10 Tes yang Sering Keluar Saat Melamar Kerja dan Cara Mempelajarinya

21 Oct 2026 Ardi Almaqassary Psikotes Kerja 3x dibaca
10 Tes yang Sering Keluar Saat Melamar Kerja dan Cara Mempelajarinya

Sudah mendapatkan undangan seleksi kerja, tetapi bingung harus belajar dari mana? Anda mungkin pernah mendengar bahwa psikotes berisi deret angka, gambar, hingga ratusan soal yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Namun, ketika mulai mencari bahan latihan, ternyata jenis pemeriksaannya jauh lebih beragam daripada yang dibayangkan.

Kabar baiknya, Anda tidak harus menguasai seluruh jenis tes sekaligus untuk mulai mempersiapkan diri. Setiap pemeriksaan mempunyai tujuan, bentuk soal, dan cara pengerjaan yang berbeda. Dengan mengenali tes yang sering keluar saat melamar kerja, Anda dapat memilih materi latihan yang sesuai dengan kebutuhan seleksi tanpa menghabiskan waktu mempelajari hal yang kurang relevan.

Mengapa Setiap Perusahaan Memberikan Tes yang Berbeda?

Tes dalam proses rekrutmen digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kemampuan, pengetahuan, atau karakteristik kandidat. Namun, perusahaan tidak selalu mencari kompetensi yang sama karena setiap posisi memiliki tuntutan pekerjaan berbeda. Seorang staf administrasi, misalnya, mungkin membutuhkan keterampilan yang berbeda dari analis data atau tenaga pemasaran.

Dalam psikologi industri dan organisasi, pemilihan metode seleksi idealnya didasarkan pada analisis jabatan atau job analysis. Proses tersebut membantu perusahaan menentukan kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan. Karena itu, sepuluh jenis tes berikut merupakan bentuk pemeriksaan yang dikenal dalam praktik seleksi, bukan daftar yang pasti muncul pada setiap perusahaan.

1. Tes Penalaran Numerik

Tes numerik menggunakan angka untuk menyajikan persoalan yang membutuhkan pemahaman kuantitatif. Soalnya dapat berupa persentase, perbandingan, operasi hitung, dan interpretasi data. Tujuan pemeriksaannya bergantung pada rancangan instrumen yang digunakan.

Contoh Soal Numerik

Sebuah toko menjual 160 produk pada minggu pertama dan 200 produk pada minggu kedua. Berapa persentase peningkatan penjualannya? Selisihnya adalah 40 produk, sehingga persentase peningkatan diperoleh dari 40 dibagi 160 dikalikan 100 persen, yaitu 25 persen.

Untuk mempersiapkannya, pelajari kembali perhitungan dasar dan hubungan antarangka. Jangan hanya menghafalkan hasil dari contoh soal yang pernah dikerjakan. Cobalah menggunakan variasi angka untuk memastikan konsepnya benar-benar dipahami.

2. Tes Penalaran Verbal

Tes verbal digunakan untuk memeriksa kemampuan memahami informasi berbasis bahasa. Bentuknya dapat mencakup analogi kata, hubungan makna, pemahaman bacaan, serta penarikan kesimpulan. Pemeriksaan ini tidak selalu bertujuan menguji hafalan kosakata.

Sebagai contoh, hubungan penulis : naskah = pelukis : lukisan menunjukkan hubungan antara profesi dan hasil pekerjaannya. Peserta perlu memahami relasi pasangan pertama sebelum menentukan jawaban. Prinsip yang sama dapat digunakan pada soal analogi dengan hubungan lebih kompleks.

Cara mempelajarinya adalah berlatih memahami hubungan kata dan membaca teks pendek secara teliti. Perhatikan perbedaan antara informasi yang dinyatakan dan kesimpulan yang hanya diasumsikan. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi kesalahan dalam penalaran verbal.

3. Tes Penalaran Abstrak dan Pola Gambar

Tes penalaran abstrak menyajikan informasi melalui simbol atau gambar yang mengikuti aturan tertentu. Peserta diminta menemukan hubungan dan menentukan bentuk yang sesuai untuk melanjutkan pola. Jenis tugas ini berbeda dari tes menggambar kepribadian.

Misalnya, sebuah rangkaian menunjukkan panah yang berputar 90 derajat searah jarum jam pada setiap langkah. Peserta harus menentukan arah panah berikutnya berdasarkan aturan tersebut. Pola lain mungkin melibatkan perubahan jumlah, posisi, ukuran, atau susunan objek.

Latihan dapat dimulai dengan mengidentifikasi satu perubahan pada setiap gambar. Setelah memahami pola sederhana, lanjutkan pada soal dengan beberapa aturan sekaligus. Hindari menebak hanya berdasarkan kemiripan visual tanpa memeriksa konsistensi polanya.

4. Tes Ketelitian dan Pencocokan Data

Sebagian pekerjaan membutuhkan ketepatan ketika memeriksa dokumen, kode, atau informasi numerik. Untuk kebutuhan tersebut, perusahaan dapat menggunakan tugas yang melibatkan perhatian terhadap detail. Bentuknya dapat berupa pencocokan karakter, identifikasi perbedaan, atau pemeriksaan data berulang.

Perhatikan dua kode berikut: ADM-638472 dan ADM-638427. Keduanya terlihat hampir sama, tetapi urutan angka pada bagian akhirnya berbeda. Peserta perlu memeriksa setiap karakter untuk menentukan apakah informasi tersebut identik.

Cara berlatihnya adalah membandingkan data secara sistematis dari satu bagian ke bagian berikutnya. Perhatikan ketepatan terlebih dahulu sebelum mencoba meningkatkan kecepatan. Dalam psikologi kognitif, kecepatan dan ketepatan dapat saling memengaruhi, sehingga keduanya perlu diperhatikan.

5. Tes Pauli dan Kraepelin

Tes Pauli dan Kraepelin dikenal sebagai tugas penjumlahan angka berulang dalam pemeriksaan psikologis. Peserta diminta melakukan operasi hitung sederhana berdasarkan aturan dan waktu yang ditentukan. Format administrasi keduanya memiliki perbedaan sehingga tidak boleh dianggap sepenuhnya identik.

Apa yang Perlu Dilatih?

Pada tugas penjumlahan berulang, peserta harus mempertahankan perhatian ketika mengerjakan sejumlah besar operasi sederhana. Hasilnya dapat mencakup informasi mengenai jumlah pekerjaan dan ketepatan respons sesuai sistem penskoran. Namun, satu pola hasil tidak boleh langsung disamakan dengan keseluruhan sikap kerja seseorang.

Latihan dapat dimulai dengan penjumlahan satu digit secara berulang. Ikuti aturan pengerjaan yang sesuai dengan contoh latihan dan perhatikan kesalahan perhitungan. Jangan langsung menggunakan hasil latihan mandiri sebagai ukuran psikologis formal.

6. Tes Kepribadian

Selain kemampuan berpikir, perusahaan dapat menggunakan inventori kepribadian untuk memperoleh informasi mengenai kecenderungan individu. Instrumen tersebut biasanya menyajikan pernyataan mengenai kebiasaan, preferensi, atau karakteristik diri. Berbeda dari tes numerik, umumnya tidak terdapat satu jawaban benar yang berlaku bagi seluruh peserta.

Contohnya adalah pernyataan, “Saya lebih menyukai pekerjaan dengan rencana yang jelas.” Peserta diminta memilih respons berdasarkan kesesuaian pernyataan dengan dirinya. Interpretasinya bergantung pada konstruk serta pedoman instrumen yang digunakan.

Saat mempelajari tes yang sering keluar saat melamar kerja, penting membedakan tes kemampuan dari inventori kepribadian. Persiapan inventori bukan tentang mencari jawaban yang terlihat sempurna di mata HR. Lebih tepat memahami instruksi dan memberikan respons sesuai kondisi diri.

7. Tes Wartegg atau Psikotes Gambar

Tes Wartegg merupakan tugas melengkapi gambar yang dikenal melalui delapan kotak berisi stimulus sederhana. Peserta diminta mengembangkan titik, garis, atau lengkungan menjadi gambar utuh. Metode ini dikenal dalam sejumlah praktik asesmen psikologis, meskipun tidak digunakan oleh semua perusahaan.

Salah satu kesalahpahaman adalah menganggap setiap gambar mempunyai arti kepribadian yang pasti. Padahal, interpretasi Wartegg membutuhkan sistem penilaian dan bukti ilmiah yang mendukungnya. Satu objek gambar tidak cukup untuk menyimpulkan kecerdasan, kejujuran, atau kemampuan bekerja.

Untuk mempersiapkannya, kenali karakteristik tugas dan baca instruksi dengan teliti. Tidak perlu menghafal delapan gambar yang diklaim menjamin kelulusan. Latihan pengenalan dapat membantu memahami format, tetapi bukan pengganti asesmen resmi.

8. Situational Judgment Test atau SJT

Situational Judgment Test merupakan bentuk pemeriksaan yang menggunakan skenario untuk menilai respons terhadap situasi tertentu. Peserta dapat diminta memilih tindakan yang paling sesuai atau menilai beberapa alternatif respons. Kualitasnya bergantung pada pengembangan skenario serta sistem penskoran.

Contoh Situasi Kerja

Bayangkan seorang pelanggan mengeluhkan informasi pesanan yang tidak sesuai. Anda kemudian diminta menentukan langkah penanganan berdasarkan pilihan yang tersedia. Jawaban harus dipertimbangkan berdasarkan informasi kasus dan kriteria penilaian yang digunakan.

Untuk berlatih, biasakan membaca seluruh situasi sebelum menentukan tindakan. Perhatikan masalah utama, pihak yang terlibat, dan konsekuensi setiap pilihan. Namun, tidak semua pertanyaan situasional di internet merupakan SJT yang telah divalidasi secara psikometris.

9. Tes Keterampilan Teknis

Tidak semua tes seleksi berbentuk psikotes. Perusahaan juga dapat menggunakan tugas praktik untuk mengetahui penguasaan keterampilan yang dibutuhkan pekerjaan. Bentuk pemeriksaannya disesuaikan dengan tanggung jawab jabatan.

Misalnya, kandidat administrasi diminta mengolah data menggunakan spreadsheet. Pelamar desain grafis mungkin diminta membuat materi visual, sedangkan kandidat akuntansi dapat memperoleh tugas pencatatan transaksi. Pemeriksaan seperti ini membantu melihat penerapan pengetahuan dalam tugas yang relevan.

Cara mempersiapkannya adalah mempelajari kembali keterampilan yang tercantum dalam deskripsi pekerjaan. Cobalah mengerjakan simulasi tugas tanpa terlalu bergantung pada panduan langkah demi langkah. Setelah selesai, periksa ketepatan hasil dan proses penyelesaiannya.

10. Tes Bahasa Inggris

Beberapa perusahaan membutuhkan kandidat yang mampu menggunakan bahasa Inggris dalam pekerjaannya. Tes dapat mencakup pemahaman bacaan, tata bahasa, kosakata, atau kemampuan menulis. Pada pekerjaan tertentu, keterampilan berbicara dan mendengarkan juga dapat diperiksa.

Sebagai contoh, kandidat mungkin diminta membaca email berbahasa Inggris dan menjawab pertanyaan tentang isinya. Pemeriksaan tersebut menilai kemampuan memahami informasi yang tersedia dalam teks. Namun, hasil tes membaca tidak otomatis menunjukkan kemampuan berbicara pada tingkat yang sama.

Latihan sebaiknya menyesuaikan kebutuhan posisi yang dilamar. Jika pekerjaan banyak menggunakan dokumen, perbanyak latihan membaca teks profesional. Apabila komunikasi lisan menjadi persyaratan, persiapkan pula kemampuan mendengarkan dan berbicara.

Cara Menentukan Tes yang Perlu Dipelajari Lebih Dahulu

Setelah mengenali berbagai jenis pemeriksaan, Anda mungkin bertanya harus mulai belajar dari bagian mana. Jawabannya bergantung pada informasi seleksi dan keterampilan yang dibutuhkan pekerjaan. Tidak semua materi harus mendapat porsi latihan yang sama.

Gunakan Deskripsi Pekerjaan sebagai Petunjuk

Perhatikan tanggung jawab utama serta kompetensi yang dicantumkan perusahaan. Posisi yang melibatkan pengolahan data mungkin membutuhkan persiapan numerik dan spreadsheet. Sementara itu, pekerjaan yang banyak berhubungan dengan pelanggan dapat memerlukan kemampuan komunikasi serta penanganan situasi.

Jika jenis tes belum diumumkan, mulailah dari kemampuan dasar yang relevan. Latihan numerik, verbal, dan logika dapat dijadikan pilihan awal tanpa menganggap ketiganya pasti muncul. Setelah memperoleh informasi resmi, sesuaikan kembali prioritas belajar.

Belajar Lebih Efektif dengan Evaluasi Kesalahan

Banyaknya soal yang dikerjakan tidak selalu menunjukkan kualitas persiapan. Peserta bisa saja mengulang kesalahan yang sama karena hanya memeriksa kunci jawaban. Karena itu, setiap latihan sebaiknya diikuti evaluasi mengenai alasan suatu respons benar atau salah.

Dalam psikologi pembelajaran dikenal retrieval practice, yaitu upaya mengambil kembali pengetahuan sebelum melihat jawaban. Strategi ini dapat dilakukan dengan menyelesaikan soal secara mandiri, kemudian memeriksa pembahasannya. Untuk materi kemampuan, pendekatan tersebut membantu mengetahui konsep yang masih perlu dipelajari.

Latihan juga dapat dibagi ke beberapa sesi melalui pendekatan distributed practice. Misalnya, numerik dipelajari pada satu sesi dan penalaran verbal pada sesi berikutnya. Pembagian tersebut membantu menyusun kegiatan belajar secara lebih teratur daripada memaksakan seluruh materi dalam satu kesempatan.

Persiapan yang Tepat Bukan Sekadar Menghafal Soal

Ada berbagai jenis pemeriksaan yang dapat digunakan perusahaan selama rekrutmen, mulai dari tes numerik hingga keterampilan teknis. Setiap tes memiliki fungsi berbeda, sehingga strategi mempersiapkannya juga perlu disesuaikan. Keberhasilan pada satu bentuk latihan tidak otomatis menjamin hasil yang sama dalam pemeriksaan resmi.

Pada akhirnya, memahami tujuan tes jauh lebih bermanfaat daripada menghafalkan sebanyak mungkin contoh jawaban. Pelajari konsep yang relevan, evaluasi kesalahan, dan perhatikan persyaratan pekerjaan yang dilamar. Dengan mengenali tes yang sering keluar saat melamar kerja, Anda dapat membangun persiapan yang lebih sistematis dan menghadapi proses seleksi dengan pemahaman yang lebih baik.

Bagikan:

Siap Memulai Psikotes Online Anda?

Pilih alat psikotes yang sesuai kebutuhan Anda — untuk pengembangan diri, seleksi kandidat, maupun pemetaan psikologis di lingkungan pendidikan.

Hubungi Kami