Ketika mendengar seseorang mengalami gangguan bipolar, pertanyaan “apa penyebabnya?” sering menjadi salah satu hal pertama yang muncul. Kita mungkin mencoba mencari jawabannya pada riwayat keluarga, pengalaman traumatis, tekanan pekerjaan, atau perubahan tertentu dalam kehidupan. Namun, gangguan bipolar tidak berkembang melalui satu jalur yang sama pada setiap orang.
Pembahasan mengenai penyebab bipolar perlu dimulai dengan satu hal penting: ilmu pengetahuan saat ini belum menemukan satu penyebab pasti. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa kombinasi berbagai faktor kemungkinan berkontribusi, termasuk genetika, struktur dan fungsi otak, serta pengalaman kehidupan. WHO juga menyebut faktor biologis, psikologis, sosial, dan struktural dapat memengaruhi munculnya, perjalanan, serta luaran gangguan bipolar.
Istilah multifaktorial berarti suatu kondisi terbentuk melalui kontribusi banyak faktor dan bukan satu penyebab sederhana. Sebuah faktor dapat meningkatkan kerentanan tanpa secara otomatis menghasilkan gangguan. Bahkan faktor risiko yang ditemukan dalam penelitian sering kali hanya memberikan sebagian kecil penjelasan mengenai mengapa bipolar muncul pada individu tertentu.
Tinjauan ilmiah mengenai epidemiologi dan faktor risiko bipolar menunjukkan bahwa berbagai faktor genetik dan lingkungan memang telah diidentifikasi. Namun, kontribusi setiap faktor secara individual sering relatif kecil dan banyak faktor tersebut juga ditemukan pada gangguan mental lainnya. Inilah sebabnya keberadaan satu faktor risiko tidak cukup untuk memprediksi siapa yang akan mengalami bipolar.
Bipolar sering ditemukan pada beberapa anggota dalam satu keluarga. NIMH menjelaskan bahwa orang dengan orang tua atau saudara kandung yang mengalami bipolar memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi tersebut dibandingkan orang tanpa riwayat keluarga serupa. Meski begitu, banyak orang dengan riwayat keluarga bipolar tidak pernah mengalami gangguan tersebut.
Penelitian genetika terbaru semakin menunjukkan bahwa bipolar tidak disebabkan oleh satu “gen bipolar”. Studi genomik berskala besar yang diterbitkan pada 2025 menganalisis 158.036 individu dengan bipolar dan sekitar 2,8 juta kelompok kontrol, kemudian menemukan 298 lokasi genom yang memiliki hubungan signifikan dengan gangguan tersebut. Penelitian tersebut menggambarkan bipolar sebagai kondisi dengan arsitektur genetik yang sangat kompleks dan melibatkan banyak variasi gen.
Penting memahami bahwa mempunyai faktor genetik tidak sama dengan mempunyai kepastian akan mengalami bipolar. NIMH mencatat bahwa bahkan pada kembar identik, salah satu individu dapat mengalami bipolar sementara saudara kembarnya tidak. Fakta tersebut menunjukkan bahwa faktor di luar genetika ikut berperan dalam perkembangan kondisi.
Otak menjadi salah satu bidang penelitian penting dalam memahami bipolar. Beberapa penelitian menemukan perbedaan struktur dan fungsi otak antara kelompok orang dengan bipolar dan orang yang tidak mengalami gangguan tersebut. Peneliti berharap temuan seperti ini dapat membantu menjelaskan mekanisme gangguan dan suatu hari mendukung pemilihan terapi yang lebih individual.
Namun, perbedaan tersebut belum dapat dijadikan pemeriksaan diagnosis yang berdiri sendiri. Tidak terdapat satu pola pemindaian otak yang dapat memastikan seseorang memiliki bipolar hanya melalui MRI atau pemeriksaan serupa. Diagnosis masih membutuhkan evaluasi terhadap gejala, riwayat episode, durasi, frekuensi, riwayat keluarga, dan dampaknya terhadap kehidupan.
Membicarakan penyebab bipolar juga tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari pengalaman kehidupan. NIMH menyebut orang dengan risiko genetik bipolar mungkin lebih rentan mengalami kondisi tersebut setelah trauma atau peristiwa kehidupan yang penuh tekanan. Hubungan seperti ini menggambarkan bagaimana faktor biologis dan lingkungan dapat bekerja bersama.
Namun, trauma tidak boleh dianggap sebagai penjelasan untuk semua kasus bipolar. Banyak orang mengalami peristiwa traumatis tetapi tidak pernah mengalami bipolar, sedangkan sebagian orang dengan bipolar tidak memiliki satu pengalaman traumatis tertentu yang dapat dianggap sebagai penyebabnya. Oleh karena itu, pengalaman hidup lebih tepat dipandang sebagai bagian dari jaringan faktor risiko.
Tekanan pekerjaan, masalah finansial, kehilangan orang terdekat, kekerasan, atau berakhirnya hubungan dapat menghasilkan stres yang cukup besar. WHO menyebut keadaan yang merugikan dan peristiwa yang mengubah kehidupan dapat memicu atau memperburuk gejala bipolar pada sebagian individu. Dampak tersebut tidak selalu sama karena kemampuan adaptasi, dukungan sosial, dan tingkat kerentanan setiap orang berbeda.
Hal ini juga menjelaskan mengapa stres tidak tepat disebut sebagai satu-satunya penyebab bipolar. Sebagian besar manusia pernah mengalami tekanan hidup tanpa mengalami mania atau hipomania. Dalam konteks bipolar, stres lebih mungkin menjadi salah satu faktor yang berinteraksi dengan sistem biologis dan psikologis yang sudah rentan.
Perubahan tidur sangat sering dibicarakan dalam gangguan bipolar karena kebutuhan tidur dapat berubah selama episode mood. Pada mania, seseorang dapat tidur jauh lebih sedikit tetapi tetap merasa sangat berenergi. Sebaliknya, episode depresi dapat disertai insomnia atau perubahan durasi tidur.
Tinjauan sistematis terbaru mengenai tidur dan bipolar menunjukkan bahwa variabel tidur memang memiliki hubungan dengan perubahan mood, meskipun hasil penelitian belum selalu konsisten untuk setiap ukuran tidur. Ini memperkuat pandangan bahwa tidur merupakan bagian penting dalam memahami perjalanan bipolar, tetapi bukan penyebab tunggal yang berdiri sendiri. Hubungan antara tidur dan mood kemungkinan juga berjalan dua arah.
Inilah bagian yang sering membingungkan. Kurang tidur dapat mendahului perubahan mood pada sebagian orang, tetapi berkurangnya kebutuhan tidur juga merupakan salah satu tanda episode mania yang sedang berkembang. Karena itu, urutan waktu dan pola perubahan menjadi penting untuk diperhatikan.
Satu malam begadang tentu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seseorang mengalami bipolar. Yang lebih bermakna adalah perubahan yang jelas dibandingkan kondisi normal individu dan terjadi bersama perubahan lain pada energi, aktivitas, cara berpikir, atau perilaku. Pola tersebut perlu dilihat dalam konteks keseluruhan.
WHO menyebut penggunaan alkohol atau narkoba dapat memengaruhi onset dan perjalanan gangguan bipolar. Zat tertentu juga dapat memengaruhi pola tidur, aktivitas, impulsivitas, dan suasana hati sehingga gambaran klinis menjadi lebih kompleks. Namun, hubungan antara penggunaan zat dan bipolar dapat berjalan dalam lebih dari satu arah.
Pada sebagian orang, penggunaan zat mungkin telah muncul sebelum episode mood. Pada orang lain, penggunaan zat justru berkembang setelah masalah psikologis muncul sebagai cara menghadapi kesulitan yang sedang dialami. Karena itu, tenaga profesional biasanya perlu mengetahui urutan waktu penggunaan zat dan perubahan gejala untuk memahami kondisinya secara lebih akurat.
Kondisi sosial juga dapat memengaruhi kesehatan mental. WHO menjelaskan bahwa keadaan individual, keluarga, komunitas, dan struktural dapat bekerja bersama dalam melindungi maupun mengganggu kesehatan mental. Kemiskinan, kekerasan, ketidaksetaraan, dan berbagai kondisi kehidupan yang tidak menguntungkan secara umum dapat meningkatkan kerentanan terhadap masalah kesehatan mental.
Namun, lingkungan sosial juga dapat bersifat protektif. WHO menyebut pekerjaan dengan kondisi yang baik dan dukungan serta penyesuaian yang tepat dapat membantu proses pemulihan orang dengan bipolar melalui peningkatan fungsi, kualitas hidup, dan harga diri. Dengan demikian, lingkungan tidak hanya perlu dibicarakan sebagai sumber risiko, tetapi juga sebagai sumber perlindungan.
Hal yang membuat bipolar sulit dijelaskan adalah berbagai faktor tersebut tidak berjalan secara terpisah. Stres dapat mengganggu tidur, perubahan tidur dapat memengaruhi regulasi emosi, masalah mood dapat memengaruhi hubungan, sedangkan konflik sosial kemudian dapat menambah stres. Hubungan semacam ini dapat membentuk pola yang berbeda pada setiap individu.
Genetik pun dapat berinteraksi dengan pengalaman kehidupan. NIMH menjelaskan bahwa variasi genetik umumnya tidak secara langsung menyebabkan gangguan mental dan perlu dilihat bersama faktor biologis maupun lingkungan. Karena itu, penelitian kesehatan mental semakin mencoba memahami hubungan antarfaktor daripada hanya mencari satu variabel yang dianggap sebagai penyebab.
Mempunyai anggota keluarga dengan bipolar, mengalami stres berat, atau mempunyai pola tidur yang tidak teratur tidak berarti seseorang pasti mengalami gangguan bipolar. Faktor-faktor tersebut hanya memberikan informasi mengenai kemungkinan risiko atau konteks klinis. Diagnosis tidak dapat ditentukan dengan menghitung berapa banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang.
NIMH menjelaskan bahwa diagnosis bipolar didasarkan pada keparahan, durasi, dan frekuensi gejala, pengalaman sepanjang kehidupan, serta riwayat keluarga. Pemeriksaan medis juga dapat dilakukan untuk memastikan gejala tidak berasal dari kondisi kesehatan lainnya. Karena itu, diagnosis memerlukan evaluasi profesional dan bukan sekadar pemeriksaan daftar faktor risiko.
Walaupun pengetahuan mengenai bipolar berkembang pesat, banyak pertanyaan masih terbuka. NIMH saat ini terus mendukung penelitian mengenai faktor biologis, genetik, dan lingkungan yang berkontribusi terhadap bipolar serta bagaimana faktor tersebut memengaruhi kapan gejala muncul dan berubah dari waktu ke waktu. Penelitian aktivitas otak juga terus dikembangkan untuk mencari pola yang dapat membantu memprediksi perjalanan gejala.
Temuan genomik tahun 2025 merupakan contoh perkembangan tersebut. Walaupun ratusan lokasi genetik berhasil ditemukan, penelitian itu masih menyatakan sebagian besar determinan genetik yang mendasari bipolar belum diketahui. Artinya, semakin banyak yang dipelajari, semakin jelas pula bahwa bipolar tidak dapat direduksi menjadi satu mekanisme sederhana.
Pada akhirnya, memahami penyebab bipolar berarti menerima bahwa kemunculan gangguan ini kemungkinan melibatkan interaksi banyak faktor. Genetik memberikan kontribusi penting, sementara fungsi otak, pengalaman kehidupan, stres, pola tidur, penggunaan zat, dan lingkungan sosial dapat ikut membentuk kerentanan maupun perjalanan kondisi. WHO dan NIMH sama-sama menegaskan bahwa penyebab pasti bipolar belum diketahui dan berbagai faktor dapat bekerja bersama.
Cara pandang tersebut juga membantu mengurangi kecenderungan menyalahkan individu atau keluarganya. Bipolar bukan bukti seseorang kurang kuat menghadapi kehidupan, bukan semata akibat pola asuh, dan bukan pula sesuatu yang dapat diramalkan hanya dari genetika. Memahami kompleksitas faktor yang terlibat justru memberikan gambaran yang lebih ilmiah, hati-hati, dan manusiawi tentang bagaimana gangguan bipolar dapat muncul.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.