Belum Pernah Mengikuti Psikotes Ini Cara Mengerjakan Tes Koran

21 Oct 2026 Ardi Almaqassary Tes Koran 2x dibaca
Belum Pernah Mengikuti Psikotes Ini Cara Mengerjakan Tes Koran

Mendapat panggilan psikotes untuk pertama kalinya tentu bisa membuat seseorang merasa antusias sekaligus gugup. Apalagi jika mendengar bahwa salah satu tes yang akan dikerjakan berisi ratusan bahkan ribuan angka yang tersusun dalam kolom panjang. Bagi peserta yang belum pernah melihat bentuk soalnya, tes tersebut mungkin terdengar lebih sulit daripada kenyataannya.

Salah satu pemeriksaan yang cukup dikenal dalam proses seleksi kerja adalah tes koran. Meskipun tampilannya dipenuhi angka, perhitungan yang digunakan sebenarnya hanya penjumlahan sederhana. Melalui panduan tes koran cara mengerjakan, Anda dapat memahami langkah-langkah dasarnya, mengenali perbedaan jenis pemeriksaan, dan mempersiapkan diri menghadapi psikotes pertama.

Apa Itu Tes Koran dalam Psikotes Kerja?

Tes koran merupakan sebutan populer untuk pemeriksaan psikologis yang menggunakan deretan angka satu digit. Peserta diminta menjumlahkan dua angka yang berdekatan secara berulang sesuai petunjuk pemeriksa. Nama tes koran muncul karena susunan angkanya menyerupai kolom-kolom pada surat kabar.

Di Indonesia, bentuk pemeriksaan tersebut umumnya dikenal melalui Tes Pauli dan Kraepelin. Kedua instrumen mempunyai prinsip penjumlahan yang serupa, tetapi berbeda dalam prosedur pengerjaan. Karena itu, peserta perlu mengetahui jenis tes yang digunakan sebelum mulai menghitung.

Dalam pemeriksaan terstandar, hasil penjumlahan dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai performa pengerjaan. Namun, interpretasinya harus mengikuti pedoman instrumen dan tidak hanya didasarkan pada banyaknya jawaban benar. Bagi peserta pemula, langkah pertama yang perlu dikuasai adalah memahami prosedur.

Apakah Tes Koran Membutuhkan Kemampuan Matematika Tinggi?

Kabar baiknya, tes koran tidak menggunakan rumus aljabar, geometri, atau perhitungan matematika tingkat lanjut. Operasi yang digunakan umumnya merupakan penjumlahan dua angka satu digit. Contohnya adalah 4 + 3, 7 + 8, dan 9 + 6.

Walaupun sederhana, penjumlahan dilakukan berkali-kali dalam periode tertentu. Peserta perlu mempertahankan ketepatan sambil terus mengikuti urutan angka. Inilah sebabnya tugas yang terlihat mudah tetap memerlukan kesiapan dan pemahaman instruksi.

Langkah Pertama: Pahami Aturan Penjumlahan

Sebelum memikirkan kecepatan, pahami terlebih dahulu cara menentukan pasangan angka. Setiap jawaban berasal dari dua angka asli yang berdekatan mengikuti arah pengerjaan. Jawaban sebelumnya tidak digunakan sebagai angka baru untuk perhitungan selanjutnya.

Misalnya, terdapat deretan angka 5, 8, 2, dan 7 yang dibaca dari atas ke bawah. Peserta menjumlahkan 5 + 8, kemudian 8 + 2, dan dilanjutkan dengan 2 + 7. Dengan aturan digit satuan, hasil yang dicatat berturut-turut adalah 3, 0, dan 9.

Mengapa Hasilnya Tidak Selalu Ditulis Lengkap?

Dalam format konvensional, peserta biasanya hanya menuliskan digit satuan dari hasil penjumlahan. Jika 5 + 8 menghasilkan 13, jawaban yang dicatat adalah angka 3. Jika 8 + 2 menghasilkan 10, jawaban yang dicatat adalah angka 0.

Aturan ini perlu diperhatikan karena berbeda dari kebiasaan mengerjakan soal matematika biasa. Kesalahan mencatat digit puluhan dapat membuat jawaban menjadi tidak tepat. Oleh karena itu, pastikan ketentuan ini benar-benar dipahami sebelum memulai latihan.

Langkah Kedua: Kenali Perbedaan Pauli dan Kraepelin

Bagi peserta yang baru pertama kali menghadapi psikotes, perbedaan Pauli dan Kraepelin sering menimbulkan kebingungan. Keduanya memang menggunakan penjumlahan berulang, tetapi arah dan instruksinya tidak identik. Dalam format konvensional yang umum digunakan di Indonesia, perbedaannya dapat diringkas sebagai berikut.

Aspek Tes Pauli Tes Kraepelin
Arah pengerjaan Atas ke bawah Bawah ke atas
Titik awal Bagian atas kolom Bagian bawah kolom
Aba-aba umum Garis Pindah
Tindakan saat aba-aba Menandai posisi pengerjaan Beralih ke kolom berikutnya

Pada Pauli konvensional, peserta biasanya memberikan tanda ketika pengawas menyampaikan aba-aba “garis”. Sementara itu, Kraepelin konvensional menggunakan instruksi “pindah” untuk berganti kolom. Mekanisme tersebut dapat berbeda pada adaptasi digital sehingga petunjuk penyelenggara harus selalu diutamakan.

Langkah Ketiga: Mulai dari Contoh Soal Pendek

Tidak perlu langsung menghadapi deretan yang sangat panjang ketika baru belajar. Mulailah dengan beberapa angka untuk membiasakan cara menentukan pasangan dan mencatat jawaban. Setelah memahami pola pengerjaan, jumlah soal dapat ditingkatkan secara bertahap.

Perhatikan contoh latihan berikut yang menggunakan arah atas menuju bawah. Terdapat sembilan angka sehingga menghasilkan delapan pasangan penjumlahan. Susunan ini merupakan contoh buatan untuk pembelajaran, bukan reproduksi instrumen psikologi resmi.

Baris Angka
1 6
2 9
3 4
4 7
5 2
6 8
7 5
8 3
9 9

Cobalah menghitung dari pasangan pertama sampai terakhir tanpa melihat pembahasan. Tuliskan hanya digit satuan setiap hasil penjumlahan. Setelah seluruhnya selesai, cocokkan jawaban Anda dengan tabel berikut.

Kunci Jawaban Contoh Tes Koran

No. Penjumlahan Jawaban
1 6 + 9 = 15 5
2 9 + 4 = 13 3
3 4 + 7 = 11 1
4 7 + 2 = 9 9
5 2 + 8 = 10 0
6 8 + 5 = 13 3
7 5 + 3 = 8 8
8 3 + 9 = 12 2

Urutan jawaban yang benar adalah 5, 3, 1, 9, 0, 3, 8, 2. Apabila ditemukan jawaban berbeda, periksa apakah kesalahan terjadi ketika menjumlahkan atau mencatat digit satuan. Pemahaman terhadap jenis kesalahan akan membantu menentukan bagian yang perlu dilatih kembali.

Langkah Keempat: Biasakan Mengikuti Urutan Angka

Salah satu tantangan yang sering muncul bukanlah menghitung hasil penjumlahan, melainkan mempertahankan posisi pengerjaan. Ketika deretan semakin panjang, peserta dapat kehilangan pasangan angka yang sedang dihitung. Akibatnya, ada kemungkinan satu pasangan terlewat atau dikerjakan dua kali.

Dalam psikologi kognitif, aktivitas mengikuti informasi secara berkelanjutan berkaitan dengan proses perhatian. Peserta harus terus mengarahkan perhatian pada angka yang relevan sambil menghasilkan respons. Karena itu, membiasakan urutan pengerjaan merupakan bagian penting dari persiapan.

Langkah Kelima: Mulai Berlatih dengan Batas Waktu

Setelah memahami dasar tes koran cara mengerjakan, peserta dapat mencoba latihan menggunakan pengatur waktu. Mulailah dengan durasi pendek untuk mengetahui jumlah penjumlahan yang dapat diselesaikan. Gunakan susunan angka berbeda agar latihan tidak hanya bergantung pada hafalan.

Jangan Hanya Mengejar Kecepatan

Menyelesaikan lebih banyak angka memang dapat menunjukkan peningkatan jumlah pekerjaan. Namun, apabila kesalahan ikut bertambah, peningkatan tersebut belum tentu mencerminkan hasil latihan yang lebih baik. Dalam psikologi kognitif, hubungan antara kecepatan dan ketepatan dikenal sebagai speed–accuracy trade-off.

Peserta pemula sebaiknya berusaha mempertahankan tempo yang memungkinkan pengerjaan tetap akurat. Setelah terbiasa, kelancaran dapat dikembangkan secara bertahap. Jangan menggunakan target kecepatan tertentu sebagai standar kelulusan karena penilaian resmi mengikuti ketentuan instrumen.

Apa yang Harus Dilakukan ketika Mendengar Aba-Aba?

Aba-aba merupakan bagian penting dari administrasi pemeriksaan. Sebelum memulai, pastikan Anda mengetahui apakah instruksi mengharuskan penandaan posisi, perpindahan kolom, atau tindakan lainnya. Jangan berasumsi bahwa seluruh tes dengan bentuk angka serupa mempunyai aturan yang sama.

Ketika pemeriksaan berlangsung, ikuti arahan pengawas sesuai waktu yang ditentukan. Jangan mengubah arah pengerjaan atau kembali ke kolom sebelumnya tanpa instruksi. Kepatuhan terhadap prosedur penting agar hasil pemeriksaan diperoleh melalui tata cara yang sesuai.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Peserta Pertama Kali

Peserta pemula sering terlalu berfokus pada tampilan lembar yang panjang sehingga lupa memperhatikan aturan sederhana. Ada yang menuliskan seluruh hasil dua digit, menggunakan pasangan angka yang tidak berdekatan, atau salah memahami instruksi perpindahan. Kesalahan tersebut dapat dikurangi melalui pembiasaan sebelum pemeriksaan.

Kekeliruan lainnya adalah membandingkan kecepatan dengan peserta lain selama tes berlangsung. Perhatian yang berpindah ke pekerjaan orang lain justru dapat mengganggu urutan penjumlahan sendiri. Lebih baik fokus pada instruksi dan pasangan angka yang sedang dikerjakan.

Bagaimana Mengetahui Hasil Latihan Sudah Membaik?

Setelah latihan, hitung jumlah respons selesai dan jawaban benar. Kemudian, catat kesalahan untuk mengetahui bagian yang masih memerlukan perbaikan. Jika memungkinkan, gunakan durasi sama pada beberapa sesi agar perkembangan lebih mudah dibandingkan.

Sebagai contoh, seseorang menyelesaikan 50 penjumlahan dengan 45 jawaban benar dan lima kesalahan. Persentase akurasinya adalah 45 ÷ 50 × 100% = 90%. Angka tersebut merupakan evaluasi latihan pribadi, bukan skor psikologis resmi atau penentu kelulusan seleksi.

Persiapan pada Hari Pertama Psikotes

Selain berlatih berhitung, perhatikan kesiapan sebelum mengikuti pemeriksaan. Pastikan Anda mengetahui jadwal, lokasi atau akses platform, serta perlengkapan yang diperlukan. Jika menggunakan sistem digital, pahami cara memasukkan jawaban dan ketentuan penggunaan perangkat.

Usahakan memperoleh istirahat yang cukup sebelum hari pemeriksaan. Hindari latihan berlebihan yang justru membuat tubuh merasa lelah. Ketika instruksi disampaikan, dengarkan dengan cermat dan manfaatkan kesempatan bertanya apabila ada prosedur yang belum dipahami.

Mengapa Hasil Tes Koran Tidak Menentukan Seluruh Kemampuan?

Tes koran dapat memberikan informasi mengenai performa dalam tugas penjumlahan berulang sesuai sistem pengukuran yang digunakan. Namun, satu jenis tes tidak dapat menggambarkan seluruh kemampuan, karakter, atau potensi kerja seseorang. Interpretasi psikologis memerlukan bukti validitas serta pedoman penskoran yang sesuai.

Dalam seleksi kerja, perusahaan juga dapat menggunakan wawancara, tes kemampuan, dan metode asesmen lainnya. Setiap metode memberikan informasi yang berbeda mengenai kandidat. Karena itu, peserta tidak perlu menganggap satu kesalahan berhitung sebagai gambaran keseluruhan kemampuan dirinya.

Menghadapi Psikotes Pertama dengan Persiapan yang Tepat

Belum pernah mengikuti psikotes bukan berarti Anda tidak dapat memahami tes koran dengan baik. Prinsip pengerjaannya dapat dipelajari mulai dari penjumlahan dua angka berdekatan, pencatatan digit satuan, hingga pemahaman arah dan aba-aba. Latihan yang dilakukan secara bertahap membantu peserta mengenali prosedur sebelum menghadapi pemeriksaan sebenarnya.

Mulailah dari deretan pendek, gunakan kombinasi angka yang bervariasi, dan periksa kesalahan setelah latihan selesai. Ketika menghadapi psikotes resmi, fokuslah pada instruksi penyelenggara serta keseimbangan antara kecepatan dan ketelitian. Dengan mempelajari panduan tes koran cara mengerjakan, Anda dapat menghadapi pengalaman psikotes pertama dengan pemahaman yang lebih matang dan persiapan yang lebih terarah.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami