Mencari kandidat yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan pendidikan atau pengalaman. Cara seseorang berkomunikasi, merespons tekanan, menghadapi perubahan, dan bekerja bersama orang lain juga dapat menjadi informasi yang menarik untuk dipertimbangkan dalam proses asesmen.
DISC psikologi merupakan pendekatan yang dapat digunakan untuk menggambarkan kecenderungan perilaku seseorang melalui pola respons terhadap sejumlah pernyataan. Dalam konteks pekerjaan, informasi tersebut dapat membantu memberikan perspektif mengenai gaya perilaku kandidat ketika menghadapi situasi tertentu.
Penggunaan DISC dalam seleksi bukan berarti perusahaan dapat mengetahui seluruh karakter seseorang hanya melalui satu tes. Hasilnya lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu sumber informasi yang kemudian dipertimbangkan bersama data lain yang relevan dengan posisi yang sedang diisi.
Psikotes DISC merupakan asesmen yang menggunakan kerangka perilaku untuk melihat kecenderungan individu dalam merespons lingkungan. Peserta biasanya dihadapkan pada sejumlah pernyataan yang menggambarkan cara bertindak, berkomunikasi, mengambil keputusan, atau menyelesaikan pekerjaan.
Format pengerjaan dapat berbeda antara satu instrumen dengan instrumen lainnya. Ada alat yang meminta peserta memilih pernyataan yang paling sesuai dan paling tidak sesuai, sementara instrumen lain dapat menggunakan format respons yang berbeda.
Karena itu, peserta sebaiknya mengikuti instruksi dari alat yang sedang digunakan. Contoh soal yang ditemukan sebelumnya dapat membantu mengenali bentuk pertanyaan, tetapi tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan jawaban tertentu.
Seleksi karyawan pada dasarnya berusaha memperoleh gambaran mengenai kesesuaian kandidat dengan kebutuhan pekerjaan. Kemampuan teknis memang penting, tetapi beberapa posisi juga membutuhkan pola komunikasi, cara bekerja sama, atau respons tertentu terhadap lingkungan.
Informasi dari DISC dapat memberikan perspektif tambahan mengenai kecenderungan tersebut. Misalnya, profil perilaku dapat menjadi bahan untuk memahami bagaimana kandidat cenderung berinteraksi atau menghadapi tuntutan dalam lingkungan kerja.
Meski demikian, kebutuhan setiap jabatan berbeda. Profil perilaku yang relevan untuk posisi yang banyak berhubungan dengan pelanggan belum tentu sama dengan kebutuhan pekerjaan yang menuntut ketelitian dan kepatuhan terhadap prosedur.
Kerangka DISC umumnya membahas empat dimensi, yaitu Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness. Keempatnya digunakan untuk menggambarkan kecenderungan perilaku dari sudut yang berbeda.
Dominance berkaitan dengan cara menghadapi tantangan dan mengambil tindakan. Influence berhubungan dengan interaksi dan komunikasi, sedangkan Steadiness menggambarkan kecenderungan terhadap kestabilan dan konsistensi.
Conscientiousness berkaitan dengan ketelitian, standar, dan perhatian terhadap prosedur. Dalam hasil asesmen, seseorang dapat menunjukkan kombinasi beberapa kecenderungan sehingga profilnya tidak selalu dapat diringkas menjadi satu dimensi.
Misalnya seorang kandidat dihadapkan pada situasi ketika target pekerjaan berubah secara mendadak. Beberapa pilihan respons dapat menggambarkan kecenderungan yang berbeda.
Ada individu yang mungkin langsung menentukan langkah baru. Ada yang memilih berdiskusi dengan anggota tim, sementara yang lain ingin memahami perubahan secara lebih rinci sebelum mengambil tindakan.
Situasi seperti ini menunjukkan mengapa DISC tidak sekadar melihat apakah seseorang “bisa” atau “tidak bisa” menghadapi suatu kondisi. Fokusnya adalah pola cara merespons yang muncul dari pilihan peserta.
Sebelum memulai, peserta biasanya diberikan instruksi mengenai cara memilih respons. Instruksi tersebut perlu dibaca secara menyeluruh karena mekanisme setiap instrumen dapat berbeda.
Pada format tertentu, peserta dapat menemukan beberapa pernyataan dalam satu kelompok. Peserta kemudian menentukan pernyataan yang paling menggambarkan dirinya dan yang paling tidak menggambarkan dirinya.
Dalam kondisi seperti ini, peserta perlu membandingkan pilihan yang tersedia. Jika beberapa pernyataan terasa sama-sama sesuai, pertimbangkan perilaku yang paling sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, khususnya ketika berada dalam konteks yang relevan dengan tujuan pemeriksaan.
Hasil dapat ditampilkan melalui grafik, skor, profil, atau uraian mengenai kecenderungan perilaku. Sistem penyajian tersebut bergantung pada instrumen yang digunakan.
Skor tidak seharusnya dibaca seperti nilai ujian sekolah. Tidak ada angka yang secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih baik daripada kandidat lainnya.
Dalam konteks seleksi, hasil biasanya lebih berguna ketika dikaitkan dengan karakteristik pekerjaan. Misalnya, suatu posisi mungkin membutuhkan komunikasi intensif, sementara posisi lain lebih banyak berhubungan dengan prosedur dan ketelitian.
Salah satu informasi yang dapat diperoleh dari asesmen perilaku adalah kecenderungan seseorang dalam menjalankan aktivitas kerja. Misalnya, seseorang mungkin cenderung bergerak cepat ketika memperoleh target, sedangkan orang lain lebih nyaman memahami prosedur sebelum memulai.
Informasi tersebut dapat menjadi bahan untuk memahami kemungkinan gaya kerja kandidat. Namun, gaya kerja bukan hal yang sama dengan kompetensi kerja.
Seorang kandidat dapat memiliki kecenderungan perilaku tertentu tetapi tetap membutuhkan pelatihan untuk menguasai pekerjaan. Sebaliknya, seseorang dengan pengalaman luas dapat memiliki gaya perilaku berbeda namun tetap mampu memenuhi tuntutan jabatan.
Komunikasi menjadi salah satu konteks yang menarik ketika membahas penggunaan DISC. Setiap individu dapat memiliki cara berbeda dalam menyampaikan pendapat, menerima informasi, atau merespons percakapan dengan rekan kerja.
Profil perilaku dapat membantu memberikan bahan diskusi mengenai variasi tersebut. Misalnya, dalam sebuah tim terdapat anggota yang lebih langsung dalam menyampaikan pendapat dan anggota yang lebih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan informasi.
Informasi seperti ini dapat berguna dalam pengembangan kerja sama. Namun, komunikasi tetap dipengaruhi pengalaman, budaya organisasi, hubungan antarindividu, dan situasi yang sedang berlangsung.
Hasil psikotes DISC tidak sebaiknya digunakan sendirian dalam proses seleksi. Wawancara tetap dapat memberikan informasi yang tidak diperoleh dari respons terhadap instrumen.
Melalui wawancara, perekrut dapat menggali pengalaman nyata kandidat, cara menyelesaikan masalah, pencapaian, motivasi, serta pengalaman menghadapi situasi kerja tertentu.
Dengan menggabungkan beberapa sumber informasi, proses seleksi dapat memiliki gambaran kandidat yang lebih luas. DISC dapat berperan sebagai salah satu bagian, bukan keseluruhan proses.
Tes kemampuan digunakan ketika perusahaan ingin memperoleh informasi mengenai kapasitas tertentu, seperti kemampuan numerik, verbal, penalaran, atau kemampuan kognitif lainnya. Sementara itu, DISC lebih berfokus pada kecenderungan perilaku.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan karena mengukur aspek yang berbeda. Dalam proses seleksi, suatu posisi bahkan dapat membutuhkan kombinasi informasi mengenai kemampuan dan perilaku.
Dengan demikian, hasil DISC tidak dapat digunakan untuk menggantikan tes kemampuan ketika kompetensi kognitif memang menjadi bagian penting dari persyaratan jabatan.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah berusaha menebak jawaban yang dianggap paling disukai perusahaan. Kandidat mungkin memilih respons tertentu karena merasa karakter tersebut lebih cocok untuk posisi yang dilamar.
Cara tersebut justru dapat membuat respons kurang menggambarkan kebiasaan sebenarnya. Peserta juga dapat mengalami kebingungan ketika menemukan pernyataan yang sama-sama terasa sesuai.
Pendekatan yang lebih sederhana adalah memahami instruksi, membaca setiap pilihan dengan teliti, lalu menentukan respons berdasarkan perilaku yang paling mendekati diri sendiri.
Penggunaan hasil DISC perlu disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan dan karakteristik jabatan. Informasi yang diperoleh sebaiknya dibaca bersama persyaratan posisi, hasil wawancara, pengalaman, serta data asesmen lain yang relevan.
Pengguna hasil juga perlu memahami instrumen yang digunakan karena tidak semua tes DISC memiliki format dan sistem penskoran yang identik. Pedoman interpretasi dari instrumen tersebut menjadi acuan penting dalam memahami hasil.
Dengan pendekatan seperti ini, DISC dapat digunakan secara lebih proporsional dalam proses asesmen.
Bagi peserta, persiapan yang paling berguna bukan menghafalkan jawaban. Kenali format pengerjaan, baca instruksi dengan baik, dan pahami bahwa pilihan respons sebaiknya menggambarkan perilaku diri.
Peserta juga tidak perlu terlalu memikirkan profil tertentu yang dianggap ideal. Setiap pekerjaan memiliki kebutuhan yang berbeda dan tidak ada satu pola perilaku yang secara otomatis paling tepat untuk semua posisi.
Jika asesmen dilakukan secara online, pastikan perangkat dan koneksi siap agar perhatian dapat difokuskan pada pengerjaan.
DISC memberikan informasi mengenai kecenderungan perilaku dalam kerangka instrumen yang digunakan. Karena itu, hasilnya tidak dapat diperluas menjadi kesimpulan mengenai seluruh kemampuan, kompetensi, atau kondisi psikologis individu.
Selain itu, kualitas interpretasi bergantung pada alat ukur, metode administrasi, sistem penskoran, serta pedoman yang digunakan. Informasi mengenai reliabilitas dan validitas juga perlu merujuk pada instrumen tertentu, bukan dianggap berlaku sama untuk semua alat yang menggunakan nama DISC.
Dengan memahami ruang lingkup tersebut, hasil DISC dapat digunakan sesuai fungsi tanpa memberikan makna yang terlalu luas.
DISC psikologi dapat menjadi salah satu bagian dalam proses memahami kecenderungan perilaku kandidat. Informasinya dapat membantu memberikan perspektif mengenai cara seseorang berinteraksi, menghadapi tuntutan, dan menjalankan aktivitas dalam lingkungan kerja.
Namun, keputusan mengenai kandidat tetap membutuhkan pertimbangan yang lebih luas. Pengalaman, kompetensi, wawancara, pendidikan, serta persyaratan jabatan dapat memberikan informasi yang tidak diperoleh dari DISC.
Jika Anda ingin mengenali pola perilaku dengan lebih terarah, coba tes DISC dan gunakan hasilnya sebagai bahan untuk memahami gaya komunikasi, pengambilan keputusan, serta kecenderungan perilaku dalam lingkungan kerja.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.