Hubungan dengan orang lain dan pekerjaan menjadi dua bagian kehidupan yang sering saling memengaruhi. Ketika kondisi psikologis sedang stabil, seseorang mungkin mampu berkomunikasi, memenuhi tanggung jawab, dan bekerja sama seperti biasanya. Namun, ketika terjadi perubahan mood yang cukup kuat, aktivitas yang sebelumnya terasa biasa dapat membutuhkan usaha lebih besar.
Dalam memahami penyakit gangguan bipolar, dampaknya tidak cukup dilihat hanya dari ada atau tidaknya episode mania maupun depresi. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa bipolar dapat menimbulkan kesulitan dalam hubungan, sekolah, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari, sementara stigma dapat membatasi kesempatan sosial maupun pekerjaan. Artinya, fungsi sosial dan pekerjaan merupakan bagian penting ketika memahami bagaimana kondisi ini memengaruhi kehidupan seseorang.
Bipolar memengaruhi mood, energi, tingkat aktivitas, dan pikiran. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa episode dapat membuat seseorang mengalami kesulitan mempertahankan tanggung jawab kerja, aktivitas sosial, maupun hubungan interpersonal. Dampaknya dapat berbeda tergantung jenis episode, tingkat keparahan, dan kondisi individu di antara episode.
Beberapa area yang dapat berubah meliputi:
cara berkomunikasi dengan orang lain;
kemampuan mempertahankan hubungan;
konsentrasi dan penyelesaian pekerjaan;
kemampuan menentukan prioritas;
pengambilan keputusan;
kehadiran dan konsistensi di tempat kerja;
kepercayaan diri dalam lingkungan sosial dan profesional.
Daftar tersebut bukan berarti setiap orang dengan bipolar akan mengalami seluruh kesulitan tersebut. Ada individu yang tetap memiliki fungsi sosial dan pekerjaan yang baik, terutama ketika kondisi relatif stabil dan mendapat dukungan yang sesuai. Karena itu, dampak bipolar perlu dinilai secara personal dan tidak boleh disamaratakan.
Ketika mengalami peningkatan energi, seseorang dapat menjadi jauh lebih aktif berbicara, berpindah cepat dari satu topik ke topik lain, atau menyampaikan banyak gagasan sekaligus. Pada sebagian orang, iritabilitas juga dapat meningkat sehingga perbedaan pendapat terasa lebih sulit ditoleransi. Perubahan seperti ini berpotensi memengaruhi hubungan dengan teman, pasangan, maupun rekan kerja.
Sebaliknya, ketika mengalami episode depresi, individu dapat lebih sedikit berkomunikasi atau kehilangan energi untuk mempertahankan interaksi. Pesan mungkin lebih lama dibalas dan ajakan sosial lebih sering ditolak karena individu merasa kelelahan atau kehilangan minat. Dari luar, perubahan ini dapat keliru dipahami sebagai tidak peduli atau sengaja menjauh.
Relasi pertemanan membutuhkan konsistensi, komunikasi, dan kemampuan memahami kebutuhan satu sama lain. Ketika mood dan aktivitas berubah cukup kuat, pola hubungan tersebut dapat terganggu untuk sementara waktu. Teman mungkin merasa bingung melihat seseorang sangat aktif pada satu periode lalu menarik diri pada periode berikutnya.
Dampaknya dapat berupa:
komunikasi yang menjadi lebih intens atau justru berkurang;
perubahan frekuensi aktivitas sosial;
konflik karena iritabilitas;
menarik diri ketika mengalami depresi;
kesulitan menjelaskan perubahan kondisi;
kekhawatiran akan penilaian atau stigma.
WHO mencatat bahwa stigma dan diskriminasi pada bipolar masih luas serta dapat memicu eksklusi sosial. Kondisi ini dapat membuat seseorang semakin enggan membicarakan kebutuhannya atau mencari dukungan. Lingkungan yang memahami kesehatan mental karena itu dapat membantu mempertahankan hubungan sosial tanpa menjadikan diagnosis sebagai identitas utama seseorang.
Dampak penyakit gangguan bipolar dalam pekerjaan dapat terlihat melalui perubahan kemampuan mempertahankan ritme kerja. Pada periode energi tinggi, seseorang mungkin merasa mampu menangani banyak tugas sekaligus, sedangkan pada episode depresi konsentrasi, motivasi, dan energi dapat menurun. Akibatnya, performa kerja dapat terlihat tidak konsisten jika perubahan kondisi cukup signifikan.
National Institute for Health and Care Excellence (NICE) menyebut bipolar dapat berkaitan dengan performa kerja yang menurun, ketidakhadiran, dan penurunan status pekerjaan pada sebagian orang. NICE juga merekomendasikan dukungan pekerjaan bagi individu yang ingin mempertahankan, mencari, atau kembali bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi pekerjaan merupakan bagian penting dari pemulihan, bukan sekadar tambahan setelah gejala membaik.
Periode dengan energi meningkat terkadang terasa produktif. Individu dapat mengambil lebih banyak proyek, membuat banyak rencana, atau merasa sanggup menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam waktu singkat. Masalah dapat muncul ketika jumlah tanggung jawab yang diambil jauh melebihi kapasitas yang dapat dipertahankan setelah energi kembali ke tingkat biasanya.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan adalah:
menerima terlalu banyak pekerjaan sekaligus;
mengurangi waktu tidur demi aktivitas;
membuat target yang sangat besar secara mendadak;
sulit mengatakan tidak terhadap proyek baru;
mengambil keputusan kerja tanpa pertimbangan seperti biasanya.
Perubahan tersebut tidak berarti setiap orang yang sedang produktif mengalami mania atau hipomania. Psikolog perlu melihat apakah peningkatan aktivitas berbeda nyata dari kebiasaan individu serta terjadi bersama perubahan mood, tidur, pikiran, dan perilaku lainnya. Konteks tetap menjadi bagian penting dalam asesmen.
Pada episode depresi, tantangan kerja dapat bergerak ke arah yang berbeda. Seseorang dapat mengalami energi rendah, kesulitan fokus, kehilangan minat, atau merasa tugas sederhana membutuhkan usaha yang sangat besar. NIMH menjelaskan bahwa gangguan bipolar dapat memengaruhi kemampuan mempertahankan tanggung jawab kerja dan fungsi sehari-hari.
Dampaknya dapat terlihat melalui:
pekerjaan lebih lambat selesai;
sulit menentukan prioritas;
konsentrasi mudah terganggu;
frekuensi ketidakhadiran meningkat;
komunikasi dengan rekan kerja berkurang;
kepercayaan terhadap kemampuan diri menurun.
Kesulitan tersebut tidak tepat dianggap sebagai kemalasan. Kondisi psikologis dapat memengaruhi energi, motivasi, pemikiran, dan fungsi secara nyata. Evaluasi psikologis membantu melihat bagian mana yang berkaitan dengan episode dan bagian mana yang mungkin dipengaruhi tekanan kerja atau faktor lainnya.
Dalam periode mania atau hipomania, rasa percaya diri dan kecenderungan mengambil risiko dapat meningkat. Pada konteks pekerjaan, hal tersebut dapat terlihat melalui keputusan bisnis yang sangat cepat, komitmen proyek yang berlebihan, atau komunikasi yang lebih impulsif. Konsekuensinya dapat bertahan bahkan setelah kondisi mood kembali lebih stabil.
Karena itu, individu dapat terbantu dengan memiliki strategi sebelum tanda perubahan muncul. Beberapa orang memilih menunda keputusan pekerjaan besar, mendiskusikan rencana dengan pihak tepercaya, atau menggunakan daftar pertimbangan sebelum membuat komitmen baru. Strategi seperti ini sebaiknya disesuaikan dengan pola pribadi dan dibahas dalam pendampingan psikologis jika diperlukan.
Kesulitan kerja tidak selalu berasal dari gejala bipolar. WHO menjelaskan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap kondisi kesehatan mental dapat memengaruhi kepercayaan diri di tempat kerja, produktivitas, ketidakhadiran, serta kesempatan untuk mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan. Lingkungan kerja yang sehat justru dapat menjadi faktor yang mendukung kesehatan mental dan pemulihan.
Stigma dapat muncul dalam bentuk:
dianggap selalu tidak stabil;
diragukan kemampuannya mengambil tanggung jawab;
setiap perubahan emosi dikaitkan dengan bipolar;
dijauhkan dari kesempatan tertentu;
merasa harus menyembunyikan kondisi karena takut dinilai.
Memiliki diagnosis tidak berarti seseorang otomatis tidak mampu menjalankan pekerjaan dengan baik. Fungsi setiap individu berbeda dan dapat berubah sesuai kondisi serta dukungan yang tersedia. Penilaian sebaiknya didasarkan pada kemampuan dan kebutuhan nyata, bukan stereotip mengenai bipolar.
Masalah pekerjaan dapat terbawa ke kehidupan sosial, dan sebaliknya. Konflik dengan atasan atau tekanan pekerjaan dapat menambah stres, sementara masalah hubungan dapat mengurangi konsentrasi ketika bekerja. Karena itu, psikolog sering perlu melihat kedua bidang tersebut sebagai bagian dari satu sistem kehidupan.
NICE merekomendasikan asesmen terhadap fungsi sosial dan personal serta stresor psikososial pada orang dengan dugaan bipolar. Pedoman tersebut juga menyarankan bantuan untuk masalah pekerjaan, pendidikan, maupun keuangan yang muncul akibat perilaku terkait episode. Pendekatan ini membantu intervensi menjadi lebih dekat dengan masalah nyata yang dihadapi individu.
Pendampingan psikologis tidak hanya membahas perubahan mood. Psikolog dapat membantu individu mengidentifikasi bagaimana kondisi memengaruhi komunikasi, pekerjaan, pola konflik, pengambilan keputusan, dan kepercayaan dirinya. Dari sini, strategi dapat dirancang berdasarkan area fungsi yang paling membutuhkan perhatian.
Beberapa fokus dukungan dapat mencakup:
mengenali tanda awal perubahan mood;
menjaga batas kerja yang realistis;
mengembangkan strategi menghadapi stres;
memperbaiki komunikasi interpersonal;
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah;
memulihkan kepercayaan diri setelah episode;
membuat rencana untuk kembali bekerja secara bertahap;
mempertahankan hubungan sosial yang sehat.
NICE menganjurkan dukungan pekerjaan bagi orang dengan bipolar yang ingin kembali atau tetap bekerja. WHO juga menekankan bahwa lingkungan kerja yang aman dan sehat dapat mendukung partisipasi serta produktivitas orang dengan kondisi kesehatan mental. Tujuan akhirnya bukan menuntut individu selalu produktif, melainkan membantu fungsi dapat dipertahankan secara realistis.
Pada akhirnya, dampak penyakit gangguan bipolar terhadap relasi sosial dan pekerjaan perlu dipahami lebih luas daripada sekadar perubahan suasana hati. Bipolar dapat memengaruhi komunikasi, energi, keputusan, konsistensi aktivitas, hubungan, serta kemampuan mempertahankan tanggung jawab, tetapi tingkat dampaknya tidak sama pada setiap individu. WHO menegaskan bahwa meskipun bipolar dapat menyebabkan kesulitan pada berbagai area kehidupan, pilihan perawatan yang efektif tersedia untuk membantu seseorang tetap berfungsi dengan baik.
Pemulihan juga tidak berarti seseorang harus kembali bekerja dengan kapasitas maksimal atau memiliki kehidupan sosial yang sangat aktif. Yang lebih penting adalah kemampuan menjalankan peran secara sehat, mempertahankan hubungan yang bermakna, mengenali batas pribadi, dan meminta bantuan ketika diperlukan. Dengan asesmen psikologis, psikoterapi, dukungan sosial, serta lingkungan kerja yang lebih memahami kesehatan mental, individu dapat tetap berkembang tanpa membiarkan diagnosis bipolar menentukan seluruh kehidupan sosial maupun profesionalnya.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.