Perubahan suasana hati pada seorang remaja tentu berlangsung dalam konteks kehidupan yang berbeda dengan seseorang berusia 35 atau 60 tahun. Remaja masih menjalani perkembangan identitas dan pendidikan, orang dewasa menghadapi pekerjaan serta relasi, sedangkan usia lanjut dapat berhadapan dengan perubahan kesehatan dan fungsi kognitif. Karena itu, memahami bipolar juga perlu mempertimbangkan tahap kehidupan tempat perubahan tersebut muncul.
Dalam memahami penyakit gangguan bipolar, perbedaan berdasarkan usia bukan berarti setiap kelompok memiliki gejala bipolar yang sepenuhnya berbeda. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa inti gangguan tetap berupa perubahan mood, energi, aktivitas, dan fungsi dalam pola episode mania, hipomania, atau depresi. Namun, cara perubahan tersebut terlihat dan area kehidupan yang terdampak dapat berbeda karena tuntutan perkembangan setiap usia tidak sama.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa bipolar terutama dijumpai pada kelompok usia kerja, tetapi juga dapat dialami oleh kelompok usia muda. Sementara itu, NIMH menyebut gejala bipolar paling sering mulai muncul pada akhir masa remaja atau awal masa dewasa, walaupun gejala dapat muncul lebih awal maupun pada usia yang lebih lanjut. Artinya, usia memberikan konteks penting untuk memahami kapan perubahan mulai muncul dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan.
Secara sederhana, beberapa hal yang dapat berbeda menurut tahap usia adalah:
Perbedaan tersebut tidak dapat digunakan sebagai rumus diagnosis. Seorang psikolog tetap perlu melihat pola episode, perubahan dari kondisi dasar, durasi, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap fungsi. Usia membantu memberi konteks terhadap data tersebut, bukan menggantikan asesmen klinis.
Masa remaja secara alami melibatkan perkembangan emosi dan sosial yang cukup cepat. Remaja dapat menjadi lebih sensitif, mengalami konflik dengan keluarga, mencari identitas, atau menunjukkan perubahan minat tanpa berarti mengalami bipolar. Tantangannya adalah mengenali ketika perubahan tersebut sudah jauh berbeda dari pola perkembangan dan perilaku biasanya.
NIMH menjelaskan bahwa bipolar pada anak dan remaja berbeda dari naik-turunnya emosi normal karena perubahannya lebih ekstrem dan dapat disertai perubahan tidur, energi, kemampuan berpikir, serta perilaku. Episode tersebut biasanya berlangsung selama beberapa hari atau minggu dan menghasilkan perubahan yang cukup nyata dari perilaku biasa individu. Karena itu, hanya menyebut seorang remaja “mood swing” tidak cukup untuk menjelaskan kemungkinan bipolar.
Pada episode dengan peningkatan mood, beberapa perubahan yang dapat menjadi perhatian meliputi:
Ketika episode depresif muncul, gambaran dapat bergerak ke arah berbeda. NIMH menyebut remaja dapat menunjukkan kesedihan, iritabilitas, kemarahan, kesulitan konsentrasi, kehilangan energi, masalah hubungan, tidur lebih banyak, atau kehilangan minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai. Pada sebagian remaja, keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut juga dapat menyertai episode depresi.
Pada usia sekolah, dampak bipolar dapat terlihat melalui perubahan dalam belajar dan hubungan sosial. Individu dapat mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, menyelesaikan tugas, mengikuti jadwal, atau menjaga hubungan dengan teman dan keluarga. Perubahan fungsi seperti ini perlu dibaca bersama pola mood dan energi, bukan sebagai tanda bipolar yang berdiri sendiri.
NIMH menekankan bahwa gejala pada remaja dapat mengganggu prestasi sekolah maupun hubungan dengan teman dan keluarga. Namun, masalah akademik memiliki banyak kemungkinan penyebab sehingga penurunan nilai tidak otomatis menunjukkan bipolar. Asesmen harus mempertimbangkan konteks perkembangan, stres keluarga, masalah sosial, dan kondisi psikologis lain.
Asesmen penyakit gangguan bipolar pada remaja dapat menjadi lebih kompleks karena sejumlah kondisi menunjukkan karakteristik yang tumpang tindih. NIMH menyebut Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas, gangguan kecemasan, depresi mayor, masalah perilaku, dan beberapa kondisi lainnya sebagai kemungkinan yang perlu dibedakan. Karena itu, satu kuesioner atau satu perilaku tidak cukup untuk menyimpulkan bipolar.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) juga menekankan perlunya kehati-hatian saat menilai bipolar pada anak dan remaja. Pemeriksaan perlu melihat perjalanan kondisi secara longitudinal dan dilakukan oleh tenaga profesional yang memiliki pengalaman dalam menilai kelompok usia tersebut. Pendekatan ini mengurangi risiko perubahan perkembangan normal diberi label sebagai gangguan.
Akhir masa remaja dan awal masa dewasa menjadi periode yang penting karena NIMH menyebut gejala bipolar paling sering mulai terlihat pada fase ini. Pada saat yang sama, individu biasanya sedang menghadapi perubahan besar seperti kuliah, memasuki dunia kerja, hidup lebih mandiri, atau membangun hubungan romantis. Perubahan fungsi karena episode bipolar karenanya dapat terasa pada banyak area sekaligus.
Beberapa area yang dapat mengalami perubahan adalah:
Pada periode hipomania, peningkatan aktivitas bahkan dapat terasa positif karena individu merasa sangat produktif atau percaya diri. NIMH menjelaskan bahwa sebagian orang tidak merasa ada sesuatu yang salah ketika hipomania terjadi, meskipun keluarga dan teman dapat melihat perubahan perilaku. Hal ini membuat riwayat episode sebelumnya sangat penting ketika individu datang karena keluhan depresi.
Pada masa dewasa, tanggung jawab biasanya semakin kompleks. Individu mungkin memiliki pekerjaan tetap, pasangan, anak, kewajiban finansial, dan tanggung jawab keluarga yang perlu dipertahankan. Episode mood dapat memengaruhi kemampuan menjalankan peran tersebut meskipun bentuk gejala dasarnya masih berkaitan dengan mood, energi, tidur, aktivitas, dan pikiran.
NIMH mencatat bahwa bipolar dapat berkaitan dengan gangguan fungsi yang serius pada orang dewasa. Dampaknya dapat terlihat melalui pekerjaan yang terganggu, kesulitan mengambil keputusan, hubungan keluarga yang mengalami tekanan, atau kemampuan menjalankan rutinitas yang menurun. Karena itu, asesmen orang dewasa perlu memberi perhatian besar terhadap fungsi sosial dan pekerjaan.
Bipolar juga dapat berlanjut hingga usia lanjut atau, pada sebagian kasus, baru dikenali lebih lambat dalam kehidupan. Literatur mengenai bipolar pada usia lanjut memang masih lebih terbatas dibandingkan kelompok dewasa usia kerja. Namun, tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa kondisi fisik, fungsi kognitif, serta fungsi psikososial menjadi pertimbangan yang semakin penting pada kelompok usia ini.
Beberapa area yang memerlukan perhatian lebih antara lain:
Jika perubahan mania atau perilaku baru muncul pertama kali pada usia lanjut, faktor medis dan neurologis perlu dipertimbangkan secara hati-hati. Psikolog dapat mengeksplorasi kondisi psikologis serta fungsi individu, kemudian melakukan rujukan kepada tenaga kesehatan yang sesuai apabila diperlukan evaluasi medis. Hal tersebut penting karena gejala pada usia lanjut dapat memiliki penyebab yang lebih beragam.
Cara yang lebih tepat memahami bipolar berdasarkan usia adalah melihat di mana dampaknya paling terlihat. Pada remaja, perubahan dapat terlihat melalui sekolah dan hubungan keluarga, sedangkan pada dewasa dampaknya mungkin lebih nyata pada pekerjaan, finansial, pasangan, dan tanggung jawab keluarga. Pada usia lanjut, kemandirian, kondisi kesehatan fisik, fungsi kognitif, dan dukungan sosial menjadi semakin relevan.
Secara ringkas:
Kategori ini bukan aturan mutlak. Seseorang dapat menghadapi tantangan berbeda meskipun berada pada kelompok usia yang sama. Asesmen individual tetap diperlukan untuk mengetahui bagian kehidupan yang benar-benar terdampak.
NICE merekomendasikan agar pemeriksaan bipolar mencakup riwayat mood, aktivitas, fungsi personal dan sosial, stresor psikososial, kondisi di antara episode, serta pola kekambuhan. Pada remaja, informasi keluarga dan sekolah dapat menjadi penting, sedangkan pada orang dewasa perhatian dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan, relasi, dan kemandirian. Pada usia lanjut, kondisi fisik dan kognitif perlu mendapatkan perhatian tambahan.
Psikolog tidak hanya bertanya apakah gejala tertentu tersedia atau tidak. Pertanyaan yang lebih bermakna adalah:
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut kemudian dibaca bersama riwayat kehidupan dan konteks perkembangan individu. Instrumen psikologis dapat menjadi salah satu sumber informasi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar identifikasi. Bila terdapat kebutuhan pemeriksaan medis, psikolog dapat merujuk atau berkolaborasi dengan profesional kesehatan yang sesuai.
Pada akhirnya, memahami penyakit gangguan bipolar berdasarkan usia bukan berarti membuat daftar gejala yang berbeda untuk remaja, dewasa, dan usia lanjut. Inti episode tetap berkaitan dengan perubahan mood, energi, aktivitas, tidur, pikiran, dan fungsi, tetapi konteks kehidupan menentukan bagaimana dampaknya terlihat. NIMH menegaskan bahwa gejala sering mulai pada akhir remaja atau awal dewasa, sementara WHO menunjukkan bahwa bipolar juga ditemukan pada kelompok usia lain.
Pendekatan psikologis yang baik karena itu mempertimbangkan tahap perkembangan, tuntutan kehidupan, kondisi dasar, hubungan sosial, dan fungsi individu. Remaja tidak seharusnya dianggap bipolar hanya karena emosinya berubah, sedangkan perubahan baru pada usia lanjut juga tidak boleh langsung dipandang sebagai bipolar tanpa mempertimbangkan faktor lain. Dengan melihat usia sebagai konteks, asesmen dapat menjadi lebih tepat sekaligus tetap menghargai pengalaman unik setiap individu.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.