Kenali 5 Pola yang Sering Mengecoh dalam Tes Psikotes Kerja Deret Angka

20 Oct 2026 Ardi Almaqassary Psikotes Kerja 2x dibaca
Kenali 5 Pola yang Sering Mengecoh dalam Tes Psikotes Kerja Deret Angka

Sudah yakin menemukan jawaban soal deret angka, tetapi ternyata pilihan Anda salah? Situasi ini mungkin pernah dialami ketika berlatih psikotes kerja. Angkanya terlihat sederhana, tetapi hubungan antarbilangannya tidak selalu mengikuti aturan yang pertama kali terpikirkan.

Kesalahan dalam mengerjakan deret angka sering terjadi bukan karena seseorang tidak bisa berhitung, melainkan karena terlalu cepat menyimpulkan pola. Ada deret yang menggunakan dua aturan sekaligus, perubahan selisih, hingga hubungan antarangka yang tidak langsung terlihat. Dengan mempelajari tes psikotes kerja deret angka, Anda dapat mengenali pola yang sering mengecoh sekaligus memahami strategi untuk menentukan jawaban secara lebih tepat.

Mengapa Soal Deret Angka Bisa Mengecoh?

Deret angka merupakan bentuk tugas penalaran numerik yang meminta peserta menemukan keteraturan dalam rangkaian bilangan. Peserta perlu mengamati hubungan antarangka, membentuk dugaan mengenai aturan yang digunakan, kemudian menerapkannya untuk menentukan bilangan berikutnya. Proses tersebut tidak selalu membutuhkan perhitungan rumit.

Dalam psikologi kognitif, aktivitas menemukan aturan dari sejumlah contoh berkaitan dengan penalaran induktif atau inductive reasoning. Proses ini melibatkan kemampuan mengenali hubungan, membandingkan informasi, dan menguji kemungkinan pola. Memori kerja (working memory) juga membantu mempertahankan beberapa angka serta hasil perhitungan sementara.

Salah satu penyebab kesalahan adalah kecenderungan memilih aturan yang langsung terlihat tanpa memeriksa seluruh rangkaian. Misalnya, peserta menemukan bahwa dua angka pertama memiliki selisih tiga, lalu menganggap seluruh deret menggunakan penambahan tiga. Padahal, selisih berikutnya mungkin berubah secara teratur.

Karena itu, ketelitian dalam menemukan pola sama pentingnya dengan kemampuan berhitung. Aturan yang dipilih harus mampu menjelaskan seluruh angka yang diberikan. Berikut lima pola yang perlu dikenali ketika berlatih.

5 Pola Deret Angka yang Sering Membuat Peserta Terkecoh

1. Pola Selisih Bertingkat

Perhatikan deret berikut:

2, 5, 9, 14, 20, ...

Sekilas, deret tersebut terlihat seperti penjumlahan biasa. Namun, angka yang ditambahkan tidak selalu sama karena selisihnya adalah 3, 4, 5, dan 6. Selisih tersebut bertambah satu secara berurutan.

Jawaban: 27. Setelah selisih enam, penambahan berikutnya adalah tujuh sehingga 20 + 7 = 27. Kesalahan yang sering terjadi adalah mencari satu nilai penjumlahan tetap tanpa memperhatikan perubahan antarbilangan.

Untuk mengenali pola ini, hitung selisih dari setiap pasangan angka berdekatan. Setelah memperoleh deret selisih, periksa apakah terdapat penambahan, pengurangan, atau hubungan lain yang teratur. Cara tersebut membantu menemukan pola yang tidak terlihat langsung dari bilangan awal.

2. Pola Dua Deret yang Berselang-seling

Perhatikan rangkaian berikut:

3, 30, 6, 27, 9, 24, 12, ...

Jika seluruh angka dibandingkan secara berurutan, perubahan nilainya terlihat tidak konsisten. Namun, pola menjadi lebih jelas ketika angka dipisahkan berdasarkan posisi ganjil dan genap. Ternyata, terdapat dua deret berbeda dalam satu rangkaian.

Bilangan pada posisi ganjil membentuk deret 3, 6, 9, dan 12, yang selalu bertambah tiga. Sementara itu, bilangan pada posisi genap membentuk deret 30, 27, dan 24, yang selalu berkurang tiga. Kedua pola tersebut berjalan secara bergantian.

Jawaban: 21. Bilangan berikutnya menempati posisi genap sehingga mengikuti pola pengurangan tiga dari 24 menjadi 21. Peserta yang hanya memeriksa hubungan antara dua angka berdekatan mungkin kesulitan menemukan aturan sebenarnya.

3. Pola Operasi Bergantian

Perhatikan deret angka berikut:

3, 6, 8, 16, 18, 36, ...

Pada awalnya, angka tiga berubah menjadi enam melalui perkalian dua. Namun, angka berikutnya adalah delapan sehingga aturan perkalian tersebut tampak tidak berlaku. Kesulitannya muncul karena deret menggunakan dua operasi yang dilakukan secara bergantian.

Urutan operasinya adalah ×2, +2, ×2, +2, dan ×2. Artinya, setiap hasil perkalian dua selalu diikuti penambahan dua sebelum kembali dikalikan. Pola ini perlu diperiksa berdasarkan urutan operasi, bukan berdasarkan selisih tetap.

Jawaban: 38. Setelah 18 dikalikan dua menjadi 36, operasi berikutnya adalah penambahan dua. Karena itu, 36 + 2 menghasilkan 38 sebagai kelanjutan deret.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penggunaan lebih dari satu operasi tidak selalu membuat soal membutuhkan rumus panjang. Peserta cukup mengenali urutan operasi yang berulang. Kesalahan biasanya muncul ketika satu operasi dianggap berlaku untuk seluruh bilangan.

4. Pola Perkalian dengan Faktor yang Berubah

Tidak seluruh deret perkalian menggunakan faktor yang tetap. Pada beberapa soal, bilangan pengalinya justru berubah mengikuti aturan tertentu. Kondisi ini dapat mengecoh peserta yang hanya terbiasa menemukan pola perkalian dua atau tiga.

Perhatikan contoh berikut:

2, 6, 24, 120, 720, ...

Hubungan antarbilangannya adalah 2 × 3 = 6, kemudian 6 × 4 = 24, 24 × 5 = 120, dan 120 × 6 = 720. Faktor pengali meningkat satu pada setiap tahapan. Deret tersebut juga berkaitan dengan pola faktorial.

Jawaban: 5.040. Angka berikutnya diperoleh melalui 720 × 7 = 5.040. Kunci menyelesaikan pola ini adalah memeriksa hasil pembagian antara dua angka berdekatan untuk mengetahui perubahan faktor pengalinya.

Ketika berlatih tes psikotes kerja deret angka, perhatikan bahwa bilangan yang meningkat cepat belum tentu menggunakan pola penjumlahan. Cobalah membagi angka berikutnya dengan angka sebelumnya ketika selisihnya semakin besar. Hasil pembagian dapat membantu memperlihatkan keteraturan yang sebelumnya tersembunyi.

5. Pola Penjumlahan Dua Bilangan Sebelumnya

Pola terakhir terlihat sederhana, tetapi sering mengecoh karena tidak menggunakan satu bilangan awal sebagai dasar seluruh operasi. Setiap angka baru justru diperoleh dari hubungan antara dua angka sebelumnya. Salah satu contoh yang terkenal adalah deret dengan aturan mirip Fibonacci.

Perhatikan rangkaian berikut:

1, 2, 3, 5, 8, 13, ...

Bilangan ketiga diperoleh dari 1 + 2 = 3, kemudian 2 + 3 = 5. Hubungan tersebut berlanjut melalui 3 + 5 = 8 dan 5 + 8 = 13. Setiap angka merupakan hasil penjumlahan dua bilangan yang tepat mendahuluinya.

Jawaban: 21. Dua bilangan terakhir adalah 8 dan 13 sehingga hasil penjumlahannya menjadi 21. Pola ini berbeda dari deret selisih tetap karena membutuhkan perhatian terhadap dua angka sekaligus.

Kelima contoh tersebut menunjukkan bahwa deret angka dapat disusun menggunakan hubungan yang sangat beragam. Sebagian menggunakan perubahan selisih, sedangkan lainnya melibatkan posisi, operasi bergantian, atau hubungan rekursif. Karena itu, peserta perlu memeriksa lebih dari satu kemungkinan sebelum menentukan jawaban.

Cara Menghindari Kesalahan saat Mengerjakan Deret Angka

Langkah pertama adalah memeriksa hubungan angka secara berurutan tanpa langsung menetapkan satu pola. Hitung selisihnya terlebih dahulu, kemudian periksa apakah terdapat perkalian atau pembagian tertentu. Jika belum ditemukan keteraturan, coba pisahkan angka pada posisi ganjil dan genap.

Langkah kedua adalah menguji aturan terhadap seluruh bilangan yang tersedia. Pola yang hanya cocok pada dua angka pertama belum tentu menjadi aturan yang dimaksud. Semakin banyak angka yang dapat dijelaskan secara konsisten, semakin kuat dasar untuk memilih pola tersebut.

Seimbangkan Kecepatan dan Ketepatan

Dalam psikologi kognitif, terdapat konsep speed-accuracy trade-off, yaitu hubungan antara kecepatan dan ketepatan respons. Ketika seseorang terlalu menekankan kecepatan, risiko kesalahan dapat meningkat pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, latihan sebaiknya dimulai dengan memahami aturan sebelum menargetkan waktu pengerjaan yang lebih singkat.

Gunakan latihan bertahap dan catat pola yang paling sering menyebabkan kesalahan. Setelah menyelesaikan soal, coba jelaskan aturan menggunakan kalimat sendiri tanpa melihat pembahasan. Cara ini dapat membantu mengetahui apakah Anda benar-benar memahami pola atau hanya mengingat jawabannya.

Apakah Kemampuan Deret Angka Menentukan Hasil Psikotes?

Keberhasilan mengerjakan latihan deret angka tidak otomatis menjamin hasil tinggi pada psikotes yang sebenarnya. Setiap instrumen memiliki rancangan, tingkat kesulitan, dan prosedur penilaian berbeda. Selain itu, kemampuan penalaran numerik hanya merupakan salah satu aspek yang mungkin diperiksa dalam seleksi kerja.

Dalam psikometri, hasil pengukuran perlu ditafsirkan berdasarkan bukti validitas dan reliabilitas yang sesuai. Validitas berkaitan dengan dukungan ilmiah terhadap interpretasi skor untuk tujuan tertentu, sedangkan reliabilitas berkaitan dengan konsistensi atau ketepatan pengukuran. Soal latihan sederhana tidak dapat menggantikan pemeriksaan menggunakan instrumen terstandar.

Meski demikian, latihan tetap bermanfaat untuk membangun pemahaman terhadap berbagai hubungan bilangan. Peserta dapat mengenali kesalahan dan mengembangkan strategi yang lebih sistematis. Proses tersebut membantu meningkatkan kesiapan menghadapi variasi persoalan numerik.

Pahami Polanya, Jangan Hanya Menghafal Jawaban

Lima pola deret angka yang telah dibahas menunjukkan bahwa kesulitan soal tidak selalu berasal dari perhitungan yang rumit. Sering kali, tantangannya justru terletak pada kemampuan menemukan aturan yang tidak langsung terlihat. Memahami selisih bertingkat, deret berselang-seling, operasi bergantian, perkalian bertahap, dan hubungan antarbilangan dapat membantu memperluas strategi pengerjaan.

Pada akhirnya, kemampuan mengenali pola berkembang melalui latihan yang disertai evaluasi kesalahan. Jangan terburu-buru menentukan jawaban hanya karena menemukan satu hubungan yang terlihat cocok. Dengan mempelajari tes psikotes kerja deret angka secara terarah, Anda dapat melatih penalaran numerik, meningkatkan ketelitian, dan menghadapi soal deret angka dengan persiapan yang lebih matang.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami