Ada kalanya seseorang dengan bipolar terlihat stabil dalam waktu cukup lama, tetapi kemudian mengalami perubahan suasana hati yang signifikan. Kondisi seperti ini sering memunculkan pertanyaan: apa yang sebenarnya menyebabkan bipolar dan mengapa episodenya dapat kembali muncul? Memahami penyebab bipolar disorder menjadi lebih mudah ketika kita membedakan antara faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap gangguan dan kondisi yang dapat memicu sebuah episode.
Bipolar disorder atau gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati, energi, aktivitas, dan proses berpikir. Kondisi ini dapat melibatkan episode mania atau hipomania dan episode depresi yang berbeda dari perubahan emosi sehari-hari. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa faktor biologis, psikologis, sosial, dan struktural dapat berkontribusi terhadap munculnya serta perjalanan bipolar disorder.
Istilah faktor risiko mengacu pada karakteristik atau kondisi yang berhubungan dengan meningkatnya kemungkinan seseorang mengalami suatu gangguan. Faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti akan mengalami bipolar disorder. Seseorang bahkan dapat memiliki beberapa faktor risiko sekaligus tanpa pernah mengalami episode mania maupun depresi bipolar.
Pemicu memiliki arti yang berbeda karena biasanya merujuk pada kejadian atau perubahan yang dapat mendahului munculnya episode pada seseorang yang sudah memiliki kerentanan. Pemicu dapat berbeda antara satu individu dan individu lainnya serta tidak selalu ditemukan pada setiap episode. Dengan demikian, sebuah peristiwa dapat berhubungan dengan munculnya episode tanpa harus dianggap sebagai penyebab dasar gangguan bipolar.
Faktor genetik merupakan salah satu faktor risiko bipolar yang paling banyak didukung penelitian. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa bipolar disorder sering ditemukan dalam keluarga dan seseorang dengan orang tua atau saudara kandung yang mengalami bipolar mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Namun, banyak orang dengan riwayat keluarga tersebut tidak pernah mengembangkan bipolar disorder.
Tidak ada pula satu gen yang bekerja sebagai penyebab tunggal bipolar. Banyak gen diperkirakan berkontribusi terhadap kerentanan, sedangkan faktor lain menentukan bagaimana risiko tersebut berkembang sepanjang kehidupan. Penelitian pada kembar identik juga menunjukkan bahwa satu kembar dapat mengalami bipolar sementara kembar lainnya tidak, sehingga faktor genetik jelas bukan satu-satunya penjelasan.
Selain genetik, penelitian mempelajari struktur dan fungsi otak pada individu dengan bipolar disorder. NIMH menyebut terdapat sejumlah perbedaan pada struktur maupun fungsi otak antara orang dengan bipolar dan mereka yang tidak mengalami gangguan tersebut. Temuan ini membantu memahami dasar biologis bipolar, tetapi belum dapat digunakan sendirian untuk mendiagnosis seseorang.
Faktor biologis tersebut menunjukkan bahwa perubahan suasana hati pada bipolar bukan sekadar persoalan seseorang kurang mampu mengendalikan emosi. Sistem yang berkaitan dengan energi, tidur, aktivitas, perhatian, dan pengaturan emosi juga terlibat dalam kondisi ini. Namun, hubungan biologis tersebut tetap perlu dilihat bersama pengalaman psikologis dan lingkungan individu.
Stres sering disebut sebagai penyebab bipolar, padahal penjelasan yang lebih tepat adalah bahwa stres dapat menjadi pemicu atau faktor yang memperburuk kondisi pada sebagian orang. WHO menyatakan bahwa situasi sulit atau peristiwa yang mengubah kehidupan dapat memicu maupun memperburuk gejala bipolar. Contohnya antara lain kehilangan orang terdekat, mengalami kekerasan, atau berakhirnya hubungan penting.
Hal tersebut bukan berarti setiap orang yang mengalami stres berat akan mengalami bipolar. Respons manusia terhadap tekanan sangat beragam dan dipengaruhi kerentanan biologis, pengalaman sebelumnya, dukungan sosial, serta kondisi psikologis masing-masing. Inilah alasan stres lebih tepat dipahami sebagai bagian dari interaksi banyak faktor.
Hubungan tidur dengan bipolar cukup menarik karena penurunan kebutuhan tidur merupakan salah satu karakteristik yang dapat ditemukan pada episode mania. Seseorang mungkin hanya tidur beberapa jam tetapi tetap merasa sangat berenergi, aktif, dan tidak merasa lelah seperti biasanya. WHO mencantumkan berkurangnya kebutuhan tidur sebagai salah satu gejala yang dapat terjadi bersama perubahan mood dan aktivitas pada mania.
Namun, kurang tidur dan berkurangnya kebutuhan tidur tidak selalu merupakan hal yang sama. Orang yang sengaja begadang biasanya tetap merasakan kelelahan, sedangkan seseorang dalam episode mania dapat merasa tidak membutuhkan banyak tidur. Perbedaan tersebut penting karena satu malam kurang tidur saja tentu tidak cukup untuk menyimpulkan adanya bipolar disorder.
Dalam memahami penyebab bipolar disorder, perubahan rutinitas juga perlu diperhatikan. Jadwal kerja yang berubah drastis, aktivitas sangat padat, perjalanan panjang, atau pola tidur yang semakin tidak teratur dapat mengganggu keseimbangan keseharian seseorang. Pada individu yang memiliki bipolar, menjaga tidur dan aktivitas tetap teratur dapat menjadi bagian penting dari pengelolaan kondisi.
WHO menyebut pola tidur teratur, aktivitas fisik, pola makan sehat, pengurangan stresor, dan pemantauan suasana hati sebagai perubahan gaya hidup yang dapat bermanfaat bagi orang dengan bipolar. Langkah tersebut bukan pengganti pengobatan, tetapi dapat mendukung upaya mempertahankan kestabilan. Rutinitas juga membantu seseorang mengenali perubahan dari kondisi biasanya dengan lebih cepat.
Penggunaan alkohol maupun zat tertentu perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi onset dan perjalanan bipolar disorder. WHO menyatakan bahwa alkohol dan penggunaan obat atau zat dapat berpengaruh terhadap bagaimana gangguan tersebut berkembang. Kondisi ini menjadi semakin kompleks apabila penggunaan zat terjadi bersamaan dengan masalah tidur, impulsivitas, atau tekanan psikologis.
Penggunaan zat juga tidak selalu berarti menjadi penyebab awal bipolar. Pada sebagian individu, zat mungkin digunakan untuk menghadapi emosi yang sulit, sedangkan pada kondisi lain penggunaannya dapat memperburuk gejala atau mengganggu pemulihan. Karena itu, informasi mengenai alkohol, obat, dan zat lain perlu dibicarakan secara terbuka ketika seseorang menjalani evaluasi profesional.
Trauma merupakan pengalaman yang dapat memberikan tekanan psikologis besar dan berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan mental. NIMH menjelaskan bahwa orang dengan risiko genetik bipolar mungkin lebih mungkin mengalami gangguan setelah trauma atau peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Meski demikian, trauma tetap tidak dapat disebut sebagai penyebab tunggal karena tidak semua orang yang mengalami trauma kemudian mengalami bipolar disorder.
Cara seseorang merespons trauma dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, dukungan sosial, pengalaman sebelumnya, dan kondisi psikologis. Oleh sebab itu, tenaga profesional biasanya melihat trauma sebagai bagian dari keseluruhan riwayat individu. Mencari satu pengalaman untuk dijadikan “akar masalah” justru dapat menyederhanakan kondisi yang jauh lebih kompleks.
Pemicu bipolar tidak selalu sama pada setiap orang. Seseorang mungkin lebih sensitif terhadap kehilangan waktu tidur, sementara individu lain melihat perubahan mood muncul setelah tekanan besar atau perubahan rutinitas. Mengenali pola pribadi dapat membantu seseorang lebih sadar ketika mulai terjadi perubahan yang tidak biasa.
Pemantauan suasana hati, pola tidur, energi, aktivitas, dan kejadian penting dapat membantu melihat pola dari waktu ke waktu. WHO bahkan memasukkan pemantauan suasana hati sebagai bagian dari strategi gaya hidup yang dapat mendukung pengelolaan bipolar. Catatan tersebut juga dapat menjadi informasi tambahan yang berguna ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental.
Perubahan yang mengarah pada mania dapat berupa suasana hati yang sangat meningkat atau mudah tersinggung, peningkatan energi, bicara lebih cepat, pikiran berpindah dengan cepat, mudah terdistraksi, berkurangnya kebutuhan tidur, atau perilaku yang lebih berisiko. Tanda tersebut perlu dilihat berdasarkan perubahan dari kondisi normal seseorang, bukan sekadar berdasarkan satu perilaku. Episode mania juga dapat menimbulkan gangguan serius dalam pekerjaan, hubungan, maupun keselamatan individu.
Mengenali tanda awal bukan berarti melakukan diagnosis sendiri. Beberapa kondisi lain, penggunaan zat, atau keadaan kesehatan tertentu dapat menimbulkan gejala yang tampak serupa. Evaluasi profesional tetap diperlukan untuk menentukan apakah perubahan tersebut berkaitan dengan bipolar atau kondisi lainnya.
Memahami penyebab bipolar disorder berarti membedakan kerentanan yang mendasari gangguan dari berbagai keadaan yang dapat memicu episode. Faktor genetik dan biologis dapat meningkatkan kerentanan, sedangkan stres, trauma, gangguan tidur, perubahan rutinitas, serta penggunaan zat dapat berpengaruh terhadap muncul atau memburuknya episode pada sebagian individu. Tidak ada satu faktor yang dapat digunakan sendirian untuk menjelaskan seluruh pengalaman bipolar.
Pemahaman terhadap faktor risiko dan pemicu dapat membantu individu serta keluarga mengenali perubahan lebih awal tanpa menyalahkan diri sendiri. WHO menegaskan bahwa meskipun episode dapat berulang, pemulihan tetap mungkin dan tersedia pilihan perawatan yang efektif berupa kombinasi obat serta intervensi psikologis dan psikososial. Mengenali pola pribadi, mempertahankan rutinitas, dan memperoleh penanganan profesional merupakan bagian penting dalam menjaga kestabilan kondisi.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.