Ketika seseorang diketahui mengalami gangguan bipolar, pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa kondisi tersebut terjadi. Sebagian orang langsung menghubungkannya dengan stres berat, trauma, atau riwayat keluarga, padahal penjelasannya tidak sesederhana itu. Memahami penyebab orang terkena bipolar membutuhkan pandangan yang lebih luas karena gangguan ini berkaitan dengan kombinasi faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati, energi, tingkat aktivitas, pola tidur, serta cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Individu dapat mengalami episode mania atau hipomania dan, pada periode lain, episode depresi. Pola tersebut berbeda dari naik-turunnya emosi sehari-hari karena dapat berlangsung lebih intens dan memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan kehidupannya.
Sampai saat ini, tidak ada satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa semua orang dengan bipolar mengalami kondisi tersebut. Penelitian lebih mendukung pandangan bahwa berbagai bentuk kerentanan dapat saling berinteraksi sepanjang kehidupan seseorang. Karena itu, faktor yang tampak penting pada satu individu belum tentu memiliki pengaruh yang sama pada orang lain.
Cara memahami kondisi ini dapat dianalogikan dengan beberapa kepingan yang membentuk satu gambaran besar. Faktor genetik mungkin menjadi salah satu kepingan, sementara fungsi otak, stres, pola tidur, pengalaman hidup, dan lingkungan sosial menjadi kepingan lainnya. Gangguan bipolar dapat berkembang ketika berbagai faktor tersebut berinteraksi dalam pola tertentu pada individu yang rentan.
Faktor genetik merupakan salah satu bagian yang paling banyak dipelajari dalam gangguan bipolar. Seseorang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan bipolar mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga tersebut. Namun, hubungan keluarga tidak berarti gangguan bipolar pasti diwariskan.
Bipolar juga tidak disebabkan oleh satu gen yang bekerja sendirian. Banyak variasi gen diperkirakan memberikan kontribusi terhadap kerentanan, sementara pengaruh akhirnya tetap berkaitan dengan faktor lain. Inilah sebabnya terdapat anggota keluarga dengan latar belakang genetik serupa tetapi kondisi kesehatan mental yang berbeda.
Otak mempunyai peran dalam mengatur emosi, energi, motivasi, tidur, perhatian, dan pengambilan keputusan. Penelitian mengenai bipolar menemukan beberapa karakteristik biologis yang berbeda pada sebagian individu dengan gangguan tersebut. Meski demikian, hingga kini tidak ada satu pemeriksaan otak yang dapat digunakan secara mandiri untuk memastikan seseorang mengalami bipolar.
Pandangan bahwa bipolar hanya disebabkan oleh “ketidakseimbangan kimia otak” juga terlalu menyederhanakan masalah. Sistem otak bekerja melalui hubungan yang sangat kompleks antara sel saraf, jaringan otak, hormon, serta berbagai proses biologis lainnya. Karena itu, peneliti terus mempelajari bagaimana proses tersebut berhubungan dengan perubahan antara mania, hipomania, dan depresi.
Stres merupakan bagian normal dari kehidupan, tetapi tekanan yang berat atau berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan mental. Konflik keluarga, tekanan pekerjaan, kehilangan orang terdekat, masalah ekonomi, atau perubahan kehidupan yang besar dapat menjadi beban emosional yang kuat. Pada individu yang memiliki kerentanan tertentu, tekanan seperti ini dapat berkaitan dengan muncul atau memburuknya episode suasana hati.
Namun, mengalami stres tidak berarti seseorang akan terkena bipolar. Banyak orang menjalani periode kehidupan yang sangat sulit tanpa pernah mengalami gangguan tersebut. Perbedaan respons dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, pengalaman sebelumnya, dukungan sosial, pola tidur, dan kemampuan seseorang beradaptasi terhadap tekanan.
Trauma sering dibahas dalam kaitannya dengan kesehatan mental karena pengalaman yang sangat menekan dapat memberikan dampak jangka panjang. Kekerasan, kehilangan, kecelakaan, penelantaran, atau pengalaman lain yang menimbulkan rasa tidak aman dapat memengaruhi cara seseorang merespons stres. Meski begitu, trauma tidak dapat disebut sebagai penyebab pasti gangguan bipolar.
Dua orang yang mengalami pengalaman traumatis serupa juga dapat menunjukkan respons yang sangat berbeda. Usia ketika trauma terjadi, dukungan yang diperoleh, kondisi mental sebelumnya, serta situasi setelah kejadian dapat memengaruhi dampaknya. Oleh sebab itu, riwayat trauma perlu dilihat dalam konteks kehidupan individu secara menyeluruh.
Ketika membahas penyebab orang terkena bipolar, pola tidur juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Pada episode mania, seseorang dapat membutuhkan tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa sangat berenergi, sedangkan pada episode depresi pola tidur dapat berubah ke arah sulit tidur atau tidur berlebihan. Perubahan tersebut biasanya terjadi bersama perubahan lain pada suasana hati, aktivitas, dan cara berpikir.
Jadwal hidup yang sangat tidak teratur dapat ikut memengaruhi kestabilan seseorang yang sudah memiliki kerentanan. Kerja malam, sering berganti jadwal, aktivitas berlebihan, atau kurang tidur berkepanjangan dapat mengganggu ritme biologis sehari-hari. Namun, sering begadang saja tentu tidak cukup untuk menyebabkan atau mendiagnosis bipolar.
Penggunaan alkohol dan zat psikoaktif juga dapat memengaruhi perjalanan kondisi bipolar. Zat tertentu dapat mengubah pola tidur, tingkat energi, pengendalian impuls, dan suasana hati sehingga gejalanya kadang terlihat menyerupai episode gangguan mood. Penggunaan zat juga dapat memperburuk kondisi pada individu yang sebelumnya sudah memiliki kerentanan.
Hubungan tersebut dapat terjadi dua arah. Seseorang mungkin mulai menggunakan alkohol atau zat untuk menghadapi stres, kecemasan, atau gangguan tidur yang telah dialaminya terlebih dahulu. Karena itu, tenaga profesional perlu memahami kapan penggunaan zat dimulai dan bagaimana hubungannya dengan perubahan suasana hati.
Lingkungan sosial dapat meningkatkan tekanan, tetapi juga dapat menjadi sumber perlindungan. Konflik berkepanjangan, perundungan, hubungan yang tidak sehat, atau minimnya dukungan dapat menambah beban psikologis seseorang. Sebaliknya, keluarga dan teman yang suportif dapat membantu individu mengenali perubahan kondisi dan memperoleh bantuan lebih awal.
Penting untuk tidak menyimpulkan bahwa keluarga merupakan penyebab seseorang mengalami bipolar. Pola asuh atau konflik keluarga mungkin memengaruhi tingkat stres, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan gangguan. Lingkungan sebaiknya dilihat sebagai salah satu bagian yang berinteraksi dengan kondisi biologis dan psikologis individu.
Faktor risiko merupakan keadaan yang berkaitan dengan meningkatnya kemungkinan suatu kondisi, tetapi bukan berarti kondisi tersebut pasti terjadi. Riwayat keluarga, trauma, stres berat, gangguan tidur, atau penggunaan zat dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Seseorang tetap dapat memiliki beberapa faktor risiko tanpa pernah mengalami gangguan bipolar.
Hal ini penting karena informasi mengenai faktor risiko sering membuat orang melakukan diagnosis sendiri. Misalnya, seseorang merasa memiliki bipolar hanya karena mudah berubah suasana hati atau memiliki anggota keluarga dengan diagnosis tersebut. Padahal, penilaian bipolar membutuhkan pemeriksaan terhadap pola episode, durasi, perubahan energi, perilaku, tidur, dan fungsi sehari-hari.
Faktor risiko biasanya berkaitan dengan kerentanan yang lebih mendasar, sedangkan pemicu merupakan situasi yang dapat mendahului munculnya episode pada individu tertentu. Contohnya, riwayat keluarga dapat menjadi faktor risiko, sementara periode kurang tidur atau stres berat mungkin menjadi pemicu episode pada sebagian orang. Kedua konsep tersebut penting dibedakan agar penyebab bipolar tidak disederhanakan secara berlebihan.
Pemicu juga sangat individual. Seseorang mungkin melihat perubahan mood setelah rutinitas tidurnya terganggu, sedangkan orang lain lebih sensitif terhadap tekanan emosional atau perubahan kehidupan. Bahkan pada satu individu, tidak setiap episode selalu memiliki pemicu yang dapat dikenali dengan jelas.
Perubahan suasana hati merupakan pengalaman manusia yang normal. Namun, perhatian lebih diperlukan apabila perubahan berlangsung beberapa hari atau lebih, sangat berbeda dari kondisi biasanya, dan disertai perubahan tidur, energi, aktivitas, atau perilaku. Dampaknya terhadap pekerjaan, pendidikan, hubungan, keuangan, dan keselamatan juga menjadi pertimbangan penting.
Evaluasi profesional semakin penting apabila seseorang menunjukkan perilaku berisiko, kehilangan kontrol, mengalami depresi berat, atau menunjukkan tanda kehilangan kontak dengan realitas. Pertolongan perlu dicari segera apabila muncul pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup. Kondisi seperti ini membutuhkan dukungan langsung, bukan hanya pengamatan mandiri.
Pada akhirnya, memahami penyebab orang terkena bipolar berarti memahami bahwa gangguan ini tidak lahir dari satu faktor sederhana. Kerentanan genetik dan biologis dapat berinteraksi dengan stres, pengalaman hidup, perubahan pola tidur, penggunaan zat, serta lingkungan sosial. Besarnya pengaruh masing-masing faktor dapat berbeda pada setiap individu sehingga perjalanan gangguan pun tidak pernah benar-benar sama.
Mengetahui faktor risiko seharusnya membantu meningkatkan kesadaran, bukan menimbulkan ketakutan atau stigma. Seseorang tidak dapat disebut bipolar hanya karena memiliki riwayat keluarga, sering mengalami stres, atau pernah menghadapi trauma. Pemeriksaan profesional yang melihat perjalanan kondisi secara menyeluruh tetap menjadi cara yang paling tepat untuk memahami perubahan mood dan menentukan dukungan yang dibutuhkan.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.