Dari luar, kleptomania dan pencurian biasa memang dapat terlihat sama: seseorang mengambil barang yang bukan miliknya tanpa izin. Namun, ahli kesehatan mental tidak menilai suatu kondisi hanya dari tindakan akhirnya, karena alasan, proses psikologis, dan pengalaman emosional yang melatarbelakanginya dapat sangat berbeda. Memahami definisi kleptomania menurut ahli karena itu membutuhkan perhatian pada mengapa seseorang mencuri, bukan hanya pada fakta bahwa pencurian telah terjadi.
Dalam kerangka psikologi dan psikiatri, kleptomania dikenal sebagai gangguan yang berkaitan dengan kontrol impuls. Individu berulang kali mengalami kesulitan menahan dorongan mengambil benda yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penggunaan pribadi maupun terutama untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Karakteristik tersebut menjadi titik awal penting untuk membedakannya dari pencurian yang dilakukan secara sengaja demi mendapatkan barang, uang, atau manfaat tertentu.
Dua orang dapat sama-sama mengambil barang dari sebuah toko, tetapi proses psikologis di balik tindakan mereka belum tentu serupa. Orang pertama mungkin sejak awal menginginkan barang tersebut, memilih waktu yang dianggap aman, lalu membawa barang untuk digunakan atau dijual. Orang kedua mungkin sebenarnya tidak membutuhkan barang, tetapi mengalami dorongan yang terasa semakin sulit ditahan ketika berada di situasi tertentu.
Perbedaan inilah yang membuat diagnosis tidak dapat ditentukan berdasarkan rekaman kamera, jumlah barang, atau frekuensi kejadian saja. Informasi tentang motivasi, tingkat perencanaan, pengalaman sebelum tindakan, dan perasaan setelahnya diperlukan untuk memahami pola secara lebih akurat. Dengan kata lain, perilaku merupakan titik awal pemeriksaan, bukan kesimpulan akhirnya.
Para ahli kesehatan mental biasanya melihat sejumlah dimensi ketika membedakan kleptomania dari tindakan mencuri yang terutama bertujuan memperoleh keuntungan. Dimensi tersebut perlu dinilai bersama karena satu ciri saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Perbedaan paling penting dapat terlihat pada tujuan, hubungan dengan barang, perencanaan, kontrol, dan pengalaman emosional.
Dalam pencurian yang bersifat instrumental, biasanya terdapat tujuan yang cukup jelas. Seseorang mungkin ingin mendapatkan barang tanpa membayar, memperoleh uang, menjual kembali barang, atau mendapatkan keuntungan tertentu. Nilai praktis benda menjadi alasan utama mengapa tindakan dilakukan.
Pada kleptomania, keuntungan semacam itu bukan inti masalahnya. Individu dapat mengambil barang murah, benda yang tidak dibutuhkan, atau sesuatu yang sebenarnya mampu dibeli. Situasi ini menunjukkan bahwa dorongan mencuri lebih penting daripada manfaat barang itu sendiri.
Barang hasil pencurian biasa umumnya memiliki fungsi yang telah dipikirkan sebelumnya. Benda dapat dipakai, dijual, ditukar, atau dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Karena itu, pemilihan barang sering berhubungan dengan nilai atau kegunaannya.
Pada kleptomania, benda yang diambil tidak selalu memiliki arti khusus setelah tindakan selesai. Barang dapat hanya disimpan, tidak pernah digunakan, diberikan kepada orang lain, atau bahkan dibuang. Pola tersebut menjadi petunjuk bahwa memperoleh benda bukanlah sumber utama kepuasan psikologis.
Pencurian yang ditujukan untuk keuntungan dapat melibatkan perencanaan yang cukup jelas. Seseorang mungkin memilih sasaran, memperhitungkan risiko, mempersiapkan cara menyembunyikan barang, atau menunggu kesempatan tertentu. Unsur strategi menjadi bagian dari perilakunya.
Pada kleptomania, perilaku lebih berkaitan dengan dorongan yang muncul dan sulit dikendalikan. Tindakan dapat terjadi tanpa rencana memperoleh barang tertentu sebelumnya. Meski demikian, adanya sedikit perencanaan tidak otomatis meniadakan kemungkinan gangguan, sehingga keseluruhan pola tetap harus dievaluasi.
Salah satu ciri penting dalam definisi kleptomania menurut ahli adalah kesulitan berulang mengendalikan impuls. Individu dapat menyadari bahwa tindakan tidak seharusnya dilakukan, bahkan mungkin telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti. Namun, ketika dorongan muncul kembali, kemampuan menahan tindakan dapat terasa semakin lemah.
Keadaan tersebut berbeda dengan seseorang yang sebenarnya mampu tidak mencuri tetapi memilih melakukannya karena keuntungan dinilai lebih besar daripada risikonya. Pada kleptomania, konflik internal sering lebih kuat karena individu tidak selalu menginginkan barang maupun konsekuensi tindakan. Permasalahan justru terletak pada kemampuan menghambat respons terhadap impuls.
Kleptomania dapat melibatkan perubahan emosi yang khas di sekitar perilaku. Ketegangan atau rasa mendesak dapat meningkat sebelum tindakan, kemudian menurun setelah barang berhasil diambil. Kelegaan tersebut biasanya hanya bersifat sementara.
Setelahnya, individu dapat merasa malu, bersalah, takut diketahui, atau menyesal. Perasaan ini menunjukkan bahwa tindakan tidak selalu sesuai dengan nilai dan keinginan jangka panjang individu. Pada pencurian biasa, respons emosional tentu dapat muncul juga, tetapi pola ketegangan-dorongan-kelegaan memiliki arti khusus dalam evaluasi kleptomania.
Menyebut kleptomania sebagai hobi mencuri dapat menimbulkan pemahaman yang keliru. Hobi pada dasarnya merupakan kegiatan yang dipilih dan biasanya dilakukan karena memberikan kesenangan yang diinginkan, sedangkan kleptomania justru dapat menimbulkan konflik kuat antara dorongan dengan keinginan seseorang untuk menghentikannya. Individu sering mengalami konsekuensi yang sama sekali tidak diinginkan.
Istilah “suka mencuri” juga terlalu sederhana. Seseorang dengan kleptomania tidak harus menyukai barang yang diambil atau merasa senang terhadap konsekuensi tindakannya. Fokus klinis berada pada kegagalan pengendalian impuls yang berulang, bukan pada kesenangan memiliki barang orang lain.
Tindakan spontan belum tentu menunjukkan gangguan kontrol impuls tertentu. Perilaku mencuri dapat terjadi ketika seseorang berada di bawah pengaruh zat, mengalami episode mania, berada dalam tekanan kelompok, atau menunjukkan pola perilaku lain yang memiliki motivasi berbeda. Kondisi seperti ini perlu dibedakan sebelum kleptomania disimpulkan.
Profesional juga melihat apakah tindakan dilakukan karena marah, ingin membalas dendam, mencari sensasi, atau menunjukkan keberanian kepada kelompok tertentu. Motivasi tersebut tidak sesuai dengan pola utama kleptomania apabila menjadi alasan dominan perilaku. Diagnosis banding inilah yang membuat pemeriksaan kesehatan mental lebih kompleks daripada sekadar mencocokkan beberapa ciri.
Kleptomania dapat menghasilkan tekanan yang tidak terlihat oleh orang lain. Individu mungkin hidup dengan ketakutan perilakunya diketahui, terus menyembunyikan barang, atau merasa kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan mengendalikan dirinya. Rasa malu dapat semakin besar setelah perilaku berulang meskipun ia telah berusaha berhenti.
Masalah kemudian dapat meluas ke hubungan keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial. Orang terdekat dapat kehilangan kepercayaan karena hanya melihat tindakan akhirnya tanpa mengetahui konflik psikologis yang terjadi. Selain itu, risiko konsekuensi hukum tetap ada dan tidak hilang hanya karena seseorang memiliki masalah kesehatan mental.
Diagnosis kleptomania membutuhkan informasi yang tidak selalu dapat diketahui melalui pengamatan orang lain. Profesional perlu memahami pola dorongan, tujuan tindakan, usaha yang pernah dilakukan untuk menahan diri, pengalaman emosional, dan dampak perilaku terhadap kehidupan. Riwayat kesehatan mental juga dapat membantu menilai apakah ada kondisi lain yang lebih menjelaskan perilaku tersebut.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya menentukan sendiri bahwa dirinya atau orang lain mengalami kleptomania berdasarkan beberapa kejadian. Tes daring pun hanya dapat digunakan sebagai informasi awal dan tidak menggantikan pemeriksaan klinis. Penilaian yang tepat sangat penting karena penyebab yang berbeda membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda pula.
Jika masalah utamanya melibatkan pengendalian impuls, sekadar mengatakan “jangan mencuri lagi” belum tentu cukup. Psikoterapi dapat membantu individu mengenali situasi berisiko, memperhatikan munculnya impuls sejak tahap awal, dan mengembangkan respons lain sebelum dorongan berubah menjadi tindakan. Kemampuan menunda respons menjadi salah satu keterampilan yang dapat dikembangkan.
Terapi juga dapat membahas konsekuensi emosional yang telah muncul, termasuk rasa malu, kecemasan, serta gangguan hubungan. Jika terdapat kondisi kesehatan mental lain yang menyertai, masalah tersebut juga perlu diperhatikan dalam rencana penanganan. Dalam situasi tertentu, dokter dapat menilai apakah pendekatan medis tambahan diperlukan sesuai kondisi individu.
Memahami definisi kleptomania menurut ahli menunjukkan bahwa batas antara kleptomania dan pencurian biasa terutama terletak pada mekanisme psikologis di balik tindakan. Tujuan memperoleh keuntungan, penggunaan barang, tingkat perencanaan, kemampuan menahan impuls, dan pengalaman emosional perlu dinilai secara bersama-sama. Oleh karena itu, tidak semua orang yang mencuri berulang dapat disebut mengalami kleptomania.
Pemahaman yang tepat juga membantu menjaga keseimbangan antara empati dan tanggung jawab. Kleptomania merupakan kondisi kesehatan mental yang dapat membutuhkan penanganan, tetapi memahami kondisi tersebut tidak berarti menganggap tindakan mencuri tidak memiliki dampak bagi orang lain. Evaluasi profesional memungkinkan individu memperoleh bantuan yang sesuai sekaligus belajar mengembangkan kontrol perilaku yang lebih sehat.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.