebab bipolar juga berkaitan dengan bagaimana tubuh dan pikiran merespons stres. Ketika menghadapi tekanan, tubuh mengaktifkan berbagai sistem biologis yang membantu seseorang menyesuaikan diri terhadap keadaan tersebut. Pada sebagian individu dengan bipolar, penelitian sedang mempelajari apakah sistem respons stres bekerja dengan pola yang berbeda.
NIMH menjelaskan bahwa individu dengan risiko genetik bipolar mungkin lebih rentan mengalami gangguan setelah trauma atau peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti stres selalu menyebabkan bipolar karena sebagian besar orang yang mengalami tekanan berat tidak kemudian mengalami gangguan tersebut. Stres lebih tepat dipahami sebagai salah satu faktor yang mungkin berinteraksi dengan kerentanan biologis.
Regulasi emosi adalah kemampuan mengenali, memahami, serta mengelola respons emosional terhadap berbagai situasi. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan bipolar dapat mengalami kesulitan tertentu dalam regulasi emosi dan strategi yang digunakan dapat berkaitan dengan tingkat gejala mood. Meta-analisis terbaru menemukan bahwa rumination atau kecenderungan memikirkan kembali pengalaman secara berulang mempunyai hubungan dengan gejala depresi maupun hipomania atau mania.
Namun, kesulitan regulasi emosi bukan berarti seseorang mengalami bipolar karena tidak mampu mengendalikan perasaan. Regulasi emosi sendiri mempunyai dasar biologis yang kompleks dan dipengaruhi fungsi otak, stres, pengalaman, tidur, serta kondisi mood. Karena itu, konsep tersebut lebih tepat digunakan untuk memahami proses psikologis yang berkaitan dengan bipolar daripada mencari kesalahan pada individu.
Tinjauan ilmiah tahun 2025 menunjukkan adanya hubungan yang semakin banyak dipelajari antara regulasi emosi dengan mekanisme biologis bipolar. Penelitian mencakup genetika dan epigenetika, temuan neuroimaging, inflamasi, sistem respons stres, neuroplastisitas, serta gangguan ritme sirkadian. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor yang kita sebut “biologis” dan “psikologis” sebenarnya sering kali merupakan bagian dari sistem yang sama.
Sebagai contoh, tidur yang terganggu dapat membuat seseorang lebih sulit mengelola emosi, sementara stres emosional dapat mengganggu tidur. Perubahan mood kemudian dapat memengaruhi hubungan sosial dan menciptakan stres baru. Pola tersebut menunjukkan bagaimana beberapa faktor dapat saling memperkuat tanpa ada satu faktor yang berdiri sendiri sebagai penyebab utama.
Pengalaman kehilangan, konflik hubungan, kekerasan, tekanan pekerjaan, atau perubahan besar dalam hidup dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. WHO menyebut keadaan yang merugikan atau peristiwa yang mengubah kehidupan dapat memicu atau memperburuk gejala bipolar pada sebagian individu. Penggunaan alkohol atau zat lain juga dapat memengaruhi onset maupun perjalanan kondisi.
Namun, pengalaman hidup yang sulit tidak selalu menghasilkan bipolar. Banyak orang mengalami kehilangan atau trauma tanpa pernah mengalami episode mania, sedangkan tidak semua individu dengan bipolar mempunyai riwayat trauma yang sama. Cara yang lebih ilmiah adalah melihat pengalaman tersebut sebagai faktor yang dapat berinteraksi dengan kerentanan lain.
Salah satu kesalahpahaman yang perlu dihindari adalah menganggap bipolar berkembang karena seseorang terlalu emosional, kurang tangguh, atau tidak mampu berpikir positif. Tidak ada dasar ilmiah untuk menyederhanakan gangguan bipolar menjadi kelemahan karakter. Bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang kompleks dengan kontribusi biologis yang jelas serta berbagai faktor psikologis dan lingkungan yang dapat memengaruhi perjalanannya.
Faktor psikologis justru menjadi penting karena sebagian di antaranya dapat menjadi sasaran intervensi. Psikoterapi dapat membantu seseorang memahami pola stres, mengembangkan strategi regulasi emosi, menjaga aktivitas, dan mengenali perubahan mood. Pendekatan ini tidak menghilangkan faktor biologis, tetapi membantu individu mengelola aspek kehidupan yang dapat dipengaruhi.
Membicarakan bipolar hanya dari sisi risiko dapat memberikan kesan bahwa seseorang tidak memiliki ruang untuk memengaruhi perjalanan kondisinya. Padahal, WHO menjelaskan bahwa terdapat pula faktor yang dapat mendukung pemulihan, termasuk lingkungan kerja yang baik, dukungan yang sesuai, dan akses terhadap perawatan. Kondisi sosial yang mendukung dapat membantu meningkatkan fungsi, kualitas hidup, dan harga diri.
Hal yang sama berlaku pada faktor psikologis. Kemampuan mengenali pola pribadi, mempertahankan dukungan sosial, mengikuti perawatan, dan mengembangkan strategi menghadapi stres dapat membantu dalam pengelolaan jangka panjang. Faktor protektif tidak menghapus kerentanan biologis, tetapi dapat memengaruhi bagaimana seseorang menjalani kondisi tersebut.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar membutuhkan pandangan yang tidak memisahkan faktor biologis dan psikologis secara kaku. Genetik, struktur dan fungsi otak, ritme sirkadian, respons stres, regulasi emosi, serta pengalaman kehidupan dapat saling berhubungan dalam membentuk kerentanan dan perjalanan gangguan. WHO dan NIMH sama-sama menegaskan bahwa penyebab pasti bipolar belum diketahui dan kombinasi berbagai faktor kemungkinan berkontribusi.
Pemahaman tersebut juga membantu mengurangi stigma. Bipolar bukan sekadar persoalan genetik, bukan akibat seseorang terlalu banyak berpikir, dan bukan bukti bahwa seseorang gagal menghadapi tekanan hidup. Melihat kondisi ini sebagai interaksi kompleks antara tubuh, pikiran, dan pengalaman membuat pembahasan bipolar menjadi lebih ilmiah sekaligus lebih manusiawi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.