Istilah bipolar cukup sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Sayangnya, istilah ini kadang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang suasana hatinya mudah berubah, misalnya sedang senang lalu beberapa saat kemudian menjadi kesal. Padahal, gangguan bipolar memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks dan tidak dapat disimpulkan hanya dari perubahan emosi sesaat.
Karena itu, mengenal bipolar perlu dimulai dari pemahaman bahwa kondisi ini berkaitan dengan perubahan yang nyata pada suasana hati, energi, aktivitas, dan pola pikir seseorang. Perubahannya dapat muncul dalam bentuk episode tertentu dan berlangsung cukup kuat hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pemahaman seperti ini penting agar istilah bipolar tidak digunakan secara sembarangan sekaligus membantu masyarakat mengenali kapan seseorang mungkin membutuhkan pemeriksaan profesional.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh episode mania atau hipomania serta episode depresi. WHO menjelaskan bahwa perubahan tersebut dapat memengaruhi mood, energi, aktivitas, dan pikiran seseorang, sehingga dampaknya dapat terlihat dalam kehidupan pribadi, pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial. Pada 2023, sekitar 36 juta orang di dunia diperkirakan hidup dengan gangguan bipolar.
Perjalanan bipolar tidak selalu terlihat seperti seseorang yang terus bergantian antara sangat bahagia dan sangat sedih. Ada periode ketika gejala menjadi jelas, tetapi dapat pula terdapat masa ketika suasana hati kembali mendekati kondisi biasanya. NIMH juga menjelaskan bahwa bipolar dapat bersifat episodik maupun berlangsung sebagai kondisi kronis yang membutuhkan penanganan jangka panjang.
Salah satu hal penting dalam memahami bipolar adalah konsep episode mood. Episode berarti sekumpulan perubahan suasana hati dan perilaku yang terjadi selama periode tertentu, bukan perubahan emosi hanya dalam hitungan menit akibat peristiwa sehari-hari. Perubahan tersebut biasanya juga disertai perbedaan pada energi, pola tidur, cara berbicara, aktivitas, konsentrasi, dan pengambilan keputusan.
Karena pola episode dapat berbeda pada setiap orang, diagnosis tidak cukup dilakukan berdasarkan satu gejala saja. Tenaga profesional perlu melihat perjalanan kondisi selama beberapa hari atau minggu, dampaknya terhadap fungsi sehari-hari, riwayat episode sebelumnya, serta kemungkinan adanya kondisi lain. Pemeriksaan menyeluruh menjadi penting karena beberapa gangguan kesehatan maupun penggunaan zat tertentu dapat menghasilkan gejala yang menyerupai bipolar.
Episode mania ditandai oleh peningkatan suasana hati atau iritabilitas yang disertai energi dan aktivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan keadaan seseorang biasanya. Individu dapat merasa sangat percaya diri, berbicara jauh lebih cepat, memiliki banyak ide sekaligus, mudah terdistraksi, dan merasa hanya membutuhkan sedikit tidur. Pada saat yang sama, kemampuan mempertimbangkan konsekuensi juga dapat berubah sehingga muncul keputusan atau perilaku yang lebih impulsif dan berisiko.
Mania bukan sekadar sedang merasa sangat senang atau produktif. Gejalanya dapat menjadi cukup berat hingga mengganggu pekerjaan, hubungan, pengelolaan keuangan, atau keselamatan seseorang, dan pada kondisi tertentu memerlukan perawatan di rumah sakit. NIMH menjelaskan bahwa pada Bipolar I, episode mania dapat berlangsung setidaknya tujuh hari atau lebih singkat apabila gejalanya cukup berat sehingga membutuhkan perawatan rumah sakit.
Hipomania memiliki sejumlah karakteristik yang mirip dengan mania, seperti energi meningkat, kebutuhan tidur berkurang, lebih banyak berbicara, atau aktivitas menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Perbedaannya, intensitas hipomania lebih ringan dan umumnya tidak menyebabkan gangguan fungsi seberat episode mania. Karena seseorang bahkan dapat merasa lebih produktif atau percaya diri selama periode ini, hipomania terkadang tidak dianggap sebagai masalah oleh individu yang mengalaminya.
Justru karena terlihat lebih ringan, informasi dari keluarga atau orang yang sering berinteraksi dengan individu dapat membantu melihat adanya perubahan dari pola perilaku biasanya. Mereka mungkin menyadari pola tidur yang berubah, aktivitas yang meningkat, atau cara berbicara yang lebih cepat meskipun individu merasa baik-baik saja. Dalam konteks mengenal bipolar, memahami perbedaan antara mania dan hipomania menjadi penting karena keduanya berhubungan dengan klasifikasi gangguan bipolar yang berbeda.
Episode depresi pada bipolar dapat melibatkan suasana hati yang sangat rendah, kehilangan minat atau kesenangan, berkurangnya energi, hingga kesulitan menjalankan aktivitas yang biasanya dapat dilakukan. Seseorang juga dapat mengalami gangguan konsentrasi, perubahan pola tidur, perubahan nafsu makan, perasaan tidak berharga, rasa bersalah berlebihan, atau kehilangan harapan terhadap masa depan. Pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul pikiran mengenai kematian atau bunuh diri.
Depresi pada bipolar juga tidak sama dengan rasa sedih yang muncul sesekali karena menghadapi masalah. WHO menjelaskan bahwa pada episode depresi, gejala dapat berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama setidaknya dua minggu. Dampaknya juga dapat meluas pada kemampuan belajar, bekerja, menjaga hubungan, merawat diri, dan menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Gambaran bipolar tidak selalu terbagi rapi menjadi periode “tinggi” dan “rendah”. Pada sebagian orang, gejala mania dan depresi dapat muncul secara bersamaan dalam suatu episode atau dikenal sebagai episode dengan fitur campuran. Seseorang, misalnya, dapat memiliki energi tinggi dan pikiran yang bergerak sangat cepat tetapi pada saat bersamaan merasa sangat tertekan atau kehilangan harapan.
Karakter seperti inilah yang membuat bipolar tidak tepat dipahami hanya sebagai pergantian antara bahagia dan sedih. Pola, intensitas, durasi, dan kombinasi gejalanya jauh lebih beragam daripada gambaran sederhana tersebut. Oleh karena itu, pengamatan terhadap perubahan fungsi dan perilaku dalam rentang waktu tertentu lebih bermakna dibandingkan menilai satu emosi secara terpisah.
Pada Bipolar I, karakteristik utamanya adalah adanya setidaknya satu episode mania. Episode depresi sering terjadi pada orang dengan Bipolar I, tetapi keberadaan episode mania menjadi hal penting dalam penentuan diagnosisnya. Mania dapat menimbulkan gangguan fungsi yang berat dan pada kondisi tertentu disertai gejala psikotik seperti delusi atau halusinasi.
Bipolar II memiliki pola yang berbeda karena melibatkan setidaknya satu episode hipomania dan episode depresi, tanpa riwayat episode mania penuh. Ini tidak berarti Bipolar II selalu lebih ringan, sebab episode depresinya tetap dapat memberikan dampak besar terhadap kehidupan seseorang. Selain kedua tipe tersebut, terdapat pula cyclothymic disorder dan kategori gangguan bipolar terkait lainnya dengan pola gejala yang berbeda.
Semua orang dapat mengalami perubahan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dapat merasa bersemangat ketika mendapatkan kabar baik, kecewa setelah mengalami kegagalan, atau mudah tersinggung ketika sedang kelelahan. Respons seperti itu belum cukup untuk menunjukkan adanya gangguan bipolar karena emosi normal biasanya memiliki hubungan yang dapat dipahami dengan situasi dan tidak selalu disertai perubahan ekstrem pada energi serta fungsi kehidupan.
Pada bipolar, yang perlu diperhatikan adalah pola perubahan yang lebih luas. Suasana hati dapat disertai perubahan signifikan pada tidur, aktivitas, kecepatan berpikir, cara berbicara, perilaku berisiko, konsentrasi, hingga kemampuan menjalankan tanggung jawab. Karena itu, menyebut seseorang “bipolar” hanya karena emosinya berubah dengan cepat dapat memperkuat kesalahpahaman sekaligus stigma terhadap kondisi kesehatan mental.
Mengetahui karakteristik bipolar dapat membantu meningkatkan kesadaran, tetapi daftar gejala tidak dapat menggantikan pemeriksaan profesional. NIMH menekankan pentingnya melihat perjalanan kondisi dari waktu ke waktu karena beberapa keadaan, termasuk gangguan tiroid serta efek obat atau zat tertentu, dapat menghasilkan gejala menyerupai bipolar. Riwayat kesehatan, pola episode, fungsi sehari-hari, dan kondisi lain yang menyertai perlu dipertimbangkan sebelum menentukan diagnosis.
Karena itu, seseorang yang merasa memiliki beberapa karakteristik bipolar tidak perlu langsung memberikan diagnosis kepada dirinya sendiri. Langkah yang lebih tepat adalah mencatat perubahan yang dirasakan, termasuk pola tidur, energi, suasana hati, perilaku, dan dampaknya terhadap aktivitas, kemudian mendiskusikannya dengan psikolog atau psikiater. Apabila terdapat pikiran untuk menyakiti diri, perilaku sangat berisiko, atau kondisi yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain, bantuan profesional perlu dicari segera.
Pada akhirnya, mengenal bipolar berarti memahami bahwa kondisi ini lebih kompleks daripada perubahan mood biasa. Mania, hipomania, depresi, maupun fitur campuran memiliki karakteristik tersendiri dan dapat memberikan dampak yang berbeda bagi setiap individu. Memahami pola tersebut dapat membantu kita menggunakan istilah bipolar secara lebih tepat sekaligus merespons orang yang mengalaminya dengan lebih bijak.
Pengetahuan juga dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan mental. Seseorang dengan bipolar bukan sekadar kumpulan gejala dan tetap dapat menjalani kehidupan, hubungan, pekerjaan, serta tujuan pribadi dengan penanganan yang sesuai. Semakin baik masyarakat memahami karakteristik bipolar, semakin terbuka pula ruang bagi individu untuk mencari bantuan tanpa harus merasa dihakimi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.