Perubahan suasana hati sebenarnya merupakan bagian normal dari kehidupan. Kita dapat merasa lebih bersemangat setelah menerima kabar baik, lelah setelah hari yang padat, atau kehilangan motivasi ketika menghadapi masalah. Namun, memahami bipolar dan gejalanya menjadi penting ketika perubahan mood terjadi bersama perubahan energi, tidur, aktivitas, pikiran, dan perilaku yang jauh berbeda dari kondisi seseorang biasanya.
Gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang bersifat episodik dan dapat melibatkan mania atau hipomania serta episode depresi. NIMH menjelaskan bahwa perubahan pada bipolar dapat cukup intens, berlangsung selama periode tertentu, dan terlihat oleh orang lain melalui perubahan aktivitas maupun perilaku. Di antara episode, sebagian individu juga dapat kembali berada pada kondisi mood yang relatif stabil.
Salah satu alasan bipolar tidak selalu mudah dikenali adalah tanda awalnya dapat terlihat seperti perubahan kehidupan biasa. Seseorang mungkin mulai tidur lebih sedikit, memiliki lebih banyak rencana, menjadi jauh lebih aktif, atau sebaliknya mulai kesulitan berkonsentrasi dan kehilangan minat terhadap kegiatan. Perubahan tersebut baru menjadi lebih bermakna ketika jelas berbeda dari kebiasaan individu dan muncul bersama pola gejala lain.
Karena itu, satu perilaku tidak cukup digunakan untuk menyimpulkan adanya bipolar. Orang yang sedang sangat produktif tidak otomatis mengalami mania, sebagaimana seseorang yang sedang sedih tidak otomatis berada dalam episode depresi. Profesional perlu memperhatikan kombinasi gejala, intensitasnya, durasi, serta dampaknya terhadap pekerjaan, pendidikan, hubungan, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Episode mania dapat ditandai oleh suasana hati yang sangat meningkat, ekspansif, atau justru jauh lebih mudah tersinggung dibandingkan biasanya. Bersamaan dengan itu, seseorang dapat memiliki energi yang sangat tinggi, berbicara cepat, mengalami pikiran yang terasa berlomba, mudah teralihkan, atau merasa mampu melakukan banyak hal tanpa lelah. Kebutuhan tidur juga dapat menurun secara mencolok meskipun individu tetap merasa penuh energi.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi kemampuan seseorang menilai konsekuensi tindakannya. Pada episode mania, dapat muncul pengeluaran berlebihan, keputusan impulsif, perilaku berisiko, atau keyakinan mengenai kemampuan diri yang sangat berlebihan. Dalam kondisi berat, mania dapat menyebabkan gangguan fungsi yang besar dan sebagian individu dapat mengalami gejala psikotik sehingga membutuhkan pertolongan intensif.
Hipomania memiliki kelompok gejala yang mirip dengan mania, tetapi tingkat keparahannya lebih rendah dan biasanya tidak menyebabkan gangguan fungsi seberat mania. Seseorang mungkin merasa lebih produktif, percaya diri, aktif, atau kreatif sehingga periode tersebut bahkan dapat dianggap sebagai kondisi yang positif. Meski demikian, perubahan tetap terlihat berbeda dari pola normal individu dan dapat diperhatikan oleh keluarga atau teman.
Hipomania penting dikenali karena seseorang dengan bipolar II dapat datang mencari bantuan terutama ketika sedang mengalami depresi. Periode peningkatan energi sebelumnya mungkin tidak pernah dianggap sebagai masalah sehingga tidak diceritakan saat pemeriksaan. Riwayat mood yang lengkap karena itu membantu profesional memahami apakah depresi yang dialami merupakan bagian dari pola bipolar.
Dalam memahami bipolar dan gejalanya, episode depresi juga perlu mendapat perhatian yang sama besar dengan mania atau hipomania. Gejalanya dapat berupa suasana hati sedih, kosong, atau mudah tersinggung, kehilangan minat terhadap kegiatan, energi rendah, sulit berkonsentrasi, perubahan tidur, serta perubahan nafsu makan. Sebagian individu juga dapat mengalami rasa bersalah berlebihan, merasa tidak berharga, kehilangan harapan, atau memiliki pikiran mengenai kematian.
Episode depresi tidak sama dengan kesedihan biasa setelah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan. WHO menjelaskan bahwa episode depresi melibatkan gejala yang berlangsung hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari selama periode yang bermakna serta dapat mengganggu fungsi. Karena itu, pola, durasi, dan pengaruh gejala terhadap kehidupan lebih penting dibandingkan sekadar keberadaan rasa sedih.
Tidur merupakan salah satu aspek yang sering memberikan petunjuk mengenai perubahan kondisi. Pada mania atau hipomania, individu dapat merasa hanya membutuhkan sedikit tidur tanpa merasa lelah keesokan harinya. Pada episode depresi, pola yang muncul dapat berupa sulit tidur, bangun terlalu awal, atau justru tidur jauh lebih banyak dari biasanya.
Perlu dibedakan antara tidak bisa tidur dan merasa tidak membutuhkan tidur. Seseorang yang mengalami insomnia dapat sangat ingin tidur tetapi kesulitan melakukannya, sedangkan pada mania kebutuhan tidur memang dapat terasa berkurang bersamaan dengan peningkatan energi. Meski begitu, perubahan tidur tetap harus dinilai bersama mood, aktivitas, pikiran, dan perilaku karena gangguan tidur juga dapat muncul pada banyak kondisi lainnya.
Gejala bipolar juga dapat terlihat dari perubahan proses berpikir. Pada mania, pikiran dapat terasa sangat cepat, ide berpindah dengan cepat, perhatian sulit dipertahankan, dan seseorang dapat merasa memiliki kemampuan yang jauh lebih besar dari biasanya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara mengambil keputusan dan meningkatkan kecenderungan melakukan tindakan impulsif.
Ketika mengalami depresi, arah perubahannya dapat berbeda. Individu dapat merasa sulit berpikir, tidak mampu mengambil keputusan sederhana, memandang dirinya sangat negatif, atau merasa masa depan tidak memiliki harapan. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa bipolar bukan hanya persoalan perubahan perasaan, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan perilaku.
Bipolar tidak selalu berjalan dalam pola sederhana berupa mania lalu depresi. NIMH menjelaskan bahwa episode dengan fitur campuran dapat terjadi, yaitu gejala mania dan depresi muncul dalam periode yang sama. Kondisi tersebut membuat pengalaman seseorang tidak selalu cocok dengan gambaran populer mengenai dua kutub mood yang terpisah.
Sebagai contoh, seseorang dapat mengalami energi atau agitasi yang meningkat tetapi sekaligus merasa sangat tertekan atau putus asa. Kombinasi seperti ini dapat terasa membingungkan bagi individu maupun keluarga. Evaluasi profesional sangat penting ketika perubahan emosi, energi, dan perilaku terlihat kompleks atau sulit dipahami.
Setiap orang memiliki karakter dan tingkat aktivitas yang berbeda. Ada individu yang memang banyak berbicara, memiliki energi tinggi, atau cenderung membutuhkan waktu sendiri tanpa mengalami gangguan mental. Karena itu, tanda bipolar perlu dilihat berdasarkan perubahan dari kondisi dasar atau baseline orang tersebut.
Pertanyaan seperti “apakah perilaku ini berbeda dari biasanya?” sering lebih berguna dibandingkan sekadar “apakah orang ini aktif atau sedih?”. Informasi dari pasangan, keluarga, atau teman juga terkadang membantu karena mereka dapat melihat perubahan yang belum disadari oleh individu. Namun, pengamatan orang terdekat tetap merupakan informasi pendukung dan bukan pengganti pemeriksaan profesional.
Kuesioner daring dapat membantu seseorang mengenali alasan untuk mencari informasi atau berkonsultasi, tetapi tidak dapat memastikan diagnosis bipolar. NIMH menjelaskan bahwa penilaian perlu mempertimbangkan tingkat keparahan, durasi, frekuensi gejala, perjalanan kondisi, serta kemungkinan faktor lain yang menyerupai bipolar. Beberapa kondisi medis, obat, maupun zat tertentu juga dapat menimbulkan atau memperburuk gejala mood.
Karena itu, pemeriksaan dapat mencakup wawancara mengenai riwayat mood, perubahan tidur, aktivitas, penggunaan zat, obat yang dikonsumsi, dan dampak gejala terhadap kehidupan. Profesional juga perlu menilai apakah terdapat kondisi lain yang lebih sesuai menjelaskan perubahan tersebut. Proses ini membantu menghindari diagnosis yang terlalu cepat berdasarkan satu gejala atau satu periode kehidupan.
Evaluasi profesional patut dipertimbangkan ketika perubahan mood, tidur, energi, atau perilaku berlangsung cukup nyata dan mulai mengganggu pekerjaan, sekolah, hubungan, keuangan, atau kemampuan merawat diri. Bantuan juga perlu dicari jika orang terdekat melihat perubahan yang sangat jauh dari kebiasaan, terutama jika individu menjadi semakin impulsif atau sulit mempertahankan fungsi. Deteksi lebih awal dapat membantu kondisi dinilai sebelum dampaknya semakin luas.
Apabila muncul pikiran untuk bunuh diri, keinginan menyakiti diri, perilaku yang membahayakan, gejala psikotik, atau ketidakmampuan menjaga keselamatan, pertolongan melalui layanan kesehatan atau fasilitas gawat darurat perlu dicari segera. Situasi tersebut bukan sesuatu yang perlu ditangani seorang diri atau hanya dengan menunggu suasana hati berubah. Keselamatan harus menjadi prioritas sebelum langkah penanganan lain direncanakan.
Pemahaman mengenai gejala bipolar seharusnya membantu seseorang lebih peka terhadap perubahan, bukan membuat setiap emosi dicurigai sebagai gangguan. Manusia tetap dapat mengalami hari yang sangat produktif, sedih, marah, atau lelah tanpa mengalami episode bipolar. Yang penting adalah melihat pola perubahan dari kondisi dasar, kombinasi gejala, durasi, dan dampaknya terhadap fungsi.
Pada akhirnya, memahami bipolar dan gejalanya sejak awal memberi kesempatan untuk mencari penilaian yang lebih tepat sebelum masalah semakin mengganggu kehidupan. Perubahan mood perlu dilihat bersama energi, tidur, aktivitas, pikiran, perilaku, dan riwayat episode, bukan hanya berdasarkan satu tanda yang berdiri sendiri. Dengan pengenalan yang lebih baik dan pemeriksaan profesional ketika diperlukan, individu dapat memperoleh dukungan yang sesuai tanpa terburu-buru memberikan label terhadap dirinya sendiri.
Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.