Definisi Kleptomania Menurut Ahli dan Penjelasannya dalam Psikologi

08 Oct 2026 Ardi Almaqassary Kleptomania 3x dibaca
Definisi Kleptomania Menurut Ahli dan Penjelasannya dalam Psikologi

Kleptomania sering dibicarakan seolah-olah sama dengan kebiasaan mencuri, padahal para ahli kesehatan mental memberikan batasan yang jauh lebih spesifik. Perilaku mengambil barang hanyalah bagian yang terlihat, sedangkan proses psikologis di balik tindakan tersebut justru menjadi perhatian utama. Memahami definisi kleptomania menurut ahli membantu melihat mengapa motivasi, kemampuan mengendalikan impuls, dan pengalaman emosional perlu dipertimbangkan sebelum seseorang disebut mengalami kleptomania.

Dalam ilmu psikologi dan psikiatri, kleptomania bukan istilah yang digunakan untuk setiap pencurian berulang. Kondisi ini berkaitan dengan pola kegagalan menahan dorongan mencuri barang yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penggunaan pribadi maupun keuntungan ekonomi. Dengan demikian, definisinya berpusat pada kontrol impuls dan motivasi, bukan sekadar jumlah atau nilai barang yang diambil.

Bagaimana WHO Mendefinisikan Kleptomania?

World Health Organization (WHO) menempatkan kleptomania dalam kelompok impulse control disorders pada International Classification of Diseases 11th Revision atau ICD-11. Dalam kelompok ini, gangguan kontrol impuls ditandai kesulitan berulang mengendalikan dorongan kuat untuk melakukan suatu perilaku yang memberi penghargaan atau pelepasan dalam jangka pendek, tetapi dapat menimbulkan konsekuensi merugikan dalam jangka panjang. Kleptomania memiliki kode khusus 6C71 dalam klasifikasi tersebut.

Kerangka WHO penting karena menunjukkan bahwa kleptomania tidak terutama dipahami sebagai persoalan kepemilikan barang. Pusat masalahnya adalah pola dorongan dan kegagalan mengendalikan perilaku meskipun terdapat potensi kerugian bagi individu maupun orang lain. Definisi seperti ini membantu tenaga kesehatan melihat perilaku dalam konteks fungsi psikologis yang lebih luas.

Dalam klasifikasi WHO sebelumnya, karakteristik kleptomania juga menggambarkan kegagalan berulang menahan impuls untuk mencuri barang yang tidak diperoleh bagi penggunaan pribadi atau keuntungan finansial. Benda tersebut bahkan dapat dibuang, diberikan kepada orang lain, atau disimpan, sedangkan tindakan biasanya berkaitan dengan meningkatnya ketegangan sebelum mencuri dan rasa kepuasan ketika atau segera setelah tindakan. Gambaran ini memperlihatkan bahwa perjalanan emosional merupakan bagian penting dari konsep klinis kleptomania.

Perspektif Psikiatri tentang Gangguan Kontrol Impuls

Dalam kerangka Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), kleptomania termasuk dalam kelompok gangguan disruptif, kontrol impuls, dan perilaku. Tinjauan klinis StatPearls oleh Kamron A. Fariba dan Srinivasa B. Gokarakonda menjelaskan kleptomania sebagai dorongan mencuri berulang terhadap benda yang tidak memiliki kepentingan ekonomi bagi individu, dengan peningkatan ketegangan sebelum tindakan dan rasa lega setelahnya. Kerangka tersebut sekaligus menekankan perlunya membedakan perilaku dari kondisi seperti mania, gangguan perilaku, atau pengalaman psikotik.

Para penulis tersebut menempatkan kleptomania dalam masalah yang lebih luas mengenai self-regulation atau regulasi diri. Kemampuan manusia untuk menahan keinginan sesaat agar sesuai dengan tujuan jangka panjang merupakan bagian penting dari kontrol perilaku. Ketika kemampuan tersebut terganggu secara konsisten pada pola tertentu, impuls dapat lebih mudah diwujudkan menjadi tindakan meskipun seseorang memahami konsekuensinya.

Dengan sudut pandang ini, kleptomania tidak berarti seseorang tidak mampu membedakan perilaku yang benar dan salah. Banyak individu tetap mengetahui bahwa mengambil barang tanpa izin merupakan tindakan bermasalah. Kesulitannya justru muncul pada proses menahan dorongan ketika impuls tersebut berkembang menjadi sangat kuat.

Tiga Unsur yang Menjadi Inti Definisi Klinis

Walaupun istilah yang digunakan para ahli dapat berbeda, sejumlah unsur muncul secara konsisten ketika kleptomania dijelaskan secara klinis. Ketiga unsur berikut lebih berguna untuk memahami kondisi daripada sekadar bertanya apakah seseorang sering mencuri. Masing-masing menggambarkan bagian berbeda dari pengalaman psikologis individu.

1. Dorongan Berulang yang Sulit Dikendalikan

Ciri utama bukanlah sekadar adanya keinginan mencuri, tetapi kegagalan berulang untuk menahan dorongan tersebut. Individu dapat mengetahui risiko dan bahkan berusaha menghentikan dirinya, tetapi impuls pada kesempatan tertentu tetap berakhir menjadi tindakan. NCBI juga menggambarkan gangguan kontrol impuls secara umum sebagai berkurangnya kemampuan menahan godaan, dorongan, atau impuls tertentu.

2. Motif Utamanya Bukan Keuntungan

Dalam definisi kleptomania menurut ahli, aspek motivasi sangat menentukan. Literatur klinis menjelaskan bahwa barang yang dicuri sering tidak diperlukan untuk penggunaan pribadi dan tindakan bukan terutama dilakukan demi keuntungan finansial. Beberapa laporan bahkan menunjukkan barang dapat disimpan tanpa digunakan, diberikan, dikembalikan, atau dibuang.

3. Ada Perubahan Emosi di Sekitar Tindakan

Ketegangan dapat meningkat sebelum pencurian dan kemudian menurun setelah tindakan berlangsung. Rasa lega atau gratifikasi sesaat ini membantu menjelaskan mengapa suatu perilaku dapat terus berulang walaupun konsekuensinya merugikan. Setelahnya, individu juga dapat mengalami rasa malu atau bersalah, sehingga pengalaman kleptomania tidak tepat disamakan dengan sekadar menikmati tindakan mencuri. 

Mengapa Ahli Tidak Menyamakan Kleptomania dengan Pencurian Biasa?

Pencurian merupakan istilah perilaku dan hukum, sedangkan kleptomania merupakan konsep klinis. Seseorang dapat mencuri karena membutuhkan uang, menginginkan barang tertentu, ingin membalas dendam, terlibat dalam tekanan kelompok, atau telah merencanakan tindakan untuk keuntungan. Motif seperti ini tidak sama dengan pola gangguan kontrol impuls.

Karena itu, seseorang yang mencuri berkali-kali belum tentu mengalami kleptomania. Sebaliknya, keberadaan kleptomania juga tidak berarti konsekuensi tindakan otomatis hilang. Tinjauan psikiatri menegaskan bahwa kleptomania telah lama menjadi diagnosis yang kompleks dan bahkan menimbulkan perdebatan dalam konteks klinis maupun forensik. 

Perbedaan ini penting untuk menghindari dua kesalahan sekaligus. Kesalahan pertama adalah memberikan label kleptomania pada setiap orang yang mencuri, sedangkan kesalahan kedua adalah menggunakan istilah kleptomania sebagai pembenaran otomatis terhadap perilaku. Pendekatan klinis justru berusaha memahami kondisi tanpa menghilangkan tanggung jawab terhadap konsekuensinya.

Bagaimana Psikologi Menjelaskan Dorongan yang Sulit Ditahan?

Psikologi melihat pengendalian impuls sebagai proses yang melibatkan kemampuan menunda kepuasan langsung, mempertimbangkan konsekuensi, dan menghentikan respons yang tidak sesuai. Pada kleptomania, konflik dapat terjadi antara pengetahuan bahwa tindakan sebaiknya tidak dilakukan dengan dorongan yang terasa sangat mendesak. Ini menjelaskan mengapa sekadar mengetahui risiko belum tentu selalu cukup menghentikan perilaku.

Rasa lega setelah tindakan juga dapat mempunyai arti psikologis. Bila perilaku berulang kali menurunkan ketegangan secara cepat, pengalaman tersebut dapat memperkuat hubungan antara dorongan dan tindakan. Pola seperti ini dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang mengulang tindakan meskipun setelahnya merasa malu atau menyesal.

Namun, mekanisme kleptomania belum sepenuhnya dipahami. Kajian ilmiah menyebut kondisi ini masih relatif kurang diteliti dan bukti mengenai karakteristik maupun terapinya tidak sebanyak pada beberapa gangguan mental lain. Karena itu, penjelasan biologis atau psikologis tunggal sebaiknya tidak dianggap sebagai jawaban definitif. 

Mengapa Diagnosis Memerlukan Penilaian Lebih dari Sekadar Gejala?

Tenaga profesional perlu memahami apa yang sebenarnya mendorong perilaku. Wawancara dapat mengeksplorasi apakah barang diperlukan, bagaimana tindakan direncanakan, apakah ketegangan meningkat sebelumnya, bagaimana perasaan setelahnya, serta seberapa sering pola tersebut berulang. Informasi mengenai dampaknya pada hubungan, pekerjaan, dan kondisi emosional juga membantu melengkapi gambaran.

Diagnosis banding penting karena pencurian dapat terjadi dalam berbagai kondisi lain. Episode mania, kondisi psikotik, penggunaan zat, atau gangguan perilaku tertentu dapat disertai tindakan yang dari luar tampak mirip. Oleh sebab itu, tidak semua perilaku impulsif mengambil barang dapat langsung dimasukkan dalam diagnosis kleptomania.

Evaluasi juga membantu mengidentifikasi kondisi lain yang mungkin muncul bersama. Gangguan kontrol impuls dapat berkaitan dengan masalah kesehatan mental tambahan yang membutuhkan perhatian tersendiri. Inilah sebabnya daftar ciri atau tes daring tidak cukup untuk menggantikan pemeriksaan profesional.

Definisi Ahli Membantu Menentukan Arah Penanganan

Memahami definisi kleptomania menurut ahli bukan sekadar mengetahui arti sebuah istilah. Definisi klinis membantu menentukan bagian mana yang perlu ditangani, mulai dari kemampuan mengenali dorongan, mengendalikan respons, memahami keadaan emosional, hingga menghadapi konsekuensi perilaku. Dengan demikian, intervensi dapat diarahkan pada mekanisme masalah dan bukan hanya pada tindakan akhirnya.

Psikoterapi dapat membantu individu mempelajari pola dorongan dan membangun respons alternatif sebelum impuls berkembang menjadi tindakan. Pada kondisi tertentu, tenaga medis juga dapat mempertimbangkan intervensi farmakologis berdasarkan kebutuhan dan kondisi yang menyertai, meskipun bukti terapi kleptomania masih memiliki keterbatasan. Evaluasi individual tetap menjadi dasar karena tidak tersedia satu pendekatan yang otomatis sesuai bagi semua orang.

Jika dorongan mencuri berulang, sulit dikendalikan, menimbulkan rasa malu, atau mulai menyebabkan masalah hukum dan sosial, bantuan profesional layak dipertimbangkan. Perspektif ahli menunjukkan bahwa kleptomania bukan sekadar sinonim untuk “suka mencuri”, tetapi gangguan dengan karakteristik klinis yang spesifik. Memahaminya secara tepat memungkinkan masyarakat menghindari stigma sekaligus tetap mengakui dampak dan tanggung jawab dari perilaku yang terjadi.

Kleptomania Definisi Kleptomania Gangguan Kontrol Impuls Psikologi Psikiatri ICD-11 Kontrol Impuls Kesehatan Mental Diagnosis Psikologis Psikoedukasi
Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Pilih Layanan Lihat Semua Alat Tes Hubungi Kami
Hubungi Kami